24 Maret 2009

thumbnail

Ngopi Yuk.....

Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang kopi luwak, yaitu kopi yang dihasilkan dari fermentasi yang terjadi di perut luwak. Boleh dibilang, inilah kopi termahal di dunia.

Sekarang, frekuensi ngopi saya semakin kerap, gara-gara rekan-rekan kantor selalu mengajak saya untuk nyeleweng ke warung kopi yang terletak di gedung sebelah. Ngopi di situ memang lebih enak, beda dengan ngopi di "sini", yang tentu saja jadi ironis karena kopi di "sini" lebih mahal. Ngopi di warung kopi atau kopi-tiam terasa lebih nikmat, apalagi kopinya disuguhkan dengan cangkir kopi cina keramik yang tebal itu.

Sewaktu saya masih di Batam, saya sering nongkrong di counter-counter kopi franchise lokal yang diberinama ICBIC. Biasanya counter-counter ICBIC ini terletak di samping eskalator, terdiri dari 1 buah counter dan beberapa meja. ICBIC sendiri singkatan dari I Can't Believe It's Coffee. Di situ dijual bermacam-macam jenis kopi ala Starbuck, jadi ada capucino, espreso, cafe late, kopi decaf, bahkan kopi tubruk yang diminum sambil menggigit gula jawa. Saya tidak tahu apakah counter kreatif seperti ini masih ada di mall-mall di sana.

Saya meniru ngopi dari bapak saya. Beliau tiap pagi minum kopi dan sewaktu kecil saya sering mencuri menyeruput kopi beliau. Nah, cara beliau minum kopi selalu khas gaya minum kopi orang-orang tua jaman dulu. Selalu ada bunyi "seruputttttttt", kemudian diikuti ucapan "aaaaahhhhhhhh...." panjang. Kedengarannya seru, dan saya kaget karena bunyi-bunyi seperti ini masih terdengar di warung-warung kopi, termasuk warung kopi di sebelah kantor. Bayangkan jika warung kopi dipenuhi orang yang gaya minumnya seperti itu, pasti seru mendengar bunyi seruput dan "aaaaahhhhh" bersahut-sahutan.

Selain bapak saya, ada satu orang lagi yang menjadi tokoh kopi saya, yaitu Bu Heny. Bu Heny ini wanita cantik lulusan sekolah pariwisata di Aussie, dan menjadi EAM di tempat saya kerja dulu. Pengetahuannya tentang kopi luar biasa. Kalo beberapa rekan menjuluki saya ensiklopedia berjalan tentang film, Bu Heny ini ensiklopedia berjalan soal kopi. Beliau paham bermacam-macam jenis kopi, dan kalo ngobrol tentang kopi sambil minum kopi dengan beliau, kita akan terpesona. Di bibirnya yang menawan itu, derajat kopi naik menjadi 100 kali lipat dan kopi jadi serasa lebih berharga daripada intan berlian. Bukan hanya tentang pengolahan kopi yang dibahas, tapi nilai-nilai budaya dan latar belakang eksotis dari sebuah kopi itu menjadi nilai tambah pada obrolannya. Lagipula, siapa sih yang tidak betah ngobrol dengan wanita cantik, pintar lagi.

Nama kopi berasal kata kahve dari bahasa Turki jaman kekaisaran Ottoman, yang pada jaman itu menginvasi Eropa, terutama kawasan Transylvania dan Eropa Selatan. Kahve sendiri diambil dari kosa kata bahasa Arab yaitu kahwa. Sekarang tidak ada yang tidak tahu kopi, karena kosa katanya selalu ada dalam semua bahasa di dunia, misalnya coffee (Inggris), kafei (Mandarin), kaffe (Denmark), cafe (Prancis), koffie (Belanda), coffea (Italia), koohi (Jepang), kape (Philipine). Jadi istilah cafe dari bahasa Perancis itu artinya ya kopi. Tapi kalau di tempat saya lain, walaupun yang dijual bukan kopi, melainkan jus-jus buah, tetap saja namanya kafe. Warung tempat jualan sate dan tongseng serta nasi goreng juga disebut kafe. Salah kaprah seperti ini di Indonesia sudah lumrah, misalnya sepeda motor disebut honda, walaupun merk nya Yamaha. Atau pompa air disebut sanyo, padahal merknya Uchida. Atau lcd projector disebut Infocus, padahal merknya Sony atau Toshiba.

Kembali ke soal kopi. Memang ada kelebihan dan kekurangan kopi, misalnya mengkonsumsi kopi terlalu banyak berbahaya bagi jantung. Tapi penelitian terakhir menyebutkan bahwa kopi mengandung zat antioksidan (pencegah kanker) tiga kali lebih banyak daripada buah-buahan.

Jadi, kalo ada rekan, misalnya si Adi, si Dedi, pak Durisman, si Putri Wardah, Yoga, atau si Eka , si Sari, atau si Dewi ngajak saya minum kopi, dengan senang hati saya beranjak dari tempat duduk. Ngopi bisa berarti menambah keakraban, dan dengan demikian tentu saja memiliki fungsi sosial.

Ngopi yukkkk..

Artikel terkait : Kopi Luwak

14 Maret 2009

thumbnail

Slumdog Millionaire

Yang membuat saya terpukau dengan film Slumdog Millionaire adalah kemampuan sutradaranya, Danny Boyle, untuk mengangkat realita dengan sangat membumi. Hal yang selama ini gagal ditampilkan oleh film-film Bollywood. Tentu saja ini bukan film India, kebetulan saja setting ceritanya mengambil tempat di Mumbai (dulunya Bombay), India. Danny Boyle sendiri adalah sutradara Inggris, dan sudah menelurkan film-film seperti Trainspotting, A Life Less Ordinary, The Beach, 28 Days Later dan fiksi ilmiah Sunshine.

Dengan realita masyarakat marjinal yang ditampilkan dengan indah, menawan, dan bernuansa petualangan, film Slumdog Millionaire bukanlah film yang menjual mimpi, walaupun kisahnya tentang seorang gembel yang memenangkan hadiah puncak kuis Who Wants To Be A Millionaire versi India. Di Indonesia, beberapa tahun yang lalu seorang loper koran berhasil menembus angka Rp500juta. Nyaris menyamai Jamal Malik, tokoh utama dalam film ini. Yang membuat film ini masuk akal adalah, Jamal Malik bukanlah gembel yang jenius. Dia gembel biasa yang kebetulan mampu menjawab
hampir semua pertanyaan, karena pertanyaan-pertanyaan yang muncul simetris dengan perjalanan hidupnya yang pahit, tragis, indah, lucu, seram, sedih, dan penuh dengan petualangan.

Maka sangat layaklah film ini mendapat penghargaan 4 kategori Golden Globe, dan 8 Oscar untuk sinematografi, penyutradaraan, editing, musik latar, lagu, tata suara, skenario dan mendapatkan predikat Film Terbaik.

Film ini juga sangat layak ditonton oleh seluruh keluarga.

Follow by Email