21 Juli 2012

thumbnail

The Dark Knight Rises


Selalu ada tema psikologis di film-film arahan Christopher Nolan, mulai dari Memento, Inception yang mengeksplorasi mimpi-mimpi, Batman Begins, The Dark Knight, dan kali ini The Dark Knight Rises.

The Dark Knight Rises adalah film yang jauh lebih besar dari dua film Batman sebelumnya, jauh lebih ambisius. Segala ekspektasi yang saya miliki sebelum menonton film ini, semuanya terjawab dengan memuaskan. Tidak terlihat ada cacat pada plotnya, atau pada motivasi Bane (Tom Hardy), Catwoman (Anne Hathaway), ataupun Miranda Tate (Marrion Cotilard). Semua pemain memainkan karakternya dengan bagus, termasuk karakter baru, John Blake (Joseph Gordon-Levitt). Di akhir film kita jadi tahu, bahwa John Blake akan menjadi karakter yang ditunggu-tunggu, sebagai partner Batman.

Jika The Amazing Spiderman adalah film dengan kelas pop, The Dark Knight Rises adalah jazz progresif, dengan pengembangan plot dan karakter yang mendalam. Aktor dan aktris yang bermain dalam film ini, kebanyakan adalah pemenang dan nominator Oscar, seperti Marion Cotillard (Miranda Tate), Morgan Freeman (Lucius Fox), Gary Oldman (Komisaris Gordon), Michael Caine (Alfred Pennyworth), dan bahkan Christian Bale sendiri (Bruce Wayne/Batman). Ke empat aktornya adalah orang Inggris, yaitu Christian Bale, Michael Caine, Gary Oldman, dan Tom Hardy, sementara Marion Cotillard adalah aktris Perancis.

Si ganteng Tom Hardy menjelma menjadi sosok besar menakutkan sebagai Bane. Bane adalah vilain yang luarbiasa efektif, efisien dan mematikan. Penampilan bagusnya setara dengan Joker di film The Dark Knight, dengan suara yang mengintimidasi. Di film inilah Batman menemukan musuh yang setanding. Yang akan membuat kita prihatin dan makin percaya, bahwa Batman adalah manusia biasa, bukan sejenis superhero yang memperoleh kekuatannya karena mutasi genetik seperti Spiderman, Hulk, dan tokoh-tokoh komik Marvel lainnya. 

Walaupun pada akhirnya kita jadi tahu bahwa di balik Bane masih ada tokoh mastermind, yang sebenarnya sudah muncul sejak awal, tapi kesan kuat dari karakternya terus menjejak hingga akhir film. Tokoh-tokoh jahat dari dua film Batman sebelumnya tetap muncul, seperti Crane (Sacrecrow) yang jadi hakim urakan di masa "martial law", dan Ra's Al Ghul. Memang bagi penonton yang belum sempat menonton Batman Begins dan The Dark Knight, mungkin agak sulit memahami latar belakang film The Dark Knight Rises, karena kontinuitas yang ada di film ini, dan beberapa flashback yang mengambil adegan dari dua film sebelumnya.

Sementara Catwoman menjadi karakter yang masuk akal, tidak berlebihan, terutama saat ia bertarung dengan laki-laki. Dia tetap menjadi karakter yang feminim namun powerful dengan gayanya sendiri. 

Walaupun film ini spektakuler, tapi action nya tidak berlebihan, dan masih believable. Spesial efeknya bersih tanpa cela, situasi gawat darurat saat Bane dan pasukannya menyerang Gotham juga begitu terasa. Mereka menyerang Bursa Saham, sebagai simbol penyerangan terhadap kapitalisme global, meledakkan stadion football, sebagai simbol penyerangan terhadap komersialisme dalam olahraga, dan meledakkan jembatan-jembatan.

The Dark Knight Rises adalah film komik yang cerdas, jadi jika anda mengharapkan sebuah film di mana superhero nya sibuk menggebuki penjahat dan tak terkalahkan sepanjang film, percayalah, film ini jauh lebih dalam dari itu. 

Pada akhirnya, saya akan rindu juga dengan Batman ala Christopher Nolan dan timnya ini, karena setahu saya film ini hanya dibuat dalam trilogi, jadi mungkin tidak akan ada film Batman lagi dari tim yang sama.

(Bali, 20 Juli 2012) Diposting pertamakali di www.ferdot.com 

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email