28 April 2014

thumbnail

Vincent

Vincent adalah single yang ditulis dan dinyanyikan pertama kali oleh Don McLean, sebagai tribut buat maestro lukis Vincent Van Gogh. Lagu ini juga memiliki judul alternatif “Starry Starry Night” yang juga merupakan awal lirik lagunya, dan merujuk pada salah satu lukisan Van Gogh yang berjudul The Starry Night.

Lagu ini ditulis pada tahun 1971, setelah Don McLean terpukau membaca kisah kehidupan sang pelukis post-impressionism.  Dalam liriknya, secara jelas dilukiskan secara puitis kekaguman sang pemusik, tidak saja pada karya-karya Van Gogh, tapi juga pada sang pelukisnya sendiri. Beberapa lirik merujuk pada karya-karya lanskap sang pelukis, misalnya pada lirik “sketch the trees and the daffodils”, juga “morning fieldsof amber grain”. Juga beberapa penggalan yang merujuk pada lukisan potret diri Van Gogh, yaitu “weathered faces lined in pain, are soothed beneath the artist’s loving hand.”

McLean juga menggambarkan betapa karya-karya Van Gogh pada awalnya gagal diapresiasi oleh masyarakat. Dan barulah setelah sang maestro meninggal, orang-orang mulai menghargai karyanya.

“They would not listen, they did not know how, perhaps they’ll listen now…”

Sekarang lukisan Van Gogh bernilai puluhan hingga ratusan juta dolar.

Kita baru menyadari sesuatu itu berharga setelah tiada.


















Starry, starry night
Paint your palette blue and gray
Look out on a summer's day
With eyes that know the darkness in my soul
Shadows on the hills
Sketch the trees and the daffodils
Catch the breeze and the winter chills
In colors on the snowy linen land

Now I understand what you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now



Starry, starry night
Flaming flowers that brightly blaze
Swirling clouds in violet haze
Reflect in Vincent's eyes of China blue
Colors changing hue
Morning fields of amber grain
Weathered faces lined in pain
Are soothed beneath the artist's loving hand

Now I understand what you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

For they could not love you
But still your love was true
And when no hope was left inside
On that starry, starry night
You took your life as lovers often do
But I could have told you, Vincent
This world was never meant
For one as beautiful as you

Starry, starry night
Portraits hung in empty halls
Frameless heads on nameless walls
With eyes that watch the world and can't forget
Like the strangers that you've met
The ragged men in ragged clothes
A silver thorn, a bloody rose
Lie crushed and broken on the virgin snow

Now I think I know what you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free
They would not listen, they're not listening still
Perhaps they never will





02 April 2014

thumbnail

The Raid 2: The Celebration of Violence.

Tontonlah The Raid 2, dan anda akan mendapatkan sejenis pesta luarbiasa yang mengagung-agungkan kekerasan. Violence extravaganza! Kisahnya merupakan lanjutan langsung dari The Raid 1, dengan penjahat-penjahat baru, tokoh-tokoh baru yang tidak saja absurd, tapi juga sangat kreatif dalam melakukan kekerasan.

Meskipun ada aktor-aktor veteran seperti Cok Simbara, Tio Pakusadewo, beberapa aktor Jepang, lalu ada pula karakter Julie Estelle yang menarik, namun film ini tidak mempertontonkan hal baru, selain kekerasan, kekerasan, dan kekerasan.

Kisahnya absurd di negeri yang absurd. Tentu saja shootingnya di Indonesia, pemeran dan kru nya sebagian besar orang Indonesia, dan settingnya di Indonesia, tapi tidak ada hal lain yang didapat dari film ini selain bahwa semua masalah diselesaikan dengan cara kekerasan. Leher orang disembelih dan disayat, leher tercabik-cabik, kepala pecah, pikirkanlah beberapa hal kreatif tentang bagaimana orang bisa mati dibunuh, dan film ini jauh melebihi imajinasi terkelam kita.

Saya meyakinkan diri sendiri bahwa film ini bukan bersetting Indonesia. Pada adegan pembantaian terhadap Prakoso (Yayan Ruhiyan yang muncul lagi setelah mati di The Raid 1), ia melarikan diri ke sebuah gang sempit di mana salju sedang turun. Salju! Berarti bukan di Indonesia dong.. tapi hey!! ada gerobak lomie, gerobak bakso dan bakmi di ujung sana.


Tidak ada gambaran cinta kasih di sini, tidak ada persahabatan, tidak ada kasih sayang, adanya anak membunuh orangtuanya dengan darah dingin, teman membunuh teman, teman menipu teman, ayah yang mencoba menenangkan putranya dengan menyarankan agar putranya dibawa ke tempat hiburan malam dan diberi perempuan, dan lain lain. Benar-benar Indonesia digambarkan sebagai violent country. Dan dengan rating di IMDB yang tingginya absurd, Gareth Evans, sutradara kelahiran Inggris, sungguh sukses melakukannya. Dengan rating IMDB yang ngalah-ngalahin The Dark Knight Rises, terbukti bahwa pemuja kekerasan makin banyak di luar sana.

Jauh lebih mending film After the Dark, sebuah film filosofi tentang pilihan-pilihan hidup, tentang pengorbananan dan cinta, yang bersetting di Prambanan, Bromo, dan Pulau Belitong. Indonesia digambarkan sebagai negeri yang indah, dengan tempat-tempat yang memberi makna pada dialog-dialog yang juga penuh makna.

Dan kita sekali lagi diperbodoh oleh orang asing. Dia memperkenalkan dunia perfilman Indonesia, memperkenalkan orang-orang Indonesia, tapi sekaligus menjual kekerasan bernama Indonesia. Saya bisa membayangkan Gareth Evans berkata: "Hey world, do you want to see a movie about violence, here it is from Indonesia. Enjoy it".

Dan tentu saja, akan ada The Raid 3, yang kekerasannya akan digambarkan lebih kreatif lagi. Let's celebrate violence, not love, not friendship, not emphaty. :p

Artikel lain: The Year of Living Dangerously  | Menunggu Godot  | Suuzon 


Follow by Email