17 Agustus 2007

thumbnail

17 Agustus

Apa yang bisa disikapi dari ulang tahun kemerdekaan kali ini, selain fakta bahwa usia kemerdekaan sudah 62 tahun dan rata-rata 3 dari 10 peserta panjat pinang mengalami luka-luka, dan negara kita makin kacau balau. (lihat The Legend of Chaos Country).

Sementara kita semakin berkurang rasa nasionalismenya: di tempat saya kerja, sewaktu GM menyarankan apel bendera, tak satupun yang setuju. Libur ya libur. Begitulah.


Di MTV, pemirsanya disebut "anak nongkrong", seolah-olah generasi muda kita kerjanya nongkrong aja, tidak melakukan hal-hal yang bersifat produktif. Tidak berkarya.


Ritus seperti apel bendera masih kita butuhkan, dimanapun kita bekerja sekarang. Mengapa setiap bulan Desember orang-orang memotong pohon cemara untuk pohon natal, apa tidak merusak lingkungan? Mengapa tiap tahun orang-orang datang ke Borobudur untuk upacara, apa tidak ada kerjaan lain yang lebih penting. Untuk apa apel bendera, cukup satpam aja yang naikin benderanya, kan cukup, jadi tidak menganggu liburan. Untuk apa orang-orang patungan beli sapi, kemudian dipotong dan dibagi-bagikan, kenapa tidak beli sekilo dua kilo, kan sudah cukup buat keluarga di rumah.


Untuk apa ritus itu?


Ritus-ritus itu tetap kita perlukan, karena kita hidup di dunia yang tidak sempurna. Selagi keadaan masih belum sempurna (dan tidak akan pernah sempurna, karena negara Utopia hanya ada dalam buku Sir Thomas More). Memang setiap tanggal 17 Agustus kita diingatkan bahwa kita telah merdeka, tapi selagi negara masih memelihara pejabat korup yang memperkaya diri sendiri, selagi BBM dan minyak goreng harganya selangit, selagi masyarakat banyak masih dihimpit dengan kesulitan hidup sehari-hari ditambah harga sembako yang membumbung tinggi, selagi biaya pendidikan masih mahal, sesungguhnya kita belum merdeka.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email