27 Desember 2010

thumbnail

Saodah

Waktu itu pertengahan bulan Desember tahun 1957, udara selalu dingin karena hujan yang terus menerus. Di tengah gerimis malam, Atan Dempul bergegas meniti pelantar nibung yang licin dan mengetuk pintu rumahnya yang terbuat dari kayu beratap rumbia, di tepi Sungai Indragiri. Tangan kanannya membawa lampu teng.

"Saodah... buka pintu Dek, abang Atan datang ni."seru Atan Dempul memanggil istrinya.
"Assalamualaikum Saodah, di mana engkau, cepatlah sedikit. Bukan main dingin di luar sini."
"Saaodaaaaaaaah... hoiiii..."

Sang istri, wanita manja bertubuh besar, sengaja tidak cepat-cepat membukakan palang pintu. Ia menunggu sang suami menyebutkan kata keramatnya.

"Hoooiii Saodaaaaaaaah... Mati abang kedinginan di sini."

Tanpa beban sedikitpun Saodah masih melanjutkan kegiatan kesukaannya, meringkuk nikmat dalam kehangatan selimut belacu. Sejurus kemudian barulah kata keramat yang diharapkannya terdengar.

"Adindaku Saodah sayaaaaaaang, bukalah pintuuuuu."

Barulah Saodah membukakan palang pintu, lalu bersiap-siap memasang ekspresi kesal di wajahnya.

"Amboi, untunglah engkau cepat membuka pin.."belum sempat Atan Dempul menyelesaikan kalimatnya, Saodah sudah menyambar.
"Apalah abang ni, tengah malam buta macam inipun teriak-teriak. Ketuk pintu saja kan Adek dengar."
"Abang dah panggil dari tad..."
"Kenapa lambat betul balik, katanya habis Isya. Apa yang abang buat dekat pekan di Sapat itu?"
"Berniagalah. Tak ada lain."
"Berapa kaleng abang jual dempul? Kalau pulang tengah malam begini mestilah habis. Kalau tak habis abang jangan pulang. Itu baru bagus."
"Memang habis terjual."
"Jadi apa pasal abang baru balik tengah malam begini?"sambar Saodah sambil berkacak pinggang. 

"Amboi Saodah, abang masuk dan duduk dululah. Rebuslah air, abang nak minum teh panas ini."
"Jawab dulu pertanyaan adek, abang dari mana ha?"
"Inilah abang mau cerita. Lepas berniaga abang langsung balik tengah hari tadi. Tapi ada hal pula di jalan."
"Hal apa tu bang?"nada tinggi Saodah mulai surut dan dia bergegas ke bilik dapur untuk menghidupkan api.

"Sampan abang bocor dekat Sungai Junjangan."
"Terus, abang tak ke tepi?"
"Abang ke tepi lah. Abang ingat masih ada tali sabut kelapa dekat haluan. Abang cari-cari tak ada pula. Dempul pun tak ada."
"Kenapa abang tu bodoh sangat? Kalau berniaga dempul tu jangan sampai habis terjual semua. Sisakanlah satu untuk di sampan!"kata Saodah sambil menaruh teko aluminium di atas api.
"Ai? Serba salah aja ni."
"Itulah, kalau masih ada kan senang abang tambal sampan tu."
"Sampan abang bawa ke tepi, abang tambat dulu, naik ke pelantar Sei Junjangan tu, abang bertemu Utoh, kawan abang yang orang Banjar tu."
"Ha, terus?"
"Utoh tak bisa bantu abang lah, jadi abang jalan terus, bersyukur abang ketemu saudara kita."
"Siapa bang?"tanya Saodah ingin tahu.
"Sepupu jauh engkaulah"
"Siapa bang?"
"Bang Samad lah. Yang dulu tinggal dekat Sungai Bela tu."

Mata Saodah langsung terbelalak lebar, mulutnya ternganga. Lalu wajahnya memucat.

"Aduh abang ni, alamat sial lah nasib kita ni bang!"
"Kenapa?"
"Nasib buruk akan segera menimpa kita ini bang. Astaghfirullah apa dah jadi ni. Pertanda apa ni..."kata Saodah sambil geleng-geleng kepala." Terus bang?"

"Engkau ni apa pasal Saodah. Ya Bang Samadlah yang bantu abang cari tali sabut dan dempul, dia pula yang bantu abang naikkan sampan jadi tegak di tepi jerambah tu. Biar senang abang menambal. Diapun ikut abang pulang ni, Saodah kan dah lama tak jumpa dia. Sekarang dia sedang menambatkan perahu abang di ujung. Kalau tambat perahu di depan rumah nanti hanyut tenggelam lah kena hujan."
"Dia ikut abang ke sini?"wajah Saodah semakin memucat. Lalu nafasnya mulai memburu, wajahnya memerah karena mulai marah.
"Abang niiiiiiii. Kenapa lah abang bodoh sangat. Apa hal ni bang, sial betul lah nasib kita ni."
"Apa pula ni Saodah. Engkau bicara apa?"
"Matilah kita bang. Alamat nasib buruk akan menimpa kita. Sial hidup kita ni bang."
"Apa hal ni Saodah?"
"Abang Atan ni bodoh kah gila kah? Bang Samad tu kan dah mati?"

Atan Dempulpun tertegun. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepala.

"Abang tak gila Saodah. Itu betul Bang Samad yang ikut abang pulang. Dia sudah bantu abang menambal, kalau tidak entah macam mana abang balik ke Tembilahan ni."

"Astaga bang. Bang Samad itu sudah meninggal kena malaria. Sudah setahun. Kita memang tak pergi ke sana karena ada wabah."

"Eh, ini betul-betul Bang Samad, masih hidup, diapun sempat bertanya kabar engkau Saodah. Dia cakap begini: 'apa kabar sepupu aku yang gendut tu?' "

"Abang niiiiii. Geram aku. Bang Samad tu dah mati!"
"Jadi, siapa yang ikut pulang dengan abang tu?"
"Entahlah bang, orang Bunian mungkin, jin, mambang laut, setan hantu belawu, manalah tau."
"Tapi dia bercakap macam manusia. Dia kan saudara engkau,saudara aku juga, tak ada yang janggal dengan dirinya. Nampak lebih tua sedikit, ompong. Itu saja, tak ada hal lain yang janggal."
Saodah geleng-geleng kepala.
"Jangan sampai hantu tu masuk ke rumah kita ni bang."kata Saodah lagi.

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.

Atan Dempul dan istrinya saling berpandangan. Saodah memandang suaminya dengan tajam. Tatapan matanya mengisyaratkan agar Atan tidak membuka pintu.

Pintu diketuk lagi. Dua kali, tiga kali. Saodah langsung lari ke dapur mencari pisau, lalu kembali ke samping suaminya.

Terdengar suara pintu diketuk lagi. Saodah lalu berteriak.
"Siapa di luar?!"
"Akulah. Samad, abang sepupu engkaulah Saodah. Dingin sangat ni, mana Atan tadi? Jemput aku masuklah."
"Saodah,"kata Atan kepada istrinya. "Jangan engkau gila Saodah, dia itu sepupu engkau sendiri."
"Jangan sampai abang buka pintu itu."bentak Saodah.
"Atan!" teriak suara dari luar. "Bukalah pintu, engkau nak bunuh aku ya. Basah kuyup aku ni Atan."

Selama kehidupan rumah tangganya, Atan Dempul selalu menurut kata-kata istrinya. Atan sadar bahwa istrinya lebih pintar dari dia, hingga dia percaya dan mengiyakan apapun yang dikatakan Saodah. Namun malam itu, didorong oleh rasa kasihan yang amat sangat pada sosok tua Bang Samad yang telah ditemuinya di Sei Junjangan, Atan Dempul menuju pintu dan mengangkat palangnya. 

Pintupun terbuka, dan berdirilah di sana, disertai kilatan petir yang sekilas membutakan mata dan diiringi suara guntur beberapa saat kemudian, sosok tua Bang Samad, dengan rambut putih, wajah pucat kedinginan dan tubuh basah kuyup. Bang Samad mengenakan jas hitam model Belanda dan kemeja yang sudah lusuh. Senyumnya mengembang, memperlihatkan deretan gigi keemasan yang ompong di sana sini. Mulutnya merah kehitaman karena terlalu banyak makan sirih.

Tubuh Saodah bergetar karena hembusan angin yang disertai tempias hujan. 

Atan mengajak Bang Samad masuk dan mempersilakannya duduk. Bang Samad menyeret tubuhnya ke kursi dengan tertatih-tatih, lalu memandang tajam kepada Saodah.

"Untuk apa pisau tu Saodah? Lagi menyiang ikan tengah malam buta ni? Apa kabar engkau?"

"Hiss.. aku tak kan tertipu dengan iblis macam kau. Kau sudah mati tahun lalu, kau ni bukan Samad, tapi setan."hardik Saodah dengan gemuruh, dadanya naik turun.

Bang Samad terkekeh.

"Hehehehe.. apa hal ni. Ini aku Samad, sepupu engkau, Atan mengajak aku ke sini."

Atan mengangguk membenarkan. 

Nyala lampu dinding bergoyang-goyang ditiup angin yang masuk melalui celah-celah pintu dan jendela. 

"Apalah bang Atan ini. Abang buta kah? Ini hantuuuuuuu bang... hantuuu...."kata Saodah. " Bang Samad sudah mati kena demam malaria tahun lalu."

Bang Samad geleng-geleng kepala. 

"Kalau tak suka aku datang, tak apalah. Biar aku pergi, tapi janganlah aku disebut hantu. Aku masih hidup, memang banyak saudara kita yang mati kena malaria, adik aku Si Amatpun mati juga seperti yang lain. Tapi aku sembuh, Saodah. Berkat kiriman kina dari kantor PNI."kata Bang Samad.

"He iblis,"kata Saodah sambil berkacak pinggang." Suamiku bisa kau bodohi. Tapi jangan harap kau bisa bodohi aku. Haa, bang Atan, tengok ni.."

Lalu Saodahpun menusukkan pisau ke dada Bang Samad. Bang Samad tertegun, Atan Dempul ternganga mulutnya.

Tusukan itu menghasilkan lubang di dada Bang Samad, menembus jas hitamnya yang lusuh dan basah kuyup. 

"Haaaaaa... kau tengok ni bang. Tengok yang kau bilang manusia ni. Aku tusuk tak adapun keluar darah. "kata Saodah.

Atan memandangi Bang Samad dengan heran. Dan rupanya Saodahpun belum puas.

"Sinilah aku tusuk lagi." Saodahpun menusuk dada kanan Bang Samad, kali ini sedikit lebih dalam. Sekarang ada dua lubang kecil di jas Bang Samad.

"Haaaaaaa.. kau tengok itu Bang Atan. Tak ada darahpun. Muka diapun selamba saja."

Atan masih terdiam terpaku. Bang Samadpun dengan susah payah beranjak dari kursi. Dengan tertatih-tatih ia menyeret tubuhnya ke pintu, sambil mulutnya komat-kamit bergumam. Saodah masih sempat mendengar samar-samar Bang Samad berkata: "Saodah.. Saodah..." 

Bang Samad keluar menghilang di balik pintu, dan pintupun terbanting menutup tertiup angin.

Di luar hujan deras. Sesekali kilat menyambar di horison. Bang Samad melangkah melintasi jerambah nibung dengan susah payah. Hampir dekat ujung jerambah, ia terjerembab karena licin. Dadanya terasa perih. Cuaca dingin yang mendera tubuh rentanya telah membuat peredaran darahnya bergerak lebih lambat. Darah mulai merembes keluar menembus jasnya yang berwarna hitam. Iapun oleng ke kanan dan tiba-tiba jatuh ke air, menembus rimbunnya kiambang di bawah jerambah. Tubuhnya lenyap di bawah kiambang, lalu terseret arus sungai Indragiri ke arah muara.

"Kau tengok tu bang,"kata Saodah di dalam rumah. Sudah dua kali adek tusuk dia dengan pisau dapur ni, dia selamba saja. Macam tak ada kejadian. Kalau manusia betul pastilah dia memekik. Darahpun tak ada keluar."

Atan masih tak bisa berkata-kata. 

"Jangan abang diam saja. Tengoklah keluar, pasti dia sudah hilang."kata Saodah lagi.

Atan Dempulpun beranjak ke pintu, tubuhnya gemetar, tidak saja oleh hawa dingin, namun juga karena ketakutan. Dia melihat keluar, ke arah hujan, ke arah jerambah, ke kanan dan ke kiri. Ia tak melihat apapun. Si hantu agaknya telah lenyap.

Bang Samad yang sudah tua tewas karena ketidaktahuan, tahyul, salah paham, juga karena adanya keterbatasan komunikasi dan transportasi pada masa itu. 

Akan halnya Atan Dempul dan Saodah, mereka melanjutkan hidupnya di tepian Sungai Indragiri tersebut. Sesudah peristiwa itu Saodah bercerita kepada setiap orang bahwa suatu malam mereka didatangi hantu Bang Samad dan mereka berhasil mengusirnya. Sementara Atan Dempul sendiri lebih banyak diam, hanya sesekali mengangguk mengiyakan apapun yang dikatakan Saodah.

Dan Saodah yang malang itu, tak pernah terbersitpun dalam pikirannya, bahwa pada malam dingin berhujan itu ia telah melakukan sebuah pembunuhan. 
=Ferdiansyah= (Batam, 27 Desember 2010).
Baca selengkapnya di www.ferdot.com

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

1 Comments

avatar

View other Seattle Free Stuff articles or visit Cindy's blog
at for frugal tips, free stuff and advice on saving
money. The process works the same as a photography class minus the darkroom setting.
"Next class we will begin learning about Impressionism.

Look into my web site studio photography courses

Reply Delete

Follow by Email