19 Agustus 2018

thumbnail

Perjalanan Ke Pemukiman Suku Baduy Dalam

Tepat tanggal 17 Agustus kemarin, saya dan teman-teman mengunjungi pemukiman Suku Baduy Dalam, antara lain untuk melihat adakah relevansinya 73 tahun Indonesia merdeka dengan kehidupan sehari-hari mereka.


Suku Baduy Dalam, atau disebut juga Urang Kanekes, adalah suku pedalaman Banten yang paling misterius dan paling terisolir di Pulau Jawa. Misterius karena mereka menolak teknologi, dan terisolir karena tidak ada akses kendaraan ke perkampungan mereka, baik roda dua apalagi roda empat. Mereka tinggal di pedalaman di tengah pegunungan Kendeng di pelosok Banten. Untuk mencapainya, saya dan teman-teman harus berjalan kaki menempuh perjalanan 4.5 jam, menyusuri jalur pencari kayu bakar dari pemukiman Baduy Luar di Desa Ciboleger. Perjalanannya benar-benar menguras fisik dan menguji mental, karena medannya tidak mudah, penuh tanjakan curam dengan kemiringan hingga 45 derajat, apalagi di usia yang sudah tidak "tua" lagi seperti saya,  dan di saat tenaga kita sudah terkuras dan mengira kita sudah di puncak dan akan menemui turunan, ternyata kita bahkan belum mencapai separuh perjalanan. Tanjakannya termasuk berbahaya dan kalau tidak berhati-hati bisa tergelincir, ke bawah ataupun ke jurang di samping.


Beruntung kami ditemani guide yang merupakan penduduk asli Suku Baduy Dalam, bernami Sarid, panggilannya Agus. Dan satu lagi bernama Lidong, yang tugasnya membantu membawakan barang-barang buat yang kecapean membawa tas dan ransel. Mereka bertelanjang kaki dan dengan lincah menapaki jalan berbatu-batu licin dan tajam, tanpa kelihatan cape, sementara napas kami sudah ngos-ngosan.

Jadi untuk bisa mencapai Desa Cibeo, salah satu dari 3 desa pemukiman Suku Baduy Dalam ini, stamina harus fit dan ada baiknya fisik memang dipersiapkan jauh-jauh hari. Karena ini perjalanan bak Ninja Hattori: "mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang."

Namun tentu saja pemandangannya luar biasa indah, di kiri kanan lembah, sungai dan ngarai menjadi hiburan tersendiri yang bikin kita tetap semangat. Saat mencapai Desa Cibeo, ditandai dengan adanya deretan lumbung-lumbung padi yang berjajar rapi dan cantik, hari sudah mulai gelap. Kami beristirahat di rumah orantuanya Agus, bernama Pak Asmin dan Ibu Sarah. Ini keluarga asli Baduy Dalam, namun sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Rumah Suku Baduy Dalam terbuat dari bambu dan kayu. Di semua struktur yang dibangun, baik rumah, jembatan, saung maupun lumbung tidak menggunakan paku, hanya tali dari ijuk atau sabut kelapa dan pasak. Mereka juga tidak melubangi tanah, jadi tiang rumah tidak menembus tanah, tapi dialas lagi dengan lempengan batu. Mirip sistem knock down, gampang dibongkar pasang namun tetap kokoh. Rombongan kami 14 orang dan rumah keluarga Pak Asmin cukup besar untuk menampung kami semua.


Nah, karena orang Baduy Dalam menolak teknologi, di sini waktu seakan berhenti. Kita serasa hidup di abad 17, tidak ada kendaraan, tidak ada listrik, tidak ada barang elektronik. Mirip dengan suku Amish di Amerika, penggunaan teknologi merupakan pelanggaran berat dengan resiko diusir dari pemukiman. Jadi sebelum masuk ke perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam kita sudah diwanti-wanti untuk tidak mengeluarkan handphone dan kamera dan barang elektronik lain, untuk menghormati adat istiadat dan pilihan hidup orang Baduy Dalam.

Desa Cibeo sendiri merupakan desa yang bersih dan teratur, kehidupan penduduknya sangat erat dengan alam, mereka berusaha untuk tidak mengotori bumi, menjaga agar tanah dan air tidak tercemar. Jadi penggunaan detergen, sabun mandi, pasta gigi dilarang, jadi kami mandi di sungai yang jernih secukupnya tanpa sabun dan bahan kimia. Walaupun mereka tidak memakai sabun, tidak ada yang bau badan, kulit mereka bersih dan terawat, posturnya langsing dan tegap, sama sekali tidak ada yang kegemukan, semua langsing-langsing. Ini yang bikin saya ngiri. Pemukiman Suku Baduy Dalam terdiri atas 3 desa utama: Desa Cibeo tempat kami berkunjung, Desa Cikeusik dan Desa Cikertawana.

Sampah tidak boleh menyentuh tanah, agar racun dari plastik dan bahan kimia tidak merembes ke dalam tanah. Mereka menyediakan tempat sampah dari bambu dengan posisi cukup tinggi dengan permukaan tanah. Dalam bercocok tanam, penggunaan pupuk tidak diperbolehkan, sehingga kita yakin 100% bahwa hasil bumi dari Kampung Baduy Dalam merupakan produk yang 100% organik.

Semua rumah bentuk dan besarnya sama, jadi kita tidak bisa mengukur kekayaan di sana, jadi tidak ada tetangga sirik dan lain-lain. Kepemilikan tanah tidak ada, semua berhak dan bebas mengolah ladang dan sawah kering, yang di sana disebut huma. Ini seperti masyarakat sosialis, semua orang sama kaya atau sama miskin, selalu bergotong royong dan hidup dalam kesederhanaan.

Secara adat, mereka tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan apapun kalau bepergian, dan tidak menggunakan alas kaki. Jadi kalau ada keperluan misalnya mengunjungi kerabat di Jakarta atau di tempat lain, mereka akan pergi berjalan kaki tanpa alas kaki menempuh ratusan kilometer, bahkan sampai ke Bandung. Bu Sarah bercerita, kakak laki-lakinya pernah ke Bandung dan karena kelelahan akhirnya menumpang kendaraan. Pada saat ituw, kepala suku Baduy yang disebut Pu'un langsung mendapat penglihatan soal pelanggaran tersebut, dan berhari-hari kemudian ketika kakaknya pulang ke desa, dia langsung diusir dari pemukiman.

Pu'un ini adalah orang yang memiliki kemampuan luar biasa, Tugasnya menentukan masa tanam dan panen, memutuskan hukum adat bagi yang melanggar, namun juga mengobati yang sakit. Pu'un jugalah yang menentukan siapa-siapa yang melakukan pelanggaran berat untuk kemudian diusir.

Orang-orang yang terusir inilah yang nantinya disebut Suku Baduy Luar, ditandai dengan ikat kepala biru. Orang-orang Suku Baduy Dalam memakai ikat kepala putih. Mereka masih berinteraksi satu sama lain karena masih ada ikatan kekerabatan, bahkan hampir setiap hari juga orang Suku Baduy Dalam mendatangi Desa Ciboleger untuk menemui dan memandu rombongan pendatang seperti kami. Berbeda dengan Suku Baduy Dalam, orang Suku Baduy Luar lebih terbuka dan mulai tidak menolak teknologi, karena itulah penggunaan kamera dan handphone di pemukiman Baduy Luar bisa dilakukan.

Peralatan kebanyakan terbuat dari bambu dan kayu, seng dan tanah liat. Logam dipakai sebagai senjata, sejenis keris atau badik. Jadi kita minum dari gelas bambu, makan makanan yang dimasak di tungku tanah liat dengan kayu bakar. Tuan rumah memasakkan ayam yang merupakan makanan mewah di sana untuk kami semua, dengan sayur kol dan wortel yang direbus, nasi dan sambal. Sederhana namun enak karena dimasak menggunakan kayu bakar.

Saat malam semuanya gelap gulita, tidak ada penerangan yang cukup, hanya lilin dan obor. Sebagai tamu, kami diperkenankan menggunakan senter terutama untuk ke sungai. Senternya harus diarahkan ke tanah, tidak boleh ke depan karena takut membuat silau penduduk asli yang terbiasa dengan gelapnya malam. Sukurnya langit bersinar cerah tanpa awan, dan bintang-bintang terlihat jelas, bahkan samar-samar kami bisa melihat sebentuk sabuk Bimasakti, juga beberapa bintang jatuh. Duduk-duduk di teras rumah, kami didekati beberapa kunang-kunang. Kapan terakhir kali kita melihat kunang-kunang? Sudah lama sekali, itupun waktu saya masih kecil.


Makan malamnya ibarat candle light dinner, karena cuma diterangi lilin. Beberapa teman menghidupkan senter dengan hati-hati agar tidak terlalu terang. Setelah makan malam kami duduk melingkar di dalam rumah, berbincang-bincang dengan Pak Asmin dan Bu Sarah. Beberapa pengetahuan yang kami dapatkan tentang Suku Baduy saat berbincang-bincang tersebut antara lain:


  • Cita-cita yang sederhana. Orangtua suku Baduy Dalam tidak memiliki pengharapan muluk bagi anak-anaknya, mereka hanya ingin anaknya bisa "membantu orangtua di ladang."
  • Kebahagiaan yang sederhana. Tidak banyak aktifitas dan hiburan di malam hari karena keterbatasan cahaya. Ada alat musik kecapi untuk menghibur mereka, dan dengan itu mereka sudah bahagia dan terhibur.
  • Memanfaatkan alam untuk kehidupan sehari-hari. Gelas, alas makan, dan tempat air terbuat dari bambu. Tali dibuat dari ijuk, dan mereka memintal dan menenun sendiri untuk pakaian mereka. Para wanitanya menggunakan baju putih dan laki-lakinya putih dan hitam, semua dengan ikat kepala putih.
  • Perjodohan. Seorang gadis mulai dari 14 tahun sudah dijodohkan oleh orangtua mereka. Jadi Si Agus atau Sarid yang ganteng sudah dijodohkan. Pernikahan paling awal adalah di usia 16 tahun. Tidak ada perceraian, karena setelah menikah itu hingga maut memisahkan, "till dead do as apart."
  • Warga Baduy Dalam menjalankan tradisi Kawalu. Kawalu adalah puasa yang dijalankan oleh warga Baduy Dalam yang dirayakan tiga kali selama tiga bulan. Pada puasa ini warga Baduy Dalam berdoa kepada Tuhan agar negara ini diberikan rasa aman, damai, dan sejahtera. Pada saat tradisi Kawalu dijalankan, para pengunjung dilarang masuk ke Baduy Dalam. Apabila ada kepentingan, biasanya pengunjung hanya diperbolehkan berkunjung sampai Baduy Luar namun tidak diperbolehkan menginap.
  • Ayam merupakan makanan mewah. Walaupun saya melihat banyak ayam berkeliaran, Suku Baduy hanya makan ayam sebulan sekali. Jadi saat kami disuguhi ayam untuk makan malam, percayalah, itu adalah makanan termewah yang bisa kami dapat.
  • Gemar bergotong royong. Pak Asmin bercerita, karena kehidupan mereka termasuk nomaden, berpindah-pindah, mereka harus bergotong royong memindahkan atau membangun rumah. Dia bercerita bahwa 30 rumah dikerjakan hanya dalam waktu 3 hari secara bergotong royong.
  • Kekayaan tidak dilihat dari bentuk rumah. Tidak seperti orang yang tinggal di kota pada umumnya yang memiliki rumah besar selalu identik dengan orang kaya, berpangkat tinggi, dan dipandang banyak orang. Lain halnya dengan Suku Baduy Dalam yang bentuk rumahnya hampir serupa satu sama lainnya. Mungkin, jika ini bisa dianggap ukuran, yang membedakan status kekayaan mereka adalah tembikar yang dibuat dari kuningan yang disimpan di dalam rumah. Semakin banyak tembikar yang disimpan, menandakan status keluarga tersebut semakin tinggi dan dipandang orang.
  • Tidak ada kriminalitas. Waktu ditanya apa hukuman adat apa yang dibisa ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat kriminal atau kejahatan, seperti mencuri, merampok, perkosa, pembunuhan, Bu Sarah menegaskan tidak pernah ada kejadian seperti itu. 
  • Ke mana-mana berjalan kaki. Jika mereka mengunjungi kerabat ataupun untuk barter ataupun menjual hasil kerajinan penduduk Baduy Dalam, mereka akan berjalan kaki tanpa alas kaki ke mana-mana, termasuk ke Jakarta, Bandung, Bogor dan Bekasi. Mereka tidak bisa keluar pulau Jawa karena penggunaan kapal tidak dibenarkan.
  • Kepercayaan yang mereka anut adalah Sunda Wiwitan, ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh kekuatan alam.
  • Mereka tidak bersekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat istiadat mereka.
  • Pintu rumah harus menghadap ke Utara atau Selatan, bukan Timur atau Barat, kecuali rumah sang Pu'un.
  • Moto hidup mereka: "Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung."
    (Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung), yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tidak merubah kontur tanah, rumah tidak menusuk bumi, dan perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.
Sebelumnya saya mendapat kesan bahwa mereka adalah suku yang menyeramkan, yang gampang tersinggung dankalau kita pergi ke sana akan beresiko dengan kemungkinan kita tidak akan bisa kembali ke tempat asal kita. Ternyata mereka sangat ramah, bisa bercanda, dan sebagian kecil bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Orang luar tidak akan pernah menjadi bagian dari suku Baduy Dalam, baik melalui pernikahan ataupun pengangkatan. Dan kita cuma diijinkan untuk menginap semalam di sana,

Saya ingin membagikan tips buat teman-teman yang ingin ke sana:
  1. Persiapkan fisik, karena medannya tidak gampang, dan butuh antara 4 hingga 5 jam berjalan kaki. Pulangnya juga sama.
  2. Peralatan. Bawa sepatu gunung yang nyaman dengan kaos kaki tebal, karena tanjakan dan turunan yang terjal dan licin. Juga jaket karena malam di atas jam 10 sangat dingin. Bawa juga senter dan kantung plastik. 
  3. Bawa oleh-oleh. Ini gesture yang baik untuk menghargai tuan rumah. Saya sendiri membawa dua bungkus isi 5 Indomie aneka rasa dalam kantung kain cantik edisi Asian Games, dan saya bercerita tentang adanya event Asian Games kepada mereka.
  4. Taati dan hormati aturan setempat. Tidak dibenarkan penggunaan barang elektronik seperti handphone, kamera, radio, alat musik elektronik dan sebagainya. Tidak boleh menggunakan sabun, pasta gigi dan detergen. Pelanggaran terhadap aturan ini, satu rombongan bisa diusir keluar saat itu juga.
  5. Tidak meninggalkan sampah. Bawa kantung plastik untuk membawa pulang sampah-sampah kita sendiri. Sampah ini bisa dibuang di tempat sampah pada saat kembali ke Rangkasbitung ataupun desa luar terdekat.

Nah, untuk menjawab rasa ingin tahu apakah ada relevansinya 73 tahun kemerdekaan Indonesia dengan kehidupan sehari-hari mereka, secara umum tidak ada karena mereka sendiri memang menolak teknologi. Menurut Bu Sarah sudah beberapa kali utusan pemerintah datang untuk menawarkan listrik tetapi selalu ditolak. Namun secara umum mereka mengakui adanya pemerintahan nasional yang dipimpin oleh Presiden RI. Pu'un dan tetua adat Baduy Dalam pernah diundang berkunjung ke Istana Negara.

Jadi hingga saat ini Pemerintah lebih memilih tidak mengusik mereka, baik urusan pembangunan maupun agama, namun menjadikan mereka sebagai salah satu destinasi wisata yang unik, menarik dan menantang. Barter sudah mulai ditinggalkan namun masih bisa dilakukan di lingkungan mereka. Sebagian sudah tau nilai uang akibat interaksi dengan pihak luar. Saat ini mereka menggunakan uang untuk mencukupkan kebutuhan mereka, seperti membeli ikan, beras (sebagian penggunaan padi di lumbung untuk upacara), dan terkadang benang untuk dijadikan bahan pakaian.

Besoknya, setelah sarapan kami dengan berat meninggalkan desa Cibeo yang tenang, bersih, tanpa polusi, dan damai tersebut. Perjalanan kembali melewati rute yang berbeda yang berakhir di Desa Cakuem, namun tidak kalah menantangnya. Dalam perjalanan, di wilayah pemukinan Baduy Luar kami menemukan jembatan akar, yang terbuat dari dua akar pohon yang saling jalin menjalin dan diperkuat dengan ikatan bambu. Di bawahnya mengalir sungai yang jernih dan segar, tempat kami melepas lelah selama 1 jam.

Perjalanan dilanjutkan hingga kami mencapai Desa Cakuem, lalu menunggu jemputan untuk membawa kami kembali ke Kota Rangkasbitung. Dengan demikian perjalanan ini selesai. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas pengalaman dan perjalanan ini kepada semua anggota rombongan yang selama 24 jam terakhir bersama-sama menempuh perjalanan, saling menyemangati, dan saling berbagi cerita. Terima kasih buat Mas Aswin, Yoga Kitink, Egy, Tina Tampubolon, Nanda Ginting, Ryan Martin dan Meta, Ardi, Indah, Ita, Tiwi, Billy, dan tentu saja pihak Rani Journey, juga Pak Asmin dan Bu Sarah sebagai tuan rumah, Agus Sarid, juga Lidong. Mohon maaf jika ada penyebutan nama yang salah.

Berikut videonya:








26 Oktober 2017

thumbnail

Ngopi Yuk (Bagian 2)


Melanjutkan tulisan sebelumnya Ngopi Yuk tahun 2009 yang lalu, mari kita bahas lebih lanjut tentang kopi.

Tahukah Anda bahwa Indonesia adalah penghasil kopi terbesar no.3 di dunia setelah Brazil & Ethiopia. Dan biji kopi dari Indonesia, baik jenis robusta maupun arabica sangat terkenal kualitasnya di luar negeri.

Namun biji berkualitas tinggi itu (speacialty) kebanyakan diekspor ke luar negeri. Dan banyak orang Indonesia sendiri yang minum kopi berkualitas rendah, yaitu kopi instan dan kopi sachet. Bahkan beberapa perusahaan kopi sachetan/instan hanya menambahkan perisa kopi dan bahan asing lain seperti tepung jagung, lalu membungkusnya dan menjualnya dengan harga murah.

Begini faktanya.

Harga normal biji kopi robusta berkualitas baik, dan sudah disangrai, dijual di Indonesia berkisar seharga Rp 45.000 per 250 gram. Coba bandingkan dengan harga kopi instan yang per bungkusnya (250 gram) adalah antara Rp 8000-Rp10,000. 

Harga biji kopi robusta yang belum disangrai (greenbean) adalah Rp 50,000. Jadi untuk mendapatkan 250 gram biji kopi yang belum diolah adalah Rp 12,500. Harga tersebut belum termasuk packaging, pemasaran, biaya sangrai, dan lain-lain. Jadi tidak mungkin dijual seharga Rp 12,500 per 250 gram.

Perusahaan-perusahaan kopi sachet pun mengakalinya dengan cara menggunakan biji berkualitas rendah atau bahkan menggunakan biji yang tidak lolos sortir ekspor untuk menekan biaya produksinya.

Jadi apapun merknya, kopi instan seharga seribu dan dua ribu rupiah dipastikan berasal dari biji kopi berkualitas rendah, yang sebenarnya bisa membahayakan kesehatan. 

Kandungan kafein dalam kopi instan adalah kafein buatan. Jika dikonsumsi berlebihan, hormon dopamin pada tubuh akan meningkat, yang pada akhirnya mengganggu kesehatan jantung. Beberapa gangguan kesehatan lain juga bisa muncul karena kandungan kafein di dalam tubuh yang terlalu tinggi. Efek samping dari minum kopi instan setiap hari salah satunya adalah meningkatnya kadar kolesterol jahat. Hal ini disebabkan oleh krimer yang terkandung di dalam kopi instan. Kandungan krimer membuat kolesterol tubuh susah dicerna, sehingga membuat kandungan kolesterol menumpuk dan semakin tinggi.Juga, kandungan krimer nabati dalam segelas kopi tidak dapat dicerna dengan sempurna oleh tubuh, sehingga membahayakan kesehatan dalam jangka panjang. Jika dikonsumsi setiap hari bisa mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah.
Terus ada lagi brand kopi yang bernama Kopi Luwak. Ini bisa menyesatkan karena kopi luwak sebenarnya adalah kopi yang termahal di dunia, karena melalui pengolahan yang rumit melibatkan fermentasi dalam perut luwak, sejenis musang. Coba tonton film The Bucket List yang dibintangi Jack Nicholson dan Morgan Freeman.

"Kopi Luwak" dengan white coffee dan varian lainnya sebenarnya adalah kopi dengan kualitas rendah seperti yang saya sebut di atas, dengan embel-embel kata luwak mungkin diharapkan orang-orang akan tertipu dan menyangka itu adalah kopi luwak beneran. Tapi sebenarnya adalah kopi cap luwak. Saya beberapa kali berkesempatan minum kopi luwak di coffee shop di Kuta Bali dengan harga Rp 125,000/cangkir kecil. Beberapa kali juga pernah mendapatkan sampel kopi luwak yang nikmat tersebut saat agrowisata di daerah Gianyar dan Kintamani di Bali dan juga di Jogjakarta.
Di pasar luar negeri, harga kopi luwak mencapai US$675 per kilogram. Dan belum termasuk biaya distribusi, packaging, marketing dan lain-lain.

Menurut saya, lebih baik kita membeli biji kopi yang banyak dijual di supermarket, yang biasanya dijual dengan kemasan yang kedap udara, lalu menggilingnya sendiri di rumah dengan mesin kopi (baik yang manual maupun yang elektrik) dan menikmatinya. Kopi demikian lebih segar, menyehatkan, dan dapat menjauhkan kita dari berbagai macam penyakit.

Oke, selanjutnya, kopi apa yang enak, kopi apa yang bagus, arabica kah, robusta kah? Bagaimana dengan kopi jenis lain seperti liberica dan excelsea? Apa bedanya? Untuk kali ini kita hanya membahas dua jenis kopi yang memang dibudidayakan di Indonesia, yaitu arabica dan robusta.



Dari segi rasa, kopi arabica memiliki banyak variasi rasa yang mana beragam. Rasa dari kopi tersebut dapat lembut, manis, tajam, dan juga kuat. Anda dapat mengetahui bahwa sebelum disangrai, aroma dari kopi ini amat mirip dengan blueberry. Akan tetapi, setelah disangrai, kopi tersebut akan memiliki aroma buah-buahan manis. 

Sedangkan untuk rasa dari kopi Robusta, ini cenderung memiliki variasi rasa yang netral. Sebelum disangrai, biji kopi ini memiliki aroma kacang-kacangan. Yang disayangkan, amat jarang untuk menemukan robusta berkualitas tinggi dipasaran sana. 

Biji kopi Arabica lebih besar dan cenderung berbentuk lonjong, sedangkan biji kopi Robusta berbentuk lebih bulat. Kopi Arabika (Coffea arabica) tumbuh di daerah dengan ketinggian 700-1.700 mdpl dengan suhu 16-20°C. Sedangkan kopi Robusta bisa tumbuh dan hidup di daerah dengan ketinggian 400-700 mdpl dengan temperatur 21-24°C. Kopi Arabica memiliki aroma wangi mirip aroma percampuran bunga dan buah, sedangkan Kopi Robusta memiliki aroma manis yang khas. Kopi Arabica dikenal dengan jenis kopi yang bercita rasa asam yang tidak dimiliki oleh kopi Robusta. Arabica juga memiliki tekstur yang halus, sehingga lebih kental di mulut. Kopi Arabica juga lebih pahit dibanding kopi Robusta. Kopi Robusta memiliki tekstur yang sedikit lebih kasar di lidah, dan rasanya lebih manis seperti cokelat. Biji kopi Arabica memiliki kandungan kafein yang lebih rendah dibandingkan biji kopi Robusta. Kadar kafein pada kopi Arabica sebesar 1,2%, sedangkan kadar kafein pada biji kopi Robusta sebesar 2,2%.



Jenis-jenis kopi Arabica yang populer di Indonesia adalah kopi Gayo, Toraja, Wamena, beberapa kopi Bali dan Flores, serta yang sekarang banyak bermunculan adalah kopi-kopi Arabica dari dataran tinggi di Pulau Jawa, seperti di Jawa Barat dan Banyuwangi di daerah Gunung Raung.

Beberapa daerah yang terkenal dengan kopi Robustanya di Indonesia antara lain Lampung, juga beberapa wilayah penghasil kopi di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Faktanya, harga biji kopi Arabica lebih tinggi bila dibandingkan dengan kopi Robusta.

Dan untuk saya pribadi, dua-duanya oke. Ada saat-saat tertentu saya ingin menikmati fine coffee, saya pilih arabica. Ada saatnya saya mementingkan aroma, maka saya pilih robusta. 

Kopinya hitam tentu saja, tanpa krim ataupun susu, biar kulit saya tetap terjaga kehitamannya. 
Srupuuut.

Artikel terkait:

11 Oktober 2017

thumbnail

Melawan Arus


Pada saat menyelam, cari paling efisien adalah tidak melawan arus, dengan cara ini menyelam jadi lebih menyenangkan, pemakaian tabung udara jadi lebih hemat dan efisien, tenaga tidak banyak terkuras, dan tujuan utama menyelam untuk rekreasi bawah laut juga tersalurkan.
Demikian juga teknologi. Segalanya sekarang serba online. Di Jakarta Pasaraya tutup, Glodok mulai sepi pengunjung, karena trend sudah berubah, makin banyak orang yang belanja secara online. Tidak perlu terjebak macet, tidak menghabiskan bahan bakar dan bisa sambil tiduran belanjanya.
Transportasi (berbasis aplikasi) online, mau tidak mau sudah menjadi trend dan kebutuhan. Orang bisa berpindah tempat dari titik A ke titik B dengan lebih gampang dan dengan tarif yang terjangkau. Pesan makan bisa lewat GoFood, kirim barang dalam radius 20-40 km bisa lewat GoSend. Trend nya memang begituw, dan ini terjadi di seluruh dunia dengan Uber dan Grab, dan GoJek untuk domestik. Perubahan arus yang memang sesuai dengan perkembangan teknologi dan memang sudah jamannya.
Sudah banyak contoh menyedihkan bahwa pihak-pihak yang tetap mengandalkan sistem konvensional dan tidak mau ikut arus dan berinovasi akan terpuruk dengan sendirinya. Di dunia komunikasi ada brand N dari Finland, di dunia traveling ada juga masih ada travel agent konvensional yang menjual voucher. Siapa yang masih mau repot beli voucher di counter kalo hotel bisa dibook lewat online travel agent melalui aplikasi mobile dengan cepat, murah dan aman?
Untuk daerah yang menolak transportasi online seperti Batam dan Bandung, selamat dan kagum buat pemerintah daerahnya. Ada beberapa sebab yang mencurigakan, antara lain Dishub nya lemah atas tekanan bos2 angkot yang suka ngebut dan taxi yang tak pernah tertib dan bikin semrawut lalu lintas ituw. Mereka tidak merperhatikan kebutuhan masyarakat akan transportasi yang murah, aman dan efisien. Selagi kepala daerahnya tidak bisa menyediakan transportasi yang terjangkau, aman dan tertib, pelarangan transportasi online adalah hal yang absurd, kontra produktif, dan bisa dicurigai dalah hasil kongkalingkong antara Dishub dengan pengusaha angkot.
Intinya pemerintah kota Batam tidak memiliki wibawa, dan tunduk dibawah tekanan organisasi transportasi konvensional, dan lebih berpihak kepada organisasi tersebut daripada berpihak kepada masyarakat. Setelah gagal menertibkan taxi-taxi tanpa argo yang menetapkan tarif seenaknya dan setinggi langit, pemerintah kota Batam juga gagal menertibkan angkot-angkot yang berhenti dan parkir sampai separuh jalan dan sering mengakibatkan terjadinya kecelakaan di jalan raya tersebut. (Saya sendiri mengalami kecelakaan akhir tahun 2013 gara-gara angkot yang berhenti mendadak di tengah jalan).
Dan taxi serta angkot-angkot yang tidak mampu untuk menjadi kompettitif dan mengikuti arus perubahan ini, mereka menjadi kasar dan suka ngamuk, bersikap anarkis, pada lupa bahwa rejeki ituw sudah ada yang mengatur. Dan harus ingat, masyarakat lebih suka naik transportasi yang tarifnya jelas, aman dan efisien. Bukan taxi tanpa argo yang tarifnya tidak jelas, atau angkot yang sopirnya entah punya SIM atau tidak.
Bluebird sendiri menyikapi perubahan arus ini dengan bijak, mereka berinovasi dengan menciptakan aplikasi online mereka sendiri.yang bisa diunduh untuk perangkat iOS maupun Android.
Biarkan masyarakat yang memilih moda transportasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka sendiri, jangan melawan arus perubahan.
Batam sudah mulai kelelep karena pemerintah daerahnya tidak bisa menjaga iklim investasi, banyak pungli terhadap investor, dan akhirnya investor kapitalis memindahkan modal dan pabriknya ke negara lain, seperti Malaysia, Thailand, Kamboja, termasuk ke negara komunis seperti Vietnam dan China, kita bisa melihat adanya ironi pada fakta ini.
Dengan pelarangan transportasi online ini, Batam bisa jadi akan semakin suram, pengangguran yang sudah berkali lipat bertambah lagi berpuluh kali lipat, dan takutnya angka kriminalitas akan semakin bertambah, investor lain tidak akan mau masuk, dan lingkaran setan kemunduran ini tidak akan pernah putus.
Pemerintah daerah yang melawan arus, daerahnya akan kelelep sendiri.

29 Agustus 2017

thumbnail

8 Manfaat Snorkeling


Sederhananya, snorkeling adalah aktifitas yang serupa dengan berenang, namun snorkeling ini lebih bertujuan untuk melihat keindahan ekosistem bawah laut. Bagi yang tidak bisa berenang, bisa snorkeling menggunakan life jacket agar tetap mengapung. Bagaimanapun, sadar atau nggak, snorkeling juga memiliki dampak positif bagi tubuh, karena banyak gerakan dalam olahraga renang yang kita terapkan saat snorkeling. 

1. Menurunkan Risiko Diabetes
Saat snorkeling, kita bisa menghabiskan waktu sampai 5 jam lebih di dalam air. Padahal, setiap 60 menitnya, ada 600 kalori yang telah terbakar akibat kegiatan tersebut. Coba bayangkan, berapa ribu kalori dan berapa banyak persentase turunnya risiko diabetes yang telah kita buang saat kita snorkeling.

2. Menurunkan Berat Badan
Snorkeling secara teratur cocok nih bagi Anda yang mau menurunkan berat badan tapi males diet. Snorkeling yang memaksa banyak gerak membuat pembakaran lemak yang terjadi di dalam tubuh pun merata, nggak cuma di satu bagian aja. Bahkan, kelenturan sendi juga ikut terlatih sehingga bentuk tubuh jadi ideal, tegap, nggak bungkuk.

3. Otot & Tulang Menguat
Selain sendi, tentunya, otot dan tulang juga terkena dampak positifnya. Kebugaran tubuh pun ikut meningkat. Hal ini disebabkan karena tenaga yang kita keluarkan untuk mendorong beban tubuh jauh lebih berat saat di air dibandingkan udara (seperti ketika berlari).

4. Mengatasi masalah pernapasan
Seperti yang telah diketahui, berenang sangat berpengaruh bagi kesehatan paru-paru. Banyak permasalahan pernapasan yang dapat diatasi oleh aktifitas yang satu ini, mulai dari mendengkur, terlalu mudah lelah, bahkan ampuh menghindari asma.

5. Menjaga Kerja Jantung
Salah satu zat yang terkandung dalam air laut adalah kalsium sulfat. Kalsium sulfat itu sendiri sangat berperan aktif dalam menjaga metabolisme tubuh dan juga kerja jantung.

6. Menurunkan Risiko Kanker
Saat snorkeling, kulit kita terpapar sinar matahari. Perlu Anda ketahui, sinar matahari itu mengandung vitamin d, yang sudah terbukti ampuh menurunkan risiko kanker, seperti kanker prostat bagi pria dan kanker payudara bagi perempuan.

7. Mengeluarkan Racun
Adapula manfaat lain terpapar sinar matahari saat snorkeling, yaitu mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh. Proses detoksifikasi ini tanpa Anda sadari juga meningkatkan kinerja hati yang berfungsi mengeluarkan racun melalui urine atau keringat. Jadi, Anda nggak perlu takut-takut lagi terkena sinar matahari, tapi tetap harus tahu batasan, ya.

8. Super oksigen
Tahukah Anda bahwa selain pohon, plankton menghasilkan oksigen. Yup ribuan plankton yang berada di permukaan dan di bawah permukaan menghasilkan oksigen, hingga dari 0 sampe 50 cm di atas permukaan laut kita menghirup langsung oksigen tersebut. Inilah yang disebut oksigen super, berdampak kelancaran metabolisme dan bikin awet muda.


13 Juli 2017

thumbnail

Syarat Menjadi Penyelam Scuba (Scuba Diver)


Apa syaratnya untuk menjadi penyelam scuba (scuba diver)?
Tentu saja harus bisa berenang, namun tidak perlu mahir-mahir amat. Jika anda bisa berenang sejauh 200 meter non-stop tanpa batas waktu atau sejauh 300 meter menggunakan mask, fin dan snorkel non-stop tanpa batas waktu dan Anda confident atau percaya diri ketika berada di air, Anda sudah memenuhi persyaratan pertama.
Bagaimana kalau tidak bisa berenang?
Saya sarankan ambil pelatihan renang dahulu atau Anda akan kecewa pada saat pelatihan diving. Karena Anda akan kesulitan mengikuti pelatihan atau mungkin juga akan berhenti di tengah jalan. Sangat disayangkan, bukan?
Sertifikasi apa yang harus didapatkan?
Untuk recreational diving, sertifikasi yang bisa didapatkan adalah Open Water Diver, ini sudah cukup sebenarnya. Sertifikat/lisensi ini berlaku internasional dan berlaku seumur hidup. Namun ada beberapa sertifikasi level berikutnya yang bisa diikuti seperti Advanced Open Water Diver, Adventure Diver, Advanced Open Water Diver, Rescue Diver, Master Scuba Diver dan Instructor. Anda akan mendapatkan kartu yang bisa Anda bawa ke mana saja untuk menunjukkan bahwa Anda adalah certified scuba diver. Dan keabsahan atau valid tidaknya kartu tersebut bisa dicheck online kapan saja.
Berapa usia minimum dan maksimum untuk mendapatkan sertifikasi/lisensi selam scuba?
Usia minimum 10 tahun, dan maksimum nya tergantung dari berbagai negara tapi rata-rata hingga 70 tahun tergantung kesehatan fisik.
Apa syarat lainnya?
Tentu saja Anda harus sehat. Untuk keselamatan, semua peserta harus melengkapi Scuba Medical Questionnaire yang menanyakan tentang kondisi-kondisi medis yang bisa menjadi masalah saat Anda melakukan penyelaman. Jika Anda menjawab TIDAK (NO) untuk semua pertanyaan, Anda cukup menanda-tangani formulir tersebut dan Anda dapat memulai pelatihan dengan segera. Bila ada satu atau beberapa pertanyaan Anda jawab YA (YES), maka Anda perlu pemeriksaan dokter yang menyatakan anda fit untuk diving atau tidak. Jadi dokter akan menilai kondisi Anda terutama yang berhubungan dengan penyelaman dan menanda tangani suatu formulir medis yang mengkonfirmasikan bahwa anda boleh melakukan penyelaman atau tidak boleh menyelam.
Berapa biayanya?
Untuk Open Water Diver harganya berbeda-beda untuk tiap asosiasi dan lokasi. Jadi harga di Batam tentunya beda dengan di Bali, beda di Kep Seribu, dan beda lagi di Australia. Untuk PADI Open Water Diver biayanya adalah antara 5 hingga 6 juta (mengikuti fluktuasi nilai rupiah terhadap dolar). Untuk SSI Open Water Diver 4 juta hingga 6 juta. Untuk SDI juga sama. Dan ingat, license atau sertifikatnya berlaku seumur hidup dan berlaku internasional.
Apa saja asosiasi internasional untuk kursus scuba diving?
SSI (Scuba School International)
SDI (Scuba Diving International)
PADI (Professional Association of Diving Instructors)
CMAS (Confédération Mondiale des Activités Subaquatiques)
Dan banyak lagi, yang saya sebutkan di atas yang ada di Indonesia dan cukup populer.
Di kota mana yang terdekat?
Untuk SSI, SDI dan PADI yang terdekat tentu saja adalah Batam, kemudian Jakarta (Kepulauan Seribu), dan Bali.
Di mana lokasi selam yang bagus?
Indonesia adalah surganya para penyelam, mulai dari Sabang hingga Merauke, karena Indonesia adalah negara kepulauan. Banyak penyelam internasional datang ke Indonesia hanya untuk menyelam, kenapa kita tidak? Dive spot yang terkemuka saat ini adalah Sabang, Padang, Batam, Anambas, Belitung, Lampung, Kepulauan Seribu, Karimun Jawa, Bali, Lombok, Pulau Komodo, Flores, Lembeh, Bunaken, Kepulauan Wakatobi, Kepulauan Maluku, Raja Ampat, Kaimana dan lain-lain. Tidak tertutup kemungkinan ditemukan lokasi-lokasi baru yang nantinya bakalan populer.
Apa manfaat scuba diving?
Untuk manfaatnya, yuk simak tulisan saya di blog saya ini:
http://blog.ferdot.com/…/10-alasan-kenapa-anda-harus-mencob…


26 Juni 2017

thumbnail

47 Meters Down; Film Tentang Scuba Diving?


Beberapa waktu yang lalu saya dan beberapa rekan-rekan anggota BIAC (Reni, Rahmah dan Kiki) menyempatkan diri menonton film 47 Meters Down yang dibintangi oleh Mandy Moore dan Claire Holt. Mandy Moore namanya cukup dikenal sebagai penyanyi dan aktris, terutama yang saya ingat film A Walk to Remember

47 Meters Down adalah film horror dan thriller tentang scuba diving dan hiu. Yang membuat kami tertarik menontonnya tentu saja aspek scuba diving dan ikan hiunya, tapi jangan lupa, bahwa ini film horror, dan film horror cara kerjanya adalah dengan menakuti penonton se-intens mungkin. Di sana sini ada adegan tegang, menakutkan, dan kaget-kagetan. Dan film horror ini tentu saja menyajikan suatu gambaran bahwa lautan adalah tempat yang menyeramkan, yang pada fakta sebenarnya adalah sebaliknya.

Film ini cukup menghibur, dengan ending yang seperti film-film horror lainnya, yaitu menyisakan beberapa pertanyaan dan rasa penasaran.

Inti ceritanya adalah dua kakak beradik Lisa (Mandy Moore) dan Kate (Claire Holt) yang bepesiar ke Mexico, dan mengikuti program wisata ikan hiu atas ajakan dua orang kenalan baru mereka. Mereka berada di kerangkeng besi di kedalaman 5 meter, sementara ikan-ikan hiu berkeliaran di sekeliling mereka. Seharusnya ini aman, tapi karena ini film horror, adegannya tentu saja dibuat untuk memancing rasa kuatir dan ketakutan.


Pada suatu saat, crane yang menggantung kerangkeng besi itu patah dan kerangkeng besi berpenumpang dua cewe itu jatuh ke dasar laut, sementara sekawanan hiu tersebut berseliweran di sekitar mereka. Menyeramkan? Pasti, kalau tidak seram berarti film horrornya gagal. Namun film ini tidak melulu tentang ikan hiu pembunuh dengan gigi-gigi tajam, kita harus melihatnya sebagai aspek kecelakaan dalam scuba diving.

Kecelakaan dalam scuba diving hanya bisa terjadi karena satu hal: tidak diterapkannya safety precautions. Namun ada beberapa aspek lagi yang digambarkan di film ini yang harus saya bahas:

1. Operator Diving Tidak Ceroboh
Alasannya simpel: operator diving tentu saja selalu ingin kliennya selamat, kembali ke permukaan, naik ke kapal dan happy. Di film ini terlihat dive operatornya ceroboh, pemimpinnya hanya melihat sangsi ke kedua cewek tersebut dan bertanya apakah mereka berdua tau cara scuba diving? Keduanya menjawab tau. Ini tentu saja prosedur yang kecil kemungkinannya terjadi di dunia nyata. License atau sertifikat Anda akan ditanya dan dicek, baik Anda anggota asosiasi PADI, SDI, SSI dan lainnya, dan level sertifikasi Anda akan ditanya, apakah open water diver atau sudah advance. Mereka tidak akan menerima begitu saja kata-kata yang kita berikan. Mereka tidak akan mempertaruhkan nama baik perusahaan hanya demi beberapa ratus dolar. Lagian klien yang mati jauh lebih mahal dan merepotkan, mereka ingin klien mereka hidup dan happy.

2. Tabung Udara Tidak Akan Cukup Bertahan Lama
Tabung udara 200 bar yang berisi udara bertekanan akan lebih cepat habis di kedalaman 47 meter daripada di kedalaman 5 atau 10 meter. Jadi makin dalam kita menyelam, akan makin cepat habis persediaan udara di tabung. Batas umum untuk recreational diving adalah 130 feet atau di bawah 40 meter, sementara di film ini Lisa dan Kate terjatuh di kedalaman 47 meter, terlalu berbahaya.
Saya belum pernah menyelam sedalam itu, tapi perkiraan saya jika saya berada di kedalaman 47 meter, udara di dalam tabung saya akan habis dalam waktu 20 menit. Jadi filmnya seharus lebih cepat selesai dan Lisa dan Kate seharusnya sudah mati kehabisan udara, namun adegan underwater di film ini berlangsung kira-kira 1 jam dan mereka berdua bernapas paling tidak selama 35 hingga 40 menit dengan tabung yang sama, sebelum mereka berganti tabung.

3. Decompression Sickness
Di film ini, berkali-kali disebut istilah "bend", ini maksudnya DCS atau Decompression Sickness. Kate mengatakan bahwa bend adalah jika "it's nitrogen bubbles in the brain."

Walaupun yang dikatakan Kate ada benarnya, namun decompression sickness/bend tidaklah sesimpel itu. Dekompresi yang tidak dijalankan dengan benar setelah tubuh kita terpapar pada tekanan yang tinggi adalah penyebab utama DCS. Saat kita menyelam, tubuh kita menyerap nitrogen dari udara yang kita hirup. Jika kita ke atas dengan prosedur yang benar, tubuh kita perlahan-lahan akan melepaskan nitrogen tersebut, tapi jika kita ke atas terlalu cepat, nitrogen akan membentuk gelembung di dalam darah. Di film ini Kate dan Lisa hanya diberi instruksi satu pilihan, tetap di dalam kerangkeng di dasar laut dengan resiko kehabisan udara. Di dunia nyata, percayalah, mati kehabisan udara bukanlah pilihan terbaik. Tetap lebih baik kembali perlahan ke atas dan melakukan safety stop sesuai prosedur. Tapi kan ada resiko di makan hiu? Nanti saya jelaskan tentang hiu di dunia nyata dan bedanya dengan di film.

Tentu saja karena ini film, hal tersebut dijadikan faktor utama agar pilihan tokohnya terbatas dan filmnya jadi semakin tegang.

4. BCD Bukan Dongkrak

Menjelang akhir film, kaki Lisa terjebak dan tertindih kerangkeng besi, jadi Lisa yang belum berpengalaman scuba diving tersebut melepas BCD nya (Buoyancy Control Device), menaruhnya di bawah kerangkeng dan mengisinya dengan udara sehingga kerangkeng tersebut terangkat hingga ia bisa melepaskan kakinya. Kelihatannya logis, namun BCD bukanlah dongkrak. ScubaLab melakukan tes objektif terhadap BCD keluaran terbaru setiap tahun, mengetes kemampuan apung (buoyant lift) setiap BCD tersebut. Hasil tes akan mengindikasikan tingkat apung BCD, yang pada akhirnya menunjukkan seberapa berat beban yang bisa diangkat atau dinaikkan BCD. Daya apung (buoyant lift) rata-rata sebuah BCD adalah rentang antara  15 hingga 27 kilogram.   Sebuah BCD tidak akan pernah bisa mengangkat kerangkeng besi seberat lebih dari 225 kilogram.

5. Full Face Mask yang Canggih
Jarang sekali dive operator menyediakan dive mask yang versi full face seperti terlihat dalam film 47 meters down, dilengkapi dengan alat komunikasi yang canggih pula. Dive mask yang disediakan biasanya yang standar walaupun tetap menggunakan merk-merk terkenal. Lagipula, di film terlihat dive operatornya sanggup membeli full face mask lengkap dengan radio telekomunikasi sehingga penyelam bisa bicara dalam air, namun tidak sanggup mengganti kerangkeng besi yang karatan, sling yang gampang putus, dan crane yang gampang patah?

6. Manusia Bukan Makanan Hiu
Yup, hiu tidak langsung menyerang dan memakan manusia begitu melihat manusia. Ada beberapa hiu yang ganas seperti great white shark, tiger shark, bull shark, dan oceanic whitetip shark. Namun mereka tidak akan menyerang jika tidak diprovokasi. Saya sendiri sudah 2 kali diving bertemu ikan hiu, dua-duanya di Bali, namun yang saya temuin adalah jenis Reef Whitetip Shark, dan walaupun saya jadi sedikit gugup, ternyata tidak terjadi apa-apa. Tahukah makhluk apa yang paling ganas di laut dan di darat? Manusia. Manusialah predator paling ganas yang tidak saja bisa membuat beberapa spesies punah, tetapi juga merusak planet tempatnya berdiam.
Intinya hiu tidak memakan manusia, jika terjadi demikian biasanya karena hiu tersebut mengira bahwa kita adalah makanannya. Artinya kita dikira sebagai anjing laut, singa laut, dan makhluk lain yang memang merupakan makanan alami hiu.  

7. Kenapa Tidak Pakai Fin?

Fin menghemat tenaga. Tenaga yang hemat sebanding dengan napas yang hemat, karena makin banyak tenaga yang dikeluarkan, makin sering frekuensi bernapasnya. Napas yang hemat berarti udara yang hemat. Walaupun misalnya mereka akan berada dalam kerangkeng besi, fin mestinya tetap dipakai. Sedia payung sebelum hujan, bukan?


Namun terlepas dari hal-hal yang saya sebutkan di atas, secara umum film 47 Meters Down cukup menghibur, dan film tersebut membuat scuba diving terlihat sangat keren dan menantang, namun tidak seseram yang dibayangkan.

Ada beberapa peraturan dalam scuba diving yang membuat olahraga ini menjadi sangat menyenangkan. Tidak ada penyelam yang menyelam sendirian, dan ada beberapa prosedur ketat demi keamanan dan kenyamanan. Dan melihat makhluk-makhluk warna-warni mulai dari terumbu karang dan ikan-ikan yang berenang dengan riang, semua itu tak tergantikan dengan menyaksikannya di National Geographic maupun layar IMAX.


Copyright (C) Ferdot.com. 26 June 2017

Follow by Email