23 Juli 2007

thumbnail

The Marriage of Hannove

Akhirnya setelah melalui hubungan yang pasang surut selama hampir 6 tahun, dua orang sahabat baik saya ini menikah. Kita sebutlah pasangan ini sebagai Hannove, sebuah kata, mewakili seorang laki-laki dan perempuan, yang tadinya memiliki perbedaan prinsip. Hannove juga adalah sebuah kisah, di mana dua ego yang berbeda akhirnya bersatu. Dan sayalah yang (tentu saja dengan niat baik) memulai kisah ini, dengan cara mempertemukan mereka dalam sebuah perjalanan singkat dari sebuah pulau yang resah, ke sebuah pulau yang penuh kisah, tempo dulu

Jadi, enam tahun kemudian, pada suatu malam, saya mendapat telpon. Hannove menelpon dan memberitahu kabar baik ini, yang langsung saya beritahukan kepada mantan pacar saya (yang sekarang sudah jadi istri saya), karena dia juga mengikuti kisah Hannove dari awal mulanya. Dan sayapun melakukan perjalanan.


Perjalanan menuju pulau tempat mereka menikah juga merupakan sebuah perjalanan reuni. Tentu saja saya bertemu rekan-rekan lama, dan nambah rekan-rekan baru. Saya ketemu Usaha (ini nama orang), Dina, Asan, Seno, Ricky, Netty, Pak Lurah (sumpah, saya tidak ingat nama aslinya), Ade, Sofiandi, Mpok Lani, Mpok Indun, dan Mpok Ame ame belalang kupu-kupu.


Akhirnya kisah Hannove yang tadinya berlarut-larut tak jelas mau dibawa ke mana, menjadi jelas, jelas-jelas happy ending. Saya yang ikut andil dalam kisah Hannove pada awalnya, dan saya ada di sana untuk menyaksikan endingnya.


Untuk Hannove, selamat menempuh hidup baru. Akur-akur ya, karena hubungan kalian itu kehendak Tuhan. Sebenarnya bukan saya yang mempertemukan kalian berdua, melainkan Tuhan Yang Maha Suci. Bersyukurlah bahwa endingnya sebaik ini. Untuk selanjutnya, hal yang terbaik dilakukan adalah melakukan rekonsiliasi, baik kepada para orangtua, rekan-rekan, pasangan maupun rekonsiliasi kepada diri sendiri. Semoga dikarunia keluarga yang sakinah, sejahtera lahir batin, dan dikarunia keturunan yang sehat, pintar dan cakep dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Amin.

20 Juli 2007

thumbnail

Hypnerotomachia Poliphili

Judul lengkapnya adalah Hypnerotomachia Poliphili, ubihumana omnia non nisi somnium esse ostendit, atque obiter plurimascitu sanequamdigna commemorat, yang diterbitkan pada tahun 1499 (diterjemahkan dalam bahasa Inggris baru tahun 1999 yang lalu) adalah sebuah ensiklopedi yang tersembunyi dalam bentuk sebuah novel, sebuah tulisan mengenai semua hal, mulai dari arsitektur sampai ilmu hewan, yang ditulis dalam gaya yang dianggap bertele-tele bahkan oleh seekor keong sekalipun (seandainya keong bisa membaca). Buku ini adalah buku terpanjang di dunia mengenai seseorang yang sedang bermimpi, dan ini membuat Marcel Proust, penulis kisah terpanjang tentang seseorang yang sedang makan sepotong kue, tampak seperti Ernest Hemingway. Buku ini merupakan kumpulan plot dan karakter yang kusut, yang dihubungkan melalui tokoh sentralnya, yang bernama Poliphilo. Nama Poliphilo sendiri penuh kiasan, dari bahasa Yunani Polu` yang artinya 'banyak', dan philos yang artinya 'mencintai'.


Intisari ceritanya sangat sederhana: Poliphilo diganggu mimpi aneh tentang pencariannya akan wanita yang dicintainya, yang bernama Polia. Tetapi cara berceritanya begitu rumit hingga sebagian besar cendekiawan Renaisans menganggap Hypnerotomachia Poliphili begitu sulit dan membosankan. Arti Hypnerotomachia Poliphili dari bahasa Latin adalah "Perjuangan Poliphilo demi Cinta dalam Sebuah Mimpi".


Walaupun begitu, buku ini merupakan objek penelitian yang tak habis-habisnya, karena para ilmuwan berpendapat banyak rahasia besar dunia baik dulu (zaman Renaisans) maupun masa depan tersembunyi secara rahasia dalam bab-bab buku ini. Sebagai contoh, jika huruf-huruf pertama dari setiap bab dalam Hypnerotomachia Poliphili dirangkaikan, akan terbentuk sebuah akrostik bahasa Latin yang berbunyi: Polium Frater Fransiscus Columna Peramavit, yang artinya kira-kira "Bruder Fransesco Colonna sangat mencintai Polia". Nama Polia sendiri bisa berarti 'banyak', dari kata Polu` di atas.


Teks dalam buku ini menggunakan bahasa Latin Italia, Latin, akar dari bahasa Yunani, juga Arab dan Ibrani, dan juga hyrogliph yang berasal dari peradaban Mesir Kuno.


Karena adanya nama Fransiscus Columna (Latin) atau dalam idiom sekarang Fransesco Colonna, maka para ilmuwan menganggap seorang biarawan Italia bernama Fransesco Colonna lah yang menulis buku yang tadinya dianggap anonim, bahkan oleh penerbitnya Aldus Manutius.


Hal-hal seperti ini saya ketahui dari sebuah novel yang dibelikan oleh seorang rekan yang bernama Betty Kristina sewaktu dia "jalan-jalan tepuk tangan" di sebuah kota, yang berjudul The Rule of Four, karya Ian Caldwell dan Dustin Thomason. Novel misteri yang juga bergenre thriller ini berkisah tentang dua orang mahasiswa Princeton yang mempelajari misteri yang terkandung selama 5 abad dari Hypnerotomachia Poliphili. Penuh dengan intrik dan plot yang bagus, The Rules of Four sarat pujian. Di cover nya tercantum komentar dari Nelson Demille, penulis Up Country dan The General's Daughter: "Jika Scott Fitzgerald, Umberto Eco serta Dan Brown bergabung untuk menulis sebuah novel, hasilnya adalah The Rule of Four." Karena tertarik, saya mencari informasi lengkap tentang Hypnerotomachia Poliphili, antara lain di internet, lewat situs Wikipedia.


Bagaimana dengan syair-syair Ronggowarsito yang sarat pesan? Atau tulisan Jayabaya? Sudahkah ada literatur yang mengupas secara dalam karya sastra awal Indonesia, jauh sebelum lahirnya Abdoel Moeis, Achidat K Miharja dan lain-lain?

16 Juli 2007

thumbnail

Hendri Dunan dan Jean Henry Dunant

In memoriam Hendri Dunan yang berpulang pada Minggu subuh 15 Juli 2007.

Rekan
Saat masa masih erat berjabat
ada hal-hal yang tak terkejar
ada saat kau lari dari dunia
meninggalkan kesah dengan darah

Kau bukan Jean Henry Dunant
meninggalkan kesan dalam palang merah
Kau Hendri Dunan
meninggalkan kesan sewarna merah

mari rekan kita berjabat
ucapkan selamat tinggal
persimpangan di depan
mentari kita sudah tak sama
lambaikan tangan
lambaikan tangan
Hendri Dunan mengalami kecelakaan sepeda motor yang terjadi Sabtu subuh, setelah 24 jam koma, rekan yang baik ini meninggal dunia. Apa yang terjadi hendaknya menjadi pelajaran bagi semua, hati-hati dalam berkendara.

09 Juli 2007

thumbnail

PC Media Antivirus

Majalah PC Media sudah hampir 2 tahun belakangan ini merilis PC Media Antivirus, antivirus buatan Indonesia. Keunggulan antivirus ini terletak pada keampuhannya membasmi virus-virus lokal, misalnya brontok dan variannya, pendekar, dealova dan sebagainya. Virus-virus lokal kebanyakan memang belum masuk dalam database antivirus luar seperti Norton dan McAfee.

Antivirus ini dibundel dalam DVD bonus majalah PC Media. Secara berkala adiknya PC Media, yaitu PC Mild juga menyertakan antivirus ini dalam CD bonusnya.

Dalam readme teks nya disarankan agar kita memadukan PCMAV ini dengan database dari Clam Antivirus. File-file asli dari PCMAV ini terdari dari PCMAV Cleaner, PCMAV RTP (Real Time Protector), rtphook.dll dan sebuah file readme. Untuk memadukannya dengan database Clamav, kita membutuhkan file yang bernama libclamav.dll . Hanya dua file yang dibutuhkan dari situs Clamav, yaitu main.cvd dan daily.cvd . Untuk nama file terakhir kita harus mendownload nya terus menerus agar database clamav tersebut selalu dalam keadaan update.

Yang jadi masalah adalah, jika dalam sebuah PC sudah ada antivirus lain, misalnya AVG, eSafe, Panda Antirus, McAfee, maka PCMAV biasanya malah akan dianggap sebagai virus, atau sebagai file yang membahayakan. AVG dari Grisoft misalnya, mengganggap PCMAV sebagai Generic2.ZMD , dan Panda Antivirus akan mengganggapnya sebagai suspicious file (file yang mencurigakan). Kayaknya tim PC Media harus bekerja keras untuk menghilangkan bug-bug ini.

Untuk memperoleh PCMAV ini, selain bisa didapat di Majalah PC Media atau Tabloid PC Mild, juga bisa didownload dari Mas Eko di sini.
Sedangkan database dari Clamav, yaitu file main.cvd dan daily.cvd bisa didapatkan di http://www.clamav.net/

06 Juli 2007

thumbnail

Serendipity

Tanah India lah yang sebenarnya dituju oleh Christopher Colombus ketika memulai pelayarannya ke barat menyusuri Atlantis. Di saat orang-orang meyakini bahwa dunia ini datar, Colombus ingin membuktikan bahwa bumi ini bulat, ke timur dan ke barat sama saja. Alih-alih menemukan India, Colombus terdampar di benua baru yang asing, yang belakangan disebut dengan benua Amerika. Dan dengan kesalahpahaman yang masih berlaku hingga kini, dia menamakan penduduk benua tersebut sebagai Indian.
Apa yang terjadi pada Christopher Colombus tersebut, dalam skala kecil bisa saja terjadi pada orang lain, termasuk kita. Isaac Newton sedang memikirkan soal gaya dan gerak ketika sebuah apel jatuh menimpa kepalanya, dan sampai saat ini dunia mengenal gaya gravitasi. Ketika mencari recehan di lemari buku, saya malah menemukan lembaran seratus ribuan yang sudah lama hilang.
Hal-hal seperti itulah yang disebut sebagai serendipity.
Dalam film Serendipity (2002) yang dibintangi oleh John Cusack dan Kate Beckinsale, ketika sedang makan es krim di sebuah restoran yang bernama Serendipity, disebutkan serendipity artinya adalah “sebuah kebetulan yang menyenangkan.”
Serendipity adalah ketika seseorang secara kebetulan menemukan sesuatu yang lebih berharga, sementara ia sebenarnya mencari hal yang lain sama sekali.
Julius Comroe, Jr menulis bahwa Serendipity adalah mencari jarum dalam tumpukan jerami, tapi yang ditemukan adalah anak gadisnya Pak Tani.
Kata Serendipity sendiri berasal dari dongeng Persia yang bercerita tentang Three Princess of Serendip. Serendip adalah sebutan lama Persia untuk negeri yang sekarang bernama Sri Lanka. Kisah Three Princess of Serendip menceritakan petualangan yang penuh dengan kebetulan-kebetulan yang menyenangkan.
Jika belum paham juga soal konsep Serendipity ini, tontonlah filmnya. Ini salah satu film favorit saya, sebuah film yang sangat berkesan.

Follow by Email