03 Juni 2008

thumbnail

Gara- Gara Film

"Too Much Movie Will Kill You"
Seperti yang tercantum dalam flash banner di atas, "movie is reflection of life", film juga berpengaruh dalam kehidupan yang manusia jalani (life's influenced by movie, atau sebaliknya movie's influenced by life). Film-film tertentu memberikan inspirasi tertentu pada individu tertentu. Terkadang pengaruhnya baik, terkadang tidak. Film-film yang bertema kekerasan dan seksual akan berpengaruh buruk jika ditonton oleh anak-anak. Sinetron tentang anak sekolahan di TV harus disikapi dengan bijak karena mempertontonkan sifat iri dan dengki pada rekannya sendiri, rebutan pacar dan pamer harta. Timbul kesan seolah-olah pacaran lebih penting daripada belajar, karena sangat sedikit adegan tentang belajar walaupun lokasi shootingnya di sekolah, yang banyak adalah adegan naksir-naksiran, rebutan pacar, pengelompokan (geng-gengan), dan ngambek-ngambekan, kalau tidak marah-marahan.

Anak saya yang cowok (satu-satunya cowok so far), yang bernama Hadi, saya ajak menonton film Finding Nemo pada saat hampir berumur 4 tahun. Itu film pertamanya yang ditonton di bioskop. Film itu menimbulkan kesan yang dalam baginya, tahu sendirilah, film-film Disney (dan Pixar Animation Studio) dikemas dengan apik dan selalu berkesan, bahkan bagi orangtua. Saking berkesannya Finding Nemo bagi anak saya tersebut, hingga sampai hari ini dia tidak mau makan ikan. Padahal sekarang dia sudah kelas 3 SD. Tentu saja berbagai upaya sudah dilakukan untuk membujuknya agar mau makan ikan. Ikannya digoreng tepung, atau dibuat fillet ikan, dan seisi di rumah diwanti-wanti agar tidak membocorkan rahasia, tapi tetap saja dia tau dari baunya. Istri saya selalu mengulang-ulang bahwa robot Aibo dan Asimo dibuat oleh orang Jepang , orang Jepang pintar-pintar karena setiap hari makan ikan, bahkan ikan mentah, dan ikan mengandung protein yang tinggi, bagus buat otak karena mengandung DHA dan Omega3, tapi sama sekali tidak bisa mempengaruhi si kecil. Bukan ikan saja, dia tidak mau makan udang, kepiting, kerang, sotong, pokoknya semua yang hidup di air, baik sungai maupun laut, apalagi akuarium. Padahal dia sama sekali tidak alergi dengan jenis makanan tersebut. Ada yang bisa memberi saran soal ini? Jadi, gara-gara film Finding Nemo, anak saya tidak mau makan ikan.

Hal di atas sebenarnya tidak begitu merepotkan, jika dibandingkan gara-gara film, sebuah nyawa melayang. Masih ingat dengan kasus pembunuhan Naek L. Gomgom Hutagalung yang melibatkan artis sinetron Lidya Pratiwi? Lidya Pratiwi dan pamannya berencana memeras Gomgom dengan meniru plot dalam film Derailed yang dibintangi oleh Jennifer Aniston dan Clive Owen. Plot yang ditiru adalah penjebakan calon korban dalam sebuah kamar hotel. Tidak seperti dalam film di mana si penjahat berhasil memperoleh uangnya dan korbannya hidup hingga akhir film, rencana pemerasan terhadap Gomgom berakhir dengan tewasnya korban dan pelakunya tidak memperoleh apa-apa selain hukuman penjara.

Sebuah film juga mampu membahayakan nyawa seorang presiden. Pada 30 Maret 1981, Presiden Ronald Reagan ditembak di depan Washington Hilton Hotel di Washington, DC. Reagan tertembak di bagian paru-paru, peluru yang lain mengenai satu orang staf Gedung Putih, seorang polisi lokal dan seorang agen Secret Service. Pelaku penembakan adalah John Hinckley, Jr. Setelah penyelidikan lebih lanjut terungkap bahwa motivasi di belakang penembakan tersebut adalah film Taxi Driver, yang dibintangi oleh Robert De Niro dan Jodie Foster. Hinckley terobsesi berat dengan Jodie Foster, dan mengidentifikasikan dirinya dengan karakter Travis Bickle yang diperankan Robert De Niro. Hickley menonton ulang film Taxi Driver sedikitnya 15 kali, dan mulai membayangi Jodie Foster kemanapun aktris itu pergi, bahkan hingga ke kampus Universitas Yale, tempat Foster kuliah. Dia bahkan menulis surat berkali-kali yang ditujukan kepada Jodie Foster, yang isinya menyatakan bahwa ia akan menyelamatkan Foster dan untuk menjadikannya public figure yang setara dengan Foster, ia akan membunuh Presiden, seperti yang diisaratkan dalam film Taxi Driver. Iapun mulai mengikuti dan mengamati kegiatan Presiden saat itu, Jimmy Carter. Rencana tersebut baru ia realisasikan setelah Reagan menjadi Presiden. Penembakan tersebut untungnya tidak memakan korban jiwa, Reagan berhasil diselamatkan. Stafnya menderita kelumpuhan, polisi dan agen Secret Service bisa diselamatkan setelah menjalani operasi darurat untuk mengeluarkan peluru. John Hinckley, Jr. sendiri kemudian dibebaskan dari ancaman hukuman mati dengan dalih bahwa ia gila.

Film lain yang dianggap berbahaya adalah Natural Born Killer yang disutradarai oleh Oliver Stone dan dibintangi oleh Woody Harrelson dan Juliette Lewis. Kisahnya menceritakan tentang pasangan Mickey dan Mallory yang menjadi buronan di penjuru Amerika setelah membunuh tidak saja kerabatnya sendiri, juga membunuh orang-orang lain yang ditemui di jalan, menculik, merampok. Pelarian dan perjalanan mereka disorot oleh media dan anehnya, karena sering muncul di berita, mereka jadi seperti selebriti dan dielu-elukan oleh publik. Film ini menginspirasi Nathan Martinez, 17 tahun, yang mencukur gundul kepalanya dan memakai kacamata warna, mirip tokoh Mickey dalam film tersebut. Martinez kemudian mengendarai mobil ke Salt Lake City, membunuh ibu tiri dan saudara tirinya. Pasangan Ronny Beasley dan Angela Crosby dari negara bagian Georgia menonton film Natural Born Killer sebanyak 9 kali, lalu meniru plot dalam film itu dan bergaya seperti Mickey dan Mallory, untuk kemudian melakukan perampokan, pencurian mobil, penculikan dan bahkan pembunuhan.

Jadi, alangkah berbahayanya sebuah film, jika tidak disikapi dengan bijak.

Artikel Terkait: Serial TV Jadul | The Year Of Living Dangerously

Main site: www.ferdiansyah.com

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email