25 April 2008

thumbnail

Hypnerotomachia Poliphili

reposted
Judul lengkapnya adalah Hypnerotomachia Poliphili, ubihumana omnia non nisi somnium esse ostendit, atque obiter plurimascitu sanequamdigna commemorat, yang diterbitkan pada tahun 1499 (diterjemahkan dalam bahasa Inggris baru tahun 1999 yang lalu) adalah sebuah ensiklopedi yang tersembunyi dalam bentuk sebuah novel, sebuah tulisan mengenai semua hal, mulai dari arsitektur sampai ilmu hewan, yang ditulis dalam gaya yang dianggap bertele-tele bahkan oleh seekor keong sekalipun (seandainya keong bisa membaca). Buku ini adalah buku terpanjang di dunia mengenai seseorang yang sedang bermimpi, dan ini membuat Marcel Proust, penulis kisah terpanjang tentang seseorang yang sedang makan sepotong kue, tampak seperti Ernest Hemingway.

Buku ini merupakan kumpulan plot dan karakter yang kusut, yang dihubungkan melalui tokoh sentralnya, yang bernama Poliphilo. Nama Poliphilo sendiri penuh kiasan, dari bahasa Yunani Polu` yang artinya 'banyak', dan philos yang artinya 'mencintai'. Karakter ini memang mencintai banyak hal. Intisari ceritanya sangat sederhana: Poliphilo diganggu mimpi aneh tentang pencariannya akan wanita yang dicintainya, yang bernama Polia. Tetapi cara berceritanya begitu rumit hingga sebagian besar cendekiawan Renaisans menganggap Hypnerotomachia Poliphili begitu sulit dan membosankan. Arti Hypnerotomachia Poliphili dari bahasa Latin adalah "Perjuangan Poliphilo demi Cinta dalam Sebuah Mimpi".

Walaupun begitu, buku ini merupakan objek penelitian yang tak habis-habisnya, karena para ilmuwan berpendapat banyak rahasia besar dunia baik dulu (zaman Renaisans) maupun masa depan tersembunyi secara rahasia dalam bab-bab buku ini. Sebagai contoh, jika huruf-huruf pertama dari setiap bab dalam Hypnerotomachia Poliphili dirangkaikan, akan terbentuk sebuah akrostik bahasa Latin yang berbunyi: Polium Frater Fransiscus Columna Peramavit, yang artinya kira-kira "Bruder Fransesco Colonna sangat mencintai Polia". Nama Polia sendiri bisa berarti 'banyak', dari kata Polu` di atas. Teks dalam buku ini menggunakan bahasa Latin Italia, Latin, akar dari bahasa Yunani, juga Arab dan Ibrani, dan juga hyrogliph yang berasal dari peradaban Mesir Kuno.

Karena adanya nama Fransiscus Columna (Latin) atau dalam idiom sekarang Fransesco Colonna, maka para ilmuwan menganggap seorang biarawan Italia bernama Fransesco Colonna lah yang menulis buku yang tadinya dianggap anonim, bahkan oleh penerbitnya Aldus Manutius.

Hal-hal seperti ini dalam sebuah buku yang berjudul The Rule of Four, karya Ian Caldwell dan Dustin Thomason. Novel misteri yang juga bergenre thriller ini berkisah tentang dua orang mahasiswa Princeton yang mempelajari misteri yang terkandung selama 5 abad dari Hypnerotomachia Poliphili. Penuh dengan intrik dan plot yang bagus, The Rules of Four sarat pujian. Di cover nya tercantum komentar dari Nelson Demille, penulis Up Country dan The General's Daughter: "Jika Scott Fitzgerald, Umberto Eco serta Dan Brown bergabung untuk menulis sebuah novel, hasilnya adalah The Rule of Four."

Bagaimana dengan syair-syair Ronggowarsito yang sarat pesan? Atau tulisan Jayabaya? Dapatkah kita menangkap pesan-pesan yang tersirat dari yang tersurat? Sudahkah ada literatur yang mengupas secara dalam karya sastra awal Indonesia, jauh sebelum lahirnya Abdoel Moeis, Achidat K Miharja dan lain-lain?

Artikel Terkait: Da Vinci Code (free ebook) | Serendipity | Cinemags Celebrates 100th Edition | The Broker

Main site www.ferdiansyah.com

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email