27 Desember 2010

thumbnail

Saodah

Waktu itu pertengahan bulan Desember tahun 1957, udara selalu dingin karena hujan yang terus menerus. Di tengah gerimis malam, Atan Dempul bergegas meniti pelantar nibung yang licin dan mengetuk pintu rumahnya yang terbuat dari kayu beratap rumbia, di tepi Sungai Indragiri. Tangan kanannya membawa lampu teng.

"Saodah... buka pintu Dek, abang Atan datang ni."seru Atan Dempul memanggil istrinya.
"Assalamualaikum Saodah, di mana engkau, cepatlah sedikit. Bukan main dingin di luar sini."
"Saaodaaaaaaaah... hoiiii..."

Sang istri, wanita manja bertubuh besar, sengaja tidak cepat-cepat membukakan palang pintu. Ia menunggu sang suami menyebutkan kata keramatnya.

"Hoooiii Saodaaaaaaaah... Mati abang kedinginan di sini."

Tanpa beban sedikitpun Saodah masih melanjutkan kegiatan kesukaannya, meringkuk nikmat dalam kehangatan selimut belacu. Sejurus kemudian barulah kata keramat yang diharapkannya terdengar.

"Adindaku Saodah sayaaaaaaang, bukalah pintuuuuu."

Barulah Saodah membukakan palang pintu, lalu bersiap-siap memasang ekspresi kesal di wajahnya.

"Amboi, untunglah engkau cepat membuka pin.."belum sempat Atan Dempul menyelesaikan kalimatnya, Saodah sudah menyambar.
"Apalah abang ni, tengah malam buta macam inipun teriak-teriak. Ketuk pintu saja kan Adek dengar."
"Abang dah panggil dari tad..."
"Kenapa lambat betul balik, katanya habis Isya. Apa yang abang buat dekat pekan di Sapat itu?"
"Berniagalah. Tak ada lain."
"Berapa kaleng abang jual dempul? Kalau pulang tengah malam begini mestilah habis. Kalau tak habis abang jangan pulang. Itu baru bagus."
"Memang habis terjual."
"Jadi apa pasal abang baru balik tengah malam begini?"sambar Saodah sambil berkacak pinggang. 

"Amboi Saodah, abang masuk dan duduk dululah. Rebuslah air, abang nak minum teh panas ini."
"Jawab dulu pertanyaan adek, abang dari mana ha?"
"Inilah abang mau cerita. Lepas berniaga abang langsung balik tengah hari tadi. Tapi ada hal pula di jalan."
"Hal apa tu bang?"nada tinggi Saodah mulai surut dan dia bergegas ke bilik dapur untuk menghidupkan api.

"Sampan abang bocor dekat Sungai Junjangan."
"Terus, abang tak ke tepi?"
"Abang ke tepi lah. Abang ingat masih ada tali sabut kelapa dekat haluan. Abang cari-cari tak ada pula. Dempul pun tak ada."
"Kenapa abang tu bodoh sangat? Kalau berniaga dempul tu jangan sampai habis terjual semua. Sisakanlah satu untuk di sampan!"kata Saodah sambil menaruh teko aluminium di atas api.
"Ai? Serba salah aja ni."
"Itulah, kalau masih ada kan senang abang tambal sampan tu."
"Sampan abang bawa ke tepi, abang tambat dulu, naik ke pelantar Sei Junjangan tu, abang bertemu Utoh, kawan abang yang orang Banjar tu."
"Ha, terus?"
"Utoh tak bisa bantu abang lah, jadi abang jalan terus, bersyukur abang ketemu saudara kita."
"Siapa bang?"tanya Saodah ingin tahu.
"Sepupu jauh engkaulah"
"Siapa bang?"
"Bang Samad lah. Yang dulu tinggal dekat Sungai Bela tu."

Mata Saodah langsung terbelalak lebar, mulutnya ternganga. Lalu wajahnya memucat.

"Aduh abang ni, alamat sial lah nasib kita ni bang!"
"Kenapa?"
"Nasib buruk akan segera menimpa kita ini bang. Astaghfirullah apa dah jadi ni. Pertanda apa ni..."kata Saodah sambil geleng-geleng kepala." Terus bang?"

"Engkau ni apa pasal Saodah. Ya Bang Samadlah yang bantu abang cari tali sabut dan dempul, dia pula yang bantu abang naikkan sampan jadi tegak di tepi jerambah tu. Biar senang abang menambal. Diapun ikut abang pulang ni, Saodah kan dah lama tak jumpa dia. Sekarang dia sedang menambatkan perahu abang di ujung. Kalau tambat perahu di depan rumah nanti hanyut tenggelam lah kena hujan."
"Dia ikut abang ke sini?"wajah Saodah semakin memucat. Lalu nafasnya mulai memburu, wajahnya memerah karena mulai marah.
"Abang niiiiiiii. Kenapa lah abang bodoh sangat. Apa hal ni bang, sial betul lah nasib kita ni."
"Apa pula ni Saodah. Engkau bicara apa?"
"Matilah kita bang. Alamat nasib buruk akan menimpa kita. Sial hidup kita ni bang."
"Apa hal ni Saodah?"
"Abang Atan ni bodoh kah gila kah? Bang Samad tu kan dah mati?"

Atan Dempulpun tertegun. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepala.

"Abang tak gila Saodah. Itu betul Bang Samad yang ikut abang pulang. Dia sudah bantu abang menambal, kalau tidak entah macam mana abang balik ke Tembilahan ni."

"Astaga bang. Bang Samad itu sudah meninggal kena malaria. Sudah setahun. Kita memang tak pergi ke sana karena ada wabah."

"Eh, ini betul-betul Bang Samad, masih hidup, diapun sempat bertanya kabar engkau Saodah. Dia cakap begini: 'apa kabar sepupu aku yang gendut tu?' "

"Abang niiiiii. Geram aku. Bang Samad tu dah mati!"
"Jadi, siapa yang ikut pulang dengan abang tu?"
"Entahlah bang, orang Bunian mungkin, jin, mambang laut, setan hantu belawu, manalah tau."
"Tapi dia bercakap macam manusia. Dia kan saudara engkau,saudara aku juga, tak ada yang janggal dengan dirinya. Nampak lebih tua sedikit, ompong. Itu saja, tak ada hal lain yang janggal."
Saodah geleng-geleng kepala.
"Jangan sampai hantu tu masuk ke rumah kita ni bang."kata Saodah lagi.

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.

Atan Dempul dan istrinya saling berpandangan. Saodah memandang suaminya dengan tajam. Tatapan matanya mengisyaratkan agar Atan tidak membuka pintu.

Pintu diketuk lagi. Dua kali, tiga kali. Saodah langsung lari ke dapur mencari pisau, lalu kembali ke samping suaminya.

Terdengar suara pintu diketuk lagi. Saodah lalu berteriak.
"Siapa di luar?!"
"Akulah. Samad, abang sepupu engkaulah Saodah. Dingin sangat ni, mana Atan tadi? Jemput aku masuklah."
"Saodah,"kata Atan kepada istrinya. "Jangan engkau gila Saodah, dia itu sepupu engkau sendiri."
"Jangan sampai abang buka pintu itu."bentak Saodah.
"Atan!" teriak suara dari luar. "Bukalah pintu, engkau nak bunuh aku ya. Basah kuyup aku ni Atan."

Selama kehidupan rumah tangganya, Atan Dempul selalu menurut kata-kata istrinya. Atan sadar bahwa istrinya lebih pintar dari dia, hingga dia percaya dan mengiyakan apapun yang dikatakan Saodah. Namun malam itu, didorong oleh rasa kasihan yang amat sangat pada sosok tua Bang Samad yang telah ditemuinya di Sei Junjangan, Atan Dempul menuju pintu dan mengangkat palangnya. 

Pintupun terbuka, dan berdirilah di sana, disertai kilatan petir yang sekilas membutakan mata dan diiringi suara guntur beberapa saat kemudian, sosok tua Bang Samad, dengan rambut putih, wajah pucat kedinginan dan tubuh basah kuyup. Bang Samad mengenakan jas hitam model Belanda dan kemeja yang sudah lusuh. Senyumnya mengembang, memperlihatkan deretan gigi keemasan yang ompong di sana sini. Mulutnya merah kehitaman karena terlalu banyak makan sirih.

Tubuh Saodah bergetar karena hembusan angin yang disertai tempias hujan. 

Atan mengajak Bang Samad masuk dan mempersilakannya duduk. Bang Samad menyeret tubuhnya ke kursi dengan tertatih-tatih, lalu memandang tajam kepada Saodah.

"Untuk apa pisau tu Saodah? Lagi menyiang ikan tengah malam buta ni? Apa kabar engkau?"

"Hiss.. aku tak kan tertipu dengan iblis macam kau. Kau sudah mati tahun lalu, kau ni bukan Samad, tapi setan."hardik Saodah dengan gemuruh, dadanya naik turun.

Bang Samad terkekeh.

"Hehehehe.. apa hal ni. Ini aku Samad, sepupu engkau, Atan mengajak aku ke sini."

Atan mengangguk membenarkan. 

Nyala lampu dinding bergoyang-goyang ditiup angin yang masuk melalui celah-celah pintu dan jendela. 

"Apalah bang Atan ini. Abang buta kah? Ini hantuuuuuuu bang... hantuuu...."kata Saodah. " Bang Samad sudah mati kena demam malaria tahun lalu."

Bang Samad geleng-geleng kepala. 

"Kalau tak suka aku datang, tak apalah. Biar aku pergi, tapi janganlah aku disebut hantu. Aku masih hidup, memang banyak saudara kita yang mati kena malaria, adik aku Si Amatpun mati juga seperti yang lain. Tapi aku sembuh, Saodah. Berkat kiriman kina dari kantor PNI."kata Bang Samad.

"He iblis,"kata Saodah sambil berkacak pinggang." Suamiku bisa kau bodohi. Tapi jangan harap kau bisa bodohi aku. Haa, bang Atan, tengok ni.."

Lalu Saodahpun menusukkan pisau ke dada Bang Samad. Bang Samad tertegun, Atan Dempul ternganga mulutnya.

Tusukan itu menghasilkan lubang di dada Bang Samad, menembus jas hitamnya yang lusuh dan basah kuyup. 

"Haaaaaa... kau tengok ni bang. Tengok yang kau bilang manusia ni. Aku tusuk tak adapun keluar darah. "kata Saodah.

Atan memandangi Bang Samad dengan heran. Dan rupanya Saodahpun belum puas.

"Sinilah aku tusuk lagi." Saodahpun menusuk dada kanan Bang Samad, kali ini sedikit lebih dalam. Sekarang ada dua lubang kecil di jas Bang Samad.

"Haaaaaaa.. kau tengok itu Bang Atan. Tak ada darahpun. Muka diapun selamba saja."

Atan masih terdiam terpaku. Bang Samadpun dengan susah payah beranjak dari kursi. Dengan tertatih-tatih ia menyeret tubuhnya ke pintu, sambil mulutnya komat-kamit bergumam. Saodah masih sempat mendengar samar-samar Bang Samad berkata: "Saodah.. Saodah..." 

Bang Samad keluar menghilang di balik pintu, dan pintupun terbanting menutup tertiup angin.

Di luar hujan deras. Sesekali kilat menyambar di horison. Bang Samad melangkah melintasi jerambah nibung dengan susah payah. Hampir dekat ujung jerambah, ia terjerembab karena licin. Dadanya terasa perih. Cuaca dingin yang mendera tubuh rentanya telah membuat peredaran darahnya bergerak lebih lambat. Darah mulai merembes keluar menembus jasnya yang berwarna hitam. Iapun oleng ke kanan dan tiba-tiba jatuh ke air, menembus rimbunnya kiambang di bawah jerambah. Tubuhnya lenyap di bawah kiambang, lalu terseret arus sungai Indragiri ke arah muara.

"Kau tengok tu bang,"kata Saodah di dalam rumah. Sudah dua kali adek tusuk dia dengan pisau dapur ni, dia selamba saja. Macam tak ada kejadian. Kalau manusia betul pastilah dia memekik. Darahpun tak ada keluar."

Atan masih tak bisa berkata-kata. 

"Jangan abang diam saja. Tengoklah keluar, pasti dia sudah hilang."kata Saodah lagi.

Atan Dempulpun beranjak ke pintu, tubuhnya gemetar, tidak saja oleh hawa dingin, namun juga karena ketakutan. Dia melihat keluar, ke arah hujan, ke arah jerambah, ke kanan dan ke kiri. Ia tak melihat apapun. Si hantu agaknya telah lenyap.

Bang Samad yang sudah tua tewas karena ketidaktahuan, tahyul, salah paham, juga karena adanya keterbatasan komunikasi dan transportasi pada masa itu. 

Akan halnya Atan Dempul dan Saodah, mereka melanjutkan hidupnya di tepian Sungai Indragiri tersebut. Sesudah peristiwa itu Saodah bercerita kepada setiap orang bahwa suatu malam mereka didatangi hantu Bang Samad dan mereka berhasil mengusirnya. Sementara Atan Dempul sendiri lebih banyak diam, hanya sesekali mengangguk mengiyakan apapun yang dikatakan Saodah.

Dan Saodah yang malang itu, tak pernah terbersitpun dalam pikirannya, bahwa pada malam dingin berhujan itu ia telah melakukan sebuah pembunuhan. 
=Ferdiansyah= (Batam, 27 Desember 2010).
Baca selengkapnya di www.ferdot.com

15 Desember 2010

thumbnail

RADIO (2)

Bagian Dua

Dengan lutut gemetaran, aku mencoba melangkah maju. Monyet-monyet itu masih tak bergeming. Monyet paling depan berada sekitar 2 meter jaraknya dariku. Jalan tertutup rapat oleh mereka, dan aku memberanikan diri terus melangkah, mencoba menganggap bahwa keberadaan monyet-monyet tersebut adalah ilusi. Kupejamkan mataku, lalu kubuka kembali. Monyet-monyet sialan itu masih ada, dan aku semakin mendekati mereka. Dalam jarak sangat dekat begini, barulah aku dapat menangkap suara-suara monyet tersebut, yang ternyata sedang menggeram halus. Pandangan mata mereka tetap mengikutiku. Lalu, entah ide gila dari mana, entah karena panik, kutendang seekor monyet tepat di depanku. Aku bisa merasakan bulu-bulu monyet tersebut dan tubuhnya yang hangat dengan kaki yang telanjang, lalu monyet itu melayang ke udara, hinggap di ranting pohon, dan kemudian dengan teriakan memekakkan telinga, melayang lurus ke arahku. Aku berbalik arah, dan monyet tersebut hinggap di bahuku. Lalu monyet-monyet lain menyusul. Ada yang menduduki kepalaku, hinggap di bahu kanan, bahu kiri, memeluk pinggangku, memeluk kedua kakiku, dan seekor monyet lagi berusaha menggigit pergelangan lenganku. Dan semuanya berteriak dengan teriakan riuh rendah yang ramai dan memekakkan telinga.
 
Darah mulai keluar dari tanganku, aku mencoba mengibas-ngibaskan tangan tersebut, dan tiba-tiba ikatan lenganku putus, dan kini kedua tanganku bebas bergerak. Aku meraih monyet yang dipunggungku, dan membantingnya ke aspal. Aku berusaha meninju monyet di kedua kakiku, dan tubuhku menggeliat hebat untuk berusaha melepaskan diri dari hewan-hewan ini. Monyet yang kubanting ke aspal bangkit lagi, dan menyerang lagi. Kali ini mereka semua mulai menggigitiku. Telingaku mulai basah, cupingnya terluka karena gigitan. Kedua kakiku mulai goyah, dan aku jatuh berlutut. Aku mengangkat kepala dan kulihat di sekitar jalan, dari arah pepohonan yang gelap, sosok-sosok monyet lain, dalam jumlah ratusan berdatangan ke arahku. Sekarang jalanan dan pohon-pohon di sekitarku penuh dengan monyet-monyet kelabu ini, yang ribut menceracau dan berteriak-teriak menyakitkan telinga.

Kini aku terduduk lemah. Seekor monyet mulai menggigiti leherku. Aduh, siapa yang mau mendapatkan monkey bite dari monyet beneran. Mungkin inilah saat-saat terakhirku, tewas secara konyol, dengan tubuh penuh luka bekas gigitan monyet. Bisa saja mereka nanti membuang mayatku, dan aku akan dianggap hilang tak tentu rimbanya.

Punggungku tak kuat lagi tegak, aku terkapar, telentang tak berdaya. Monyet-monyet sialan itu bertumpuk-tumpuk di atas tubuhku. Kepalaku terasa sakit karena rambutku ditarik-tarik. Pandanganku mulai mengabur, samar-samar kulihat bulan yang pucat, sebagian tertutup awan. Kemudian bulanpun mulai terlihat redup, semakin redup, langit di sekitar bulan mulai menghitam, dan tak lama kemudian bulanpun lenyap. Aku tak bisa melihat apa-apa lagi. Samar-samar aku masih bisa mendengar suara geraman dan lengkingan monyet-monyet, lalu terdengar pula suara yang lain. Yang lembut, yang merdu, yang membuai jiwaku. Inikah proses kematian?

Tiba-tiba tubuhku serasa tersentak-sentak, lalu terangkat dari atas tanah. Tubuhku terasa ringan, dan aku melayang ke atas. Kubuka mata, dan kulihat monyet-monyet mulai berjatuhan dariku. Kini aku bebas dari monyet, dan melayang di udara. Aku melihat ke ujung kakiku yang nyaris sejajar dengan tanah, dan di sana kulihat seorang bidadari bergaun putih dengan tatapan mata yang menyejukkan dan senyum yang misterius, laksana senyum Mona Lisa. Mona Lisa!

Itulah dia. Mona Lisa! Itu sebabnya mengapa aku serasa pernah melihat senyum itu. Itu senyuman misterius yang paling terkenal di seluruh dunia. Yang berasal dari lukisan potret karya maestro Leonardo Da Vinci, yang sekarang tergantung anggun di sebuah lorong di Museum Louvre, Paris. Senyuman Ygga adalah senyum Mona Lisa. Senyum misterius yang tak seorangpun tahu hingga sekarang apa artinya. Apakah ia tersenyum karena bahagia, atau tersenyum sinis, atau tersenyum dengan tulus, atau senyuman yang menunjukkan bahwa ia tahu rahasia-rahasia yang orang lain tidak tahu.

Itulah sebabnya aku serasa pernah melihat wajah Ygga sebelumnya. Raut wajahnya persis dengan potret Mona Lisa. Ygga adalah Mona Lisa.

Aku mengangkat kepala, dan kulihat Mammon di sampingku. Rupanya Mammon lah yang mengangkat tubuhku dari kerumunan monyet-monyet itu. Dan sekarang ia yang membopongku kembali ke arah bangunan studio. Dengan segala kengerian ini, aku memang sudah tidak kuat lagi berdiri. Kulihat Ygga mengikutiku dari belakang.

Mammon meletakkanku di sofa panjang, kemudian ia pergi entah ke mana. Mammon kembali membawa sebaskom air hangat, perban, kapas dan obat luka. Setelah menaruh benda-benda tersebut di atas meja, ia menghilang ke balik pintu. Aku tidak melihat Fausto, mungkin dia masih terkapar di ruang sempit itu.

Ygga duduk di sampingku, dan mulai membersihkan luka-lukaku. Tangannya yang lembut menyentuh wajah dan leherku, aku menahan erangan karena perihnya luka-luka tersebut. Aku bertanya,

„Siapa kau sebenarnya?“

Ygga tersenyum, tangannya membersihkan luka pada lenganku. Berapa sih umur wanita ini? Dia kelihatan muda, wajahnya halus tanpa kerut, tapi aku tak bisa menebak-nebak berapa umurnya. Dia punya pesona magis yang kuat, dan pandangan matanya menggambarkan seseorang yang sudah sangat lama mengenal dunia, bukan pandangan mata wanita berumur di bawah 30 tahun.

"Siapa kau sebenarnya?" tanyaku lagi.
"Aku punya banyak nama,"jawabnya. "Dulu orang-orang mengenalku dengan nama Pandemonium Satanico, selama berabad-abad namaku Silbi. Pada abad ke 16 namaku Lisa, pernah juga Marie. Sudah setengah abad terakhir ini namaku Ygga."
"Kau berusia berabad-abad?"
"Aku tak berumur. Usia tak bisa menyentuhku."
„Lisa? Kau adalah Lisa Gerardhini?“kataku lagi.

Ygga tersenyum lagi. Senyum yang enigmatik. Bikin penasaran. Ia mengangguk.

„Ya, aku pernah memakai nama itu. Waktu itu aku menikahi orang paling kaya di Italia, Fransesco del Giocondo. Fransesco membayar mahal pada Leonardo Da Vinci untuk melukis potretku. Tadinya aku menolak, tapi maestro ini, Leonardo, sangat terkenal waktu itu, orang yang jenius, akhirnya aku mau. Begitu lukisan selesai, aku minggat, dan meniupkan isu bahwa aku bunuh diri. Aku hanya pindah ke Perancis, mempersiapkan kekacauan di sana dan melakukan provokasi, mempersiapkan revolusi. Lukisan Nyonya Lisa, atau Mona Lisa seperti yang kalian kenal, akhirnya bisa kupindahkan ke Perancis, tak jauh dariku.”

“Bagaimana kau memindahkan lukisan itu dari Italia ke Perancis?”tanyaku penasaran.
“Bukankah itu gampang? Aku menikah dengan Louis XVI.”jawab Ygga. “Sang Raja membeli lukisan itu untukku. Diapun heran, mengapa lukisan itu mirip dengan diriku.”

Aku menggeleng. Rasanya tidak mungkin.

“Louis XVI menikah dengan Marie Antoinette,”kataku.

Ygga tersenyum. Ia menatapku lekat-lekat.

“Astaga, kau juga adalah Marie Antoinette?”tanyaku.  Madame Defisit? Yang menyebabkan kejatuhan monarki absolut dan menimbulkan revolusi Perancis?”

Aku menggeleng tak percaya. Aku memperhatikan wajah Ygga yang cantik dan misterius, wanita cerdas, yang katanya berusia berabad-abad dan wajahnya telah dilukis oleh Leonardo Da Vinci di atas lembaran poplar. Yang menjelma menjadi Lisa Geradhini, Marie Antoinette, Silbi, dan entah nama apa lagi dalam kurun waktu berabad-abad. Siapa namanya di awal tadi, oh ya, Pandemonium Satanico. Satanico, hmmm, Gereja Setan. Apakah dia ini pengantinnya Lucifer?

Dan aku tambah merinding. Aku sedang berbaring terluka dan mengobrol dengan setan. Aku ingat film George Clooney berjudul From Dusk Till Dawn. Wanita cantik yang diperankan Salma Hayek di film itu bernama Pandemonium Satanico. Tiba-tiba aku ingat sesuatu.

“Marie Antoinette tewas dipancung dengan guilotin.”

Ygga tertawa.

“Jangan naif, “katanya. “Itu pembantuku, aku tak sebodoh itu, itu trik lama. Semua orang waktu itu di Perancis memakai makeup tebal. Laki-laki dan perempuan. Semuanya memakai wig, dan tahi lalat palsu. “

Aku terdiam. Ygga berkata lagi.

“Triknya kuulangi lagi pada akhir Perang Dunia ke Dua. Di sebuah bunker di Jerman, aku menikah dengan Adolf Hitler sehari sebelumnya. Namaku waktu itu Eva Braun. Yang tewas bunuh diri adalah pembantu Hitler dan pembantuku, mayat mereka kemudian dibakar. Orang-orang menganggap itu mayat Adolf dan mayatku. Aku dan Hitler melarikan diri ke Argentina. Kau pikir siapa yang mempengaruhi Adolfku sayang memicu perang dunia kedua?“

Sekarang aku merasa tahu terlalu banyak. Entah personifikasi karakter apa lagi yang diperankannya dalam sejarah manusia. Wanita luarbiasa ini, yang melalangbuana melintasi waktu, hadir di setiap jaman dan menciptakan sejarah, sekarang sedang merawat luka-lukaku dengan lembut dan penuh perhatian. Kuperhatikan mata Ygga yang berbeda warna, kucium bau tubuhnya yang harum. Aku merinding lagi. Kemudian kulihat Ygga mengusap keningku, lalu perlahan-lahan pandanganku mengabur, lalu gelap gulita. Mungkin karena letih, terluka, dan mengalami kejadian-kejadian yang serasa di luar nalar, aku jatuh tertidur.

*****

Pada saat aku terbangun, yang pertama kulihat adalah cahaya lilin. Hidungku mengendus bau harum semerbak. Rupanya itu adalah lilin-lilin beraroma, berwarna merah dan berukuran besar, yang diletakkan di lantai di sekelilingku. Aku berdiri tegak di conference room, terikat pada sebuah tiang yang terbuat dari kayu. Tanganku terikat pada palang horisontal, seolah-olah aku disalib. Aku mendengar suara dengungan dalam ruangan. Bukan, bukan dengungan, tapi suara orang-orang ramai berbisik. Aku memperhatikan seberang ruangan, ke arah kursi-kursi biasanya berjejer, namun aku tak melihat kursi apapun.

Tiba-tiba lampu downlight menyala. Dan kini aku bisa melihat ke arah sumber suara itu. Orang-orang berjubah merah dan berkerudung merah, berjumlah ratusan, berada di seberang ruangan. Wajah mereka tak begitu jelas, hanya terlihat sepasang mata dibalik kerudung merah yang gelap. Dari mana datangnya orang-orang ini? Aku ingat penjelasan Mammon bahwa jemaat mereka berjumlah 400-an. Yang kulihat di sini mungkin hanya separuhnya. Tapi ini saja sudah cukup ramai.

Aku tidak tahu jam berapa saat ini. Kemungkinan sekitar tengah malam. Aku tak tahu apakah radio masih siaran atau sudah sign-off.  Sekujur tubuhku terasa sakit, dan pikiran bahwa hidupku akan segera berakhir begitu menghantuiku. Dengan terikat begini, dalam posisi yang tak pernah aku impikan sebelumnya, jalan keluar sama sekali tak terlihat. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan, bukan untuk keselamatanku, tapi memohon agar aku mengalami proses kematian yang tidak menyakitkan.

Lalu tiba-tiba terdengar musik menggelegar dari sound system. Sebuah lagu lama dari Led Zeppelin berjudul Stairway to Heaven membahana ke seluruh ruangan. Lagu itu lembut namun terasa menyeramkan. Aku jadi teringat dengan sesuatu yang disebut backmasking. Lagu Stairway to Heaven mengandung backmasking, yaitu pesan tersembunyi yang akan terdengar jika lagu tersebut diputar terbalik. Pesan tersebut adalah puji-pujian terhadap Setan. Banyak lagu yang mengandung backmasking, versi acapela dari lagu Kolam Susu milik Koes Plus juga mengandung unsur backmasking. Aku pernah diputarkan lagu itu secara terbalik menggunakan turntable oleh seorang temanku yang berprofesi sebagai DJ di club Five-O. Piringan hitam diputar terbalik secara manual dengan kecepatan tertentu yang konstan, dan yang terdengar adalah suara-suara gemuruh menyeramkan dan sebaris kalimat dalam bahasa Indonesia yang bunyinya membuat aku merinding.

Ketika lagu Stairway to Heaven yang terasa panjang itu berakhir, orang-orang mulai maju mendekatiku, dan kali ini musik yang terdengar adalah lagu Walk This Way dari Aerosmith. Lagunya menghentak dengan irama keras, dan jemaat Gereja Setan mulai bergerak. Tangan mereka ke atas, mirip dengan penghormatan gaya Nazi, lalu meneriakkan kata-kata : „Ave Satana!!“ secara serentak. Bunyinya sungguh gemuruh. Pada saat kalimat ‚walk this way’ berkumandang, mereka menimpanya dengan kalimat ‚ave satana’ tadi. Aku ingat lagu Walk This Way juga mengandung backmasking, dan kalimat yang terdengar jika lagunya diputar terbalik adalah Ave Satana, kalimat Latin yang artinya Hail Satan (sambutan kepada Setan).

Di tengah gemuruh lagu dan ungkapan tersebut, dari samping kulihat Mammon masuk, memakai jubah merah yang sama namun penutup kepalanya tidak dipakai. Di belakangnya kulihat Fausto, dengan mata lebam dan kepala miring dan langkah yang terseret-seret, mirip zombie. Fausto dan Mammon mengambil tempat di sebelah kiriku, dan berdiri menunggu. Lalu, dari pintu samping yang sama, masuklah sang dewi, Ygga, dengan gaun putih tembus pandang, rambut tergerai indah, dan dengan langkah yang anggun. Ia meluncur mulus melewatiku sambil tersenyum, dan kemudian berdiri membelakangiku, menatap ke arah ratusan sosok-sosok merah tua yang tiba-tiba berhenti bicara.

Lalu, semua orang yang hadir di ruangan itu, kecuali aku, sambil meneriakkan kata Ave Satana, semuanya mengacungkan tangan, dan jari mereka membentuk ‚signs of horns“, yang dalam budaya rock disebut sebagai salam metal. Jari kelingking dan telunjuk menghadap ke atas, sementara jari tengah dan jari manis menekuk ke telapak tangan, ditimpa oleh ibu jari. Jari-jari tersebut membentuk ilusi kambing bertanduk. Anak-anak muda tahun 1990-an sering mengacungkan jari seperti ini, tanpa menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah penghormatan atau sambutan kepada setan, dan tindakan ini memang diambil dari ritual-ritual gereja setan. Salam ini bahkan dijiplak oleh sebuah partai di Indonesia yang berlambang banteng pada saat kampanye di periode 1990-an, dengan ungkapan yang sama, yaitu salam metal, namun metal di sini dimaksudkan sebagai „merah total“, karena massa nya semua menggunakan baju kaus merah.

Pada saat itulah, tubuhku terasa tersentak dan terangkat. Rupanya tiang kayu berbentuk salib tersebut kedua ujung atas dan bawahnya terhubung dengan rantai. Rantai tersebut melintasi tiang batu horisontal di langit-langit, dan kedua ujungnya dihubungkan ke katrol besar di balik pintu, yang kini diputar oleh dua orang jemaat. Tubuhku terangkat tinggi, lalu perlahan-lahan posisiku bertukar. Kali ini kepalaku di bawah, dan kakiku di atas. Lalu perlahan-lahan tubuhku mulai turun, dan pada saat kepalaku yang tergantung mulai sejajar dengan bahu Mammon, rantai itu berhenti bergerak. Katrol dikunci dan aku tergantung terbalik dengan jarak kepala dengan lantai sekitar semeter lebih. Mataku mulai berkunang-kunang. Inilah saat-saat terakhirku.

Benar saja, Mammon terlihat membawa nampan yang diatasnya terdapat belati dan cawan besar terbuat dari emas. Jemaat mulai melapalkan kembali kalimat ave satana. Fausto kulihat pucat pasi. Mammon kemudian mendekatkan nampan tersebut ke arah Ygga. Ygga mengambil belatinya dan tersenyum ke arahku.

Belati itu berkilat-kilat tertimpa cahaya lilin, dan terlihat sangat tajam. Ygga mendekatiku dengan anggun. Aku sendiri mulai merasa pusing, darah dari sekujur tubuh mulai mengalir dan menumpuk ke kepalaku. Aku memejamkan mata. Ketika kubuka, kulihat Ygga sudah di sampingku dan mulai memegang rambutku. Ia lalu menempelkan belati tersebut ke leherku dan mulai mengiris kulitku dengan tenang dan lembut.

Aku menggigil menahan sakit. Kurasakan leherku terluka sedikit. Ygga menjilat darahku yang ada di belati, kemudian ia tersenyum. Ia berbalik ke arah jemaat berjubah merah, dan menggumamkan kalimat dalam bahasa yang tak kumengerti. Musik sudah lama berhenti. Setiap Ygga menyelesaikan satu kalimat, para jemaat menyambutnya dengan ‚ave satana’.

Aku memejamkan mata, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi saat-saat terakhirku. Kuucapkan dua kalimat syahadatain, kulafalkan ayat-ayat yang kuingat. Aku memikirkan keadaanku, tergantung terbalik di sebuah bangunan di atas bukit, menjadi bahan pengurbanan dari sekelompok orang-orang anti-Tuhan, dikhianati oleh temanku sendiri. Anehnya, sebuah syair yang sering diucapkan tatkala sedang bermain di masa kecil mulai terngiang-ngiang di kepalaku.

„tam tambuku sederet tiang batu, patah dinding patah batu....“

Aku tidak tahu kenapa syair itu terngiang-ngiang di telingaku. Ada yang bilang di saat-saat terakhir kita menuju kematian, kilasan-kilasan kenangan akan berkelebat di benak kita.

“tam tambuku sederet tiang batu, patah dinding patah batu….”

Tam Tambuku adalah nama seorang tokoh dalam cerita Melayu lama. Dipanggil Tam karena kulitnya yang hitam. Tambuku sendiri artinya menggeliat, bergoyang-goyang, atau tidak bisa diam seperti cacing kepanasan. Syair itu dipakai sebagai lagu permainan di masa kecil. Lalu akupun menyadari arti dari syair tersebut.

„tam tambuku sederet tiang batu.”

Aku berkulit hitam, dan aku akan melakukan tambuku. Aku mulai menggeliat, menggoyang-goyangkan tubuhku, aku meronta sekuat-kuatnya dalam keterbatasan keadaan. Tubuhku mulai berayun, ayunannya makin lama makin keras. Aku ibarat pendulum yang bergerak tak mengikuti kaidah fisika. Tubuhku mulai terlempar ke kanan, dan kekiri, ke depan, ke belakang, laksana bandul pendulum. Makin lama makin keras. Dan di satu saat, tubuhku menghantam bahu Mammon, yang kemudian goyah dan tersungkur ke depan, tubuhnya menimpa deretan lilin di lantai. Api lilin menyambar jubah Mammon, dan dalam sekejap sebagian jubah Mammon terbakar. Aku terus berayun, membentuk kurva yang makin lebar. Aku menimpa tubuh Ygga, yang juga jatuh ke samping, namun ia bangkit lagi dengan tenang dan memandangku. Bunyi rantai yang bergesekan dengan tiang batu mulai terdengar ribut. Bunyinya berderit-derit, mengiringi ayunan tubuhku yang ke sana kemari.

„tam tambuku sederet tiang batu....“

Mammon sedang terbakar hebat. Ia yang telah membakar Maros dengan fitnahnya, kali ini ia merasakan api membakar tubuhnya. Jemaat lain mulai ribut dan gelisah. Aku terus meronta, menggeliat, bergerak-gerak bagaikan cacing kepanasan. Aku berhasil menyentuh Fausto dengan bahuku. Karena ayunan yang kuat, tubuh Fausto yang sudah lemah itu terpental jauh, menyeret beberapa batang lilin menyala dengan jubahnya ke arah kerumunan jemaat. Api lilin juga menyambar jubah Fausto dan jemaat lain. Jemaat yang jubahnya terbakar meronta-ronta, berlari kian kemari dengan panik, dengan demikian menularkan apinya ke jemaat lain. Keadaan tak terkendali, kelihatannya api sudah berada di mana-mana. Asap mulai banyak terlihat. Akupun mulai batuk-batuk. Aku tak melihat Ygga lagi, Fausto entah menghilang ke mana.

Nampaknya seseorang berhasil membuka pintu dan jemaat-jemaat itu menghambur keluar conference room. Mammon masih terbakar.

Akupun masih meronta-ronta dan berayun. Bunyi gesekan rantai dan tiang batu semakin kuat. Sekarang aku tinggal berdua dengan Mammon di ruangan itu. Api sudah mulai menyambar gorden-gorden. Nafasku mulai sesak karena asap mulai menebal. Pandanganku masih berkunang-kunang.

Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku tidak ingin mati dengan mudah di sini. Aku harus berjuang. Aku harus tetap hidup, agar suatu saat kelak bisa menuliskan kisah ini dan membagi ceritanya ke orang lain.

‘tam tambuku sederet tiang batu.’
‘patah dinding patah batu’

Tiba-tiba bunyi berderit hilang, berganti menjadi bunyi rekahan batu. Tiang batu mulai pecah, dan serpihan batunya mengenai tubuhku. Saat ini aku tidak lagi merasakan sakit apapun, tubuhku serasa mati rasa. Namun ruangan terasa panas dan pengap. Api sudah menjalar ke plafon di atasku. Ruangan di sekelilingku mulai dilalap api. Karbon mulai memenuhi paru-paruku.

‘tam tambuku sederet tiang batu, patah dinding patah batu…’

Lalu, terdengar suara tiang batu di atas berderak lagi, dan tak lama kemudian tiang batu itupun patah, rantai yang melaluinya lolos di antara patahan, dan akupun terjerembab ke lantai, bahuku tersentak dengan keras. Lalu tiba-tiba terdengar bunyi berdebum keras di sisi kananku. Salah satu patahan tiang batu jatuh ke lantai. Untung tidak menimpaku. Kayu salib yang menopang tubuhku patah pada saat jatuh tadi. Kini ikatan kaki dan tanganku longgar dan aku bisa melepaskan ikatannya dengan mudah. Aku masih tergeletak di lantai dan kulihat Mammon sudah hangus, tinggal seonggok benda hitam dan asap tebal yang keluar dari tubuhnya. Api sudah memakan lebih dari dua pertiga ruangan. Asap menggantung di langit-langit.

Aku mencoba berdiri, namun pandanganku berkunang-kunang lagi dan kepalaku terasa sakit. Aku jatuh kembali ke lantai. Nafasku mulai tersengal-sengal. Sudah terlalu banyak karbon dalam paru-paruku. Aku melihat berkeliling, kulihat pintu kecil di mana Ygga masuk tadi. Aku tak bisa berdiri, aku harus merayap ke sana. Akupun mulai bergerak. Bahuku yang mengantam lantai tadi serasa mau copot engselnya. Kaki dan tangan terasa kebas karena posisi jungkir balik tadi. Jarak antara aku dan pintu hanya enam meter. Namun itu adalah jarak terpanjang dalam hidupku.

Akhirnya aku berhasil mencapai pintu tersebut, dan kuraih handelnya. Namun pintu itu ternyata terkunci. Aku menggedor-gedor dengan putus asa. Tenagaku serasa sudah habis. Aku terbatuk-batuk, paru-paruku mulai terasa perih, mataku basah berair. Aku merasa tak sanggup lagi bergerak. Aku terduduk dengan punggung bersandar ke pintu.

Gorden-gorden sudah habis terbakar, dan beberapa jendela kaca mulai pecah dengan bunyi yang memekakkan telinga. Jendela! Namun kusen jendelanya mulai terbakar juga. Bisakah aku melewatinya? Aku merayap lagi ke arah jendela, yang jaraknya lebih jauh lagi. Namun kali ini aku berhasil mencapainya lebih cepat. Kabut asap mulai menebal, dan ketika aku berbalik ke dalam ruangan, aku tak bisa melihat apapun lagi. Mayat Mammon entah di mana.

Aku meraih kusen jendela yang belum terbakar, mengangkat diriku yang lemah melewati jendela kaca, lalu menjatuhkan diri keluar.

Aku disambut oleh ranting-ranting pohon yang menahan terjun bebasku yang jatuh 3 meter ke bawah. Ternyata di balik jendela adalah jurang kecil. Udara segar menyambutku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan nikmat.

Kulihat di atasku api sudah mulai menjalar ke sayap bangunan yang lain. Studio ini tak lama lagi akan rata dengan tanah. Aku melihat sekeliling. Aku berada di sebuah lembah dengan pepohonan kecil, dan di seberang sana kulihat langitnya berberkas cahaya. Aku berjalan terseok-seok menelusuri hutan kecil, dan tak berapa lama kemudian aku melihat jalan beraspal. Kudaki bahu jalan dan berhasil mencapai jalan beraspal tersebut. Kulihat bangunan studio di kejauhan mulai habis terbakar. Asap hitamnya membumbung tinggi ke langit.

Jalan aspal tempatku berdiri sekarang cukup tinggi dari lembah tadi. Jalan ini memanjang ke arah utara dan selatan. Ke selatan jalannya agak mendaki. Aku melangkah ke sana. Beberapa saat kemudian aku menyadari jalan ini seperti tak berujung, di depan ada tikungan yang melingkar-lingkar dan kembali lagi ke jalan ini. Ada beberapa simpang juga yang ujungnya juga kembali ke jalan ini. Tempat apa ini? Di kiri kanan jalan terdapat jurang dan lembah, aku tak tahu harus melangkah ke arah mana lagi. Aku memutuskan kembali ke arah aku datang dan mengambil jalan ke utara. Akupun berjalan lagi dengan lambat ke arah aku datang tadi. Langkahku terseret-seret karena letihnya. Aku mengalami rasa haus yang amat sangat yang belum pernah kurasakan sepanjang hidupku sebelumnya.

Kemudian aku mendengar suara berderap dan gemuruh. Bunyinya berasal dari depanku. Suara berderap makin lama makin keras, dan kemudian kulihat mereka. Sosok-sosok berjubah merah, para jemaat Gereja Setan yang berjumlah ratusan tadi, sedang berlari ke arahku. Mereka meneriakkan makian dan sumpah serapah. Beberapa mengacungkan tongkat besi dan menunjuk-nunjuk ke arahku. Dan kulihat jauh di belakang mereka, sosok berjubah putih melangkah dengan anggun, dengan rambut dan gaun berkibar tertiup angin.

Mereka tidak akan membiarkan aku hidup dan bercerita. Mereka ingin aku mati agar rahasia mereka tidak bocor di luar kalangan mereka sendiri. Mereka sudah membunuh beberapa orang agar rahasia mereka tetap aman. Dan ratusan orang di depanku ini, semuanya ingin membunuhku.

Aku berbalik arah dan mencoba lari ke arah selatan yang mendaki tadi. Dadaku serasa terbakar karena sesaknya, bahuku serasa mau lepas, dan kakiku yang telanjang serasa menimpa kepingan-kepingan kaca karena kebasnya. Aku mencoba lari sebisaku, sementara jarak mereka di belakang semakin mendekat. Jalan terus menanjak, aku rasanya sudah tak sanggup lagi. Di depanku, di kejauhan, aku melihat dua titik cahaya terang. Aku mencoba ke arah cahaya itu. Lututku mulai goyah lagi, dua titik cahaya itu serasa masih jauh. Orang-orang di belakangku tinggal sepuluh meter saja dariku. Di sisi kananku bukit menjulang, dan di kiriku jurang yang cukup dalam. Mau ke mana aku meloloskan diri?

Aku terjerembab jatuh. Aku mencoba bangkit, namun tak kuasa. Aku mulai muntah-muntah. Tiba-tiba terdengar suara geraman yang berasal dari kedua titik cahaya tadi. Apakah itu suara mobil ? Namun geramannya aneh, bukan suara menderu. Ternyata dua titik cahaya itu tidaklah begitu jauh, hanya sekitar dua puluh meter di depanku. Dan suara geraman tadi berhenti, diganti menjadi auman. Dua titik cahaya tadi berasal dari sepasang mata milik seekor harimau. Aumannya menggelegar, menghentikan suara derap langkah dan seruan-seruan di belakangku.

Aku berlutut tidak percaya. Tidak ada harimau di pulau Batam ! Batam bukanlah habitatnya harimau.

Kemudian aku  baru menyadari di mana aku berada. Aku sedang berada di Bukit Harimau, tempat paling misterius di Pulau Batam. Orang-orang boleh bilang di Batam tidak ada harimau, tapi di sini, di tengah malam ini, aku melihatnya. Dan tempat ini dinamakan Bukit Harimau tentu ada sebabnya.

Aku sendiri sudah tidak tahu mau ke mana lagi. Kedua mata harimau itu menatapku tajam, dan aku tak kuasa melawannya. Aku tertunduk, diam mematung. Jantungku berdegup keras. Inilah pengalaman paling mengerikan dalam hidupku, diikat, dikerubuti dan digigiti monyet sampai terluka, diikat lagi, disalib, digantung terbalik, dan nyaris mati terbakar. Kemudian dikejar-kejar oleh ratusan orang yang hendak membunuhku, dan sekarang, ada seekor harimau besar yang akan memangsaku. Rasanya seperti mimpi buruk, namun bagusnya mimpi buruk adalah, kita bisa tersentak bangun dan semuanya akan hilang. Saat ini, walaupun aku berharap bahwa ini semua adalah mimpi, tapi segala hal terasa nyata. Ini semua memang terjadi.

Auman harimau itu telah membuat ratusan jemaat Gereja Setan diam terpaku. Kulihat mereka bertumpuk-tumpuk berdekatan di sisi jalan sebelah kiri. Semuanya bergerombol ketakutan. Ygga tak kulihat lagi. Sementara itu, sang harimau, dengan langkah berat yang berwibawa, dan tatapan tajam menusuk yang terlihat bijak, mulai mendekatiku, dan mengendus-endus. Mungkin ia tak senang dengan bauku, bau keringat, bau asap, bau monyet dan bau muntah. Ia mendekati orang-orang itu yang mulai terlihat makin ketakutan. Tiba-tiba sang harimau mengaum lagi, kali ini lebih menggelegar, getarannya menusuk hingga ke tulang sumsum. Orang-orang itu terlonjak kaget, namun tidak mampu bergerak.

Kemudian terjadilah hal yang aneh. Tidak, tidak aneh, sebenarnya sesuai dengan hukum fisika.

Jalan aspal ini mulai merekah, dan membentuk garis rekahan yang memanjang di tengah, membagi jalan ini menjadi dua bagian yang tak sama rata, kiri dan kanan. Sisi jalan yang sebelah kiri, tempat di mana para jemaat itu berdiri dan meringkuk ketakutan, tiba-tiba amblas ke jurang dengan perlahan-lahan. Para jemaat tersebut tak sempat bergerak, mereka berjatuhan ke bawah mengikuti bongkahan-bongkahan aspal tempat mereka berpijak. Bunyinya sungguh gemuruh, ditingkahi teriakan-teriakan orang-orang yang jatuh, jubah-jubah merah yang berguguran seakan-akan daun-daun kering. Aku terpaku menyaksikan kengerian itu.

Jurang itu dalamnya sekitar 10 meter, tapi orang-orang di bawah kelihatan tak bergerak lagi. Aku memejamkan mata karena gamang, lalu mundur ke sisi jalan yang lebih aman.

Jalan ini mungkin sudah tua, atau tanah di bawah jalannya sudah mulai runtuh perlahan-lahan ke jurang. Dan hitunglah, jika berat rata-rata manusia adalah 55 kg, kalikan dengan dua ratus, maka berapa besar beban yang harus ditanggung jalan aspal yang sudah tua ini pada saat yang sama.

Aku menoleh ke sekeliling. Harimau tadi lenyap. Entah ke mana perginya. Aku terduduk lemas.

Beberapa saat kemudian, fajar mulai menyingsing. Cahaya kemerah-merahan mulai muncul dari sebelah timur. Asap hitam masih terlihat dari arah bangunan studio radio. Aku melanjutkan perjalanan, kali ini dengan pandangan yang lebih jelas. Aku melangkah ke arah utara, di mana jalannya tadi kulihat menurun. Yang kubutuhkan sekarang adalah air untuk diminum. Hausnya serasa menyiksa.

Namun jalan ini tak mungkin tak berujung.

Sekitar sepuluh menit kemudian, ketika langit mulai terang dan aku mendengar kicauan burung, aku melihat beberapa rumah penduduk di kiri dan kanan. Ada sebuah pos jaga yang tak terawat, lalu aku bertemu pertigaan. Aku belok ke kanan, meneruskan perjalananku dengan langkah terseok-seok. Di depanku terlihat bangunan besar berwarna putih. Huruf-huruf besar di depannya membentuk tulisan ‚Rumah Sakit Otorita Batam’.

Aku memasuki halaman rumah sakit itu, berjalan ke bagian Emergency, dengan ambulans yang terparkir di depannya. Kulihat seorang petugas keamanan dan perawat jaga. Aku berhasil berjalan ke dekat mereka, lalu bersandar pada sebuah pilar. Tiba-tiba  tubuhku merosot ke lantai. Pandanganku mulai kabur dan tenagaku sudah habis.

Aku masih sempat melihat perawat jaga itu, seorang wanita cantik berjilbab merah muda dengan alis mata tebal, mata menawan, senyum yang menenangkan, dan hidung bagaikan belahan jambu air, bergerak sigap ke arahku. Kemudian segalanya gelap.

Pemandangan yang indah sebelum pingsan.

(Oleh Ferdiansyah, Batam, 11 Desember 2010).

Catatan
-Jalan yang longsor tersebut masih bisa dilihat hingga sekarang. Tak jauh dari RSOB ada jalan aspal yang dihalangi oleh portal. Masuki jalan itu dan ikuti jalan menurun ke kanan, lalu mendaki, jalan yang pecah dan merekah di samping jurang akan terlihat.

-Daerah di sekitar Bukit Harimau dan Tanjung Pinggir memang menjadi tempat hidup monyet-monyet seperti yang saya ceritakan. Kita bisa menemukan mereka di pinggir-pinggir jalan sekitar daerah itu, kebanyakan bergerombol.

-Akses ke lokasi stasiun radio sudah ditutup untuk umum. Jika melewati depan Guesthouse Otorita, jalan masuknya tepat di samping Gedung Lembaga Pemantau Gelombang Radio.

-Tahun 2000 itu cineplex masih berlokasi di daerah Baloi Indah.

-Kafe La Fontha sudah lama ditutup, lokasinya tepat di sebelah Pizza Hut di pertigaan Teuku Umar, Raden Fatah dan Kampung Utama.

-Pub Five O saat ini berganti nama menjadi NoName.

-Mengenai organisasi gereja setan, atau satanic church atau church of satan, informasinya bisa dilihat di situs mereka www.churchofsatan.com dan di beberapa artikel Wikipedia.

-Dulu di bukit kecil di belakang salah satu Dormitory di Muka Kuning beredar rumor bahwa pada malam-malam tertentu sering terdengar suara bayi menangis. Muka Kuning adalah lokasi industri dan dormitori di situ dihuni oleh pekerja-pekerja lajang dari berbagai daerah.

-Mengenai fenomena backmasking, artikel-artikelnya bisa dibaca di Wikipedia.

-Resminya, Eva Braun dan Adolf Hitler tewas bunuh diri di salah satu bunker pada saat tentara merah dan sekutu mulai dekat. Namun ada beberapa spekulasi yang menyebutkan bahwa Hitler dan Braun berhasil menyelamatkan diri ke Argentina, karena petinggi-petinggi Nazi yang lain banyak ditemukan di sana dan masih hidup.

-Nama Fausto berasal dari Faust, sebuah kisah legendaris yang berasal dari Jerman, di mana tokoh yang bernama Faust menjual jiwanya kepada setan untuk mendapatan kemuliaan, kecerdasan dan kekayaan.

-Nama Mammon berasal dari puisi-epik yang berjudul Paradise Lost karya John Milton, yang ditulis pada abad ke 17. Dikisahkan dalam salah satu bait puisi tersebut, bahwa setan Lucifer pada saat diusir dari surga dikawal oleh dua pembantunya, yang bernama Mammon dan Beelzebub.

-Nama Ygga berasal dari salah satu legenda Skandinavia tentang karakter wanita setengah dewa yang tugasnya adalah menundukkan laki-laki Viking sehingga mereka terhasut dan berperang.

-Lukisan Mona Lisa menjadi obyek yang paling dibahas dalam novel Da Vinci Code karya Dan Brown. Di situ disebutkan bahwa ada kemungkinan Mona Lisa itu adalah potret diri sang pelukisnya sendiri. Namun para peneliti di University of Heidelberg menemukan catatan pinggir dalam buku silsilah keluarga Fransesco yang ditulis oleh Agostino Vespucci yang menyebutkan bahwa Lisa Gherardini dilukis potretnya oleh Leonardo Da Vinci, dan wajah dalam potret tersebut dikenali sebagai Mona Lisa (Mona=Madam=Nyonya). Namun penelitian terhadap lukisan Mona Lisa tersebut belum berakhir hingga sekarang, ada kemungkinan didapatkan temuan-temuan lain.

-Batu Aji di Batam adalah daerah rawan kecelakaan. Volume lalu lintasnya sangat padat.

-Acungan jari dalam bentuk 'signs of horns' atau salam metal masih banyak dilakukan hingga saat ini, terakhir saya lihat (di tv) adalah dalam konser Avril Lavigne.


-Fausto selamat dari kebakaran itu. Kemudian dia menghilang tanpa kabar. Beberapa tahun kemudian saya mendapat informasi dari seorang rekan bahwa ia sedang di rawat di RS Jiwa di Grogol, hingga sekarang.

-Dalam kisah ini angka 999 muncul, pertama pada tanggal pertama kalinya Chos FM mengudara, yaitu 9 September 1999, kedua pada frekuensi radio tersebut yaitu 99.9 MHz. Angka 999 jika dilihat terbalik menjadi 666. 666 dipercaya sebagai angka setan. Namun angka 9 sendiri adalah angka istimewa. Berapapun angka, jika dikali dengan angka 9, maka penjumlahannya akan menghasilkan angka 9 juga. Keunikan dan keistimewaan yang dimiliki oleh angka 9 tersebut, seperti contoh dalam operasi perkalian dan penjumlahan, sebagai berikut :1 x 9 = 09 ==> 0 + 9 = 9, 2 x 9 = 18 ==> 1 + 8 = 9, dan seterusnya. Keunikan lainnya adalah, jika sembilan atau kelipatan sembilan dikalikan dengan angka 12.345.679, maka hasilnya adalah 999.999.999.

(www.ferdot.com)

11 Desember 2010

thumbnail

RADIO

Bagian Pertama
Pada 9 September tahun 1999, di Batam, sebuah stasiun radio gelap memulai siaran perdana. Menggunakan pemancar yang dibuat khusus oleh seorang guru yang mengajar elektronika di STM, radio tersebut mengudara di jalur FM dengan multi frekuensi. Pendirinya, seorang wanita cantik misterius bernama Ygga, menambahkan semacam amplifier khusus buatan Jerman untuk memperkuat sekaligus membuat frekuensi radio tersebut 'beranak' hingga enam saluran.

Jadi, jika kita secara iseng melakukan scanning (pada tuner digital) ataupun memutar tombol analog untuk menjelajah stasiun-stasiun, kita akan menemukan siaran tersebut sebanyak enam kali. Dua titik frekuensinya menimpa sebuah radio fm berbahasa India dari Singapura, dan satu lagi menimpa sebuah radio berita dari Malaysia. Di udara kota Batam, dalam alokasi frekuensi dari 87,5 hingga 108 MHz, kita bisa menemukan lebih dari 30-an stasiun, baik yang jernih dan stereo maupun yang tidak, jadi pilihannya memang cukup banyak.

Stasiun radio tersebut berada di salah satu bukit di pesisir pulau, dan akses ke sana hanya terdiri dari sebuah jalan aspal kecil mendaki. Konsep radionya sendiri easy listening, tidak ada penyiar yang cuap-cuap di antara lagu, hanya jingle singkat menarik yang berbunyi: "CHOS FM". Tidak disebutkan angka frekuensinya dalam jingle tersebut, karena alasan yang sudah jelas tadi.

Dengan segera radio gelap tersebut jadi populer, antara lain karena konsep easy listening tadi, dari sign-in pukul 6 pagi hingga sign-off pukul 00.00 hanya menyiarkan musik, musik dan musik. Pilihan musiknya adalah lagu-lagu kontemporer disertai klasik top 40.

Banyak orang bertanya-tanya dari mana asal siaran tersebut, tapi banyak juga yang tidak peduli dan hanya ingin menikmati siarannya. Tapi yang jelas waktu itu radio tanpa ijin tersebut menjadi trend, dan didengar oleh warga Batam, Singapura dan Johor Bahru.

Enam bulan kemudian, radio tersebut memiliki ijin resmi, dengan frekuensi resmi berada di titik 99.9 MHz. Anehnya, tidak ada siaran komersial sama sekali, seolah-olah stasiun tersebut adalah perusahaan non profit. Tidak ada iklan, sponsor, promo, dan tidak ada acara off-air, yang berarti tidak ada income. Namun radio tersebut tetap mengudara, hingga beberapa waktu kemudian ia tiba-tiba berhenti, menghilang dari udara, menyusul kejadian-kejadian aneh dan nyaris tak masuk akal, dan beberapa kecelakaan mengerikan, yang kisahnya sedikit banyak melibatkan aku dan seorang temanku.

Beginilah ceritanya.

Pada waktu itu aku sedang bekerja di sebuah hotel berbintang di kawasan Nagoya. Aku ingat waktu itu bulan Mei tahun 2000, euforia orang-orang setelah lolos dari bencana kiamat komputer (Y2K) sudah lama hilang, dan film Gladiator yang dibintangi Russel Crowe menjadi box office dan meraih Oscar untuk aktor, sutradara dan film terbaik. Aku menumpang mobil temanku sepulang nonton film tersebut di cineplex di Baloi Indah. Fausto, kawanku itu menghidupkan radio dan tune in ke frekuensi 99.9 MHz, sebuah lagu lama dari Rolling Stone yang berjudul Paint It Black pun terdengar, disusul jingle apik yang berbunyi "Chos FM".

"Aku suka radio ini," kata Fausto." Ada banyak frekuensi, tapi yang sembilan sembilan koma sembilan ini yang paling jernih suaranya."
"Aku dah lama suka, radio di kamarku juga tune in di situ," sahutku.
"Kenapa suaranya lebih bagus dari stasiun lainnya ya." kata Fausto lagi.
"Alatnya bagus mungkin."
"Kapan-kapan kita mesti ke sana, aku mau tahu di mana lokasinya. Katanya di Sekupang."
"Yang di Sekupang itu Ramako."tukasku.
"Ramako di Tanjung Pinggir. Chos FM mungkin tak jauh dari situ."
"Coba dengarkan pada waktu radionya signing off, mungkin disebutkan alamatnya."
"Sudah kudengarkan, tidak ada. Penyiarnya kan memang tidak pernah ngomong."

Tiba-tiba Fausto menghentikan mobilnya, jalan di depan macet. Banyak orang dan kendaraan menumpuk di depan Kafe La Fontha.
"Mungkin ada kecelakaan." kata Fausto. Ia meminggirkan mobil ke bahu jalan dan mematikan mesin.
"Mau ke mana? Kita tunggu aja, sebentar lagi juga jalan."
"Aku mau tahu ada apa di depan."
Akupun ikut turun mengikuti Fausto.

Di depan La Fontha ada keributan. Ada asap dan bau menyengat, dan orang-orang sibuk berteriak. Aku penasaran, tapi tidak mau mendekat. Fausto menghilang di antara kerumunan. Beberapa saat ia muncul lagi dan menarik lenganku.
"Ada orang dibakar massa."lapornya.
"Apaaaaa!?"
"Dia dikira pencopet, ada yang berteriak copet-copet, dan setelah ketangkap, ada yang berteriak bakar, bakar, lalu massa yang kesetanan membakar orang itu."
"Kasihan." kataku. Kalau memang dia copet, sungguh tak layak dia menerima hukuman main hakim sendiri seperti itu. Orang mencopet mungkin agar bisa bertahan hidup. Hmmm, massa yang kesetanan.

"Berarti sedang ada setan di sini," kataku ketus.
Setan di antara massa yang beringas, tinggal teriakkan kata "bakar", maka orang-orang yang tak terkendali ini bakalan gampang dihasut.

Akhir-akhir ini tingkat kriminalitas di Batam meningkat drastis. Ke mana-mana sudah tidak aman lagi. Peningkatan kejahatan yang terlalu tajam ini sebenarnya aneh, tapi orang-orang seperti tidak peduli. Seolah-olah dianggap sebagai hal yang jamak. Sementara itu kemaksiatan merajalela. Para pelacur berkeliaran di mana-mana di siang bolong, dengan handphone Alcatel, Ericsson dan Nokia menonjol di saku belakang celana mereka. Fasilitas judi bertebaran di penjuru kota, dalam bentuk permainan ketangkasan elektronik, tebak bola, dan lain-lain. Batam waktu itu ibarat Soddom dan Gomorah, yang menunggu waktu untuk dihancurkan.

Fausto menarikku ke tengah kerumunan. Lalu aku melihatnya, tubuh gosong sebagian, bau menyengat, wajah orang yang malang itu masih terlihat utuh, orang Flores. Tak sanggup aku melihatnya. Lalu Fausto mencuilku.

"Coba lihat orang pake kemeja jins biru di situ."kata Fausto.
Aku mengikuti arah telunjuk Fausto. Yang dimaksudkannya adalah lelaki tegap tampan, dengan rambut ikal, postur tinggi dan memakai kemeja jins biru tua.Tidak ada yang aneh dengan orang itu.

"Aku sering melihat dia." tambah Fausto lagi. "Di kerumunan seperti ini juga."
"Lantas kenapa?"
"Aku melihatnya dua apa tiga kali ya, pakaian yang sama, suasana yang sama."
"Itu dejavu. Terus?"
"Ada kecelakaan minggu lalu di arah Batu Aji, seorang guru STM korbannya, motornya ditabrak mobil. Di antara kerumunan yang melihat di lokasi kecelakaan, aku melihat orang itu."

Aku memperhatikan orang yang kami bicarakan. Pandangannya lurus ke arah korban yang gosong, ekspresi wajahnya tak bisa ditebak. Aku juga tidak bisa memastikan berapa umurnya.

"Dia selalu ada jika ada kecelakaan seperti ini."tambah Fausto.
"Kau baru melihatnya dua kali," kataku.
"Tiga kali."
"Yakin?"
"Yakin. Coba lihat penampilannya, terlalu mencolok kan. Tinggi menjulang seperti itu, tubuh tegap, dia gampang diingat."
"Tiga kali itu kebetulan, Fausto."
"Terlalu banyak untuk kebetulan."
"Hmmm. Lantas yang satu lagi apa?"
"Di Batam Center, kecelakaan. Aku tak ingat siapa yang kecelakaan, dia perempuan. Kira-kira tiga minggu yang lalu, kerumunannya pun seperti ini. Orang banyak menonton, bukan membantu. Dan di antara orang-orang, ada dia itu. Pakaiannya sama."
"Bagaimana kau bisa selalu ada di tempat tiga kecelakaan ini?"
"Sama seperti kejadian yang sekarang, kebetulan lewat."
"Nah diapun mungkin kebetulan lewat juga."

Kemudian, tiba-tiba suasana menggelap, aku jadi merinding. Rupanya awan tebal sedang menutupi matahari. Aku melihat orang yang disebut Fausto misterius itu. Pada saat itu, dia juga memandang ke arahku. Atau memandang Fausto, aku tak yakin. Tapi pandangannya sangat tajam menusuk. Aku lihat Fausto tertunduk. Aku sendiri masih merinding. Kemudian dia menoleh ke arah lain, mundur dari kerumunan orang-orang.
"Kita ikuti dia." Fausto mendorongku ke samping.
"Untuk apa?" protesku.
"Kau hari ini libur kan?"
"Iya."
"Kita ikuti orang itu, anggap saja iseng."

Aku pikir Fausto sedang ingin bermain-main ala film Hollywood. Tapi apa salahnya, toh aku tidak memiliki kegiatan lain sore itu.

Aku melihat orang yang dimaksud sedang menuju ke arah mobil yang diparkir, sebuah Mazda Astina warna biru tua. Kami bergegas ke mobil Fausto dan bersiap-siap mengikuti mobil tersebut.

Membuntuti sebuah mobil dalam kota yang padat lalu lintasnya ternyata tak segampang seperti di film-film. Beberapa kali kami ketinggalan, seolah-olah Mazda Astina itu lenyap di telan bumi. Namun kami berhasil menemukannya lagi begitu Fausto menambah kecepatan. Mobil yang kami kuntit melaju kencang ke arah Tiban, lalu berbelok ke Sekupang.

Aku suka suasana Sekupang, jalan-jalannya teduh dengan pohon-pohon tua yang rindang. Lalu lintasnya juga tidak begitu ramai. Ada beberapan telaga yang indah tempat orang mancing ikan. Perbukitannya, terutama daerah Patam, sangat asri, sejuk dan tenang, dan ada sedikit kesan misterius pada suasananya.

Mazda Astina itu berbelok ke kanan, melewati Guesthouse Otorita, melewati gedung Lembaga Pemantau Gelombang Radio, lalu masuk ke jalan kecil dengan tanda verboden di sampingnya. Ada tulisan kecil bertuliskan "Yang tidak berkepentingan di larang memasuki jalan ini."

Fausto menghentikan mobilnya.
"Bagaimana ini? Apa kita terus?"
"Ini lahan pribadi kayaknya, tak semua orang diijinkan."
"Kita masuk aja ya."
"Jangan, suara mobilmu kedengaran."

Fausto memutar mobil, lalu parkir di depan gedung Lembaga Pemantau Gelombang Radio. Kami memutuskan untuk jalan kaki.

Jalan aspal kecil tersebut mendaki, lalu mendatar. Di sebelah kanannya ada rumah besar dari kayu dengan atap yang aneh, bentuknya seperti daun yang besar, terbuat dari sirap. Di depan rumah tersebut hanya terparkir sebuah jip tua, tidak ada Mazda Astina. Jalan di depan makin sempit, dinaungi pohon-pohon akasia yang ujung daunnya saling beradu. Kemudian jalannya melebar, turun ke bawah, bercabang menjadi 3 arah. Ada rumah besar di salah satu sudut jalan, dan kami melihat mobil Mazda Astina di balik pagar besi. Di samping rumah tersebut terdapat tower berwarna biru putih yang tingginya kira-kira 30 meter. Di kejauhan terlihat laut biru, dan kapal-kapal tanker yang sedang berlabuh di perairan Sekupang. Gedung-gedung pencakar langit di Singapura terlihat samar-samar di latar belakang.

Suasana sepi seperti kuburan. Tidak ada suara burung, hanya desau angin sore yang membuatku kedinginan. Kami memutar ke arah pintu gerbang rumah tersebut. Sebuah plang merk yang besar membuat kami terhenyak.

"PT. (Radio) Cakrawala Hades Omega Sheol"
CHOS FM - 99.9 MHz

Stasiun Radio itu!
Tapi kok sepi? Tidak ada suara apapun, dan hanya terlihat satu kendaraan diparkir di situ. Kami punya alasan untuk masuk ke sini, sebagai fans. Fausto pun mendorong pintu gerbang yang ternyata tidak dikunci dan kami masuk ke dalam. Suasananya terlalu sunyi untuk sebuah stasiun radio swasta. Tidak terlihat siapa-siapa, kami melewati semacam ruang tamu yang bersih dan rapi. Di dinding terlihat poster-poster iklan kosmetik dari Procter & Gamble, poster Jimi Hendrix, Elvis Presley, Led Zeppelin, Queen, dan poster aneh bergambar bintang segi lima.  Ada juga sebuah poster bergambar bulan sabit dan bintang dengan posisi terbalik, sebuah lambang palang merah dengan sisi yang tegak berlebih ke atas, mirip salib terbalik.

Di ujung ruang tamu ada tiga pintu, satu bertuliskan Music Director, satu bertuliskan Studio dan lampu neon hijau bertulisan On Air, dan satu lagi pintu bertuliskan Conference Room.

Hmmm, seharusnya meeting room, pikirku.

Ada jendela kaca di ruang studio, kami menengok ke dalam, tidak ada siapa-siapa di situ, hanya peralatan siaran yang sedang hidup, sebuah komputer desktop, dan sebuah lemari besar penuh dengan cd. Tidak ada yang sedang siaran, tapi dari dalam studio tersebut sayup-sayup terdengar suara musik. Kami menuju ruang Music Director, tapi ternyata terkunci. Lalu kami berdua berjalan ke arah Conference Room yang pintunya ternyata tidak dikunci. Aku terbelalak.

Betul lah ini conference room, karena lumayan luas. Ada jejeran puluhan kursi, mungkin ratusan. Di ujung ruangan terdapat semacam panggung kecil, ada keyboard di situ, ada layar untuk proyektor, dan dari langit-langit tergantung patung berbentuk bulan sabit dan bintang terbalik, dan salib terbalik. Langit-langitnya berwarna hitam dengan jejeran lampu downlight yang cahayanya redup. Samar-samar di sudut ruang aku melihat sebuah gong berwarna keemasan. Untuk apa tempat seperti ini ada di sebuah stasiun radio? Pada saat bertanya-tanya dalam hati begitu, aku lihat Fausto memandang ke arahku seperti terperanjat, dia berteriak,
"Awas!!!"

Lalu semuanya gelap.

Lalu aku melayang di kegelapan, tanpa gravitasi. Kepalaku sakit dan tubuhku berputar-putar tak tentu arah, lalu kulihat cahaya yang menyilaukan di depan, dan telingaku berdenging. Tiba-tiba aku merasa terhempas.

Pada saat aku siuman, kulihat Fausto berdiri memandangku dengan tatapan kuatir. Aku duduk di kursi dalam sebuah ruangan berwarna abu-abu, tanpa hiasan apapun. Ada jendela dari kaca nako, bohlam kuning di langit-langit, dan di lantai ada sepasang sepatu yang terasa familiar. Sepatuku. Kenapa sepatuku dilepas? Akupun lalu bangkit dari kursi, namun tak bisa. Ternyata kedua tangan dan kakiku terikat di kursi dengan kawat tembaga yang cukup tebal.

Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Fausto, tapi tidak ada suara yang keluar. Mulutku bergerak-gerak mengucapkan sesuatu tanpa suara. Fausto memandangku kuatir lalu berkata,
"Maafkan aku kawanku. Aku terpaksa melakukan ini."

Aku masih tak mengerti. Lalu aku mendengar suara di belakangku, suara yang berat, merdu dan berwibawa.
"Halo, selamat datang ke Chos FM."

Aku berusaha menoleh, tapi leherku sakit. Rupanya bagian belakang kepalaku telah dipukul hingga aku pingsan. Sumber suara tersebut berjalan memutar, dan kali ini ia tepat di depanku, di samping Fausto.

Dia adalah laki-laki yang kami buntuti tadi. Tinggi, ganteng, berkemeja biru, dan bersuara berat. Dia tersenyum ke arahku.

"Oke, langsung saja ya, " katanya lagi." Pasti kau bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sekarang. Namaku Mammon. Dan kau ada di sini karena kau adalah teman Fausto. Fausto adalah fans Chos FM yang pertama kali berhasil menemukan studio kami, dan dia adalah jemaat kami."

"Oh, maaf," katanya lagi. Lalu ia mengusap leherku. Akupun berteriak, dan kali ini suaraku keluar. Aku memaki-maki, menyumpah-nyumpah dan mengancam, lalu aku kecapean sendiri.

"Fausto, tolong lepaskan aku." kataku.
Mammon tersenyum memandang Fausto, lalu ia menepuk-nepuk pundak Fausto. "Sudah kubilang ia jemaat kami."
"Jemaat?"tanyaku
"Ya, anggota Chos. Anggota kami di Batam sudah 400-an, Fausto adalah anggota pertama."

Seberapa jauh aku mengenal Fausto, yang bernama asli Farid Arius Ardito, (ia lebih suka namanya disingkat jadi Fausto)? Aku ingat aku baru mengenalnya setahun terakhir ini.

"Kalian ini siapa?" tanyaku.

Mammon lagi-lagi tersenyum. Ia berkata," Fausto yang menjelaskan, atau aku?" Fausto diam saja, maka Mammon berkata lagi. "Chos itu sebenarnya singkatan dari Church of Satan." Kemudian Mammon diam menunggu reaksiku.

Tentu saja aku terkejut. Aku pernah membaca artikel mengenai Church of Satan atau Gereja Setan. Sebutannya bisa apa saja, karena organisasi ini lahir di Amerika dan orang-orang di sana lebih mengenal gereja sebagai tempat ibadah, maka organisasi ini memakai istilah gereja. Yang jelas jika mesjid, gereja, atau tempat ibadah lain adalah tempat memuja Tuhan, di Church of Satan tentu saja mereka menyembah setan. Aku ingat samar-samar pengantar di situs resmi mereka, yang beralamat di www.churchofsatan.com . Didirikan tanggal 30 April 1966 oleh Anton Szandor Lavey, organisasi ini menyatakan diri sebagai "the first above-ground organization in history openly dedicated to the acceptance of Man’s true nature—that of a carnal beast, living in a cosmos which is permeated and motivated by the Dark Force which we call Satan." Website tersebut baru saja diluncurkan tahun 1999 yang lalu. Itu tahun yang sama dengan siaran perdana radio ini.

"Ya, kami mau buka cabang di sini. Di Manado dan Medan juga. Tapi tentu saja kami tak bisa terang-terangan kalau di Indonesia. Apa jadinya kalau di depan bangunan ini tertulis Church of Satan atau Gereja Setan? Makanya kami samarkan dengan stasiun radio, Cakrawala Hades Omega Sheol FM." kata Mammon.

Aku ingat Hades dalam literatur Yunani adalah penjaga neraka, dan Sheol sendiri artinya neraka.

"Langkah kami adalah buka cabang dan rekrut anak-anak muda sebanyak-banyaknya. Radio adalah sarana yang tepat, karena anak-anak muda suka musik. Kami tak bisa mengharapkan orang-orang tua sebagai anggota kami, sebentar lagi mereka toh mati. Kelangsungan organisasi ini ada di tangan anak-anak muda yang masih fresh pikirannya, mereka adalah pemimpin masa depan.“

„Kau belum bertemu Ygga, dia pendiri stasiun radio ini. Dia mengimpor perangkat siaran khusus dan amplifier dari Jerman. Kami bisa mengirim pesan-pesan tertentu melalui frekuensi tertentu lewat pemancar kami. Sudah pernah dengar istilah efek Mozart? Kami mempengaruhi kalian, para pendengar, melalui musik, dengan frekuensi tertentu kami sampaikan pesan-pesan Church of Satan ke benak kalian, yang tak menyadari bahwa di balik musik-musik populer yang kami siarkan, terdapat pesan tersembunyi. Pesan-pesan yang merusak, yang tertanam di benak menunggu untuk dimunculkan. Terekam dalam alam bawah sadar kalian, bahwa kalian akan melakukan tindakan-tindakan destruktif. Tidakkah kau menyadari hal ini berhasil, bukankah tingkat kejahatan di kota ini meningkat akhir-akhir ini?"

"Kenapa Batam? Kenapa tidak tempat lain?" tanyaku.
Mammon tertawa. "Batam memiliki tingkat aborsi yang tinggi."

Sebelum aku sempat memikirkan apa hubungannya tingkat aborsi dengan segala hal ini, tiba-tiba pintu terbuka. Cahaya dari luar pintu terang benderang, membentuk siluet seorang wanita tinggi semampai, terlihat bentuk rambutnya yang lurus panjang, namun wajahnya belum kelihatan.

Kulihat Mamon tersenyum, lalu bergerak ke arah siluet hitam itu. Dia menggumamkan sesuatu kepada wanita tersebut, lalu menyingkir ke pinggir. Wanita itu maju mendekatiku.

Belum pernah aku melihat wanita secantik itu. Rambutnya halus agak kepirangan, wajahnya bening bagaikan porselen cina, matanya berwarna cokelat di sebelah kiri, dan hitam kebiruan di sebelah kanan. Hidungnya mancung, dagu berbelah dan senyumnya sungguh luar biasa. Aku serasa pernah melihat senyum seperti itu sebelumnya, tapi tak ingat kapan dan di mana.

"Aku Ygga. Aku pemilik stasiun radio ini," katanya dengan suara yang lembut. Belum pernah aku mendengar suara semerdu itu sebelumnya.
"Kenapa aku diikat,"tanyaku. "Aku mau kalian apakan?"
"Fausto ingin membuktikan kesetiaannya pada kami. Ia kami jamin hidupnya sampai usianya berakhir. Namun ia harus menyerahkan sahabatnya."

Aku memandang Fausto dengan sengit. "Aku bukan sahabatnya. Dia cuma kenalan biasa,"kataku.

Ygga tersenyum lagi. Aku harap aku tidak pingsan melihat senyum menawan itu."Tidak begitu menurut Fausto. Hmm, acaranya masih beberapa jam lagi, tepat tengah malam, tepat setelah siaran radio dihentikan untuk hari ini. Kalian berdua kutinggal dulu di sini. Fausto, berilah sahabatmu makan dan minum, beberapa jam lagi aku dan Mammon kembali."

Ygga dan Mammon meninggalkan ruangan. Tinggalah aku dan Fausto. Aku langsung memaki-maki Fausto dengan segala macam sumpah serapah yang bisa aku ingat, aku juga menyebutkan beberapa penghuni kebun binatang, dan kulihat Fausto diam saja dengan pandangan khawatir. Dalam beberapa jam selanjutnya, lama setelah aku puas memaki-maki yang akhirnya kusadari tak ada gunanya, Fausto kemudian memberikan penjelasan.

Ia menemukan stasiun radio Chos FM secara tak sengaja di akhir bulan September 1999. Waktu itu ia sedang mencari lokasi memancing yang baru. Kendaraannya mogok persis di depan bangunan ini, jadi ia mengetuk pintu untuk minta bantuan. Yang membukakan pintu adalah Ygga, dan serta merta Fausto jatuh hati kepadanya. Menurut Fausto Ygga adalah orang Filipina, namun bisa berbahasa Indonesia dengan fasih, dan ternyata Ygga memang menguasai lebih dari 5 bahasa di luar bahasa Indonesia dan Tagalog. Kemungkinan besar Ygga keturunan Spanyol, demikian menurut Fausto.

Karena tertarik pada Ygga, Fausto jadi sering berkunjung ke stasiun radio tersebut, saat statusnya masih sebagai radio tak berijin. Lama-lama ia merasa makin akrab hingga Ygga pun mulai berterus terang padanya. Mammon sejak semula ada di situ, namun tak jelas apa hubungan atau status Mammon. Ygga dan Mammon kemudian memberitahu Fausto siapa mereka sebenarnya, dan kemudian Fausto diberi dua pilihan, bergabung dan membantu mereka, atau mati. Fausto tidak ingin mati. Karena ia terkagum-kagum pada Ygga, Fausto selalu menurut pada apapun yang dikatakan Ygga.

Church of Satan adalah organisasi resmi dan diakui di Amerika Serikat. Ia adalah organisasi pertama yang terang-terangan mendedikasikan tujuannya untuk mengembalikan fitrah manusia sebagai satu-satunya makhluk manusia yang hidup di kosmos ini yang dipengaruhi oleh kekuatan gelap, yaitu setan itu sendiri. Pendirinya, Anton Lavey, merupakan selebritis yang terkenal di kalangan tertentu di Hollywood dan sering menjadi penasehat teknis untuk film-film horror. Salah satu film di mana ia terlibat aktif adalah The Devil's Rain yang dibintangi sang TJ Hooker, William Shatner, dan merupakan film pertamanya John Travolta.

Lambang Gereja Setan adalah bintang segi lima, atau pentagram, yang sudut-sudutnya membentuk kepala kambing bertanduk (Baphomet). Ritual-ritual pagan sejak dulu selalu memakai simbol pentagram yang ditulis atau diukir pada permukaan kayu.

Salah satu anggota aktifnya adalah pemilik saham terbesar dari perusahaan multinasional Procter & Gamble, yang memproduksi household merk-merk terkenal seperti Wella, Zest, Rejoice, Pantene, Pampers, Mr. Clean, Head & Shoulders dan lain-lain. Tak heran beredar rumor bahwa perusahaan korporat tersebut milik Gereja Setan.

Untuk Indonesia, mereka membuka cabang di Batam dan Manado. Yang dimaksud dengan tingkat aborsi yang tinggi tadi adalah karena dalam beberapa ritual mereka, organ bayi selalu diperlukan. Dalam sebuah daerah yang penduduknya hidup bebas maka tingkat aborsinya akan tinggi, dengan demikian akan banyak mayat bayi di mana-mana, termasuk bayi-bayi prematur. Penggunaan bayi ini dimaksudkan sebagai perlambang kelahiran kembali manusia sebagai dirinya sendiri, di mana secara naluriah memiliki sifat kebinatangan yang alami.


“Di Muka Kuning ada bukit kecil, di mana bayi-bayi hasil aborsi banyak dibuang.”kata Fausto.


Fausto dengan sukarela bergabung, dan karena ia adalah rekrutan pertama, maka ia mendapatkan posisi istimewa, tentu saja dengan beberapa syarat. Ia harus ikut membantu Mammon melakukan tiga pembunuhan, dan pembunuhannya tersebut harus dilakukan sedemikian rupa sehingga orang-orang akan melihatnya sebagai kecelakaan.

Korban sebelum ini adalah Sudartato, seorang guru Sekolah Teknik Menengah yang sangat jenius. Ia piawai merakit pemancar radio FM berkekuatan 300 Watt. Mammon membayar Sudartato dengan mahal untuk mendapatkan pemancar tersebut, yang kemudian diintegrasikan dengan peralatan yang dibawa Ygga dari Jerman. Sudartato lama-lama tahu bahwa kliennya bukanlah pemilik stasiun radio biasa, Ygga pun mengajak Sudartato untuk bergabung. Sudartato menolak, dan ingin mengembalikan uangnya dan meminta kembali pemancar hasil karyanya. Ygga berjanji akan mengembalikan pemancar tersebut, namun Sudartato tetap boleh menyimpan uangnya.

Maka Mammonpun mengatur kecelakaan untuk Sudartato. Ia naik mobil dengan nomor plat yang sudah diganti dan mengikuti Sudartato yang naik motor ke arah sekolah. Tepat di persimpangan yang ramai di Batu Aji, dengan kecepatan tinggi mobil Mammon menyenggol setang kanan Sudartato. Sudartatopun oleng dan menabrak pembatas jalan di tengah, tubuhnya terpental dan helmnya terhempas, dan ia tewas seketika. Mammon memutar mobilnya ke sebuah jalan sempit tak beraspal, di mana Fausto sudah menunggu dengan plat nomor cadangan. Fausto mengganti plat nomor tersebut, kemudian naik mobilnya sendiri bersama Mammon, dan kembali ke lokasi kecelakaan untuk memastikan. Fausto dan Mammonpun turun ke tengah kerumunan orang dan menunggu hingga ambulans datang dan jenazah Sudartato di bawa ke rumah sakit. Kemudian Fausto mengantar Mammon mengambil mobil yang diparkir di jalan tak beraspal tadi. Itu adalah pembunuhan yang rapi, tak seorangpun mencurigai bahwa itu bukan kecelakaan.

Korban sebelumnya lagi adalah wanita paruh baya tukang bersih-bersih. Ia juga digaji mahal untuk bekerja sebagai pembantu di stasiun radio tersebut, dan diwanti-wanti agar tutup mulut jika ia melihat hal-hal yang aneh. Wanita paruh baya kebanyakan suka menggosip, dan suatu hari wanita malang itu terlepas omong di hadapan Ygga, bahwa ia telah melihat upacara aneh di conference room pada waktu ia datang terlalu subuh. Ygga memutuskan wanita itu tak dapat dipercaya, maka ia menyuruh Mammon dan Fausto untuk menyingkirkannya.

Jadi tiga minggu yang lalu, terjadi sebuah kecelakaan di Batam Center, di mana seorang wanita paruh baya yang menyeberang jalan ditabrak lari oleh sebuah sedan berwarna hitam, dan wanita itupun tewas seketika. Dengan modus yang sama, Mammon dan Fausto kembali ke lokasi kecelakaan untuk melihat hasil perbuatan mereka.

Sementara itu Fausto diingatkan agar ia melakukan persembahan dalam ritual selanjutnya. Ia harus mencari korban, sedapat mungkin adalah orang dekatnya, bisa sedarah bisa tidak. Dan Fausto memutuskan akulah orangnya, maka ia mengajakku nonton, tepat di hari yang sama Mammon melakukan pembunuhan terencana kepada Maros, seorang penjaga malam keturunan Flores.

Maros sudah lama menjadi penjaga malam di kawasan sekitar stasiun radio tersebut. Namun ia jarang mendekati bangunan studio, karena ia malas menapaki jalan yang mendaki. Ia lebih senang duduk di posnya, yang lokasinya sekitar 800 meter di bawah stasiun radio. Suatu malam Mamon mendekati Maros dan mengajaknya mengobrol. Tentu saja Mamon mengajak Maros untuk bergabung, dan mengiming-imingi uang dan kesejahteraan bagi keluarga Maros. Maros langsung mengiyakan dan tanpa malu menanyakan uangnya. Mamon bilang bahwa masalah uang itu gampang, yang penting Maros bergabung dulu. Seperti diduga, Maros hanya menginginkan uangnya tanpa niat bergabung. Malah ia sudah membayangkan akan mendapat semacam jatah bulanan karena sudah terlanjur mengetahui rahasia keberadaan Gereja Setan di Batam. Lama-lama Mamon mulai curiga dengan Maros, apalagi setelah sebuah gramofon keemasan inventaris stasiun radio hilang, dan Mamon curiga gramofon tersebut dicuri oleh Maros.

Jadi pagi itu Maros naik motor ke kawasan Aviari untuk menjual gramofon curian, dan Mamon mengikuti dari belakang. Di Aviari, Maros berhasil menjual gramofon antik tersebut dengan harga tinggi. Karena sukacita, Maros bermaksud untuk minum-minum sebentar. Siang itu ia minum dan sedikit mabuk di Kafe La Fontha, kemeja yang ia kenakan pun lusuh karena berbaring di kursi dan ketumpahan minuman. Mamon melihat Maros ke luar dari kafe La Fontha dan mendorongnya dari belakang, Maros pun tersungkur. Maros menoleh dan melihat siapa yang mendorongnya, iapun ketakutan dan lari. Mamon berteriak "maliiing, copeet, tangkap, tangkap" dan seketika itu juga massa yang ada segera mengejar Maros. Karena mabuk, ia tak bisa lari jauh, malah ia memutar balik ke arah La Fontha dan disitulah ia tersungkur lagi, dan massa yang geram mulai memukulinya habis-habisan. Saat itulah ada yang berteriak "bakar, bakar". Salah satu dari orang yang memukul Maros mengambil jerigen entah dari mana, dan menyiramkannya ke tubuh Maros. Orang yang lain lagi melemparkan puntung rokok ke tubuh Maros. Marospun terbakar.

Aku bertanya pada Fausto apa yang akan terjadi pada diriku malam ini.

"Hmmm matamu akan ditutup, dan tepat tengah malam kau ikut kami melakukan upacara. Kau akan diikat dan disuruh berdiri, lalu pada saat ritual pengorbanan dimulai, seseorang akan menyumpal mulutmu, dan sebuah belati akan ditancapkan ke nadi lehermu. Darah akan mengalir melalui belati itu dan akan ditampung dalam sebuah cawan. Cawan berisi darahmu akan diminum bergantian secara berkeliling. Dan kau akan mati kehabisan darah."

"Kalian gila. Kau gila, Fausto. Kau raja tega."
"Maafkan aku kawan,"kata Fausto.
"Mana bisa aku memaafkanmu, kau ingin membunuhku."
"Aku tak bisa apa-apa. Aku sendiri juga terancam dan tak punya pilihan lain. Jadi aku harus terus. Mereka ini bukan organisasi sembarangan. Penyandang dananya adalah orang-orang keturunan Yahudi superkaya pemilik bank di AS. Mereka punya rencana besar untuk dunia ini. Mereka harus mengalahkan kaum mayoritas di dunia, pemeluk agama besar seperti Islam dan Kristen. Terutama Islam. Islam adalah musuh mereka, mereka punya plot dan rencana besar untuk mendiskreditkan Islam. Rencananya tahun depan, sekitar bulan September, mereka akan melakukan sesuatu yang efeknya jangka panjang."

Yang dimaksud Fausto betul betul terjadi tahun berikutnya. Dunia mengutuk orang-orang Islam karena peristiwa itu, padahal operasi tersebut asal muasal dananya berasal dari Yahudi. Tak heran dari sekian banyak korban, tidak ada satupun orang Yahudi yang tewas. Dan sejak peristiwa itu pendiskreditan Islam mencapai puncaknya. Perlawanan-perlawanan muncul, dan Islam dikaitkan dengan terorisme. Fitnah dan provokasi besar ini akan berhasil dalam jangka waktu 30 tahunan. Perhatian dunia akan teralihkan dengan persengketaan antara sebuah negara besar dengan Islam. Sementara itu, sang dalang, kekuatan besar di balik layar, dengan sumber dana yang tak pernah kering, hanya tinggal memantau. Ini merupakan salah satu rencana awal dari Church of Satan. Mereka ingin menguasai dunia.

"Fausto, aku ingin pipis."
"Pipislah di celana."

Jawaban Fausto dengan serta merta membuat aku emosi. Aku mencoba bangkit dari kursi, namun kursinya ikut terangkat. Lalu kursinya kuhempaskan, kuangkat lagi, lalu kuhempaskan lagi. Kuangkat lagi, lalu kuhempaskan lagi. Bunyinya ribut dan kulihat Fausto mulai terganggu. Akhirnya ia mengalah, dan mulai melepaskan ikatanku dari kursi. Aku berdiri tegak, dengan tangan terikat.

'Ikut aku,"kata Fausto. Iapun melangkah ke pintu. Aku meraih kursi dengan kedua tanganku yang terikat, mengangkatnya sejajar bahu, lalu kuhantamkan kursi itu ke arah belakang kepala Fausto. Salah satu kaki kursi patah, dan Fausto terjerembab jatuh. Fausto mengerang, dan mencoba bangkit. Aku menendang kepalanya dengan kakiku yang bebas. Ia terjerembab lagi. Begitu aku melangkahinya dan membuka pintu, tangannya tiba-tiba mencengkeram kakiku dengan kuat, dan akupun terjatuh menimpa tangannya. Ia mengerang kesakitan. Aku bangkit berdiri lagi, dan keluar dari ruangan sialan itu. Ruang tamu lampunya terang benderang, tapi tidak terdengar suara apapun. Aku mencari-cari pintu keluar dan menemukannya. Pintu itupun tak terkunci. Di luar gelap, tidak ada siapa-siapa. Aku berlari menuju gerbang, dan begitu sampai di sana, aku terkesiap.

Tadinya aku tidak melihat apapun, selain kegelapan malam dan bentuk-bentuk hitam pepohonan. Aku tertegun di gerbang karena merasa ada yang sedang mengawasiku. Samar-samar kulihat dalam batas cahaya lampu stasiun radio, sosok-sosok kecil di atas tanah, di jalan aspal, dan di sekitar pepohonan. Kemudian bulan muncul dari balik awan, dan apa yang kulihat membuat sekujur tubuhku merinding. Di depanku, puluhan pasang mata berukuran kecil memandang tajam ke arahku. Mereka menyeringai, diam tak bergerak, tidak melakukan apapun kecuali memandangku. Dari mana datangnya monyet-monyet ini? Mereka ada yang bergerombol, ada yang terpisah-pisah, semuanya duduk di aspal, di tanah, di rerumputan, ada yang ekornya saling terkait satu sama lain. Monyet-monyet ini tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dan semuanya, seperti yang kubilang tadi, menatap tajam ke arahku.

(Bersambung ke Bagian Dua)

 Baca lebih lengkap tulisan ini dan tulisan lainnya di www.ferdot.com

Follow by Email