20 Desember 2012

thumbnail

Life Of Pi


Life of Pi besutan Ang Lee adalah pencapaian luarbiasa dalam hal penceritaan dan visualisasi gambar. Diangkat dari novel best-seller yang menurut banyak orang tidak akan bisa difilmkan, film ini berhasil melalui kesulitan tersebut dengan gemilang. Hal yang sama pernah dilakukan oleh Anthony Minghella saat memfilmkan novel The English Patient tahun 1996 lalu, yang berhasil meraih 9 Oscar.

Kisahnya sendiri menceritakan seorang remaja yang menghabiskan 227 hari terombang ambing di perahu penyelamat dan hanyut di lautan Pasifik, bersama seekor harimau Bengali. Mereka mendapatkan diri mereka berada di perahu yang sama melalui prolog yang unik dan penuh warna. Kemudian prolog ini berkembang menjadi gambaran mengenai survival, penerimaan, dan adaptasi. Saya bisa membayangkan Yann Martel, penulis novel ini, akan sangat gembira dengan pendekatan yang dilakukan Ang Lee, yang mengenyampingkan bumbu-bumbu Hollywood yang klise dalam film ini.

Kisahnya dimulai di kebun binatang kecil di Pondichery, India, milik sebuah keluarga, tempat Piscine dibesarkan. Piscine dari kata Perancis jika diterjemahkan ke bahasa Inggris adalah "kolam renang", tapi di India di mana orang lebih banyak berbahasa Inggris daripada Perancis (India adalah bekas jajahan Inggris), teman-temannya menjulukinya "Pee" (pipis). Anak tersebut lebih suka dipanggil Pi, mengikut persamaan Pi dalam matematika yang angkanya tidak habis-habis (3.14 atau 22/7). Jika Pi adalah angka yang tidak terbatas, tentu saja ini menjadi nama yang tepat bagi seorang anak remaja yang tidak menyerah dan menolak untuk menerima keterbatasan.

Kebun binatang yang dikelola keluarga Pi bangkrut, dan ayah Pi mengajak semua keluarga, termasuk hewan-hewan dari kebun binatang tersebut untuk berlayar naik kapal menuju Kanada. Kapal yang mengangkut zebra, orangutan, hyena, harimau dan lain-lain beserta keluarga Pi tersebut karam, keluarganya tidak terlihat lagi, dan hal terakhir yang kita lihat adalah lampu kapal tersebut yang menghilang di kedalaman lautan Pasifik. Ini adalah situasi berbahaya bagi Pi, karena sejak awal kita ditunjukkan betapa ganasnya si harimau, yang diberi nama keren Richard Parker. Tidak seperti harimau di film-film Disney, di sini jelas digambarkan harimau adalah harimau, dan harimau ini siap memangsa.




Jantung film ini berfokus pada perjalanan di laut, di mana manusia menunjukkan bahwa ia bisa berpikir  dengan cerdik dan harimau menunjukkan bahwa ia bisa belajar. Saya tidak akan lebih lanjut menceritakan pada Anda bagaimana prosesnya, tapi demikianlah adanya, kemungkinan yang terjadi akan membuat kita semua terkejut, namun tetap "believable".

Menonton "Life of Pi" memang afdolnya nonton yang versi 3D, film ini benar-benar sukses memanfaatkan teknologi 3D sebagai visualisasi yang mendukung cerita, juga emosi penonton. Ini bukan sekedar visualisasi perahu yang terapung-apung di laut, ini visualisasi laut, perahu dan langit dalam satu frame yang spektakuler. Anda akan tahu mengapa saya berkata demikian. 

Ajaklah keluarga menonton film ini, dengan tema survival, pantang menyerah, penyesuaian diri, penerimaan, dan moralitas yang baik. Film ini membuat kita semakin percaya pada Tuhan. Hindari film-film pocong, kuntilanak dan cinta-cinta dangkal yang kerap diproduseri penjahat-penjahat seni berdarah India dari Jakarta itu. (Legian, 201212).

Ditulis pertama kali di www.ferdot.com . Mirror www.ferdy.mirrorz.com


Follow by Email