04 Februari 2010

thumbnail

Jiydref

Jiydref ingin sekali berbuat dosa. Selama ini ia adalah manusia berhati malaikat, berperangai halus bagai domba, sama sekali tidak pernah merugikan orang lain. Namun ia sering terpukau melihat dan mendengar orang yang bertobat. Orang-orang itu menyesalkan perbuatan buruk yang telah dilakukannya sambil menangis, dan berbicara terbata-bata. Begitu pertobatan itu selesai dan orang-orang lain menyalami,  wajah orang itu akan berseri bahagia, seakan-akan sebelumnya ia belum pernah sebahagia itu.

Bagi Jiydref, pertobatan itu sungguh indah. Sesuatu yang luhur dan agung. Tak terlukiskan dengan kata-kata. Jiydref mengidamkan pertobatan. Ia mengidam akan sesal agar datang menyentuh pikiran dan kalbunya. Namun, iapun menyadari, alangkah absurdnya bertobat jika ia tidak memiliki sesuatu untuk ditobatkan. Untuk menyesal, ia harus melakukan sesuatu untuk disesali. Intinya, Jiydref harus melakukan sebuah dosa. Dengan dosa itu, dia akan menyesal, lalu bertobat. 

Dan perasaan indah tak terlukiskan itu, air mata penyesalan itu, perasaan lega itu dan kebahagiaan itu, pun akan datang padanya.

Jiydref pun melakukan dosa. Ia curi kambing tetangganya, lalu dibunuhnya kambing itu. Bangkai kambing itupun dibiarkannya tergeletak begitu saja di tepi sungai.

Dan Jiydref menunggu.

Hari itu, tak ada rasa penyesalan yang hinggap pada dirinya. Bagaimana ia bisa bertobat jika ia sendiri tidak menyesal telah membunuh kambing itu? Jiydref menunggu tiga hari, kemudian seminggu, perasaan yang ditunggunya tak kunjung tiba.

Maka iapun melakukan hal yang lebih besar. Suatu malam ia mendatangi kandang kuda, dan membunuh semua kuda yang ada di situ. Kali ini ia yakin penyesalan itu akan datang. Tapi ternyata tidak. Jiydref menunggu seminggu, dan setitik pun rasa penyesalan itu tak hinggap.

Kemudian ia membunuh seorang tetangganya. Pun rasa sesal tak datang. Iapun membunuh lebih banyak orang, sehingga makin lama penduduk kampung itu tinggal dia seorang. Tak ada sesal, tak ada pertobatan.

Jiydref pun meninggalkan kampungnya, berkelana ke sana kemari, masuk kampung ke luar kampung, ke kota lain, bahkan mengembara ke negeri yang ia sendiri belum pernah mendengar namanya. Dosa yang dilakukannya makin besar, kejahatan yang dilakukannya makin kolosal. Ia meracuni persediaan air sehingga penduduk sebuah kota tewas semua. Ia menghasut sebuah negeri agar berperang dengan negeri lain. Ia menipu, memperkosa, merampok, ia menghancurkan kota dan istana. Tak terhitung lagi kejahatan yang telah dilakukannya. Jiydref adalah sumber bencana dan ancaman bagi kehidupan manusia lain.

Dan tak sedikitpun ia menyesal.

Dalam pengembaraannya, ia bertemu dengan Reficul. Reficul mengangkat Jiydref sebagai anak didiknya. Bersama Reficul, bencana yang dilakukannya lebih dahsyat lagi. Reficul senang karena memperoleh pengikut. Dan kejahatan yang dilakukan Jiydref pun makin kreatif dan bervariasi. Karena senang, Reficul menghadiahi Jiydref kehidupan yang abadi.

Reficul berkata : "Hai Jiydref, teruskanlah apa yang menjadi cita-citamu, kau akan hidup selamanya. Kau punya waktu tak terhingga untuk mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan."

Setelah beberapa waktu, Reficul meninggalkan Jiydref. Jiydref pun melanjutkan pengembaraannya, menebar bencana. Bencana, perang, dan kejahatan-kejahatan besar yang terjadi di dunia ini Jiydref lah pemicunya. Pada saat kota Roma terbakar dan ratusan ribu penduduknya tewas, Jiydreflah yang menghasut Nero melakukan itu. Ia membisiki para ksatria untuk menjadi haus perang. Para raja dan pemimpin terobsesi untuk menginvasi dan menjajah negeri lain. Hal ini terjadi selama berabad-abad.

Ada suatu masa ketika Jiydref berteman dengan Bubezleeb. Tapi pertemanan mereka sangat singkat. Walaupun begitu, bencana yang ditimbulkan oleh duet Jiydref dan Bubezleeb tak kalah dahsyatnya.

Menjelang Perang Dunia ke 2, Jiydref ada di Jerman dan mendekati Adolf Hitler. Ia menghasut Hitler dan meniupkan isu rasial. Ide bahwa alangkah indahnya dunia jika didominasi oleh ras superior, ras Arya, berasal dari Jiydref. Hitler kemudian menginvasi Eropa dan Afrika Utara dan membunuhi jutaan ras inferior secara sistematis dan terkoodinir.

Setelah Perang Dunia ke 2 usai, dengan ratusan juta korban pada semua pihak, Jiydref kehabisan ide untuk menimbulkan bencana. Selama dua dekade, Jiydref vakum. Hingga pada tahun 60-an ia bertemu dengan Silbi. Silbi adalah wanita yang cantik, jenius, dan merupakan ahli kimia. Silbi menceritakan pada Jiydref tentang penemuan baru, yaitu Lysergic acid diethylamide atau LSD. Dengan LSD, kita tak perlu repot mempengaruhi pikiran manusia lain. Ini cara baru menciptakan bencana. Sebelumnya ada mariyuana, tapi efeknya tidak sedahsyat LSD. Jiydref menikah dengan Silbi, dan berdua mereka menyebarkan LSD ke segala pihak. Mereka meniupkan gaya hippies dan mencanangkan gaya hidup bebas. Generasi bunga, dengan slogan "make love, not war" dan dalih anti perang, lahir dari ide Silbi. 

Jiydref sendiri banyak menyelipkan pesan tersembunyi dalam frekuensi tertentu pada musik-musik yang lahir era itu. Pesan-pesan tersembunyi itu, misalnya, ada di lagu Led Zeppelin yang berjudul Stairway To Heaven. Konon jika lagu itu diputar terbalik (dengan piringan hitam), pesan-pesan yang dibisikkan Jiydref terdengar. Isinya merupakan puji-pujian pada bangsanya Reficul dan Silbi. Pesan tersembunyi juga ada pada lagu The Beatles yang berjudul Helter Skelter. Pada tahun 1969, dengan meneriakkan yel-yel dari Helter Skelter, Charles Manson dan kawan-kawan membunuhi sebuah keluarga dengan brutal.Lagu Snowblind milik Styx dari album Paradise Theater juga disisipi pesan yang sama. 

Pada masa itu, obat bius dan musik adalah pasangan yang serasi. Keduanya dimanfaatkan oleh Jiydref dan Silbi untuk tidak saja memperluas pengaruh mereka, juga menebarkan bencana.

Setelah beberapa lama, Jiydref mendapat tahu bahwa Silbi tadinya juga adalah murid Reficul. Silbi juga memperoleh umur panjang, bahkan sebenarnya Silbi jauh lebih tua daripada Jiydref. Silbi berkata Reficul adalah setan besar, nama aslinya sebenarnya adalah Lucifer.

"Namanya harus diucapkan dari arah yang berlawanan, sehingga kau tahu siapa dia." demikian kata Silbi.
"Jadi karena itulah namamu Silbi," jawab Jiydref. "Namamu juga harus diucapkan dari arah berlawanan.
"Jiydref, tahun 1893 yang lalu, aku bertemu Nagai Nagayoshi di Negeri Matahari Terbit. Kami berdua menciptakan butiran kristal ajaib. Kemudian Nagai meninggal, lalu pecah Perang Dunia pertama, jadi aku meninggalkan negeri itu. Aku ingin kembali ke sana dan meneruskan penciptaan kristal itu, maukah kau ikut denganku?"

Jiydref tentu saja mau. Mereka kemudian ke Jepang, dan berada di belakang pihak Yakuza. Silbi meneruskan penelitiannya menyempurnakan kristal ajaib, yang sebenarnya adalah metamfetamine. Metamfetamine dapat menyebabkan euforia, meningkatkan rasa percaya diri dan tenaga secara berlebihan, dan tentu saja membuat orang ketagihan. Silbi menyerahkan formula metamfetamine pada pihak Yakuza. Kristal ajaib ini disambut dengan antusias di Jepang, dan mereka menyebutnya shabu-shabu. Padahal menu steamboat mereka yang terkenal juga dinamakan shabu-shabu.

Silbi menyebutnya kristal ajaib karena kristal ini merangsang saraf untuk terus aktif dan bergerak, tidak ingin makan, tidak bisa tidur, tidak merasa lelah, menimbulkan rasa segar terus. Hal ini melawan kodrat manusia: kondisi fisik perlu istirahat untuk pemulihan.

Jiydref dan Silbi kemudian melanglang buana ke Eropa, menawarkan formula kristal met tersebut kepada siapapun. Tentu saja, Silbi tidak meninggalkan LSD. Benda-benda seperti itu adalah bentuk penyebaran bencana gaya baru. LSD, met, marijuana, kokain, semuanya dapat meluluhlantakkan kehidupan manusia dan membuat pelakunya bertingkah bagai hewan. Perilaku kriminal pun akan muncul dari ketergantungan pada zat-zat tersebut. Akhlak yang turun drastis dapat menyebabkan runtuhnya sebuah bangsa. Penyelundupan narkoba ke suatu negara adalah cara baru untuk melumpuhkan dan untuk kemudian menginvasi negara tersebut.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, sudah terlihat tanda-tanda bahwa apa yang menjadi tujuan Reficul, Silbi, Bubelzeeb dan Jiydref menjadi kenyataan. Perasaan superior dan haus perang yang menghinggapi para pemimpin akan membuat dunia ini hancur. Para pemimpin dunia meneriakkan perdamaian, namun pada saat yang sama tetap mempercanggih dan menambah senjata pemusnah masal. Jiydref dan Silbi-lah yang ada di belakang mereka.

Tidak usah kita berbicara tentang bom nuklir yang jumlahnya lebih dari cukup untuk menghancurkan planet seukuran 100 kali planet bumi, ada bom fosfor, bom hidrogen, senjata kimia, dan senjata biologi yang sudah cukup untuk menghancurkan suatu bangsa. Dunia sedang menuju kehancuran. Untuk apa mereka menghabiskan jutaan dolar untuk membuat bom nuklir jika bom itu tak akan pernah dipakai? Suatu saat, mereka akan memakainya. Cuma masalah waktu.

Akan halnya Jiydref, hingga saat ini apa yang ditunggunya tak kunjung tiba. Menunggu rasa penyesalan datang sama halnya dengan menunggu Godot. Penyesalan takkan datang, karena Jiydref tak punya hati nurani. Hati nuraninya hilang pada hari yang sama ia membunuh kambing itu.

Dan dunia hanya menunggu the final countdown.

Baca selengkapnya di http://www.ferdy.mirrorz.com

Follow by Email