19 Januari 2009

thumbnail

Terima kasih Pak SBY??? Yang bener aja Pak.

Dari sekian banyak iklan kampanye yang marak di teve, iklan kampanye SBY lah yang saya nilai paling norak. Dalam iklan kampanye itu dikesankan bahwa kepemimpinan dan kebijaksanaan SBY begitu bagusnya karena telah menurunkan harga BBM dalam negeri sebanyak 3 kali. Digambarkan juga bahwa rakyat begitu berterima kasih kepada beliau karena harga BBM tiga kali turun tadi.

Ini lucu, karena SBY jugalah yang berkali-kali menaikkan harga BBM, dengan alasan mengikuti kenaikan harga minyak dunia dan dikuranginya subsidi BBM dalam negeri, suatu kebijaksanaan yang selama ini dihindari oleh presiden-presiden sebelumnya. Diturunkannya harga BBM hingga 3 kali tentu saja bukan karena SBY bijaksana dan penuh pengertian dengan rakyat, tapi karena memang mengikuti hukum pasar minyak global. Wong harga minyak dunia turun, kalau sampai BBM dalam negeri tidak turun tentu pemerintah nyari penyakit.

Entah itu iklan kampanye dikonsep langsung oleh beliau, entah itu konsep dari tim kampanyenya, tapi itu iklan benar-benar norak dan sadis. Sadis karena begitu tega menganggap rakyat ini bodoh, seolah-olah rakyat tidak tahu turunnya BBM dalam negeri sebenarnya paralel dengan turunnya harga minyak dunia.

06 Januari 2009

thumbnail

Angels & Demons

ambigram
Robert Langdon, tokoh dalam novel dan film kontroversial The Da Vinci Code akan kembali beraksi. Novel karangan Dan Brown berikutnya yang akan diangkat ke layar lebar adalah Angels & Demons. Novel ini sebenarnya merupakan prekuel dari The Da Vinci Code, karena setting waktunya terjadi setahun sebelum plot yang ada di The Da Vinci Code.



Jika dalam The Da Vinci Code Dan Brown memaparkan Priory of Sion dan Opus Dei, maka dalam Angels & Demons Brown memaparkan tentang persaudaraan rahasia Illuminati, lembaga ilmu pengetahuan CERN dan Vatikan. Kisahnya sendiri (jika dirunut dari novelnya) adalah tentang pembunuhan misterius di CERN yang berlanjut dengan aksi teroris terselubung di lingkungan Vatikan, di mana 4 kandidat Paus dibunuh satu persatu dengan kejam, dan adanya ancaman senjata pemusnah masal yang disebut sebagai antimateri. Hal menarik lainnya adalah adanya ambigram, sebuah kode/tulisan yang dibuat dengan teknik dan intelijensia yang tinggi, sehingga bisa dibaca dari dua arah.

Robert Langdon masih diperankan oleh Tom Hanks dan Ron Howard masih duduk di kursi sutradara. Vittoria Vetra, pasangan Langdon kali ini, akan diperankan oleh Ayelet Zurer. Ewan McGregor akan berperan sebagai Carlo Ventresca. Filmnya sendiri akan dirilis pertengahan Mei 2009 ini. Tentu saja film ini, sebagaimana novelnya, akan menjadi kontroversial juga sebagaimana The Da Vinci Code karena menggambarkan intrik-intrik dalam lingkungan Vatikan dan adanya fakta-fakta sejarah yang selama ini tidak diketahui oleh orang awam (kecuali bagi yang pernah baca novelnya).


Artikel Terkait : The Da Vinci Code | Hypnerotomachia Poliphili | The Historian

03 Januari 2009

thumbnail

Kalau Mr. DJ Ngambek Di Lubang Semut

Siapapun bisa ngambek.

Kalau di acara tahun baru DJ ngambek nggak mau tampil, padahal
the show must go on, gimana saya nggak kelabakan. Tiket sudah nyaris sold out. Padahal di flyer dan di tiket, juga di banner, juga di iklan radio, sudah dijanjikan bahwa akan ada penampilan DJ untuk membuat Pesta Di Lubang Semut menjadi super meriah.

Ya, acaranya memang memakai
theme "Pesta Di Lubang Semut". Ballroom disulap menjadi seperti lubang atau goa semut. Untuk mewujudkan itu, ribuan lembar koran bekas yang sudah dicat hitam ditempel di dinding dan langit-langit dan dibentuk sedemikian rupa. Efek goa semut memang tercapai, tapi masih kurang jika penghuninya tidak didandani seperti semut. Maka rekan-rekan cewek yang cantik-cantik dan fashionable rame-rame didandani mirip semut, dengan antena yang terjuntai dan mengangguk-angguk di kepala, serta buntut (sebenarnya abdomen) semut yang semok dan montok. Untuk menambah efek sarang semut, salah satu dinding diberi lubang dan ditutupi screen. Kemudian projector menembakkan footage-footage tentang semut ke screen tersebut. Dan tamu-tamu yang hadir juga diwajibkan memakai antena semut yang sudah disiapkan panitia. Alhasil, jadilah kita semua mirip gerombolan semut yang ngerumpi, makan, minum dan berpesta di sarangnya.

Itu semua belum cukup, maka disewalah MC, band, dancers, dan dj. Acarapun sudah disusun sedemikian rupa agar
mood dan antusiasme kita semua tetap terjaga hingga melewati pergantian tahun. Celakanya, giliran Mr. Disc Jockey harus tampil dan unjuk gigi, sang DJ menghilang entah kemana. Setelah saya hubungi, ternyata doi nongkrong di sebuah hotel yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari tempat acara. Rupanya Mr. DJ ngambek. Usut punya usut, ngambeknya Mr. DJ karena doi tersinggung karena rekannya tidak bisa masuk ke lokasi acara gara-gara ditahan sama panitia. Tentu saja ini cuma kesalahpahaman komunikasi, dan seperti yang saya bilang tadi--atau seperti yang Freddie Mercury bilang dalam salah satu lagu Queen: the show must go on. Saya tak mau Pesta Di Lubang Semut ini berubah menjadi Pesta Di Lubang Neraka.

Tak peduli siapa yang salah, saya toh tak mau juga acaranya berantakan gara-gara DJ nggak mau tampil, maka sayapun membujuk DJ dengan kata-kata semanis gula (namanya juga semut) sambil minta maaf. Akhirnya sang DJ pun mau kembali ke lubang semut, dan pesta pun dilanjutkan, seolah tak terjadi apa-apa. Untung para tamu tidak sadar adanya insiden ini, dan sebagian besar rekan juga tidak 'ngeh'. Maka the show is really going on. Masa kritis lewat.

Dan semut-semutpun berpesta.

Follow by Email