15 Desember 2010

thumbnail

RADIO (2)

Bagian Dua

Dengan lutut gemetaran, aku mencoba melangkah maju. Monyet-monyet itu masih tak bergeming. Monyet paling depan berada sekitar 2 meter jaraknya dariku. Jalan tertutup rapat oleh mereka, dan aku memberanikan diri terus melangkah, mencoba menganggap bahwa keberadaan monyet-monyet tersebut adalah ilusi. Kupejamkan mataku, lalu kubuka kembali. Monyet-monyet sialan itu masih ada, dan aku semakin mendekati mereka. Dalam jarak sangat dekat begini, barulah aku dapat menangkap suara-suara monyet tersebut, yang ternyata sedang menggeram halus. Pandangan mata mereka tetap mengikutiku. Lalu, entah ide gila dari mana, entah karena panik, kutendang seekor monyet tepat di depanku. Aku bisa merasakan bulu-bulu monyet tersebut dan tubuhnya yang hangat dengan kaki yang telanjang, lalu monyet itu melayang ke udara, hinggap di ranting pohon, dan kemudian dengan teriakan memekakkan telinga, melayang lurus ke arahku. Aku berbalik arah, dan monyet tersebut hinggap di bahuku. Lalu monyet-monyet lain menyusul. Ada yang menduduki kepalaku, hinggap di bahu kanan, bahu kiri, memeluk pinggangku, memeluk kedua kakiku, dan seekor monyet lagi berusaha menggigit pergelangan lenganku. Dan semuanya berteriak dengan teriakan riuh rendah yang ramai dan memekakkan telinga.
 
Darah mulai keluar dari tanganku, aku mencoba mengibas-ngibaskan tangan tersebut, dan tiba-tiba ikatan lenganku putus, dan kini kedua tanganku bebas bergerak. Aku meraih monyet yang dipunggungku, dan membantingnya ke aspal. Aku berusaha meninju monyet di kedua kakiku, dan tubuhku menggeliat hebat untuk berusaha melepaskan diri dari hewan-hewan ini. Monyet yang kubanting ke aspal bangkit lagi, dan menyerang lagi. Kali ini mereka semua mulai menggigitiku. Telingaku mulai basah, cupingnya terluka karena gigitan. Kedua kakiku mulai goyah, dan aku jatuh berlutut. Aku mengangkat kepala dan kulihat di sekitar jalan, dari arah pepohonan yang gelap, sosok-sosok monyet lain, dalam jumlah ratusan berdatangan ke arahku. Sekarang jalanan dan pohon-pohon di sekitarku penuh dengan monyet-monyet kelabu ini, yang ribut menceracau dan berteriak-teriak menyakitkan telinga.

Kini aku terduduk lemah. Seekor monyet mulai menggigiti leherku. Aduh, siapa yang mau mendapatkan monkey bite dari monyet beneran. Mungkin inilah saat-saat terakhirku, tewas secara konyol, dengan tubuh penuh luka bekas gigitan monyet. Bisa saja mereka nanti membuang mayatku, dan aku akan dianggap hilang tak tentu rimbanya.

Punggungku tak kuat lagi tegak, aku terkapar, telentang tak berdaya. Monyet-monyet sialan itu bertumpuk-tumpuk di atas tubuhku. Kepalaku terasa sakit karena rambutku ditarik-tarik. Pandanganku mulai mengabur, samar-samar kulihat bulan yang pucat, sebagian tertutup awan. Kemudian bulanpun mulai terlihat redup, semakin redup, langit di sekitar bulan mulai menghitam, dan tak lama kemudian bulanpun lenyap. Aku tak bisa melihat apa-apa lagi. Samar-samar aku masih bisa mendengar suara geraman dan lengkingan monyet-monyet, lalu terdengar pula suara yang lain. Yang lembut, yang merdu, yang membuai jiwaku. Inikah proses kematian?

Tiba-tiba tubuhku serasa tersentak-sentak, lalu terangkat dari atas tanah. Tubuhku terasa ringan, dan aku melayang ke atas. Kubuka mata, dan kulihat monyet-monyet mulai berjatuhan dariku. Kini aku bebas dari monyet, dan melayang di udara. Aku melihat ke ujung kakiku yang nyaris sejajar dengan tanah, dan di sana kulihat seorang bidadari bergaun putih dengan tatapan mata yang menyejukkan dan senyum yang misterius, laksana senyum Mona Lisa. Mona Lisa!

Itulah dia. Mona Lisa! Itu sebabnya mengapa aku serasa pernah melihat senyum itu. Itu senyuman misterius yang paling terkenal di seluruh dunia. Yang berasal dari lukisan potret karya maestro Leonardo Da Vinci, yang sekarang tergantung anggun di sebuah lorong di Museum Louvre, Paris. Senyuman Ygga adalah senyum Mona Lisa. Senyum misterius yang tak seorangpun tahu hingga sekarang apa artinya. Apakah ia tersenyum karena bahagia, atau tersenyum sinis, atau tersenyum dengan tulus, atau senyuman yang menunjukkan bahwa ia tahu rahasia-rahasia yang orang lain tidak tahu.

Itulah sebabnya aku serasa pernah melihat wajah Ygga sebelumnya. Raut wajahnya persis dengan potret Mona Lisa. Ygga adalah Mona Lisa.

Aku mengangkat kepala, dan kulihat Mammon di sampingku. Rupanya Mammon lah yang mengangkat tubuhku dari kerumunan monyet-monyet itu. Dan sekarang ia yang membopongku kembali ke arah bangunan studio. Dengan segala kengerian ini, aku memang sudah tidak kuat lagi berdiri. Kulihat Ygga mengikutiku dari belakang.

Mammon meletakkanku di sofa panjang, kemudian ia pergi entah ke mana. Mammon kembali membawa sebaskom air hangat, perban, kapas dan obat luka. Setelah menaruh benda-benda tersebut di atas meja, ia menghilang ke balik pintu. Aku tidak melihat Fausto, mungkin dia masih terkapar di ruang sempit itu.

Ygga duduk di sampingku, dan mulai membersihkan luka-lukaku. Tangannya yang lembut menyentuh wajah dan leherku, aku menahan erangan karena perihnya luka-luka tersebut. Aku bertanya,

„Siapa kau sebenarnya?“

Ygga tersenyum, tangannya membersihkan luka pada lenganku. Berapa sih umur wanita ini? Dia kelihatan muda, wajahnya halus tanpa kerut, tapi aku tak bisa menebak-nebak berapa umurnya. Dia punya pesona magis yang kuat, dan pandangan matanya menggambarkan seseorang yang sudah sangat lama mengenal dunia, bukan pandangan mata wanita berumur di bawah 30 tahun.

"Siapa kau sebenarnya?" tanyaku lagi.
"Aku punya banyak nama,"jawabnya. "Dulu orang-orang mengenalku dengan nama Pandemonium Satanico, selama berabad-abad namaku Silbi. Pada abad ke 16 namaku Lisa, pernah juga Marie. Sudah setengah abad terakhir ini namaku Ygga."
"Kau berusia berabad-abad?"
"Aku tak berumur. Usia tak bisa menyentuhku."
„Lisa? Kau adalah Lisa Gerardhini?“kataku lagi.

Ygga tersenyum lagi. Senyum yang enigmatik. Bikin penasaran. Ia mengangguk.

„Ya, aku pernah memakai nama itu. Waktu itu aku menikahi orang paling kaya di Italia, Fransesco del Giocondo. Fransesco membayar mahal pada Leonardo Da Vinci untuk melukis potretku. Tadinya aku menolak, tapi maestro ini, Leonardo, sangat terkenal waktu itu, orang yang jenius, akhirnya aku mau. Begitu lukisan selesai, aku minggat, dan meniupkan isu bahwa aku bunuh diri. Aku hanya pindah ke Perancis, mempersiapkan kekacauan di sana dan melakukan provokasi, mempersiapkan revolusi. Lukisan Nyonya Lisa, atau Mona Lisa seperti yang kalian kenal, akhirnya bisa kupindahkan ke Perancis, tak jauh dariku.”

“Bagaimana kau memindahkan lukisan itu dari Italia ke Perancis?”tanyaku penasaran.
“Bukankah itu gampang? Aku menikah dengan Louis XVI.”jawab Ygga. “Sang Raja membeli lukisan itu untukku. Diapun heran, mengapa lukisan itu mirip dengan diriku.”

Aku menggeleng. Rasanya tidak mungkin.

“Louis XVI menikah dengan Marie Antoinette,”kataku.

Ygga tersenyum. Ia menatapku lekat-lekat.

“Astaga, kau juga adalah Marie Antoinette?”tanyaku.  Madame Defisit? Yang menyebabkan kejatuhan monarki absolut dan menimbulkan revolusi Perancis?”

Aku menggeleng tak percaya. Aku memperhatikan wajah Ygga yang cantik dan misterius, wanita cerdas, yang katanya berusia berabad-abad dan wajahnya telah dilukis oleh Leonardo Da Vinci di atas lembaran poplar. Yang menjelma menjadi Lisa Geradhini, Marie Antoinette, Silbi, dan entah nama apa lagi dalam kurun waktu berabad-abad. Siapa namanya di awal tadi, oh ya, Pandemonium Satanico. Satanico, hmmm, Gereja Setan. Apakah dia ini pengantinnya Lucifer?

Dan aku tambah merinding. Aku sedang berbaring terluka dan mengobrol dengan setan. Aku ingat film George Clooney berjudul From Dusk Till Dawn. Wanita cantik yang diperankan Salma Hayek di film itu bernama Pandemonium Satanico. Tiba-tiba aku ingat sesuatu.

“Marie Antoinette tewas dipancung dengan guilotin.”

Ygga tertawa.

“Jangan naif, “katanya. “Itu pembantuku, aku tak sebodoh itu, itu trik lama. Semua orang waktu itu di Perancis memakai makeup tebal. Laki-laki dan perempuan. Semuanya memakai wig, dan tahi lalat palsu. “

Aku terdiam. Ygga berkata lagi.

“Triknya kuulangi lagi pada akhir Perang Dunia ke Dua. Di sebuah bunker di Jerman, aku menikah dengan Adolf Hitler sehari sebelumnya. Namaku waktu itu Eva Braun. Yang tewas bunuh diri adalah pembantu Hitler dan pembantuku, mayat mereka kemudian dibakar. Orang-orang menganggap itu mayat Adolf dan mayatku. Aku dan Hitler melarikan diri ke Argentina. Kau pikir siapa yang mempengaruhi Adolfku sayang memicu perang dunia kedua?“

Sekarang aku merasa tahu terlalu banyak. Entah personifikasi karakter apa lagi yang diperankannya dalam sejarah manusia. Wanita luarbiasa ini, yang melalangbuana melintasi waktu, hadir di setiap jaman dan menciptakan sejarah, sekarang sedang merawat luka-lukaku dengan lembut dan penuh perhatian. Kuperhatikan mata Ygga yang berbeda warna, kucium bau tubuhnya yang harum. Aku merinding lagi. Kemudian kulihat Ygga mengusap keningku, lalu perlahan-lahan pandanganku mengabur, lalu gelap gulita. Mungkin karena letih, terluka, dan mengalami kejadian-kejadian yang serasa di luar nalar, aku jatuh tertidur.

*****

Pada saat aku terbangun, yang pertama kulihat adalah cahaya lilin. Hidungku mengendus bau harum semerbak. Rupanya itu adalah lilin-lilin beraroma, berwarna merah dan berukuran besar, yang diletakkan di lantai di sekelilingku. Aku berdiri tegak di conference room, terikat pada sebuah tiang yang terbuat dari kayu. Tanganku terikat pada palang horisontal, seolah-olah aku disalib. Aku mendengar suara dengungan dalam ruangan. Bukan, bukan dengungan, tapi suara orang-orang ramai berbisik. Aku memperhatikan seberang ruangan, ke arah kursi-kursi biasanya berjejer, namun aku tak melihat kursi apapun.

Tiba-tiba lampu downlight menyala. Dan kini aku bisa melihat ke arah sumber suara itu. Orang-orang berjubah merah dan berkerudung merah, berjumlah ratusan, berada di seberang ruangan. Wajah mereka tak begitu jelas, hanya terlihat sepasang mata dibalik kerudung merah yang gelap. Dari mana datangnya orang-orang ini? Aku ingat penjelasan Mammon bahwa jemaat mereka berjumlah 400-an. Yang kulihat di sini mungkin hanya separuhnya. Tapi ini saja sudah cukup ramai.

Aku tidak tahu jam berapa saat ini. Kemungkinan sekitar tengah malam. Aku tak tahu apakah radio masih siaran atau sudah sign-off.  Sekujur tubuhku terasa sakit, dan pikiran bahwa hidupku akan segera berakhir begitu menghantuiku. Dengan terikat begini, dalam posisi yang tak pernah aku impikan sebelumnya, jalan keluar sama sekali tak terlihat. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan, bukan untuk keselamatanku, tapi memohon agar aku mengalami proses kematian yang tidak menyakitkan.

Lalu tiba-tiba terdengar musik menggelegar dari sound system. Sebuah lagu lama dari Led Zeppelin berjudul Stairway to Heaven membahana ke seluruh ruangan. Lagu itu lembut namun terasa menyeramkan. Aku jadi teringat dengan sesuatu yang disebut backmasking. Lagu Stairway to Heaven mengandung backmasking, yaitu pesan tersembunyi yang akan terdengar jika lagu tersebut diputar terbalik. Pesan tersebut adalah puji-pujian terhadap Setan. Banyak lagu yang mengandung backmasking, versi acapela dari lagu Kolam Susu milik Koes Plus juga mengandung unsur backmasking. Aku pernah diputarkan lagu itu secara terbalik menggunakan turntable oleh seorang temanku yang berprofesi sebagai DJ di club Five-O. Piringan hitam diputar terbalik secara manual dengan kecepatan tertentu yang konstan, dan yang terdengar adalah suara-suara gemuruh menyeramkan dan sebaris kalimat dalam bahasa Indonesia yang bunyinya membuat aku merinding.

Ketika lagu Stairway to Heaven yang terasa panjang itu berakhir, orang-orang mulai maju mendekatiku, dan kali ini musik yang terdengar adalah lagu Walk This Way dari Aerosmith. Lagunya menghentak dengan irama keras, dan jemaat Gereja Setan mulai bergerak. Tangan mereka ke atas, mirip dengan penghormatan gaya Nazi, lalu meneriakkan kata-kata : „Ave Satana!!“ secara serentak. Bunyinya sungguh gemuruh. Pada saat kalimat ‚walk this way’ berkumandang, mereka menimpanya dengan kalimat ‚ave satana’ tadi. Aku ingat lagu Walk This Way juga mengandung backmasking, dan kalimat yang terdengar jika lagunya diputar terbalik adalah Ave Satana, kalimat Latin yang artinya Hail Satan (sambutan kepada Setan).

Di tengah gemuruh lagu dan ungkapan tersebut, dari samping kulihat Mammon masuk, memakai jubah merah yang sama namun penutup kepalanya tidak dipakai. Di belakangnya kulihat Fausto, dengan mata lebam dan kepala miring dan langkah yang terseret-seret, mirip zombie. Fausto dan Mammon mengambil tempat di sebelah kiriku, dan berdiri menunggu. Lalu, dari pintu samping yang sama, masuklah sang dewi, Ygga, dengan gaun putih tembus pandang, rambut tergerai indah, dan dengan langkah yang anggun. Ia meluncur mulus melewatiku sambil tersenyum, dan kemudian berdiri membelakangiku, menatap ke arah ratusan sosok-sosok merah tua yang tiba-tiba berhenti bicara.

Lalu, semua orang yang hadir di ruangan itu, kecuali aku, sambil meneriakkan kata Ave Satana, semuanya mengacungkan tangan, dan jari mereka membentuk ‚signs of horns“, yang dalam budaya rock disebut sebagai salam metal. Jari kelingking dan telunjuk menghadap ke atas, sementara jari tengah dan jari manis menekuk ke telapak tangan, ditimpa oleh ibu jari. Jari-jari tersebut membentuk ilusi kambing bertanduk. Anak-anak muda tahun 1990-an sering mengacungkan jari seperti ini, tanpa menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah penghormatan atau sambutan kepada setan, dan tindakan ini memang diambil dari ritual-ritual gereja setan. Salam ini bahkan dijiplak oleh sebuah partai di Indonesia yang berlambang banteng pada saat kampanye di periode 1990-an, dengan ungkapan yang sama, yaitu salam metal, namun metal di sini dimaksudkan sebagai „merah total“, karena massa nya semua menggunakan baju kaus merah.

Pada saat itulah, tubuhku terasa tersentak dan terangkat. Rupanya tiang kayu berbentuk salib tersebut kedua ujung atas dan bawahnya terhubung dengan rantai. Rantai tersebut melintasi tiang batu horisontal di langit-langit, dan kedua ujungnya dihubungkan ke katrol besar di balik pintu, yang kini diputar oleh dua orang jemaat. Tubuhku terangkat tinggi, lalu perlahan-lahan posisiku bertukar. Kali ini kepalaku di bawah, dan kakiku di atas. Lalu perlahan-lahan tubuhku mulai turun, dan pada saat kepalaku yang tergantung mulai sejajar dengan bahu Mammon, rantai itu berhenti bergerak. Katrol dikunci dan aku tergantung terbalik dengan jarak kepala dengan lantai sekitar semeter lebih. Mataku mulai berkunang-kunang. Inilah saat-saat terakhirku.

Benar saja, Mammon terlihat membawa nampan yang diatasnya terdapat belati dan cawan besar terbuat dari emas. Jemaat mulai melapalkan kembali kalimat ave satana. Fausto kulihat pucat pasi. Mammon kemudian mendekatkan nampan tersebut ke arah Ygga. Ygga mengambil belatinya dan tersenyum ke arahku.

Belati itu berkilat-kilat tertimpa cahaya lilin, dan terlihat sangat tajam. Ygga mendekatiku dengan anggun. Aku sendiri mulai merasa pusing, darah dari sekujur tubuh mulai mengalir dan menumpuk ke kepalaku. Aku memejamkan mata. Ketika kubuka, kulihat Ygga sudah di sampingku dan mulai memegang rambutku. Ia lalu menempelkan belati tersebut ke leherku dan mulai mengiris kulitku dengan tenang dan lembut.

Aku menggigil menahan sakit. Kurasakan leherku terluka sedikit. Ygga menjilat darahku yang ada di belati, kemudian ia tersenyum. Ia berbalik ke arah jemaat berjubah merah, dan menggumamkan kalimat dalam bahasa yang tak kumengerti. Musik sudah lama berhenti. Setiap Ygga menyelesaikan satu kalimat, para jemaat menyambutnya dengan ‚ave satana’.

Aku memejamkan mata, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi saat-saat terakhirku. Kuucapkan dua kalimat syahadatain, kulafalkan ayat-ayat yang kuingat. Aku memikirkan keadaanku, tergantung terbalik di sebuah bangunan di atas bukit, menjadi bahan pengurbanan dari sekelompok orang-orang anti-Tuhan, dikhianati oleh temanku sendiri. Anehnya, sebuah syair yang sering diucapkan tatkala sedang bermain di masa kecil mulai terngiang-ngiang di kepalaku.

„tam tambuku sederet tiang batu, patah dinding patah batu....“

Aku tidak tahu kenapa syair itu terngiang-ngiang di telingaku. Ada yang bilang di saat-saat terakhir kita menuju kematian, kilasan-kilasan kenangan akan berkelebat di benak kita.

“tam tambuku sederet tiang batu, patah dinding patah batu….”

Tam Tambuku adalah nama seorang tokoh dalam cerita Melayu lama. Dipanggil Tam karena kulitnya yang hitam. Tambuku sendiri artinya menggeliat, bergoyang-goyang, atau tidak bisa diam seperti cacing kepanasan. Syair itu dipakai sebagai lagu permainan di masa kecil. Lalu akupun menyadari arti dari syair tersebut.

„tam tambuku sederet tiang batu.”

Aku berkulit hitam, dan aku akan melakukan tambuku. Aku mulai menggeliat, menggoyang-goyangkan tubuhku, aku meronta sekuat-kuatnya dalam keterbatasan keadaan. Tubuhku mulai berayun, ayunannya makin lama makin keras. Aku ibarat pendulum yang bergerak tak mengikuti kaidah fisika. Tubuhku mulai terlempar ke kanan, dan kekiri, ke depan, ke belakang, laksana bandul pendulum. Makin lama makin keras. Dan di satu saat, tubuhku menghantam bahu Mammon, yang kemudian goyah dan tersungkur ke depan, tubuhnya menimpa deretan lilin di lantai. Api lilin menyambar jubah Mammon, dan dalam sekejap sebagian jubah Mammon terbakar. Aku terus berayun, membentuk kurva yang makin lebar. Aku menimpa tubuh Ygga, yang juga jatuh ke samping, namun ia bangkit lagi dengan tenang dan memandangku. Bunyi rantai yang bergesekan dengan tiang batu mulai terdengar ribut. Bunyinya berderit-derit, mengiringi ayunan tubuhku yang ke sana kemari.

„tam tambuku sederet tiang batu....“

Mammon sedang terbakar hebat. Ia yang telah membakar Maros dengan fitnahnya, kali ini ia merasakan api membakar tubuhnya. Jemaat lain mulai ribut dan gelisah. Aku terus meronta, menggeliat, bergerak-gerak bagaikan cacing kepanasan. Aku berhasil menyentuh Fausto dengan bahuku. Karena ayunan yang kuat, tubuh Fausto yang sudah lemah itu terpental jauh, menyeret beberapa batang lilin menyala dengan jubahnya ke arah kerumunan jemaat. Api lilin juga menyambar jubah Fausto dan jemaat lain. Jemaat yang jubahnya terbakar meronta-ronta, berlari kian kemari dengan panik, dengan demikian menularkan apinya ke jemaat lain. Keadaan tak terkendali, kelihatannya api sudah berada di mana-mana. Asap mulai banyak terlihat. Akupun mulai batuk-batuk. Aku tak melihat Ygga lagi, Fausto entah menghilang ke mana.

Nampaknya seseorang berhasil membuka pintu dan jemaat-jemaat itu menghambur keluar conference room. Mammon masih terbakar.

Akupun masih meronta-ronta dan berayun. Bunyi gesekan rantai dan tiang batu semakin kuat. Sekarang aku tinggal berdua dengan Mammon di ruangan itu. Api sudah mulai menyambar gorden-gorden. Nafasku mulai sesak karena asap mulai menebal. Pandanganku masih berkunang-kunang.

Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku tidak ingin mati dengan mudah di sini. Aku harus berjuang. Aku harus tetap hidup, agar suatu saat kelak bisa menuliskan kisah ini dan membagi ceritanya ke orang lain.

‘tam tambuku sederet tiang batu.’
‘patah dinding patah batu’

Tiba-tiba bunyi berderit hilang, berganti menjadi bunyi rekahan batu. Tiang batu mulai pecah, dan serpihan batunya mengenai tubuhku. Saat ini aku tidak lagi merasakan sakit apapun, tubuhku serasa mati rasa. Namun ruangan terasa panas dan pengap. Api sudah menjalar ke plafon di atasku. Ruangan di sekelilingku mulai dilalap api. Karbon mulai memenuhi paru-paruku.

‘tam tambuku sederet tiang batu, patah dinding patah batu…’

Lalu, terdengar suara tiang batu di atas berderak lagi, dan tak lama kemudian tiang batu itupun patah, rantai yang melaluinya lolos di antara patahan, dan akupun terjerembab ke lantai, bahuku tersentak dengan keras. Lalu tiba-tiba terdengar bunyi berdebum keras di sisi kananku. Salah satu patahan tiang batu jatuh ke lantai. Untung tidak menimpaku. Kayu salib yang menopang tubuhku patah pada saat jatuh tadi. Kini ikatan kaki dan tanganku longgar dan aku bisa melepaskan ikatannya dengan mudah. Aku masih tergeletak di lantai dan kulihat Mammon sudah hangus, tinggal seonggok benda hitam dan asap tebal yang keluar dari tubuhnya. Api sudah memakan lebih dari dua pertiga ruangan. Asap menggantung di langit-langit.

Aku mencoba berdiri, namun pandanganku berkunang-kunang lagi dan kepalaku terasa sakit. Aku jatuh kembali ke lantai. Nafasku mulai tersengal-sengal. Sudah terlalu banyak karbon dalam paru-paruku. Aku melihat berkeliling, kulihat pintu kecil di mana Ygga masuk tadi. Aku tak bisa berdiri, aku harus merayap ke sana. Akupun mulai bergerak. Bahuku yang mengantam lantai tadi serasa mau copot engselnya. Kaki dan tangan terasa kebas karena posisi jungkir balik tadi. Jarak antara aku dan pintu hanya enam meter. Namun itu adalah jarak terpanjang dalam hidupku.

Akhirnya aku berhasil mencapai pintu tersebut, dan kuraih handelnya. Namun pintu itu ternyata terkunci. Aku menggedor-gedor dengan putus asa. Tenagaku serasa sudah habis. Aku terbatuk-batuk, paru-paruku mulai terasa perih, mataku basah berair. Aku merasa tak sanggup lagi bergerak. Aku terduduk dengan punggung bersandar ke pintu.

Gorden-gorden sudah habis terbakar, dan beberapa jendela kaca mulai pecah dengan bunyi yang memekakkan telinga. Jendela! Namun kusen jendelanya mulai terbakar juga. Bisakah aku melewatinya? Aku merayap lagi ke arah jendela, yang jaraknya lebih jauh lagi. Namun kali ini aku berhasil mencapainya lebih cepat. Kabut asap mulai menebal, dan ketika aku berbalik ke dalam ruangan, aku tak bisa melihat apapun lagi. Mayat Mammon entah di mana.

Aku meraih kusen jendela yang belum terbakar, mengangkat diriku yang lemah melewati jendela kaca, lalu menjatuhkan diri keluar.

Aku disambut oleh ranting-ranting pohon yang menahan terjun bebasku yang jatuh 3 meter ke bawah. Ternyata di balik jendela adalah jurang kecil. Udara segar menyambutku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan nikmat.

Kulihat di atasku api sudah mulai menjalar ke sayap bangunan yang lain. Studio ini tak lama lagi akan rata dengan tanah. Aku melihat sekeliling. Aku berada di sebuah lembah dengan pepohonan kecil, dan di seberang sana kulihat langitnya berberkas cahaya. Aku berjalan terseok-seok menelusuri hutan kecil, dan tak berapa lama kemudian aku melihat jalan beraspal. Kudaki bahu jalan dan berhasil mencapai jalan beraspal tersebut. Kulihat bangunan studio di kejauhan mulai habis terbakar. Asap hitamnya membumbung tinggi ke langit.

Jalan aspal tempatku berdiri sekarang cukup tinggi dari lembah tadi. Jalan ini memanjang ke arah utara dan selatan. Ke selatan jalannya agak mendaki. Aku melangkah ke sana. Beberapa saat kemudian aku menyadari jalan ini seperti tak berujung, di depan ada tikungan yang melingkar-lingkar dan kembali lagi ke jalan ini. Ada beberapa simpang juga yang ujungnya juga kembali ke jalan ini. Tempat apa ini? Di kiri kanan jalan terdapat jurang dan lembah, aku tak tahu harus melangkah ke arah mana lagi. Aku memutuskan kembali ke arah aku datang dan mengambil jalan ke utara. Akupun berjalan lagi dengan lambat ke arah aku datang tadi. Langkahku terseret-seret karena letihnya. Aku mengalami rasa haus yang amat sangat yang belum pernah kurasakan sepanjang hidupku sebelumnya.

Kemudian aku mendengar suara berderap dan gemuruh. Bunyinya berasal dari depanku. Suara berderap makin lama makin keras, dan kemudian kulihat mereka. Sosok-sosok berjubah merah, para jemaat Gereja Setan yang berjumlah ratusan tadi, sedang berlari ke arahku. Mereka meneriakkan makian dan sumpah serapah. Beberapa mengacungkan tongkat besi dan menunjuk-nunjuk ke arahku. Dan kulihat jauh di belakang mereka, sosok berjubah putih melangkah dengan anggun, dengan rambut dan gaun berkibar tertiup angin.

Mereka tidak akan membiarkan aku hidup dan bercerita. Mereka ingin aku mati agar rahasia mereka tidak bocor di luar kalangan mereka sendiri. Mereka sudah membunuh beberapa orang agar rahasia mereka tetap aman. Dan ratusan orang di depanku ini, semuanya ingin membunuhku.

Aku berbalik arah dan mencoba lari ke arah selatan yang mendaki tadi. Dadaku serasa terbakar karena sesaknya, bahuku serasa mau lepas, dan kakiku yang telanjang serasa menimpa kepingan-kepingan kaca karena kebasnya. Aku mencoba lari sebisaku, sementara jarak mereka di belakang semakin mendekat. Jalan terus menanjak, aku rasanya sudah tak sanggup lagi. Di depanku, di kejauhan, aku melihat dua titik cahaya terang. Aku mencoba ke arah cahaya itu. Lututku mulai goyah lagi, dua titik cahaya itu serasa masih jauh. Orang-orang di belakangku tinggal sepuluh meter saja dariku. Di sisi kananku bukit menjulang, dan di kiriku jurang yang cukup dalam. Mau ke mana aku meloloskan diri?

Aku terjerembab jatuh. Aku mencoba bangkit, namun tak kuasa. Aku mulai muntah-muntah. Tiba-tiba terdengar suara geraman yang berasal dari kedua titik cahaya tadi. Apakah itu suara mobil ? Namun geramannya aneh, bukan suara menderu. Ternyata dua titik cahaya itu tidaklah begitu jauh, hanya sekitar dua puluh meter di depanku. Dan suara geraman tadi berhenti, diganti menjadi auman. Dua titik cahaya tadi berasal dari sepasang mata milik seekor harimau. Aumannya menggelegar, menghentikan suara derap langkah dan seruan-seruan di belakangku.

Aku berlutut tidak percaya. Tidak ada harimau di pulau Batam ! Batam bukanlah habitatnya harimau.

Kemudian aku  baru menyadari di mana aku berada. Aku sedang berada di Bukit Harimau, tempat paling misterius di Pulau Batam. Orang-orang boleh bilang di Batam tidak ada harimau, tapi di sini, di tengah malam ini, aku melihatnya. Dan tempat ini dinamakan Bukit Harimau tentu ada sebabnya.

Aku sendiri sudah tidak tahu mau ke mana lagi. Kedua mata harimau itu menatapku tajam, dan aku tak kuasa melawannya. Aku tertunduk, diam mematung. Jantungku berdegup keras. Inilah pengalaman paling mengerikan dalam hidupku, diikat, dikerubuti dan digigiti monyet sampai terluka, diikat lagi, disalib, digantung terbalik, dan nyaris mati terbakar. Kemudian dikejar-kejar oleh ratusan orang yang hendak membunuhku, dan sekarang, ada seekor harimau besar yang akan memangsaku. Rasanya seperti mimpi buruk, namun bagusnya mimpi buruk adalah, kita bisa tersentak bangun dan semuanya akan hilang. Saat ini, walaupun aku berharap bahwa ini semua adalah mimpi, tapi segala hal terasa nyata. Ini semua memang terjadi.

Auman harimau itu telah membuat ratusan jemaat Gereja Setan diam terpaku. Kulihat mereka bertumpuk-tumpuk berdekatan di sisi jalan sebelah kiri. Semuanya bergerombol ketakutan. Ygga tak kulihat lagi. Sementara itu, sang harimau, dengan langkah berat yang berwibawa, dan tatapan tajam menusuk yang terlihat bijak, mulai mendekatiku, dan mengendus-endus. Mungkin ia tak senang dengan bauku, bau keringat, bau asap, bau monyet dan bau muntah. Ia mendekati orang-orang itu yang mulai terlihat makin ketakutan. Tiba-tiba sang harimau mengaum lagi, kali ini lebih menggelegar, getarannya menusuk hingga ke tulang sumsum. Orang-orang itu terlonjak kaget, namun tidak mampu bergerak.

Kemudian terjadilah hal yang aneh. Tidak, tidak aneh, sebenarnya sesuai dengan hukum fisika.

Jalan aspal ini mulai merekah, dan membentuk garis rekahan yang memanjang di tengah, membagi jalan ini menjadi dua bagian yang tak sama rata, kiri dan kanan. Sisi jalan yang sebelah kiri, tempat di mana para jemaat itu berdiri dan meringkuk ketakutan, tiba-tiba amblas ke jurang dengan perlahan-lahan. Para jemaat tersebut tak sempat bergerak, mereka berjatuhan ke bawah mengikuti bongkahan-bongkahan aspal tempat mereka berpijak. Bunyinya sungguh gemuruh, ditingkahi teriakan-teriakan orang-orang yang jatuh, jubah-jubah merah yang berguguran seakan-akan daun-daun kering. Aku terpaku menyaksikan kengerian itu.

Jurang itu dalamnya sekitar 10 meter, tapi orang-orang di bawah kelihatan tak bergerak lagi. Aku memejamkan mata karena gamang, lalu mundur ke sisi jalan yang lebih aman.

Jalan ini mungkin sudah tua, atau tanah di bawah jalannya sudah mulai runtuh perlahan-lahan ke jurang. Dan hitunglah, jika berat rata-rata manusia adalah 55 kg, kalikan dengan dua ratus, maka berapa besar beban yang harus ditanggung jalan aspal yang sudah tua ini pada saat yang sama.

Aku menoleh ke sekeliling. Harimau tadi lenyap. Entah ke mana perginya. Aku terduduk lemas.

Beberapa saat kemudian, fajar mulai menyingsing. Cahaya kemerah-merahan mulai muncul dari sebelah timur. Asap hitam masih terlihat dari arah bangunan studio radio. Aku melanjutkan perjalanan, kali ini dengan pandangan yang lebih jelas. Aku melangkah ke arah utara, di mana jalannya tadi kulihat menurun. Yang kubutuhkan sekarang adalah air untuk diminum. Hausnya serasa menyiksa.

Namun jalan ini tak mungkin tak berujung.

Sekitar sepuluh menit kemudian, ketika langit mulai terang dan aku mendengar kicauan burung, aku melihat beberapa rumah penduduk di kiri dan kanan. Ada sebuah pos jaga yang tak terawat, lalu aku bertemu pertigaan. Aku belok ke kanan, meneruskan perjalananku dengan langkah terseok-seok. Di depanku terlihat bangunan besar berwarna putih. Huruf-huruf besar di depannya membentuk tulisan ‚Rumah Sakit Otorita Batam’.

Aku memasuki halaman rumah sakit itu, berjalan ke bagian Emergency, dengan ambulans yang terparkir di depannya. Kulihat seorang petugas keamanan dan perawat jaga. Aku berhasil berjalan ke dekat mereka, lalu bersandar pada sebuah pilar. Tiba-tiba  tubuhku merosot ke lantai. Pandanganku mulai kabur dan tenagaku sudah habis.

Aku masih sempat melihat perawat jaga itu, seorang wanita cantik berjilbab merah muda dengan alis mata tebal, mata menawan, senyum yang menenangkan, dan hidung bagaikan belahan jambu air, bergerak sigap ke arahku. Kemudian segalanya gelap.

Pemandangan yang indah sebelum pingsan.

(Oleh Ferdiansyah, Batam, 11 Desember 2010).

Catatan
-Jalan yang longsor tersebut masih bisa dilihat hingga sekarang. Tak jauh dari RSOB ada jalan aspal yang dihalangi oleh portal. Masuki jalan itu dan ikuti jalan menurun ke kanan, lalu mendaki, jalan yang pecah dan merekah di samping jurang akan terlihat.

-Daerah di sekitar Bukit Harimau dan Tanjung Pinggir memang menjadi tempat hidup monyet-monyet seperti yang saya ceritakan. Kita bisa menemukan mereka di pinggir-pinggir jalan sekitar daerah itu, kebanyakan bergerombol.

-Akses ke lokasi stasiun radio sudah ditutup untuk umum. Jika melewati depan Guesthouse Otorita, jalan masuknya tepat di samping Gedung Lembaga Pemantau Gelombang Radio.

-Tahun 2000 itu cineplex masih berlokasi di daerah Baloi Indah.

-Kafe La Fontha sudah lama ditutup, lokasinya tepat di sebelah Pizza Hut di pertigaan Teuku Umar, Raden Fatah dan Kampung Utama.

-Pub Five O saat ini berganti nama menjadi NoName.

-Mengenai organisasi gereja setan, atau satanic church atau church of satan, informasinya bisa dilihat di situs mereka www.churchofsatan.com dan di beberapa artikel Wikipedia.

-Dulu di bukit kecil di belakang salah satu Dormitory di Muka Kuning beredar rumor bahwa pada malam-malam tertentu sering terdengar suara bayi menangis. Muka Kuning adalah lokasi industri dan dormitori di situ dihuni oleh pekerja-pekerja lajang dari berbagai daerah.

-Mengenai fenomena backmasking, artikel-artikelnya bisa dibaca di Wikipedia.

-Resminya, Eva Braun dan Adolf Hitler tewas bunuh diri di salah satu bunker pada saat tentara merah dan sekutu mulai dekat. Namun ada beberapa spekulasi yang menyebutkan bahwa Hitler dan Braun berhasil menyelamatkan diri ke Argentina, karena petinggi-petinggi Nazi yang lain banyak ditemukan di sana dan masih hidup.

-Nama Fausto berasal dari Faust, sebuah kisah legendaris yang berasal dari Jerman, di mana tokoh yang bernama Faust menjual jiwanya kepada setan untuk mendapatan kemuliaan, kecerdasan dan kekayaan.

-Nama Mammon berasal dari puisi-epik yang berjudul Paradise Lost karya John Milton, yang ditulis pada abad ke 17. Dikisahkan dalam salah satu bait puisi tersebut, bahwa setan Lucifer pada saat diusir dari surga dikawal oleh dua pembantunya, yang bernama Mammon dan Beelzebub.

-Nama Ygga berasal dari salah satu legenda Skandinavia tentang karakter wanita setengah dewa yang tugasnya adalah menundukkan laki-laki Viking sehingga mereka terhasut dan berperang.

-Lukisan Mona Lisa menjadi obyek yang paling dibahas dalam novel Da Vinci Code karya Dan Brown. Di situ disebutkan bahwa ada kemungkinan Mona Lisa itu adalah potret diri sang pelukisnya sendiri. Namun para peneliti di University of Heidelberg menemukan catatan pinggir dalam buku silsilah keluarga Fransesco yang ditulis oleh Agostino Vespucci yang menyebutkan bahwa Lisa Gherardini dilukis potretnya oleh Leonardo Da Vinci, dan wajah dalam potret tersebut dikenali sebagai Mona Lisa (Mona=Madam=Nyonya). Namun penelitian terhadap lukisan Mona Lisa tersebut belum berakhir hingga sekarang, ada kemungkinan didapatkan temuan-temuan lain.

-Batu Aji di Batam adalah daerah rawan kecelakaan. Volume lalu lintasnya sangat padat.

-Acungan jari dalam bentuk 'signs of horns' atau salam metal masih banyak dilakukan hingga saat ini, terakhir saya lihat (di tv) adalah dalam konser Avril Lavigne.


-Fausto selamat dari kebakaran itu. Kemudian dia menghilang tanpa kabar. Beberapa tahun kemudian saya mendapat informasi dari seorang rekan bahwa ia sedang di rawat di RS Jiwa di Grogol, hingga sekarang.

-Dalam kisah ini angka 999 muncul, pertama pada tanggal pertama kalinya Chos FM mengudara, yaitu 9 September 1999, kedua pada frekuensi radio tersebut yaitu 99.9 MHz. Angka 999 jika dilihat terbalik menjadi 666. 666 dipercaya sebagai angka setan. Namun angka 9 sendiri adalah angka istimewa. Berapapun angka, jika dikali dengan angka 9, maka penjumlahannya akan menghasilkan angka 9 juga. Keunikan dan keistimewaan yang dimiliki oleh angka 9 tersebut, seperti contoh dalam operasi perkalian dan penjumlahan, sebagai berikut :1 x 9 = 09 ==> 0 + 9 = 9, 2 x 9 = 18 ==> 1 + 8 = 9, dan seterusnya. Keunikan lainnya adalah, jika sembilan atau kelipatan sembilan dikalikan dengan angka 12.345.679, maka hasilnya adalah 999.999.999.

(www.ferdot.com)

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

3 Comments

avatar

kok terasa ngeri ya.. sy juga ikut baca bagian pertama

Reply Delete
avatar

ini kenyataan ya mas kisah radio ini? saya juga bekerja sbagi penyiar radio soalnya..

Reply Delete
avatar

tidak, ini kisah fiksi, hasil imajinasi saya.

Reply Delete

Follow by Email