28 Mei 2008

thumbnail

Laskar Pelangi: The Movie

Novel yang mengharu biru karya pertama dari novelis Andrea Hirata, akan difilmkan oleh Mira Lesmana. Proses pembuatan filmnya bahkan sudah memasuki tahap produksi. Hampir 100% pengambilan gambar akan dilakukan langsung di Pulau Belitung (Belitong), dan merupakan kerja bareng antara rumah produksinya Mira Lesmana, Miles Films, dengan Mizan Cinema Production, B Edutainment dan Iluni UI.

Skenarionya digarap oleh Riri Riza, Salman Aristo dan Mira Lesmana sendiri, setelah berdikusi intensif dengan pengarangnya, si ikal Andrea Hirata. Agar chemistry antara cerita dan pemain muncul natural, para pemainnya sebagian besar adalah anak Belitong asli, yaitu 12 pemain, 10 laskar pelangi dan dua karakter tambahan lainnya. Selain mereka, aktor dan aktris seperti Cut Mini, Tora Sudiro, Slamet Rahardjo dan Alex Komang juga akan dikasting.

Berdasarkan pengalaman, menterjemahkan novel ke layar lebar bukan sesuatu yang mudah. Banyak detil dan fakta yang tidak bisa begitu saja muncul di film, karena bahasa novel adalah bahasa narasi, dan bahasa film adalah bahasa gambar dan dialog. Penggemar novel Harry Potter banyak yang kecewa dengan versi filmnya karena beberapa adegan penting malah tidak ada di film, atau plot nya yang suka berubah. Antony Minghela dengan susah payah mengangkat buku The English Patient ke layar lebar, dan Martin Scorsese pontang panting sewaktu menterjemahkan buku Nicolas Pileggi, The Wise Guy, menjadi film The Goodfellas. Novel John Grisham tentang gugatan clash action terhadap pabrik rokok, diganti dengan gugatan terhadap perusahaan senjata dalam film The Runaway Jury.

Mira Lesmana sendiri sudah mengisyaratkan hal itu, bahwa akan ada perbedaan antara novel dan filmnya. Ada hal-hal yang tidak terdapat di novel namun ada di film, dan ada hal-hal yang tidak terdapat di film, namun ada di novelnya. Salah satu contoh perbedaannya adalah ada tokoh-tokoh tambahan yang tidak terdapat di novel. Menurut Mira, hal ini diperlukan untuk membantu membangun drama yang berkembang di film, karena dalam penulisan skenario ada 'hukum dramanya'. Penambahan tokoh dalam film ini juga berdasarkan riset dan wawancara lanjutan dengan tokoh nyata yang disebutkan di novel, yaitu Bu Mus.

Bagus juga Laskar Pelangi digarap oleh Mira Lesmana, karena dia bukanlah produser kelas opera sabun seperti Ram Pun Jadi (Punjabi, maksud saya), atau produser penjahat seni lain yang keturunan India. Sedikit banyaknya duet Mira Lesmana dan Riri Reza (ingat Petualangan Sherina) punya sentuhan yang bagus dan mereka memiliki idealisme tersendiri. Lagipula, film ini bisa jadi semacam penyegar setelah selama ini bioskop dipenuhi dengan film hantu dan sekuel film hantu, film cinta yang sok 'dalam' padahal pendekatannya dangkal, dan lain-lain. Akhirnya ada juga (lagi) film yang layak ditonton oleh seluruh anggota keluarga, yang bisa menghibur sekaligus mendidik, dan memiliki pesan yang sangat masuk akal (bacalah novelnya). Paling tidak anak-anak memiliki alternatif tontonan daripada setiap hari menonton reality show musik di TV yang--sebenarnya acaranya bagus sih--di panel jurinya selalu ada makhluk jadi-jadian semacam bencong, sehingga cukup membingungkan anak-anak.

Artikel Terkait: Hypnerotomachia Poliphili | Serendipity

Main site: www.ferdiansyah.com

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

1 Comments

avatar

Awesome! Its actually amazing article, I have got much clear idea about from this post.



Look into my homepage ... domain

Reply Delete

Follow by Email