20 Oktober 2013

thumbnail

DAN BROWN: INFERNO

Photo (C) Ferdy
Setelah Digital Fortress, Deception Point, Angels & Demons, The Da Vinci Code, dan The Lost Symbol, Dan Brown menulis novel berikutnya, Inferno, yang beberapa hari yang lalu diterbitkan oleh Penerbit Mizan, dan bukunya tersedia dalam edisi hardcover maupun paperback.

Inferno didasarkan pada bagian pertama dari The Divine Comedy, sebuah mahakarya yang ditulis oleh Dante Alighieri pada abad ke 14, yaitu kumpulan canto puisi yang terdiri atas 3 bagian, yaitu Inferno (neraka), Purgatorio (tempat penyucian), dan Paradiso (surga). Isinya mengenai perjalanan Dante menelusuri ke tiga tempat tersebut ditemani oleh Virgil. Gambaran Dante tentang neraka, terutama, menjadi acuan bagi generasi berikutnya mengenai siksa-siksa neraka yang digambarkan secara mengerikan, fantastis, dan membuat bulu kuduk merinding. Selama tujuh abad sejak penerbitannya, visi neraka Dante yang terus bertahan telah menginspirasi penghormatan, rujukan, penerjemahan dan variasi oleh berbagai otak kreatif terhebat dalam sejarah, Longfellow, Chaucher, Marx, Milton, opera Wagner, dan lain-lain.

Bagi yang ingin membaca The Divine Comedy bagian pertama yang membahas Inferno, anda bisa membacanya di sini.

Seperti Angels & Demons, The Da Vinci Code dan The Lost Symbol, banyak bagian-bagian dalam Inferno yang mengingatkan saya pada salahsatu buku favorit: "A Short History of Nearly Everything", yaitu ketika Dan Brown, yang dalam hal ini diwakili oleh tokoh utama Robert Langdon, menjelaskan tentang sebuah karya seni, siapa pembuatnya, dan hal-hal yang terjadi pada karya seni tersebut. Robert Langdon, tokoh utama dalam 4 novel terakhir, adalah profesor simbologi dan seni dari Harvard, dan petualangannya telah dituangkan dalam dua film oleh sutradara Ron Howard. Dalam film Angels & Demons dan The Da Vinci Code, Robert Langdon diperankan oleh Tom Hanks.

Inferno dimulai ketika Langdon terjaga di rumah sakit di Florence, Italia, setelah sebuah pembunuhan terhadapnya gagal, dan Dan Brown mengalami amnesia jangka pendek. Dia tidak tahu mengapa dia berada di rumah sakit tersebut, kenapa ada luka di kepalanya, mengapa dia hendak dibunuh, dan mengapa dia selalu mendapatkan mimpi yang berulang mengenai seorang wanita tua yang berada di seberang sungai berair merah darah, dan mengapa ada sebuah tabung bertanda biohazard di saku jaketnya. Dengan bantuan Dr. Sienna Brooks, wanita Inggris pelarian yang juga terdampar di Florence, Langdon menelusuri petunjuk-petunjuk yang ada dan mendapatkan bahwa dunia terancam kiamat karena satu fakta: overpopulation. 

Populasi dunia perlu ribuan tahun--mulai dari awal mula manusia hingga awal 1800an--untuk mencapai 1 milyar penduduk. Lalu secara menakjubkan, hanya perlu waktu satu abad untuk melipatduakan jumlah populasi tersebut menjadi dua milyar pada tahun 1920-an. Setelah itu, hanya perlu limapuluh tahun untuk berlipatdua lagi menjadi empat milyar tahun 1970-an. Tak lama lagi jumlah penduduk dunia akan mencapai 8 milyar. Saat ini setiap tahun penduduk bumi bertambah sekitar seperempat juta orang. Dalam waktu tak sampai 50 tahun ke depan, jumlah yang ada sekarang akan berlipat tiga, sekitar 24 milyar. Ini menurut perhitungan progresi geometris. 

Dengan jumlah penduduk seperti itu, spesies hewan akan punah dengan tingkat percepatan yang drastis, permintaan akan sumber daya alam yang sudah menyusut akan meroket, air bersih akan makin sulit ditemukan, dan bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, akan habis dalam percepatan yang luarbiasa, seiring dengan jumlah manusia pemakainya. Dalam waktu tak lama lagi, segala sumberdaya ini akan punah, pohon-pohon akan semakin sedikit seiring pertumbuhan perumahan dan bangunan untuk manusia. Hewan-hewan liar akan kerap memasuki pemukiman, dan dengan sendirinya mempercepat kepunahan hewan-hewan tersebut. Anak dan cucu kita, akan hidup di dunia yang padat manusia, di mana sumberdaya alam adalah sebuah kemewahan besar. Udara yang kita hirup akan beracun, lebih banyak karbon dioksida daripada oksigen, dan sampah di mana-mana, menjadi racun bagi tanah, laut, dan udara.

Maka visi dalam film-film seperti Elysium, Oblivion, Wall-E, dan lirik dalam lagu The Final Countdown nya Europe, di mana manusia meninggalkan bumi dan membentuk peradaban di planet lain, akan menjadi kenyataan sejarah yang muram.

Machiaveli pernah menulis, bahwa: "ketika semua tempat di dunia penuh sesak oleh penghuni sehingga mereka tak bisa bertahan hidup di tempat mereka berada namun juga tidak bisa pindah ke tempat lain, maka dunia akan membersihkan dirinya sendiri."

Machiavelli berbicara tentang wabah sebagai cara alami dunia untuk membersihkan dirinya sendiri.

Thomas Robert Maltus dalam tulisannya yang berjudul An Essay on the Principle of Population, mengatakan: "kekuatan populasi sangat mengungguli kekuatan bumi untuk menghasilkan penghidupan bagi manusia, sehingga kematian prematur harus mengunjungi umat manusia. Sifat jahat manusia bersifat aktif dan dapat berfungsi untuk mengurangi populasi. Sifat-sifat alami manusia bisa menyebabkan pemusnahan besar, dan seringkali menjadi solusi bagi overpopulasi. Namun, seandainya kejahatan gagal melancarkan perang dan pemusnahan, masih ada musim penyakit, epidemi, wabah yang mampu menyapu puluhan ribu manusia, dan lalu wabah kelaparan besar yang tak terhindarkan akan membuntuti dari belakang, dengan satu pukulan kuat akan menyeimbangkan populasi dengan jumlah makanan dan sumberdaya yang tersedia di dunia."

Dalam novel Inferno, Bertrand Zorbist, ilmuwan yang memiliki kekuasaan luarbiasa, menyewa sebuah organisasi rahasia yang dikenal sebagai Konsorsium, untuk melaksanakan pemusnahan masal manusia, dengan langkah-langkah yang telah direncanakan secara matang. Berdasarkan rasio sumberdaya dan populasi, populasi ideal manusia di bumi untuk setiap orang dapat hidup secara sejahtera adalah 4 milyar. Dan Bertrand Zorbist bermaksud memusnahkan separuh dari populasi manusia sekarang, dengan tujuan untuk menghindari kiamat di masa datang dan menyelamatkan bumi. Walaupun kemudian ia meninggal karena bunuh diri, namun pelaksanaan ide gila tersebut tidak menjadi batal, karena pelaksananya adalah organisasi rahasia Konsorsium, yang keberadaannya juga misterius, namun memiliki koneksi yang kuat dengan beberapa lembaga dan pemerintahan negara-negara besar.

Dan hanya Robert Langdon, dengan bantuan dr. Sienna Brooks yang cerdas lah, yang memegang petunjuk untuk mencegah ide gila Bertrand Zorbist itu terlaksana. Langdon, berpacu dengan waktu dan detik-detik menegangkan, menelusuri jalanan dan bangunan indah di Florence yang penuh mahakarya seni dari jaman Renaissance untuk menemukan petunjuk-petunjuk dan mencegah separuh umat manusia dari kepunahan. (Ferdy - Batam 20102013)

"Tempat tergelap di neraka disediakan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat terjadi krisis moral." (Dan Brown: Inferno)



11 Juli 2013

thumbnail

Mengapa Di Indonesia Ada Gelar Haji?


GELAR haji konon hanya dipakai oleh bangsa Melayu, yaitu di Indonesia, Singapura dan Malaysia. Tidak ada dalil yang mengharuskan jika setelah menunaikan ibadah haji harus diberi gelar haji/hajjah. Bahkan sahabat Rasulullah pun tidak ada yang dipanggil haji.
image
Sejarah pemberian gelar haji dimulai pada tahun 654H, pada saat kalangan tertentu di kota Makkah bertikai dan pertikaian ini menimbulkan kekacauan dan fitnah yang mengganggu keamanan kota Makkah.
Karena kondisi yang tidak kondusif tersebut, hubungan kota Makkah dengan dunia luar terputus, ditambah kekacauan yang terjadi, maka pada tahun itu ibadah haji tidak bisa dilaksanakan sama sekali, bahkan oleh penduduk setempat juga tidak.
Setahun kemudian setelah keadaan mulai membaik, ibadah haji dapat dilaksanakan. Tapi bagi mereka yang berasal dari luar kota Makkah selain mempersiapkan mental, mereka juga membawa senjata lengkap untuk perlindungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan perengkapan ini para jemaah haji ibaratkan mau berangkat ke medan perang.
Sekembalinya mereka dari ibadah haji, mereka disambut dengan upacara kebesaran bagaikan menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang. Dengan kemeriahan sambutan dengan tambur dan seruling, mereka dielu-elukan dengan sebutan “Ya Hajj, Ya Hajj”. Maka berawal dari situ, setiap orang yang pulang haji diberi gelar “Haji”.
Gelar Haji di Indonesia
Di zaman penjajahan belanda, pemerintahan kolonial sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah, segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran agama terlebih dahulu harus mendapat ijin dari pihak pemerintah belanda. Mereka sangat khawatir dapat menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi, lalu menimbulkan pemberontakan.
Masalahnya, banyak tokoh yang kembali ke tanah air sepulang naik Haji membawa perubahan. Contohnya adalah Ahmad Dahlan yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.
Hal-hal seperti inilah yang merisaukan pihak Belanda. Maka salah satu upaya Belanda untuk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar haji di depan nama orang yang telah menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Pemerintahan kolonial pun mengkhususkan P. Onrust dan P. Khayangan di Kepulauan Seribu jadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia.
Jadi demikianlah, gelar Haji pertama kali dibuat oleh pemerintahan kolonial dengan penambahan gelar  huruf  “H” yang berarti orang tersebut telah naik haji ke Mekah. Seperti disinggung sebelumnya, banyak tokoh yang membawa perubahan sepulang berhaji, maka pemakaian gelar H akan memudahkan pemerintah kolonial untuk mencari orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

17 April 2013

thumbnail

Menyaksikan Keindahan Terumbu Karang Pulau Abang dan Sekitarnya

Beberapa waktu yang lalu di blog ini saya telah menuliskan kisah perjalanan ke Pulau Abang dan sekitarnya (baca: Snorkeling di Pulau Hantu ) . Setelah itu saya dan beberapa rekan beberapa kali ke sana, terakhir adalah tanggal 14 April 2013 yang lalu, dan saya berkesempatan memotret beberapa bagian terumbu karangnya. Sebenarnya masih banyak lagi spot-spot snorkeling dan diving yang menarik di Pulau Abang kecil, Pulau Hantu, Pulau Dedap dan Pulau Ranu, dan saya berencana ke sana lagi untuk memotret lebih banyak.

Yang mengesankan bagi saya adalah banyaknya ditemui clown fish (tokoh utama dalam film animasi Disney, Finding Nemo), mereka tinggal dalam kelompok keluarga kecil di anemon-anemon yang menggemaskan. Juga beberapa spesies ikan lain yang tak kalah cantik dan colorful, yang karena keterbatasan peralatan, belum saya dapatkan fotonya. (Batam, 17042013)

Kuda Laut di Pulau Ranu

Terumbu karang di depan Pulau Hantu

Terumbu karang di depan Pulau Hantu

Koral di depan Pulau Hantu

Koral di depan Pulau Hantu

Clown fish yang banyak ditemukan di Pulau Dedap, depan Pulau Abang besar,
dan Pulau Hantu

Keluarga kecil clownfish di depan Pulau Hantu



Bulu babi yang memiliki bintik-bintik cahaya biru

Ganggang di depan Pulau Ranu

Terumbu karang di depan Pulau Hantu

Terumbu karang di depan Pulau Abang kecil

Kuda laut

Pelantar Pulau Abang

Di pantai Pulau Ranu


Tanjung kecil di Pulau Dedap dengan airnya yang biru bening

Warna warni terumbu karang di Pulau Hantu

Diposting pertama kali di www.ferdot.com . Foto-foto dilindungi hak cipta (C) Ferdiansyah, Batam. (ferdy@ferdot.com)



09 April 2013

thumbnail

JAVA HEAT

Jake Travers menjadi saksi mata dalam peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Jogja. Bom tersebut menewaskan Sultana (Atiqah Hasiholan) dan puluhan orang lainnya. Sebelum bom meledak, Jake Travers sempat bertegur sapa dengan Sultana, dan adegan ini tertangkap kamera CCTV. Sultana adalah putri ningrat kerajaan Jawa (keraton Jogja?) dan dianggap sebagai kandidat pengganti Sultan yang saat ini berkuasa. 

Dan kemudian, ternyata Sultana tidak tewas. Mayat yang ditemukan di lokasi kejadian adalah mayat pelacur yang memiliki tato bakar bermotif harimau. 

Jake Travers sendiri adalah agen FBI yang menyamar menjadi mahasiswa seni. Dia ciduk polisi dan diwawancara oleh Letnan Hashim (Ario Bayu). Kemudian dua orang ini, bekerjasama bahu membahu memecahkan masalah yang berawal dari kasus bom bunuh diri ini, hingga membawa mereka ke penjahat internasional yang bergerak dalam bisnis berlian bernama Malik. Siapa pemeran Malik? Mickey Rourke. Semua orang kenal dia, dan dia beberapa tahun yang lalu sempat mendapat nominasi Oscar dalam film The Wrestler. Siapa pemeran Jake Travers? Kellan Lutz. Ada yang kenal?

Kellan Lutz ini pemeran Emmet Cullen dalam film saga ABG Twilight. Dan sebelum film Java Heat ini, saya tidak tahu siapa dia.

Java Heat sendiri, produksi Margate House, adalah sejenis film laga yang sangat tipikal Hollywood. Dengan budget yang katanya 10 juta dolar, didapuklah nama besar seperti Mickey Rourke, dan untuk Indonesia, ada Tio Pakusadewo, Atiqah Hasiholan, dan Ario Bayu. Bagaimana filmnya?

Sebagai hiburan, film ini lumayan. Tidak ada hal yang baru, hanya film kelas B dari Hollywood, dengan setting kebetulan di Indonesia, terutama Jogja. Karena ini film Hollywood, maka klise-klise Hollywood tentang negara dunia ketiga muncul di beberapa adegan.

Sebagai contoh, ketika Letnan Hashim (yang kemudian dipanggil Hash oleh Jake Travers) mewawancarai Jake, sang polisi memutar rekaman CCTV yang diambil dari kaset video jadul, diputar di VCR jadul, dan ditonton di televisi jadul mirip yang berasal dari tahun 70-an. Kantor polisi nya dibikin gelap dan kumuh, tidak ada layar LCD apalagi LED, adanya komputer jadul. Sementara Jake Travers sendiri memiliki laptop keluaran terbaru sebagai sarana video conference dengan atasannya di markas FBI. Padahal anak SMP di Indonesia saja sudah memiliki laptop kelas high-end dengan spesifikasi tinggi dan biasa bervideo conference bersama rekan-rekannya.

Kamera menyorot sudut sudut kumuh kota Jogja, becak, anak-anak tak bersendal, dan potret hidup orang miskin. 

Yang lucu, Malik (Mickey Rourke) memiliki dua penari Jawa cantik yang diam seperti patung, dan hanya bergerak jika disuruh dan disuapin kacang. Dan si Malik ini punya peliharaan burung Cendrawasih juga.

Kalau ada yang bilang film ini akan mengangkat nama Indonesia karena lokasi shootingnya di Indonesia, kayanya bakalan jauh dari itu. Dengan pengecualian adegan di Borobudur,  adegan-adegan film ini banyak memiliki aspek yang mendiskreditkan Indonesia.

Dari mana saya tahu padahal filmnya baru akan tayang di bioskop tanggal 18 April nanti? Karena saya sudah nonton, karena film ini sudah bocor duluan di internet, dengan gambar dan suara yang kualitasnya bagus. Ini link nya: http://thepiratebay.gl/torrent/8235799 

Java Heat tidak menawarkan hal baru, hanya film laga Hollywood biasa dengan script yang kurang bagus, plot yang klise, dan akting yang mengecewakan. Bahkan Mickey Rourke pun seperti salah tempat di situ.
(Ferdy-Batam, 9 April 2013).

30 Maret 2013

thumbnail

Revenue Management: OTA, ARR, dan RevPAR..




















Banyak hotelier yang belum tahu bahwa revenue management di dunia perhotelan sebenarnya dikembangkan berdasarkan kesuksesan yield management yang dipraktekkan dalam dunia penerbangan. Hotel memiliki masalah dan tantangan yang sama yang dihadapi dalam dunia penerbangan, misalnya dalam hal inventory, pemesanan dini, harga terendah yang kompetitif, dan dinamika harga yang bergerak mengikuti hukum supply dan demand. Faktor-faktor utama yang menentukan dalam revenue management hampir sama dengan yang berlaku di yield management.

-Jumlah kursi/kamar yang tersedia.
-Berapa lama waktu yang tersisa untuk menjual kursi/kamar pada hari berjalan.
-Berapa harga kursi/kamar yang diset oleh hotel/maskapai lain.

Maskapai seperti Air Asia misalnya, merupakan salah satu pionir dalam yield management di Asia, dan gebrakan mereka sangat mempengaruhi pasar. Kesuksesan yield management dalam dunia penerbangan inilah yang menginspirasi munculnya online travel agent (OTA), untuk kemudian memicu munculnya revenue management.

Revenue Management adalah posisi atau departemen yang baru dalam dunia perhotelan. Tidak semua hotel memiliki posisi ini. Hingga banyak yang tidak tahu apa dan bagaimana cara bekerjanya. Intinya adalah, revenue management memiliki goal untuk memaksimalkan revenue, dengan cara melakukan penetapan harga kamar yang dinamis, mengikuti supply dan demand, dan memastikan bahwa penetapan harga tersebut mampu memaksimalkan revenue yang semestinya didapatkan.

Dalam melakukan tugasnya tersebut, seorang yang bertugas dalam hal revenue management juga harus mengetahui harga yang diset oleh hotel kompetitornya, terutama kompetitor terdekat yang memiliki area dan market yang sama. 

Sebagai contoh, misalkan pada tanggal 30, yang jatuh pada hari Sabtu (weekend), hotel A memiliki forecast 93%. Hotel A memiliki 100 kamar, dan dengan forecast occupancy 93%, kamar yang tersisa adalah 7 kamar. Revenue manager harus menentukan, apakah ia harus menaikkan harga (karena demand yang dinilai tinggi), atau tetap bertahan pada harga kamar yang sudah ada. Jika ia menaikkan harga terlalu tinggi, ia memiliki resiko tidak ada yang akan membeli kamar yang tersisa. Jika ia tetap menentukan harga yang rendah, ia beresiko kehilangan revenue yang seharusnya didapat. Dalam menentukan dynamic selling price ini, selain ketiga faktor di atas (jumlah kamar tersedia/tersisa, waktu yang tersisa untuk mengisi kamar yang tersisa, dan penetapan harga oleh kompetitor), yang juga harus diperhatikan adalah budget yang ditetapkan, pengetahuan mengenai hari-hari libur nasional negara sendiri dan juga negara lain, dan juga koordinasi yang baik dengan bagian reservasi, marketing, dan front liners lainnya.

Penetapan harga kamar yang banyak dilakukan adalah, hotel misalnya menentukan harga kamar tetap jika occupancy forecast berkisar antara 0-65%. Namun ketika occupancy naik melewati angka 65%, harga kemudian dinaikkan. Biasanya volume pemesanan kamar meningkat ketika occupancy 0-65%, lalu kemudian pemesanan mulai menurun ketika harga dinaikkan, hingga tidak ada pemesanan kamar sama sekali. Tentu saja keputusan tanpa menilai faktor-faktor lain seperti ini akan mengakibatkan masih banyaknya kamar tersisa yang tidak terjual. 

Secara umum, alasan utama hotel menetapkan harga tinggi ketika occupancy mencapai 65 - 70% adalah karena mereka mengandalkan nilai ARR (average room rate, harga kamar rata-rata) sebagai penanda sukses atau tidaknya penjualan. Pola pikirnya adalah: "sekarang occupancy tinggi sudah didapat, mari kita naikkan ARR", lalu harga kamar pun dinaikkan serta merta, bahkan kenaikan ini dilakukan tanpa memandang harga pasar yang sedang berlaku, dan tidak mencermati harga-harga yang sudah ditetapkan oleh hotel kompetitor. Hasilnya seringkali kamar tidak terjual, dan menyebabkan sisa 30% tak terhuni. Ini artinya, hotel tersebut gagal memaksimalkan revenue nya.

Strategi penetapan harga kamar tidak melulu diukur melalui tingkat occupancy dan ARR

Seperti yang sudah diketahui, ARR dihitung melalui total room revenue dibagi jumlah kamar yang terjual. Di sinilah letak permasalahannya. Jika kita hanya menghitung berdasarkan jumlah kamar yang terjual, kita tidak mendapatkan angka indikator yang sebenarnya. Dua buah hotel dengan tingkat hunian dan kelas yang berbeda bisa saja memiliki ARR yang sama. Hotel A, yang memiliki 100 kamar, bisa saja memiliki ARR yang nyaris sama dengan Hotel B, yang memiliki hanya 60 kamar. Sebagai contoh, pada tingkat hunian 70%, Hotel A bisa memiliki ARR Rp345,000, dan Hotel B memiliki ARR Rp345,000. 

Tapi bukan ARR yang menentukan kinerja hotel dalam peraihan revenue, melainkan RevPAR. RevPAR (revenue per available room) merupakan metriks yang dapat memberikan informasi mengenai berapa banyak  yang didapatkan sebuah hotel dan jumlah revenue yang bisa disetorkan ke rekening bank hotel setiap harinya. RevPAR dihitung berdasarkan total room revenue dibagi total jumlah kamar yang ada, bukan jumlah kamar yang terjual. Nilai ARR tidak mengindikasikan apakah hotel tersebut memiliki occupancy yang tinggi ataupun rendah. Pada saat occupancy rendah, hotel bisa memiliki ARR yang tinggi, begitu juga sebaliknya. ARR bukan indikator yang cukup karena dengan ARR kita tidak mengetahui apakah sebuah hotel masih memiliki 10% ataupun 60% kamar yang masih kosong. Seperti yang saya sebutkan di atas, dua hotel bisa saja memiliki ARR yang sama, namun salah satu memiliki occupancy yang rendah, yang tidak bisa diindakasikan dengan ARR. Dengan RevPAR, kita memiliki indikator yang cukup untuk menentukan langkah selanjutnya dalam revenue management. Ini dikarenakan RevPAR memiliki metriks tetap yang konsisten yang bisa digunakan untuk mengevaluasi kinerja hotel dalam menghadapi persaingan dengan kompetitor. 

Karena jumlah kamar tersedia di sebuah hotel biasanya tetap, RevPAR memiliki metriks yang konsisten untuk mengindikasikan seberapa besar jumlah revenue yang bisa disetor ke rekening bank sebuah hotel. [Ferdy - Batam 30032013]
(Diposting pertama kali di www.ferdot.com)




05 Maret 2013

thumbnail

Kasus Pembunuhan Munir: Sampai Di Mana Perkembangannya?


Tulisan ini sebagai pengingat bahwa masih ada kasus besar yang sampai saat ini belum terungkap, yang masih menjadi misteri. Namun fakta terakhir menunjukkan bahwa kita sudah sangat dekat sekali dengan pengungkapan misteri tersebut, hanya saja dengan banyaknya perkembangan berita yang lama-lama jadi tumpang tindih, dan entah karena disengaja atau tidak, kasus ini menjadi mengendap, hilang dari permukaan, tidak pernah disebut lagi. Hanya orang-orang tertentu yang masih mengingatnya. Dan banyak orang lupa sampai di mana posisi terakhir kasusnya.

Peristiwa pembunuhan terhadap aktivis HAM Munir SH telah membuka mata setiap orang. Bukan hanya publik Indonesia tetapi juga masyarakat internasional. Selain karena peristiwa tersebut terkait langsung dengan 3 negara (yaitu Singapura sebagai tempat transit Munir dan diduga sebagai lokasi terminumnya racun arsenik penyebab kematiannya, Belanda sebagai negara tujuan dan ditemukannya jasad Munir setelah diturunkan dari Pesawat Garuda Indonesia, dan Indonesia sendiri sebagai negara kebangsaan Munir dan para pelaku), kasus ini juga menimpa seorang aktivis HAM yang dikenal dan dimiliki dunia internasional.

Kasus terbunuhnya Munir tersebut sangat kontroversial dari berbagai segi, baik segi peristiwanya, para pelakunya, dan terutama proses penegakan hukumnya. Dari segi peristiwanya, kontroversi yang timbul adalah mengenai penyebab dan kronologis serta TKP meninggalnya Munir. Dari segi pelakunya, jelas menimbulkan berbagai spekulasi dan konklusi faktual yang mengherankan banyak orang.  Pertama,  meninggalnya Munir disebabkan racun arsenik yang akhirnya terbukti bahwa pelakunya adalah Pollycarpus Budihari Priyanto yang notabene adalah pekerja di Garuda Indonesia.

Lantas apa hubungannya dan apa untungnya Polly membunuh Munir? Berarti kemungkinan ada orang yang terlibat di balik Pollycarpus.  Kedua, dari hasil pengembangan pemeriksaan ditemukan bukti bahwa ada hubungan yang intensif antara Pollycarpus dengan Muchdi Pr. Dengan berbagai bukti pendukung lain yang menunjukkan terjadi koneksi illegal antara keduanya. Sehingga patut diduga ada keterkaitan antara meninggalnya (terbunuhnya) Munir dengan hubungan kedua orang tersebut. Ketiga, dalam perkembangan pemeriksaan kasus Muchdi terungkap kesaksian Ucok (Raden Muhammad Patwa) yang menyatakan atau mengakui pernah disuruh membunuh Munir oleh Sentot (agen muda BIN).

Selain itu, berbagai kesaksian lain menunjukkan adanya beberapa subyek lain yang patut diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Munir.

Yang lebih kontroversial lagi adalah dari segi penegakan hukumnya. Di mana dalam pemeriksaan Muchdi Pr di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah mempertontonkan drama persidangan yang sungguh di luar nalar dan logika yuridis. Banyak kejanggalan dalam proses penyidikan sampai pada tingkat pemeriksaan di pengadilan.  Berbagai kontroversi tersebut sangatlah penting untuk diketengahkan demi mencari titik terang dalam mewujudkan keadilan bagi semua orang.

Terutama yang paling penting untuk dikaji adalah segi penegakan hukumnya. Mengingat penegakan hukum atas kasus Munir ini sangatlah kontroversial dan menimbulkan berbagai tanda tanya publik atas perwujudan keadilan di Indonesia.

Bertentangan dengan logika hukum yang selama ini diajarkan di mana-mana, dan mencederai rasa keadilan bagi seluruh masyarakat, serta mengenyampingkan beberapa asas hukum universal yang sudah menjadi communis opinio doctorum  bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di depan hukum (equality before the law), sehingga tidak membeda-bedakan status sosial dan satus politik seseorang.

Putusan bebas yang melukai rasa keadilan masyarakat tersebut, adalah putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 1488/Pid.B/2008/PN.Jkt.Sel pada tanggal 31 Desember 2008 yang membebaskan terdakwa Muchdi Pr yang didakwa sebagai “penggerak” dalam pembunuhan berencana almarhum Munir.
 
Meski putusan bebas merupakan hal yang dibenarkan, tetapi reaksi dari berbagai kalangan dalam masyarakat patut diapresiasi, terutama karena terdakwa Muchdi PR sebagai mantan pejabat militer dan Badan Intelijen Negara (BIN), sehingga wajar jika ada yang menilai hakim tidak menyamakan posisi setiap orang di  depan hukum. Apalagi Muchdi PR bersama penasihat hukum dan koleganya membentuk opini bahwa seolah-olah putusan bebas itu memang patut dijatuhkan terhadap Muchdi PR. Bahkan beberapa produk hukum terkait pemeriksaan Muchdi Pr dalam proses peradilan tersebut memperlihatkan kejanggalan-kejanggalan yang layak diperdebatkan. 

Kasus ini adalah kasus publik, sehingga masyarakat perlu diberi ruang untuk menilai produk peradilan tersebut, mengingat proses peradilan dengan sistem acara pidana yang berlaku tidak memungkinkan masyarakat berperan lebih jauh. 

Sebagai pengingat, ini adalah posisi terakhir kasus Munir:

Berdasarkan putusan PK MA No. 109/PK/Pid/2007 Tanggal 25 Januari 2008 atas nama Terdakwa Pollycarpus Budihari Priyanto dan Putusan No. 1849/PID.B/2007/PN.JKT.PST atas nama Terdakwa Indra Setiawan menunjukkan bahwa kematian Munir adalah akibat dari sebuah tindak pidana pembunuhan berencana yang penuh konspirasi. Berdasarkan fakta-fakta selama proses persidangan Pollycarpus dan Indra Setiawan dapat terlihat adanya keberadaan  aktor intelektual   dari pelaksanaan tindak pidana tersebut. Sebagai langkah awal penanganan kasus kematian Munir, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Tim  Pencari Fakta (TPF) Kasus Munir dengan Keppres Nomor 111 Tahun 2004. Berdasarkan hasil investigasi TPF Kasus Munir, ditemukan adanya indikasi keberadaan aktor intelektual  yang menggerakkan Pollycarpus melalui hubungan telepon sebanyak 41 kali antara Pollycarpus dan Muchdi PR (Dep uti V BIN). Hal ini dipertegas dengan rekomendasi TPF agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap beberapa Pejabat BIN yaitu Hendropriyono, Muchdi PR dan Bambang Irawan.

Hubungan antara Muchdi Pr dengan terpidana Pollycarpus sebagai pelaku pembunuhan terhadap Munir ini terbukti dalam persidangan Peninjauan Kembali (PK) Pollycarpus pada tanggal 22 Agustus 2007 yang memperdengarkan rekaman pembicaraan antara Pollycarpus dan Indra Setiawan yang menyebutkan nama-nama sandi seperti Asmini untuk menyebut As’ad Said Ali, Bu Avi untuk menyebut Muchdi PR, Petruk untuk menyebut Abdurrahman Saleh dan lain sebagainya.  Keterkaitan Muchdi Pr sebagai aktor intelektual dalam pembunuhan Munir dapat dibuktikan melalui salah satu alat bukti keterangan saksi yaitu Saksi Budi Santoso dalam BAP Tanggal 8 Oktober 2007, Budi Santoso menyatakan bahwa status Pollycarpus adalah pegawai PT Garuda yang menjadi jaringan  non organik BIN di mana Muchdi PR pada saat itu menjabat sebagai Deputi V BIN adalah  handler  dari Pollycarpus. Kerjasama antara Pollycarpus dan Muchdi PR dibuktikan dengan adanya pemberian uang dari Muchdi PR kepada Pollycarpus melalui Budi Santoso, yang rinciannya adalah sebagai berikut:
•  Pemberian uang sejumlah Rp. 10.000. 000,- (sepuluh juta  rupiah) pada tanggal 14 Juni 2004 di ruang kerja Muchdi PR di Kantor BIN;
•  Pemberian uang sejumlah Rp. 2.000.000 ,- (dua juta rupiah) sebanyak 2 (dua) kali sebelum peristiwa dibunuhnya Munir, bahkan Pollycarpus menerima pemberian uang sejumlah  Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) pada saat Pollycarpus diperiksa oleh Penyidik Bareskrim Mabes Polri sehubungan dengan peristiwa kematian Munir di halaman parkir Carefour Pasar Jum’at, Jakarta Selatan.

Dalam proses persidangan atas nama terdakwa Indra Setiawan, terdakwa Indra mengaku bahwa sekitar bulan Oktober - November 2004 meminta kepada Pollycarpus untuk dapat bertemu dengan M. As’ad Said Ali, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (WakaBIN). Beberapa hari kemudian, Pollycarpus memberitahukan  mengenai kapan waktu terdakwa Indra Setiawan dapat bertemu dengan As’ad di kantor BIN. Terdakwa Indra Setiawan baru mengetahui dan semakin yakin bahwa Pollycarpus adalah orang yang dipercaya BIN setelah Pollycarpus dapat mempertemukan terdakwa dengan As’ad, di mana pada saat itu juga ada Muchdi PR. 

Berdasarkan temuan-temuan fakta di atas dan setelah melalui proses penyelidikan dan pemberkasan perkara di tingkat kepolisian dan kejaksaan, tepat pada tanggal 21 Agustus 2008, berkas perkara Muchdi Pr akhirnya disidangkan di PN Jakarta Selatan. PU mendakwa Muchdi Pr dengan dakwaan yang disusun secara alternatif, di mana dakwaan pertama adalah melanggar Pasal 340 KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP (Muchdi diposisikan sebagai membujuk/ menggerakkan) dan dakwaan alternatif kedua adalah melanggar Pasal 340 KUHP jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP (Muchdi diposisikan sebagai turut serta melakukan atau menyuruh melakukan).

Sebagai pembuktian, PU menghadirkan 14 (empat belas) saksi, 4 (empat) saksi verbal lisan, 3 (tiga) ahli, dan 2 (dua) saksi dibacakan BAP-nya di depan persidangan, sedangkan Penasehat Hukum menghadirkan 2 (dua) orang saksi dan 1 (satu) ahli. Selain itu, PU juga mengajukan 17 (tujuh belas) alat bukti surat, sedangkan Penasehat Hukum hanya mengajukan 2 (dua) alat bukti surat. Di dalam proses pembuktian yang di depan persidangan, terjadi pencabutan BAP oleh 5 (lima) orang saksi, yaitu Arifin  Rahman dan Zondhi Anwar (2 orang pegawai TU BIN), Imam Mustafa dan Suradi (Sopir pribadi Muchdi Pr), dan Kawan.

Setelah menjalani proses persidangan yang cukup lama, yaitu sebanyak 21 kali persidangan, pada tanggal 31 Desember 2008, Majelis Hakim membacakan Putusan No.1488/Pid.B/2008/PN.Jkt.Sel. Di dalam pertimbangan putusan tersebut, Majelis Hakim menyatakan bahwa Muchdi PR tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan kepadanya, baik dakwaan alternatif pertama maupun kedua.  Sehingga di dalam amarnya, Hakim menyatakan bahwa Muchdi PR bebas dari segala dakwaan yang didakwakan terhadap dirinya. Atas putusan bebas tersebut, Penuntut Umum mengajukan kasasi dan memori kasasi telah diserahkan kepada MA melalui kepaniteraan PN Jakarta Selatan pada tanggal 12 Februari 2009.

Kesaksian yang menarik dari persidangan dan hasil penyelidikan dari kasus tersebut antara lain:

a.  Pollycarpus mengatakanke Budi Santoso  “Pak, saya mendapat tugas dari pak Muchdi untuk menghabisi Munir”.  Pada tanggal 7 September 2004, setelah kembali dari Singapura, Pollycarpus mengatakan bahwa “dia telah kembali dan mendapatkan ikan besar” , yang artinya  “Munir telah saya habisi dengan racun”. Selain itu, saksi Budi Santoso juga menerangkan bahwa Pollycarpus adalah jejaring non organik dibawah  handler Muchdi PR. 

b. Bahwa surat No. R-451/VII/2004 tidak bertanggal Juli 2004 tersebut menyatakan bahwa agar  Pollycarpus dapat dimasukkan sebagai  internal security  (pengaman internal) PT Garuda. 

c.   Bahwa Surat tersebut ditindaklanjuti dengan surat tugas dari Dirut PT Garuda No. Garuda/GZ-2270/04 tanggal 11 Agustus 2004 perihal penugasan Pollycarpus sebagai staf pembantuan di unit corporate security. 

d. Bahwa saksi Rohainil Aini menyatakan bahwa pada tanggal 6 September jadwal terbang Polycarpus adalah ke Peking.

e.  Bahwa saksi Suciwati mengatakan bahwa pada tanggal 4 september 2004 Pollycarpus menelpon nomor Handphone Munir dan menanyakan jadual keberangkatan Munir ke Belanda. Keterangan saksi tersebut diperkuat oleh keterangan ahli Rubi Z. Alamsyah melalui bukti  Call Data Record (CDR). 
 
f.  Bahwa saksi Rohainil Aini mengatakan bahwa Pollycarpus berangkat dari Jakarta menuju Singapura pada tanggal 6 September 2004 atas dasar surat dari Direktur Garuda Indra Setiawan No. GH/DZ-227/04 tanggal 11 Agustus 2004. Atas dasar surat tersebut, saksi Rohainil Aini membuat nota perubahan Nomor 219/04 tanggal 6 September 2004 yang ditandatangani dengan mengatasnamakan  Chief pilot 330 kapten Carmel Sembiring. 

Dengan demikian bahwa berdasarkan bukti surat, keterangan saksi Budi Santoso, saksi Indra Setiawan, saksi Rohainil Aini, saksi Suciwati dan ahli Ruby Z.Alamsyah yang saling bersesuaian antara satu dengan yang lain, menunjukkan bahwa surat Rekomendasi dari BIN kepada Indra Setiawan (Dirut PT Garuda)  Nomor R-451/VII/2004 Juli 2004, merupakan sarana penganjuran kepada Pollycarpus untuk membunuh Munir.  Bahwa dari fakta tersebut di atas  juga terbukti bahwa Muchdi PR telah  menyalahgunakan kekuasaannya sebagai Deputy V BIN, dengan menganjurkan Pollycarpus (sebagai jejaring non organik BIN) untuk membunuh Munir, yang tidak ada kaitannya dengan tugas dan kewenangan BIN. 

Pembunuh Munir sudah jelas, yaitu Pollycarpus. Tapi Pollycarpus hanyalah pelaksana, dia tidak memiliki motif untuk membunuh Munir. Pertanyaan utamanya, siapa yang menyuruh Pollycarpus?

Kasus ini berhenti begitu saja, dan, lama kelamaan, publik pun akan lupa. Sebagaimana orang melupakan kasus Marsinah, kasus Malari, dan lain-lain. Generasi yang ada sekarang, mereka mungkin tidak tahu lagi, atau tidak pernah tahu kasus-kasus tersebut.  Saya di sini mengingatkan, bahwa kita masih menyimpan api dalam sekam. 

(Ferdy-Batam, 5 Maret 2013). [Disarikan dari wikileaks dan jurnal KONTRAS]
Diposting pertama kali di www.ferdot.com 

25 Februari 2013

thumbnail

Snorkeling Di Pulau Hantu

Pulau Hantu


Tidak hanya Bali, ternyata Batam juga memiliki beberapa lokasi potensial untuk aktifitas snorkeling dan diving. Selama ini saya melakukan aktifitas snorkeling dan diving di Bali rata-rata dua kali sebulan, dan demi melanjutkan hobi yang menyenangkan tersebut, saya melakukan pengecekan mengenai kemungkinan snorkeling di Batam. Lokasi nya harus dangkal (maksimal kedalaman 6 meter), airnya jernih, dan memiliki terumbu karang serta ikan yang indah.

Bersama beberapa rekan yang merupakan petualang sejati (ehm).. yaitu Adrian Pratomo, Fernando Malonda, dan Eundang Sujana, kami melakukan hunting location. Beberepa hari sebelum ke lokasi, saya menghubungi Pak Torrest, pemilik perahu motor yang biasa menyeberangkan orang (dan ikan) ke Pulau Abang. Janji pun dibuat, dan Pak Torrest berjanji akan mengantarkan kami ke Pulau Abang, Pulau Dedap dan Pulau Hantu.

Setelah sarapan bareng di Mega Legenda, kami meluncur ke Pulau Galang, dengan jarak tempuh dari Mega Legenda sekitar 70 km. Setelah melewati jembatan ke 6, kami tiba di Pulau Galang, dan menuju pantai Asim, di mana Pak Torrest dan asistennya, seorang mahasiswa Politeknik Batam bernama Rizal sedang menunggu. Pak Torrest menyarankan agar kami menunda keberangkatan hingga air laut tenang dan surut. Memang pada waktu itu gelombangnya cukup kuat dan anginpun kencang. 

Selama menunggu, kami berbincang-bincang dengan pak Ali Imran, mantan Ketua RW di kawasan tersebut. Pak Ali Imran berasal dari Larantuka, Flores Timur. Dia datang bersama keluarganya ke Pulau Galang pada tahun 1987, dan sejak itu membantu para petugas UNHCR dalam mengelola kamp pengungsi Vietnam yang lokasinya tak jauh dari situ. Karena terhitung 'orang lama' di situ, Pak Ali memiliki pengetahuan yang banyak tentang kawasan tersebut, dan beliau memiliki tanah yang luas, yang tentu saja membangkitkan minat teman saya Fernando Malonda, yang nalurinya bisnisnya tajam. 

Jam 11 siang kami turun ke perahu motor milik Pak Torrest. Perahu motor tersebut bisa menampung sekitar 12 orang. Perjalanan ke Pulau Abang ditempuh dalam waktu 20 menit. Sesampainya di Pulau Abang, kami menemui Pak Ledi, yang merupakan salah satu pengurus wisata bahari di pulau tersebut. Pak Ledi membawakan peralatan snorkeling, lengkap dengan pelampung. Kami pun berbincang-bincang dengan Pak Ledi mengenai wisata bahari yang menjanjikan di kawasan tersebut. Menurut Pak Ledi, Pulau Abang dan sekitarnya memiliki potensi kuat dan bisa menjadi diving spot dan snorkeling spot yang menjanjikan. Hanya saja mereka membutuhkan bantuan yang lebih proaktif dari Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata, instansi Perikanan dan Perhubungan. Peralatan snorkeling tersebut memang bantuan Pemerintah, tetapi saya lihat kondisinya kurang bagus. Beberapa snorkel ada yang lepas, dan harus diikat dengan karet gelang pada masker selamnya. Life jacket yang diberikan pun sepertinya kurang cocok untuk snorkeling, karena ukurannya terlalu besar. Dua dari 6 pasang fin yang diberikan ukurannya terlalu kecil untuk dua teman saya. Untung saya membawa peralatan sendiri.

Pantai Pulau Dedap dan terumbu karangnya.
Pak Ledi memiliki pengalaman dan hobby yang mirip dengan saya, dan dengan terus terang, ia mengatakan bahwa ia berharap Pemerintah membantu lebih serius. Jika Pulau Abang bisa menjadi pusat wisata bahari di Batam, maka akan bisa membantu mengangkat kesejahteraan penduduk di Pulau Abang dan sekitarnya. Orang tidak perlu jauh-jauh ke Bali, Bunaken, atau Raja Ampat hanya untuk diving atau snorkeling. Lembaga yang diurus pak Ledi hanya memiliki peralatan snorkeling, untuk diving mereka tidak punya. Saya menyarankan kepada Pak Ledi untuk mendekati pihak swasta, karena saya tahu pihak swasta biasanya bergerak lebih cepat dari Pemerintah. Pemerintah bekerja lebih lambat karena kendala birokrasi dan anggaran. Pak Ledi setuju dan mengatakan akan mempertimbangkan saran saya. Sayang pak Ledi tidak bisa menemani kami snorkeling, karena beliau sedang ada pertemuan yang harus dihadiri.

Pak Torrest, Adrian, Eundang, dan Fernando.
Kami melanjutkan perjalanan sekitar 15 menit ke Pulau Dedap. Ada dua spot snorkeling yang bagus di Pulau Dedap, yang pertama gelombangnya terlalu besar, jadi kami memilih teluk yang ada pantainya. Pantai nya bagus, berpasir putih dan landai. Saya memberikan briefing dan instruksi singkat mengenai teori snorkeling ke teman-teman, lalu turun ke air. Teman-teman memasang fin, masker dan life jacket. Airnya jernih, berwarna biru terang, dengan kedalaman 1 hingga 3 meter. Koralnya berwarna abu-abu, dan ikannya kecil-kecil serta jarang. Kami memilih lokasi ini sebagai pemanasan dan latihan awal bagi teman-teman yang pemula. Tak lama setelah saya nyemplung, 3 teman yang lain menyusul. Ketiganya tidak membutuhkan waktu lama untuk adaptasi dan menguasai keadaan, dan dalam 5 menit, mereka melakukan snorkeling seperti sudah pro saja. Perahu membuang sauh sekitar setengah kilometer dari pantai, dan saya mengajak yang lain untuk berenang ke arah pantai. Begitu sampai di pantai, kami beristirahat untuk makan siang. Fernando Malonda membawa bekal lumayan untuk mengganjal perut. Pak Torrest dan Rizal menyusul dengan perahu mereka.

Pantai pulau Dedap sangat indah, pasirnya putih halus dan airnya jernih. Di sebelah lain pulau ada kuburan Cina, dan Rizal berkata bahwa dulu keluarganya berkebun di situ, untuk kemudian pindah ke Pulau Abang. Pantai tersebut bisa jadi lokasi yang bagus untuk camping, dan karena tempatnya cukup terisolir, perencanaan dan perbekalan untuk campingnya harus cukup baik. 

Pak Torrest memanjat salah satu pohon kelapa yang tingginya sekitar 25 meter. Dia memetik dan menjatuhkan 6 butir kelapa muda untuk kami. Kamipun dengan antusias minum air kelapa yang menyegarkan  tersebut. Setelah kurang lebih 1 jam di Pulau Dedap, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Hantu.

Pulau Hantu merupakan pulau kecil tepat di depan pulau Abang. Jaraknya juga sekitar 15 menit. Pak Torrest maupun Rizal tidak bisa menjelaskan kenapa pulau itu dinamakan Pulau Hantu. Sudah sejak lama namanya demikian. Saya lihat kondisi pulaunya tidak seram, malahan indah. Dan ada satu buah rumah permanen di pulau tersebut.

Terumbu karang di laut depan Pulau Hantu luar biasa indahnya. Koral-koralnya berwarna-warni, ikan-ikannya beraneka jenis dan lumayan besar. Banyak terdapat bulubabi di antara koral, juga ada timun laut, beberapa jenis kerang dan spesies lain yang saya tidak tahu namanya. Saya terpukau dengan keindahan bawah lautnya, dan merasa betah snorkeling di situ. Kedalamannya antara 1 hingga 7 meter, dan di tempat yang dalam, di atasnya terapung buoy-spot dengan warna oranye. Teman-teman saya antusias melihat keindahan koral di situ. Saya yakin mereka menemukan snorkeling sebagai olahraga yang sangat menyenangkan, menyaksikan keindahan bawah laut secara langsung seperti ini merupakan sesuatu yang jarang bisa dinikmati warga Batam. 

Fernando Malonda berkata bahwa ini adalah weekend terbaik, dan jauh lebih baik menyaksikan keindahan bawah laut daripada nongkrong berjam-jam di mall. Saya setuju dengan dia, tapi saya juga tahu bahwa setiap orang memiliki hobi yang berbeda-beda. Menemukan teman yang sehobi alangkah susahnya, dan saya tahu orang Indonesia sangat takut berpanas-panas. Kita semakin jauh dengan alam, dan segan berpisah dengan sejuknya AC di rumah dan di mall. Padahal, melihat keindahan alam secara langsung seperti ini bisa membuat kita lebih arif dan lebih bersyukur. Dan unsur petualangannya sangat kental, jiwa serasa bebas merdeka, stres dan tekanan di kantor terlupakan, dan kebugaran pun terjaga.

Di dermaga Pulau Abang.
Setelah dari Pulau Hantu, kami melanjutkan perjalanan mencari lokasi di mana Pak Ledi dan teman-temannya membuat terumbu karang buatan. Kami tiba pada suatu titik di mana Pak Torrest membuang sauh, dan saya nyemplung untuk memastikan apakah itu tempatnya. Ternyata bukan. Tiga kali kami berpindah tempat, dan tiga kali saya terjun ke laut, tapi tempat yang disebut Pak Ledi tidak kami temukan. Pak Torrest tidak ingat persis tempatnya. Saya menyarankan agar jika ketemu langsung diberi tanda. Setelah lama mencari tanpa hasil, dan waktu juga sudah mulai petang, kami kembali ke Pulau Abang. Setelah merapat di dermaga kayu yang kondisinya memprihatinkan, Rizal mengajak kami ke darat. Di darat, Rizal menunjukkan sumur yang airnya jernih di mana kami bisa mandi dan membilas air laut dan garam yang menempel di kulit. Setelah mandi dan berganti pakaian, Pak Torrest dan Rizal mengantarkan kami kembali ke Pulau Galang, di mana mobil milik Adrian Pratomo parkir di dermaga Asim. Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar biaya transportasi, kami pun kembali ke Batam dengan perasaan puas, dan berjanji untuk melakukan snorkeling lagi di lain waktu. 

Snorkeling di Pulau Hantu, Pulau Dedap dan Pulau Abang bisa jadi alternatif bagi warga Batam untuk menghabiskan weekend. Biaya yang dibutuhkan antara Rp300ribu hingga Rp400ribu perorang, sudah termasuk sewa peralatan dan makan siang. Ke depannya saya akan mengajak teman lebih banyak dan membantu memperkenalkan olahraga snorkeling yang mengasyikkan ini. Dengan melakukan aktifitas ini, tanpa disadari kita juga membantu meningkatkan tingkat perekonomian penduduk Pulau Abang. Saya yakin ke depannya akan banyak penyelam yang datang ke sini, dan Batam akan menjadi salah satu pusat wisata bahari terkenal di Indonesia, selain Bali, Bunaken, Sabang dan Raja Ampat. Semoga.
(Batam, 25 Feb 2013). 
Ditulis dan diposting pertama kali di www.ferdot.com

20 Februari 2013

thumbnail

Bagaimana Cara Mendapatkan Harga Kamar Hotel Termurah?



Saya share tulisan ini berdasarkan pengalaman saya mengelola sebuah hotel kecil  di Legian, Bali, dan pekerjaan saya terakhir yang bergelut di bidang revenue management di sebuah resort berbintang di Batam. 

Internet telah mengubah segalanya. Dulu, semua harga yang berlaku di bidang pariwisata adalah fixed price, atau harga tetap, yang mungkin dirubah setiap tahunnya, sebagai penyesuaian pada meningkatnya biaya-biaya, misalnya biaya bahan baku, bahan bakar, dan lain-lain. Ingatlah dulu para pelanggan membayar biaya akomodasi, mulai dari tiket pesawat terbang hingga kamar hotel, dengan harga fixed rate atau rack rate yang tertera di brosur atau pamflet. Kini, dengan adanya internet, fixed rate tidak berlaku lagi, adanya adalah dynamic selling rate, yaitu harga yang selalu berubah mengikuti demand dan ketersediaan.


www.ferdot.comPerubahan ini dimulai dari tiket pesawat. Sejak ada internet, pelanggan tidak memerlukan tiket lagi, yang biaya cetaknya menjadi biaya yang harus dibayar oleh pelanggan. Dulu makin bonafid maskapai penerbangannya, makin mewah cetakan tiketnya, dan makin mahal pula harga tiketnya. Sekarang, peran biro perjalanan semakin minimum, karena setiap orang bisa membeli tiket hanya dengan menggunakan smartphone, tablet, netbook dan laptop. Bayangkan jumlah pengguna smartphone saat ini. (Pengguna smartphone bukan hanya orang-orang smart, tetapi juga orang-orang yang tidak smart). Jika pengguna smartphone yang smart adalah 30% saja dari total jumlah pengguna smartphone, bayangkan berapa banyak jumlah orang yang capable untuk membeli tiket pesawat secara online.



Dan harga tiket pesawatpun tidak pernah tetap dan sama lagi, melainkan selalu berubah, mengikuti demand dan ketersediaan. Pada saat demand rendah dan ketersediaan (availability) tinggi, harga tiket menjadi rendah. Gabungan antara demand rendah+ketersediaan tinggi ini biasanya terjadi untuk tiket-tiket pesawat untuk perjalanan di atas 3 bulan ke depan. Makin dini kita membeli tiket, makin murah harga tiket tersebut.



Dari sistem penjualan tiket inilah muncul yield management, yang kemudian berkembang menjadi revenue management. Mengenai revenue management ini akan saya tulis lebih lanjut di artikel berikutnya. Sekarang saya akan fokus pada bagaimana mendapatkan harga kamar hotel semurah mungkin. Tujuan dari tulisan ini adalah mengedukasi pengguna smartphone, tablet, netbook, PC dan laptop untuk bisa memanfaatkan gadgetnya untuk memesan akomodasi dengan cara smart, efisien, dan semurah mungkin.



Pada pertengahan dasawarsa 2000-2010, bermunculanlah apa yang disebut sebagai OTA (online travel agent). Sesuai dengan namanya, OTA adalah biro perjalanan yang bersifat online, yang memiliki halaman web yang bisa diakses dari manapun di seluruh dunia, sepanjang ada akses internet. Asal muasal OTA ini tentu saja dari offline travel agent, atau biro perjalanan konvensional. Dengan adanya revolusi besar bernama internet, agen-agen atau biro-biro konvensional ini melihat adanya peluang untuk menangkap pasar lebih besar, yang tidak dibatasi oleh jarak, ruang dan waktu, dan sangat menghemat biaya, mulai dari biaya SDM maupun biaya transportasi.



Mereka menciptakan apa yang disebut sebagai extranet. Sebuah interface berbasis web yang bisa diakses oleh pihak hotel, dengan username dan password,  untuk mengelola harga dan ketersediaan kamar masing-masing. OTA meminta hotel untuk menyediakan allotment tetap, yaitu jumlah kamar yang selalu tersedia untuk OTA-OTA tertentu. Kerjasama antara pihak OTA dan hotel dalam mengelola extranet ini didasarkan atas perjanjian yang ditandatangani pada dokumen digital. Nantinya, pihak OTA mendapatkan fee atau komisi antara 8% - 18% dari setiap kamar/malam berbayar yang dipesan tamu. Persentase ini akan dihitung sebagai biaya (cost) oleh pihak hotel.



Dengan adanya extranet ini, pihak hotel dapat membuat profil hotel, dengan informasi selengkap mungkin, termasuk harga dan ketersediaan kamar (yang selalu berubah-ubah), foto-foto kamar, fasilitas, cancellation dan no-show policy, peta lokasi hotel, jarak ke airport, pelabuhan dan pusat perbelanjaan, alamat fisik, dan sebuah kolom untuk memilih tanggal check in, tanggal check out, jenis kamar, dan permintaan-permintaan khusus. 



Dengan kata lain, extranet yang disediakan oleh OTA adalah jembatan bagi hotel untuk bertemu dengan calon tamu nya. Hotel menjual kamarnya secara online, dan mengontrolnya melalui extranet.



Sistem baru ini menciptakan posisi pekerjaan baru di dunia perhotelan, yaitu sales ecommerce. Sales ecommerce adalah staf sales khusus yang bertugas untuk mengontrol exranet. Posisi sales ecommerce ini makin lama makin penting seiring dengan makin banyaknya jumlah OTA (channel), sehingga perlu sebuah jabatan yang didedikasikan khusus untuk mengontrol extranet tersebut. Kebanyakan saat ini sebuah hotel sudah terkoneksi dengan paling tidak dengan sepuluh channel atau OTA, bayangkan betapa time-consuming nya saat harus mengupdate harga dan ketersediaan di masing-masing OTA. Extranet bersifat real time, setiap perubahan yang dilakukan dalam sebuah extranet, akan berlaku pada saat itu juga di halaman penjualan hotel tersebut. Jika sebuah hotel mengalami kondisi fully-booked, maka sales ecommerce harus segera menutup alokasi kamar di setiap OTA, agar tidak terjadi kondisi over-booking. Tentu saja jika tingkat hunian tinggi yang biasanya menunjukkan demand yang tinggi, maka pihak hotel biasanya akan tergerak untuk menaikkan harga kamar, dengan demikian maka harga kamar akan selalu dinamis, bergerak naik turun mengikuti demand.



Kini, dengan makin banyaknya OTA, maka mulai muncul kebutuhan untuk mengatur extranet-extranet OTA tersebut dengan cara seefisien mungkin. Dari sini muncullah apa yang disebut sebagai channel manager. Channel manager adalah sebuah interface berbasis web yang dibuat untuk mengatur sejumlah OTA dalam satu wadah, sehingga waktu yang banyak dihabiskan untuk login ke masing-masing extranet akan bisa dihemat. Jika extranet sifatnya gratis, channel manager adalah interface berbayar. Salah satu contoh channel manager yang terkenal adalah Siteminder. Pengelolaan extranet, channel manager, strategi harga, forecast pada revenue dan tingkat hunian, analisis pasar dan kompetitor inilah yang nantinya akan menjadi bagian dari apa yang disebut revenue management.



Dari sisi pelanggan sendiri, memesan kamar hotel akan menjadi jauh lebih mudah. Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk melakukan panggilan telepon, atau membuang waktu untuk mengunjungi biro perjalanan. Pelanggan bisa dengan santai melihat-lihat perbandingan harga beberapa hotel di suatu kawasan, misalnya di 

Bandung, membandingkan fasilitas hotel dan fasilitas kamarnya, dan memilih harga terbaik dan termurah yang bisa didapatkan. Dan bisa langsung mengatur penjemputan di airport atau terminal pada saat itu juga. Pemesanan kamar akan langsung dikonfirmasi dalam hitungan detik. Beberapa OTA menerapkan sistem poin, untuk pelanggan yang terregistrasi diOTA tersebut, setiap memesan kamar akan mendapatkan sejumlah poin tertentu, yang kelak bisa ditukar dengan bonus yang biasanya berupa menginap tanpa bayar di hotel-hotel tertentu. 


OTA-OTA yang dapat dikunjungi pelanggan untuk memesan kamar hotel antara lain Agoda.com, AsiaRooms.com, Booking.com, Expedia.com, Priceline.com, Orbitz.com, Wotif.com, Hostelbookers.com, Budgetplaces.com, Holidaycity.com. Semua itu adalah OTA-OTA yang berasal dari luar negeri. Tentu saja kita dapat melakukan pemesanan kamar untuk hotel-hotel di daerah-daerah Indonesia melalui OTA-OTA 

tersebut, karena jika berbicara tentang OTA, kita berbicara tentang jaringan global yang meniadakan kendala jarak, waktu dan ruang. 



Untuk OTA-OTA yang berasal dari Indonesia, ada GoIndonesia.com, pegipegi.com, tiket.com, gonla.com, yuktravel.com, yang semuanya sudah memiliki database hotel yang cukup banyak untuk memenuhi beberapa segmen pasar. 



Pembayaran bisa dilakukan melalui kartu kredit, kartu debit, bank transfer, atm transfer, dan paypal. Beberapa OTA mengharuskan pembayaran di muka pada OTA tersebut, beberapa lagi mempersilakan pelanggan untuk membayar pada saat check in di hotel. Agoda, Expedia, dan Wotif adalah contoh OTA prepaid (prabayar). Sementara Asiarooms dan Booking.com adalah contoh OTA postpaid (paskabayar).



Melalui OTA-OTA tersebut, pelanggan juga bisa mengetahui komen dan review yang ditulis oleh pelanggan yang pernah menginap di hotel tertentu, baik review negatif maupun positif. Berdasarkan review-review ini, ranking atau posisi  hotel tersebut di antara hotel-hotel lainnya bisa diketahui. Review-review ini bisa dijadikan acuan untuk jadi tidaknya memilih hotel tersebut.



Yang harus diketahui pelanggan adalah konsep parity. Ini adalah konsep kesamaan harga untuk sebuah hotel di setiap OTA. Maksudnya, jika anda ingin memesan kamar pada tanggal tertentu untuk hotel A di Bandung, maka jika di Booking.com harga kamarnya adalah US$50, maka di Agoda, AsiaRooms, Wotif dan OTA-OTA lain, harga kamarnya juga US$50. Konsep parity ini harus dipenuhi oleh semua hotel untuk menghindari persaingan yang tidak sehat di antara OTA. Sebuah hotel yang tidak memiliki kesamaan harga di antara OTA nya (disparity) akan dikenakan teguran dan sanksi dari pihak OTA.



Beberapa hotel menerapkan full parity policy, banyak juga yang tidak. Full parity policy adalah konsep kesamaan harga di setiap poin penjualan hotel, baik jika tamu menelpon langsung, direct booking, maupun di OTA. Banyak juga hotel yang memiliki website dan booking engine sendiri, dan menerapkan harga berbeda di website hotel dengan yang ada di OTA. Ini sebenarnya adalah ide yang jelek, karena pelanggan lebih menyukai hotel-hotel dengan konsep full parity. Disparity hanya akan membuat tamu merasa tertipu soal harga kamar. Salah satu hotel yang menerapkan full parity policy adalah kelompok Harris yang bernaung di bawah Tauzia Hotel Management.



Jika anda ingin memesan kamar hotel, harga terendah selalu bisa anda dapatkan jika memesan jauh-jauh hari. Pemesanan dini biasanya akan mendapatkan promo early bird, harga kamar diskon yang bahkan bisa sampai 70%. Harus diperhatikan juga kemungkinan adanya surcharge. Surcharge ini adalah biaya tambahan jika kita memesan kamar di periode peak season, misalnya lebaran, natal, dan tahun baru. Surcharge juga bisa berlaku jika ada event-event nasional dan internasional yang terjadi di daerah tempat hotel yang kita pilih, misalnya jika ada PON, pertemuan internasional dan lain-lain. Surcharge berkisar antara Rp50,000 hingga Rp500,000 per malam per kamar. 



Jadi, di era digital dan global sekarang ini, tinggalkan cara-cara konvensional untuk memesan tiket pesawat dan kamar hotel. Cara-cara konvensional memerlukan biaya tinggi, dan cukup membuang waktu. Manfaatkan smartphone anda, dan atur perjalanan anda tanpa perlu beranjak dari tempat tidur. Dapatkan konfirmasi pemesanan detik itu juga. Be efficient, be smart, and safe your energy. (Ferdy - Batam, Feb 20th 2013) Ditulis pertama kali di www.ferdot.com .






Follow by Email