05 Desember 2007

thumbnail

Suuzon

Perkara suuzon memang pelik. Misalnya begini: tiba-tiba pada suatu hari rekan kita tidak mau menegur kita lagi, padahal kita merasa sama sekali tidak berbuat salah. Apa yang terjadi sebenarnya? Mungkin kita dianggap telah melakukan suatu kesalahan. Rekan kita mungkin tidak mau bicara lagi karena dia berpikir kita adalah sejenis orang yang khianat, suka mencari nama dan keuntungan sendiri. Kita berpikir bahwa rekan kita tidak mau bicara dengan kita karena dia itu suuzon sama kita.

Pada saat kita berpikir begitu, kita lah yang sebenarnya suuzon, karena menganggap rekan kita itu suuzon sama kita.

Analoginya begini, ah mungkin si Bambang berprasangka buruk padaku. Nah, bukankah kita juga berprasangka buruk pada si Bambang, karena menyangka dia berprasangka buruk sama kita?

Intinya, semua orang suuzon. Ini sifat alamiah manusia, yang berasal dari naluri mempertahankan diri. Jangan-jangan si A ini begini, jangan-jangan si B begitu. Semua orang pernah berpikiran suuzon. Pada saat saya menulis ini, saya juga suuzon karena menyatakan bahwa semua orang pernah berpikiran suuzon. Karena semua orang cenderung berprasangka, ada hukum-hukum yang menangani ini. Seorang tersangka disebut tersangka karena dia masih disangka, jadi belum ditetapkan vonis bahwa dia itu bersalah. Jadi dalam hukum yang sempurna, seorang tersangka sama tidak bersalahnya dengan orang lain, kecuali terbukti sebaliknya (presume of innocent/praduga tak bersalah). Dan pembuktian itu mesti melalui proses hukum yang benar.

Prasangka ada di mana-mana. Yang buruk adalah jika prasangka ini kemudian, dengan proses gunjing menggunjing, di terima orang-orang sebagai fakta. Bahwa orang Padang pelit, orang Batak kasar, orang Islam teroris, orang Yahudi mendewakan materi, menjadi semacam prasangka apriori di dalam masalah SARA. Prasangka bahwa orang miskin cenderung mencuri, seharusnya sudah lama punah, karena pencurian besar-besaran dengan maksud memperkaya diri, selalu dilakukan oleh orang yang sudah kaya. Orang miskin mungkin akan terpaksa mencuri, karena anak dan istrinya di rumah harus makan supaya bisa terus bernyawa.

Film terbaik tahun 2005, berjudul CRASH, ditulis dan disutradarai Paul Haggis, sangat mengena dan dengan tepat melukiskan perkara suuzon ini. Tagline You think you know who you are, you have no idea, dengan tepat menyatakan bahwa kita tidak bisa sembarangan menilai orang lain, padahal kitapun belum tentu mengenal dengan baik diri kita sendiri. Kalau ditelusuri lebih lanjut, sangat selaras dengan pepatah Kuman di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak nampak.
Dulunya si Fulan mungkin memang orang yang bermasalah, tapi setiap masalah ada sebabnya, dan tidak ada satu individupun di dunia ini yang dilahirkan untuk mencari-cari masalah. Ada orang-orang tertentu yang hidupnya terkecai-kecai dan tidak punya tempat mengadu, hingga depresi, dan timbullah masalah, seolah-olah dia itu mencari-cari masalah. Tapi manusia bisa berubah, dan kita harus memberikan kesempatan seorang individu memperbaiki dirinya, antara lain dengan menjauhkan prasangka. Paling tidak, menguranginya. Jika prasangka atau suuzon terlanjur keluar, dan marah karena suuzon itu, berikanlah hak jawab, agar orang yang dikenai suuzon tadi bisa menjelaskan dan membela dirinya.

Suuzon atau prasangka bisa menyebabkan runtuhnya persahabatan, runtuhnya sebuah proyek yang dibangun bersama, runtuhnya organisasi, terpecahnya suatu kaum, dan bisa membunuh seorang individu baik dalam arti sebenarnya, maupun kiasan.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

1 Comments

avatar

Astaghfirullahal azhim..
Terima kasih bang atas tulisannya..

Reply Delete

Follow by Email