13 November 2007

thumbnail

The Hunt For Mus Musculus (The Murder of A Mouse)

Cukup sudah, demikian pikir istri saya. Tikus di rumah tidak dapat ditolerir lagi. Hewan dengan nama latin mus musculus ini (tidak ada hubungannya dengan Mus Mujiono maupun Mus Mulyadi) sudah lama mengganggu aktifitas di dalam rumah. Sewaktu sedang asik menonton tv, si tikus dengan cueknya melintas, seolah-olah rumah ini milik dia. Sudah di-hush berkali-kali, tikus itu melesat ke arah dapur, lalu dari dapur melesat lagi ke depan.

Perburuanpun dimulai.


Istri saya memegang raket badminton yang sudah penyok, sementara saya disuruh memegang sapu. Tikus itu melintas lewat kaki saya, saya pun terlonjak kaget (Sumpah, saya geli n jijik dengan tikus). Istri sayapun mengejar dengan bernafsu, dan ciyaaaaaatttt, dia mengayunkan raketnya. Meleset! Tikus itu ngelak dan melesat dan lari ke kamar.

Mungkin karena sudah kepalang muak, istri saya menyusul ke kamar, dan minta saya mengeluarkan barang-barang dari kamar ke koridor. Pintu kamarpun dikunci dari dalam oleh istri saya.
Ide saya adalah mengusir tikus itu keluar rumah. Tapi itu bukan ide bagus menurut istri saya. Dengan dia mengunci pintu kamar dari dalam, tahulah saya. Dia sedang merencanakan pembunuhan. Tikus itu sudah divonis mati, tidak ada jalan keluar buat hewan pengerat yang malang itu. Maka, setelah istri saya menjebak tikus tersebut di sudut tempat tidur, tikus itu lari ke arah saya. Sayapun mengayunkan sapu, tapi terlambat sepersekian detik, tikus itu lalu melesat kembali ke arah istri saya, yang dengan sigap mengayunkan raket dan buk! Sang tikus terkapar dengan kaki menghadap ke atas.

Tibalah bagian yang paling saya benci. Sayalah yang harus mengeluarkan bangkai tikus tersebut dari kamar, dan membersihkan lantai.
Whew!

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email