25 Februari 2013

thumbnail

Snorkeling Di Pulau Hantu

Pulau Hantu


Tidak hanya Bali, ternyata Batam juga memiliki beberapa lokasi potensial untuk aktifitas snorkeling dan diving. Selama ini saya melakukan aktifitas snorkeling dan diving di Bali rata-rata dua kali sebulan, dan demi melanjutkan hobi yang menyenangkan tersebut, saya melakukan pengecekan mengenai kemungkinan snorkeling di Batam. Lokasi nya harus dangkal (maksimal kedalaman 6 meter), airnya jernih, dan memiliki terumbu karang serta ikan yang indah.

Bersama beberapa rekan yang merupakan petualang sejati (ehm).. yaitu Adrian Pratomo, Fernando Malonda, dan Eundang Sujana, kami melakukan hunting location. Beberepa hari sebelum ke lokasi, saya menghubungi Pak Torrest, pemilik perahu motor yang biasa menyeberangkan orang (dan ikan) ke Pulau Abang. Janji pun dibuat, dan Pak Torrest berjanji akan mengantarkan kami ke Pulau Abang, Pulau Dedap dan Pulau Hantu.

Setelah sarapan bareng di Mega Legenda, kami meluncur ke Pulau Galang, dengan jarak tempuh dari Mega Legenda sekitar 70 km. Setelah melewati jembatan ke 6, kami tiba di Pulau Galang, dan menuju pantai Asim, di mana Pak Torrest dan asistennya, seorang mahasiswa Politeknik Batam bernama Rizal sedang menunggu. Pak Torrest menyarankan agar kami menunda keberangkatan hingga air laut tenang dan surut. Memang pada waktu itu gelombangnya cukup kuat dan anginpun kencang. 

Selama menunggu, kami berbincang-bincang dengan pak Ali Imran, mantan Ketua RW di kawasan tersebut. Pak Ali Imran berasal dari Larantuka, Flores Timur. Dia datang bersama keluarganya ke Pulau Galang pada tahun 1987, dan sejak itu membantu para petugas UNHCR dalam mengelola kamp pengungsi Vietnam yang lokasinya tak jauh dari situ. Karena terhitung 'orang lama' di situ, Pak Ali memiliki pengetahuan yang banyak tentang kawasan tersebut, dan beliau memiliki tanah yang luas, yang tentu saja membangkitkan minat teman saya Fernando Malonda, yang nalurinya bisnisnya tajam. 

Jam 11 siang kami turun ke perahu motor milik Pak Torrest. Perahu motor tersebut bisa menampung sekitar 12 orang. Perjalanan ke Pulau Abang ditempuh dalam waktu 20 menit. Sesampainya di Pulau Abang, kami menemui Pak Ledi, yang merupakan salah satu pengurus wisata bahari di pulau tersebut. Pak Ledi membawakan peralatan snorkeling, lengkap dengan pelampung. Kami pun berbincang-bincang dengan Pak Ledi mengenai wisata bahari yang menjanjikan di kawasan tersebut. Menurut Pak Ledi, Pulau Abang dan sekitarnya memiliki potensi kuat dan bisa menjadi diving spot dan snorkeling spot yang menjanjikan. Hanya saja mereka membutuhkan bantuan yang lebih proaktif dari Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata, instansi Perikanan dan Perhubungan. Peralatan snorkeling tersebut memang bantuan Pemerintah, tetapi saya lihat kondisinya kurang bagus. Beberapa snorkel ada yang lepas, dan harus diikat dengan karet gelang pada masker selamnya. Life jacket yang diberikan pun sepertinya kurang cocok untuk snorkeling, karena ukurannya terlalu besar. Dua dari 6 pasang fin yang diberikan ukurannya terlalu kecil untuk dua teman saya. Untung saya membawa peralatan sendiri.

Pantai Pulau Dedap dan terumbu karangnya.
Pak Ledi memiliki pengalaman dan hobby yang mirip dengan saya, dan dengan terus terang, ia mengatakan bahwa ia berharap Pemerintah membantu lebih serius. Jika Pulau Abang bisa menjadi pusat wisata bahari di Batam, maka akan bisa membantu mengangkat kesejahteraan penduduk di Pulau Abang dan sekitarnya. Orang tidak perlu jauh-jauh ke Bali, Bunaken, atau Raja Ampat hanya untuk diving atau snorkeling. Lembaga yang diurus pak Ledi hanya memiliki peralatan snorkeling, untuk diving mereka tidak punya. Saya menyarankan kepada Pak Ledi untuk mendekati pihak swasta, karena saya tahu pihak swasta biasanya bergerak lebih cepat dari Pemerintah. Pemerintah bekerja lebih lambat karena kendala birokrasi dan anggaran. Pak Ledi setuju dan mengatakan akan mempertimbangkan saran saya. Sayang pak Ledi tidak bisa menemani kami snorkeling, karena beliau sedang ada pertemuan yang harus dihadiri.

Pak Torrest, Adrian, Eundang, dan Fernando.
Kami melanjutkan perjalanan sekitar 15 menit ke Pulau Dedap. Ada dua spot snorkeling yang bagus di Pulau Dedap, yang pertama gelombangnya terlalu besar, jadi kami memilih teluk yang ada pantainya. Pantai nya bagus, berpasir putih dan landai. Saya memberikan briefing dan instruksi singkat mengenai teori snorkeling ke teman-teman, lalu turun ke air. Teman-teman memasang fin, masker dan life jacket. Airnya jernih, berwarna biru terang, dengan kedalaman 1 hingga 3 meter. Koralnya berwarna abu-abu, dan ikannya kecil-kecil serta jarang. Kami memilih lokasi ini sebagai pemanasan dan latihan awal bagi teman-teman yang pemula. Tak lama setelah saya nyemplung, 3 teman yang lain menyusul. Ketiganya tidak membutuhkan waktu lama untuk adaptasi dan menguasai keadaan, dan dalam 5 menit, mereka melakukan snorkeling seperti sudah pro saja. Perahu membuang sauh sekitar setengah kilometer dari pantai, dan saya mengajak yang lain untuk berenang ke arah pantai. Begitu sampai di pantai, kami beristirahat untuk makan siang. Fernando Malonda membawa bekal lumayan untuk mengganjal perut. Pak Torrest dan Rizal menyusul dengan perahu mereka.

Pantai pulau Dedap sangat indah, pasirnya putih halus dan airnya jernih. Di sebelah lain pulau ada kuburan Cina, dan Rizal berkata bahwa dulu keluarganya berkebun di situ, untuk kemudian pindah ke Pulau Abang. Pantai tersebut bisa jadi lokasi yang bagus untuk camping, dan karena tempatnya cukup terisolir, perencanaan dan perbekalan untuk campingnya harus cukup baik. 

Pak Torrest memanjat salah satu pohon kelapa yang tingginya sekitar 25 meter. Dia memetik dan menjatuhkan 6 butir kelapa muda untuk kami. Kamipun dengan antusias minum air kelapa yang menyegarkan  tersebut. Setelah kurang lebih 1 jam di Pulau Dedap, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Hantu.

Pulau Hantu merupakan pulau kecil tepat di depan pulau Abang. Jaraknya juga sekitar 15 menit. Pak Torrest maupun Rizal tidak bisa menjelaskan kenapa pulau itu dinamakan Pulau Hantu. Sudah sejak lama namanya demikian. Saya lihat kondisi pulaunya tidak seram, malahan indah. Dan ada satu buah rumah permanen di pulau tersebut.

Terumbu karang di laut depan Pulau Hantu luar biasa indahnya. Koral-koralnya berwarna-warni, ikan-ikannya beraneka jenis dan lumayan besar. Banyak terdapat bulubabi di antara koral, juga ada timun laut, beberapa jenis kerang dan spesies lain yang saya tidak tahu namanya. Saya terpukau dengan keindahan bawah lautnya, dan merasa betah snorkeling di situ. Kedalamannya antara 1 hingga 7 meter, dan di tempat yang dalam, di atasnya terapung buoy-spot dengan warna oranye. Teman-teman saya antusias melihat keindahan koral di situ. Saya yakin mereka menemukan snorkeling sebagai olahraga yang sangat menyenangkan, menyaksikan keindahan bawah laut secara langsung seperti ini merupakan sesuatu yang jarang bisa dinikmati warga Batam. 

Fernando Malonda berkata bahwa ini adalah weekend terbaik, dan jauh lebih baik menyaksikan keindahan bawah laut daripada nongkrong berjam-jam di mall. Saya setuju dengan dia, tapi saya juga tahu bahwa setiap orang memiliki hobi yang berbeda-beda. Menemukan teman yang sehobi alangkah susahnya, dan saya tahu orang Indonesia sangat takut berpanas-panas. Kita semakin jauh dengan alam, dan segan berpisah dengan sejuknya AC di rumah dan di mall. Padahal, melihat keindahan alam secara langsung seperti ini bisa membuat kita lebih arif dan lebih bersyukur. Dan unsur petualangannya sangat kental, jiwa serasa bebas merdeka, stres dan tekanan di kantor terlupakan, dan kebugaran pun terjaga.

Di dermaga Pulau Abang.
Setelah dari Pulau Hantu, kami melanjutkan perjalanan mencari lokasi di mana Pak Ledi dan teman-temannya membuat terumbu karang buatan. Kami tiba pada suatu titik di mana Pak Torrest membuang sauh, dan saya nyemplung untuk memastikan apakah itu tempatnya. Ternyata bukan. Tiga kali kami berpindah tempat, dan tiga kali saya terjun ke laut, tapi tempat yang disebut Pak Ledi tidak kami temukan. Pak Torrest tidak ingat persis tempatnya. Saya menyarankan agar jika ketemu langsung diberi tanda. Setelah lama mencari tanpa hasil, dan waktu juga sudah mulai petang, kami kembali ke Pulau Abang. Setelah merapat di dermaga kayu yang kondisinya memprihatinkan, Rizal mengajak kami ke darat. Di darat, Rizal menunjukkan sumur yang airnya jernih di mana kami bisa mandi dan membilas air laut dan garam yang menempel di kulit. Setelah mandi dan berganti pakaian, Pak Torrest dan Rizal mengantarkan kami kembali ke Pulau Galang, di mana mobil milik Adrian Pratomo parkir di dermaga Asim. Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar biaya transportasi, kami pun kembali ke Batam dengan perasaan puas, dan berjanji untuk melakukan snorkeling lagi di lain waktu. 

Snorkeling di Pulau Hantu, Pulau Dedap dan Pulau Abang bisa jadi alternatif bagi warga Batam untuk menghabiskan weekend. Biaya yang dibutuhkan antara Rp300ribu hingga Rp400ribu perorang, sudah termasuk sewa peralatan dan makan siang. Ke depannya saya akan mengajak teman lebih banyak dan membantu memperkenalkan olahraga snorkeling yang mengasyikkan ini. Dengan melakukan aktifitas ini, tanpa disadari kita juga membantu meningkatkan tingkat perekonomian penduduk Pulau Abang. Saya yakin ke depannya akan banyak penyelam yang datang ke sini, dan Batam akan menjadi salah satu pusat wisata bahari terkenal di Indonesia, selain Bali, Bunaken, Sabang dan Raja Ampat. Semoga.
(Batam, 25 Feb 2013). 
Ditulis dan diposting pertama kali di www.ferdot.com

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

10 Comments

avatar

Mas, mau contact person dong untuk ke pulau abang. Aku april ini mau kesana.

Thanks :)

Reply Delete
avatar

Alo mbak Priscilla, coba hubungi bung Handoyo di 082171667728.

Reply Delete
avatar

maaf mas ferdy, no tlpon bung handoyo itu dia nya di bagian apa ya ? sewa pompong kah ? atau yang lain kah ?
tnks before :D

Reply Delete
avatar

Buat komunitas dong pak biar org seprti saya bisa ikutan nikmatin alam batam :(

Reply Delete
avatar

Buat komunitas dong pak biar org seprti saya bisa ikutan nikmatin alam batam :(

Reply Delete
avatar

Mantab mbak, sy nyari2 komunitas snorkeling d Batam belum ketemu juga.

Reply Delete
avatar

Buat yang belum pernah snorkeling atau diving di pulau menjangan bali, silahkan contact person: Yudha (085237479694)

Reply Delete
avatar

Hi there, this weekend is pleasant designed for me, for the reason that this point in time i am reading this
fantastic educational piece of writing here at my residence.



Here is my homepage: domain

Reply Delete
avatar

Mas
kalau ke pulau hantu biasanya berapa dananya dan kira2 barang2 buat snorkling qta pinjem dimana

Reply Delete
avatar

Kota sekarang sedang membuat komunitas bernama BIAC: Batam Islands Adventurers Club. Untuk Pulau Hantu bisa hubungi Ledi Seman, peralatan snorkeling sudah disediakan.

Reply Delete

Follow by Email