14 Maret 2009

thumbnail

Slumdog Millionaire

Yang membuat saya terpukau dengan film Slumdog Millionaire adalah kemampuan sutradaranya, Danny Boyle, untuk mengangkat realita dengan sangat membumi. Hal yang selama ini gagal ditampilkan oleh film-film Bollywood. Tentu saja ini bukan film India, kebetulan saja setting ceritanya mengambil tempat di Mumbai (dulunya Bombay), India. Danny Boyle sendiri adalah sutradara Inggris, dan sudah menelurkan film-film seperti Trainspotting, A Life Less Ordinary, The Beach, 28 Days Later dan fiksi ilmiah Sunshine.

Dengan realita masyarakat marjinal yang ditampilkan dengan indah, menawan, dan bernuansa petualangan, film Slumdog Millionaire bukanlah film yang menjual mimpi, walaupun kisahnya tentang seorang gembel yang memenangkan hadiah puncak kuis Who Wants To Be A Millionaire versi India. Di Indonesia, beberapa tahun yang lalu seorang loper koran berhasil menembus angka Rp500juta. Nyaris menyamai Jamal Malik, tokoh utama dalam film ini. Yang membuat film ini masuk akal adalah, Jamal Malik bukanlah gembel yang jenius. Dia gembel biasa yang kebetulan mampu menjawab
hampir semua pertanyaan, karena pertanyaan-pertanyaan yang muncul simetris dengan perjalanan hidupnya yang pahit, tragis, indah, lucu, seram, sedih, dan penuh dengan petualangan.

Maka sangat layaklah film ini mendapat penghargaan 4 kategori Golden Globe, dan 8 Oscar untuk sinematografi, penyutradaraan, editing, musik latar, lagu, tata suara, skenario dan mendapatkan predikat Film Terbaik.

Film ini juga sangat layak ditonton oleh seluruh keluarga.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email