16 Juli 2009

thumbnail

Jambul

Rekan saya sedang tergila-gila dengan jambul. Ia mengklaim bahwa jambulnya menimbulkan rasa percaya diri yang besar. Jambulnya memang lumayan keren, tidak terlalu signifikan seperti jambul Jimmy Neutron, tidak lepek seperti jambul Superman yang selalu 'dikondisikan' berbentuk huruf S itu, tidak mirip dengan jambul Jusuf Kalla (memang beliau tidak punya jambul kok, atau mungkin pernah punya, tapi sudah dialokasikan untuk kumisnya yang tidak seberapa itu). Jambul rekan saya ini lebih mirip punya Elvis Presley, dan memang sangat cocok dengan bagian dahinya yang lebar.

Demikianlah, rekan saya itu menjadi sedikit narsis. Hari-harinya dimulai dengan menata jambulnya, dan beberapa jam perhari dihabiskan untuk mematut-matut jambulnya di depan cermin. Sering ia bergumam, 'siapa sih cowok keren di dalam cermin itu'? Para gadis mulai melirik padanya. Ia makin percaya diri di hadapan manusia lain. Dia pun bersyukur. Sebagai tanda syukurnya, ia mulai sholat lagi, selama ini sholatnya tambal sulam, kadang ingat kadang tidak, tapi lebih banyak lupa daripada ingat.

Masalah timbul. Ia malas memakai peci. Peci membuat jambulnya tertekan, dan jambulnya jadi kelihatan pendek dan tidak mencolok. Jadi ia sholat tanpa memakai peci. Sewaktu ruku, jambulnya jatuh lurus ke bawah dan mengganggu konsentrasi, maka iapun mengangkat tangannya dan menepis jambulnya ke samping. Hal ini terjadi berulang-ulang setiap ia ruku. Karena jambulnya jatuh melulu, banyak gerakan tubuh yang dilakukannya yang tidak terdapat dalam rukun sholat mazhab manapun. Gerakan-gerakan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ibadah.

Sehari-hari, kita selalu dihadapkan dengan 'jambul'. Jambul itu bisa berbentuk siaran langsung sepakbola di tengah azan maghrib, bisa juga berupa kerjaan yang menumpuk yang membuat kita lupa beribadah. Facebook dan Yahoo! Messenger bisa menjadi jambul. Film Transformer 2 di cineplex yang waktu tayangnya jam 6 sore juga bisa bertransformasi menjadi jambul.Hal-hal duniawi yang menjauhkan kita dari Tuhan, itulah jambul itu. Sebenarnya yang salah bukan jambulnya, manusianya lah yang salah. Harus ada semacam manajemen jambul, hingga jambul bisa diatur agar jangan sampai menjauhkan diri kita dari ibadah.

Rekan saya sebenarnya bisa saja memanage jambulnya tersebut dengan cara tetap memakai peci. Mungkin kegantengannya berkurang sekian persen, tapi ibadahnya akan lebih sempurna. Dan dalam ibadah, bukanlah manusia yang dihadapi, bukan pula gadis-gadis, bukan si Ria, tapi Allah Sang Maha Pencipta.

(Read more at www.ferdiansyah.com) REPOSTED.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email