30 September 2015

thumbnail

Ketika Kita Dikuntit Dan Diintip Secara Digital.

Tentunya sudah banyak yang mengalami, ketika kita mengajukan aplikasi kartu kredit dalam beberapa waktu kemudian akan berdatangan telepon ajaib, yang menawarkan asuransi, menawarkan ini, menawarkan itu. Biasanya si penelpon akan menyapa kita dengan nama lengkap, dan menyatakan bahwa kita terdaftar sebagai pemilik kartu kredit dari bank anu, dan sebagainya.

Lalu dengan kalimat yang tangkas dan cepat, karena mereka memang terlatih dan melakukan itu setiap hari, mereka akan menyebutkan beberapa kelebihan dari produk yang mereka tawarkan, dan konfirmasi apakah kita akan membeli, atau menggunakan layanan mereka, dilakukan melalui panggilan telepon itu juga.

Dalam hal ini, ketika sebuah bank melalui sales nya yang berkeliaran di mall atau di event-event tertentu, menawarkan sebuah aplikasi kartu kredit, dan kita mengisi form aplikasi tersebut, dengan serta merta data kita tersebut akan ditawarkan ke pihak ke-tiga. Ingat data yang kita berikan adalah nama, nomor telepon, email, alamat rumah, alamat kantor, nama dan alamat serta nomor telepon kerabat kita, dan nama gadis ibu kandung. Informasi tersebut dijual ke pihak lain, dan dengan serta merta kita akan mendapatkan rentetan telepon yang sebenarnya cukup mengganggu. Bahkan panggilan telepon tersebut kadang sudah berlangsung jauh sebelum kartu kreditnya kita terima. 

Dengan demikian, privacy kita sudah terekspos. Dengan data yang ada, pihak yang memiliki data tersebut juga dapat mengecek kondisi keuangan kita, kredit apa yang sedang berjalan, apakah itu kredit rumah, motor, mobil, dan lain-lain. 

Inilah salah satu aspek dari jaman digital di mana data tentang kita dapat berpindah tangan dalam hitungan sepersekian detik, tanpa kita bisa berbuat apa-apa tentang itu.

Pernah mendengar tentang location based advertising?

Bukan hanya pihak kartu kredit bank yang menjual data kita kepada pihak ketiga. Operator telepon selular juga. Mereka melakukan monetasi data pelanggan dengan mendapatkan uang dari penjualan data pelanggan. Teknologi yang ada sekarang memungkinkan mereka melakukan itu. 

Ketika kita tengah berjalan-jalan di mal atau jalan tertentu, tiba-tiba muncul notifikasi berupa pesan pendek. “Dapatkan diskon 10% untuk seluruh item di Toko Anu, tunjukkan sms ini.” “Beli 1 dapat 2. Tunjukkan sms ini untuk menyantap hidangan diskon 20% di Restoran Anu mulai tanggal 1 s/d 15 Oktober.” Layanan berbayar yang dilanggan oleh toko atau gerai franchise ini sebenarnya agak menakutkan, mereka selalu tahu kita sedang berada di mana, dan kita akan mendapatkan notifikasi sms ini begitu kita berada dalam jarak dekat dengan pelanggan layanan ini, yaitu toko atau gerai tadi. 

Kalangan bisnis mengenalnya sebagai location based advertising. Aplikasi yang digunakan pelaku bisnis, khususnya operator telepon selular, semakin canggih dalam mengidentifikasi perilaku seseorang: terbiasa bepergian kemana, memakai sarana apa, mengunjungi toko mana, makan di restoran apa, terbang memakai maskapai apa, dan banyak lagi. Anda yang suka makan Sushi akan mendapat pesan pendek promosi restoran Jepang sebagai pemasang iklan.

Iklan bukan saja mendatangi kita tanpa permisi, tanpa diundang, tapi bahkan sudah menguntit kemanapun kita pergi tanpa diajak. Begitu membuka laman website, iklan bermunculan di sejumlah tempat: di atas, di pojok kanan, di bawah—di manapun tempat orang memberi perhatian.

Halaman website terbuka lamban, sebab iklan kini bukan hanya dalam format gambar, tapi juga audio-visual. Belum lagi jika kita membuka halaman berikutnya ketika admin website tersebut lebih suka melakukan paging — mengulur-ulur berita dan ceritanya hingga menjadi beberapa halaman, dengan huruf yang besar-besar. Artikelnya hanya beberapa baris, tapi halaman dipenuhi dengan iklan. Bila berita dan ceritanya menarik, kita dipaksa membuka setiap halaman yang juga berisi sejumlah iklan.

Browser yang kita gunakan juga memiliki data dan history mengenai website apa saja yang kita buka, toko online apa yang kita kunjungi, produk apa yang kita simak. Facebook, Google, browser, semuanya berkolaborasi mengumpulkan jejak digital kita dan tiba-tiba saja di halaman website selalu muncul iklan suatu produk atau layanan yang pernah kita klik sebelumnya. 

Pagi-pagi, belum lagi sarapan, pesan pendek sudah bertengger di layar telepon. Pinjaman tanpa agunan. Kredit motor. Kredit mobil dengan uang muka rendah. Tawaran diskon santap siang di restoran. Begitu banyak pesan yang saling berebut perhatian. Ketika semuanya kita tidak-kan, kita masih dipaksa sibuk untuk menghapus pesan-pesan tadi. Betapa repotnya ketika pesan pendek itu bisa datang kapan saja.

Jejak digital yang kita tinggalkan di suatu tempat menjadi data berharga yang dapat menunjukkan kebiasaan dan perilaku kita dalam menjalani aktivitas apapun. Kalangan korporasi memanfaatkan data perilaku kita untuk menawarkan, memasarkan, membujuk kita agar mau membeli, dan mengiming-imingi kita dengan diskon, beli 1 dapat 2, bunga pinjaman rendah, asuransi, dan aneka lainnya. Semakin jelas bahwa, kini, data adalah uang.

Privacy dan kenyamanan kita sudah terganggu. Inilah harga yang kita bayar jika memiliki segala hal yang serba digital: kartu kredit, layanan telepon selular, dan lain-lain. Ke depannya, tidak akan ada manusia yang bisa lolos dari perekaman data digital. Kita akan menjadi sebuah komoditi, sebuah nomor binary yang tersimpan dalam sebuah server, siap untuk diretrieve oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa soal itu.

Selamat datang di masa depan, dengan segala dampaknya.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email