29 Desember 2016

thumbnail

Beyond Skyline

Berlokasi shooting di Pulau Batam, satu lagi film Hollywood yang bekerja sama dengan Infinite Frameworks Studio menelurkan film bergenre science fiction. Dibintangi oleh Frank Grillo, Iko Uwais, Yayan Ruhiyan, film berjudul Beyond Skyline ini sudah melewati masa paska produksi dan siap beredar tahun 2017. Film ini merupakan sekuel dari film berjudul Skyline (2010).

Koreografi laganya diarahkan oleh duet Iko Uwais - Yayan Ruhiyan. Kali ini premise nya bukan hanya aksi laga menghadapi penjahat saja, tetapi juga alien. 

Yuk simak footage-nya yang sengaja dibocorkan di sini.


Kisahnya menceritakan tentang Mark, seorang detektif yang mati-matian melakukan pencarian dan pengejaran anaknya yang telah diculik oleh sekelompok alien yang menginvasi bumi. 



Tanggal pasti rilisnya belum diketahui. 

Directed byLiam O'Donnell
Produced by
Written byLiam O'Donnell
Starring
Music byNathan Whitehead
CinematographyChristopher Probst
Production
company
Hydraulx
Infinite Frameworks Studios
Mothership Pictures


CountryUnited States
LanguageEnglish

23 Desember 2016

thumbnail

Tielman Brothers - Band Rock n Roll Internasional Dari Indonesia


Tidak banyak yang tahu, bahwa ada group band rock n roll yang mendunia dan berasal dari Indonesia. Namanya The Tielman Brothers. Nama The Tielman Brothers lebih dikenal di Eropa, terutama Belanda. Di Indonesia sendiri nama The Tielman Brothers masih menjadi nama yang asing, meski dikenal hanya oleh para kolektor musik, sebuah kenyataan yang sangat disayangkan.

Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan menghibur. Mereka tampil sambil melompat-lompat, berguling-guling, serta menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah memopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore.

Coba deh simak aksi panggung mereka di sini:



Andy Tielman dan seluruh keluarga asalnya dari Timor. Waktu mereka masih kecil nama band mereka The Timor Tielman Brothers. Perjalanan musik The Tielman Brothers dimulai di Surabaya pada tahun 1945, di mana empat kakak beradik laki-laki dan seorang adik perempuannya, Jane, sering tampil membawakan lagu-lagu dan tarian daerah. Mereka adalah anak dari Herman Tielman asal Kupang dan Flora Lorine Hess. Musik mereka beraliran rock and roll, namun orang-orang di Belanda biasa menyebut musik mereka Indorock, sebuah perpaduan antara musik Indonesia dan Barat, dan memiliki akar pada musik keroncong. 

The Tielman Brothers merupakan band Belanda-Indonesia pertama yang berhasil masuk internasional pada 1950-an. Mereka adalah salah satu perintis rock and roll di Belanda. Band ini cukup terkenal di Eropa, jauh sebelum The Beatles dan The Rolling Stones. Berawal dari ketertarikan Ponthon untuk memainkan contrabass yang diikuti saudara-saudaranya yang lain. Reggy mempelajari banjo, Loulou mempelajari drum, dan Andy mempelajari gitar. Penampilan pertama mereka pada acara pesta di rumahnya membuat teman-teman ayahnya kagum dengan membawakan lagu-lagu sulit seperti Tiger Rag dan 12th Street Rag. Sejak saat itu mereka sering tampil di acara-acara pribadi di Surabaya. Tawaran tampil pun berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia. Sampai pada akhirnya pada tahun 1957 mereka sekeluarga memutuskan untuk hijrah ke Belanda.

The Tielman Brothers pernah tampil di Istana Negara Jakarta dihadapan Presiden Soekarno. Karier rekaman mereka dimulai ketika keluarga Tielman pada tahun 1957 hijrah dan menetap di Breda, Belanda.

Berikut susunan personilnya:
  • Andy Tielman - vokal, gitar
  • Reggy Tielman - gitar, banjo, vokal
  • Ponthon Tielman - contrabass, gitar, vokal
  • Loulou (Herman Lawrence) Tielman - drum, vokal
  • Jane (Janette Loraine) Tielman - vokal
  • Fauzi (Firdaus Fauzi) Tielman - organ


19 Oktober 2016

thumbnail

Kemana Melaporkan Pungli, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme?

Terkadang kitalah korbannya, atau sanak keluarga kita. Atau kita menyaksikan adanya tindakan pungli dan KKN di depan mata kita. Kita jadi gerah dan geram. Kapan negara kita benar-benar bisa maju jika KKN di segala lini meraja lela?

Terkadang lebih sering pelakunya orang terpandang, terkadang sudah bergelar haji, terkadang ia kelihatan begitu suci dengan kata-katanya yang mengutip kitab suci, mengutip kata-kata bijak, mengutip pepatah dan lain-lain. Tapi kita punya bukti kuat bahwa tindakan pungli dan KKN sedang berlangsung. Kita harus ikut memberantas ini semua. Ke mana kita harus melaporkan dengan aman? Ke lembaga mana sebuah laporan pungli atau kecurigaan KKN dapat disampaikan dengan aman?

Image result for stop korupsi

  • Jika Anda menjadi korban, atau melihat, atau mencurigai adanya praktek pungli dan KKN oleh oknum yang bekerja di pemerintahan, pendidikan, kesehatan, atau pelayanan masyarakat lainnya seperti pengurusan surat-surat, eKTP, paspor, atau dokumen-dokumen lain, atau adanya kemungkinan praktek KKN dalam hal pengadaan barang/infrastruktur, lelang proyek dan sebagainya, dapat melapor secara online ke sini: 
    https://kws.kpk.go.id
  • Jika misalnya Anda menjadi korban pungli atau mencurigai adanya praktek KKN oleh oknum bea cukai atau oknum kantor pajak, silakan melapor secara online di WiSe system di https://www.wise.kemenkeu.go.id
Identitas Anda akan dirahasiakan dan dilindungi.

__________



25 September 2016

thumbnail

Reuni



Reuni ialah merajut kembali
benang-benang memori
menyusun kenangan 
merangkai silaturahmi
dalam suka dan duka
aroma bakso, bakwan dan bunga

aku mengingat dalam ribuan hari
tentang langkah-langkah kecil
menuju kelas
langkah-langkah bergegas
ketika terlambat
pe-er yang tak kunjung selesai
dan merdunya lonceng pulang

reuni adalah jalinan memori
tentang sekolah, guru, sahabat,
dan canda tawa

reuni adalah rambahan ingatan
tentang arti tulus seorang guru
yang selalu mengukir senyum
dalam benak bebal kita
menebar sabar pada beban hari kita

reuni memberi kita ruang
untuk ucapan sukur dalam doa-doa hening
untuk kita saling mengingat
saling menguatkan
dan saling mendoakan

reuni adalah tentang sekolah,
kelas, guru, sahabat, mereka, kita
aku dan kamu

(Jakarta, 25 September 2016)
Ferdiansyah

Tulisan lain : Radio | Jiydref | Menunggu Godot  | Boya

21 September 2016

thumbnail

10 Alasan Saya Menyukai Piringan Hitam

Di saat orang lain senang mendengar musik digital berformat CD audio maupun mp3, kenapa saya beralih ke sistem audio jadul berbentuk piringan hitam, atau disebut juga vinyl, atau flat, atau record? Bahkan, juga penjualan CD yang kualitas dan efektifitasnya “lebih baik” saja sudah sangat menurun. CD atau Mp3 juga lebih memuat banyak lagu, lebih gampang dibawa kemana-kemana ketimbang vinyl yang ribet. Tapi kenapa saya toh kembali ke sistem audio jadul yang telah lama ditinggalkan orang? Musik digital gampang didapat, bisa gratis mendownload di internet, kenapa saya harus bersusah payah memakai turntable dan piringan hitam/vinyl? Inilah 10 alasannya. 



  • 1. Suaranya Lebih Alami
Percaya atau tidak, piringan hitam memberikan kualitas suara yang lebih ‘real’ dan alami. Karena proses rekamannya yang dilakukan secara analog. Media musik yang direkam secara analog akan terdengar lebih alami karena telinga kita bekerja secara analog juga. Berbeda dengan CD yang tidak merekam gelombang suara. CD hanya merekam data digital berupa angka binary; 0 dan 1. Angka-angka ini akan merepresentasikan frekuensi, tetapi bukan merupakan frekuensi yang sebenarnya. Sama halnya seperti kamu bermain permainan bongkar pasang semacam Lego. Kamu bisa membuat bentuk yang menyerupai apa saja, tetapi tidak akan pernah bisa mirip banget dengan aslinya. Vinyl memang tidak lebih jernih dari CD, tapi suaranya terasa lebih natural. Saya seorang audiophile yang merasa nyaman mendengarkan musik analog yang alami, 

Image result for natural analog wave vinyl
Perbandingan gelombang suara original, analog, dan digital

  • 2. Nostalgia
Piringan hitam atau vinyl mewakili masa lalu. Dan sudah menjadi takdir bahwa manusia selalu merindukan masa lalu. Ingin kembali ke saat-saat indah ketika kita masih kecil, kenangan sekilas masa lalu, dan sebagainya. Dengan kualitas suara vinyl yang terkesan jadul, turntable yang memutar vinyl seolah-olah menjelma menjadi mesin waktu yang membawa kita ke masa lalu. Jadi menikmati musiknya lebih dihayati dan berkualitas banget. Karena selain kuping dimanjakan dengan suara yang penuh karakter, pikiran dan perasaan juga. Anda akan mengerti jika Anda mendengarkan langsung suara piringan hitam.
  • 3. Koleksi
Setiap orang mengkoleksi sesuatu sebagai hobby, ada yang mengkoleksi perangko, ada yang mengkoleksi pokemon, dan lain-lain. Setiap barang koleksi, terutama yang jadul pasti punya nilai ekonomis yang tinggi. Meskipun rekaman-rekaman musik terbaru juga masih dirilis dalam bentuk piringan hitam, rekaman jaman dulu lah yang paling diburu orang karena langka. 
  • 4. Nilai Seni
Selain kualitas suaranya, desain jacket (cover) dari rekaman vinyl juga sangat unik. Karena itulah tak jarang orang membeli vinyl hanya karena bentuk desain covernya yang keren. Amat sangat cocok untuk dekorasi ruangan di cafe, atau di rumah. Tak cuma covernya, kadang vinyl yang rusak pun masih dibeli orang untuk dipakai hiasan. Selain ituw, vinyl memiliki nilai estetika yang tinggi dibandingkan CD player yang digital namun tidak berkarakter. Oh iya, sekarang piringan hitam juga tidak melulu berwarna hitam, bisa saja warnanya putih, biru, warna-warni, bahkan transparan. Makin cantik kan?

Image result for colorful vinyl records

  • 5. Berpengaruh ke Otak
Konon katanya vibrasi dari rekaman vinyl sangat cocok dengan gelombang di otak. Hal ini terjadi karena Vinyl direkam secara analog yang kebetulan cocok pula dengan fungsi kerja tubuh kita seperti telinga dan otak yang analog juga. Persamaan gelombang ini menimbulkan rasa nyaman tersendiri yang hanya bisa dirasakan oleh pendengar Vinyl. Kalau mau membuktikan, coba deh dengerin lagu lewat piringan hitam beneran.

Image result for brain wave

  • 6. Mendukung Hak Cipta
Dengan adanya internet, dunia musik memang terkena imbasnya. Penjualan CD sangat menurun. Banyak artis yang merugi karena karyanya tidak lagi dibeli orang padahal mereka harus mengeluarkan uang untuk rekaman, latihan, produksi, dan lain-lain. Banyak toko musik CD yang tutup karena orang tidak lagi membeli musik, tapi mendownloadnya dengan gratis di internet, baik dalam bentuk video maupun mp3. Sekarang artis-artis dan musisi, terutama di Indonesia, jualan CD hasil karya cipta mereka lewat KFC, SPBU, dan minimarket, bahkan sering digabung menjadi paket makanan, kasihan ya, padahal karya cipta itu membutuhkan bakat, kerja keras dan kejeniusan tersendiri. Beberapa waktu belakangan ini ada sebuah gerakan yang mengajak orang untuk “kembali ke toko rekaman”. Intinya mengajak anak-anak muda untuk membeli karya musisi berupa CD, kaset, atau vinyl. Dan mudah ditebak, vinyl lah primadonanya. Membeli musik di toko rekaman baik offline maupun online dan mendengarkannya di rumah membuat kita merasakan sesuatu yang bernilai, sekaligus menghargai hak cipta dan kekayaan intelektual.

  • 7. Bisa Diputar Terbalik
Secara manual, vinyl bisa diputar terbalik, sehingga kita bisa mendengarkan piringan hitam yang direkam secara backmasking. Backmasking adalah fenomena di tahun 1970-an di mana group-group papan atas menyelipkan pesan-pesan dalam bentuk lagu atau kata-kata jika audionya diputar secara backward, terkadang kita bisa mendengar hal-hal yang unik bahkan seram, dan bahkan bikin merinding.

  • 8. Makin Gampang Dicari
Berbeda dengan beberapa waktu yang lalu, dengan adanya toko-toko online, piringan hitam collectible yang jadul-jadul makin gampang dicari. Buka saja Tokopedia, Bukalapak, OLX dan sebagainya, Anda akan menemukan ada saja yang menjual piringan hitam. Tentu saja, makin legendaris artis atau group band nya, akan makin mahal harganya. Tapi biayanya tetap lebih murah daripada biaya merokok. 

  • 9. Speed Control dan Pitch Control
Selain bisa diputar terbalik, pemutar piringan hitam (turntable) bisa diatur kecepatannya; bisa 16 2/3 rpm (round per minute), 33 1/3 rpm, 45 rpm dan 78 rpm. Piringan hitam bisa diputar di kedua sisinya, dan memiliki ukuran diameter yang variatif, misalnya 7", 10" dan 12". Selain itu turntable juga memiliki pitch control untuk mengatur tempo dalam hitungan BPM (beat per minute).

  • 10. Turntable Bisa Disambung ke Speaker Aktif
Image result for new turntable

Sekarang sudah diproduksi turntable-turntable baru yang portable berbentuk koper, sehingga bisa dibawa ke mana-mana. Juga konektifitasnya semakin baik karena bisa langsung disambung dengan speaker aktif tanpa harus ribet memakai amplifier dan sound system. 

Nah, tertarik untuk juga mengkoleksi piringan hitam? Coba dengar dulu suaranya secara langsung, dan putuskan. 




29 Agustus 2016

thumbnail

Membunuh Dengan Sianida - Novel Agatha Christie


Dalam novel Agatha Christie, sebuah pembunuhan bukanlah hal yang sederhana. Pelaku selalu memiliki alibi yang bagus, sehingga hampir semua pembaca boleh dibilang selalu gagal untuk menebak pelakunya. Hanya Hercule Poirot dengan sel-sel kelabunya, atau Miss Jane Marple dengan ketajaman intuisinya, ataupun Colonel Race dengan metode langsungnya; yang dapat mengungkap siapa pelaku pembunuhan, bagaimana tepatnya cara pembunuhan itu dilakukan, dan apa motifnya.
 http://ecx.images-amazon.com/images/I/81mDhCTKV3L._SL1500_.jpg 

Sebuah kasus pembunuhan membutuhkan beberapa hal, yaitu pelaku pembunuhan, korban pembunuhan, alat yang dipakai membunuh, dan motif. Motif adalah hal yang paling utama, karena seseorang melakukan pembunuhan selalu didahului oleh motif. Jika sebuah motif gagal diidentifikasi, kasus tersebut menjadi mengambang, tidak lengkap, bahkan bisa menjadi salah sasaran.

Polisi Indonesia mungkin perlu menjadikan buku-buku detektif Agatha Christie sebagai bahan bacaan wajib. Pembunuhan berencana membutuhkan persiapan yang matang, persiapan yang matang itu terutama untuk menciptakan alibi yang kuat. Jika anda ingin membunuh seseorang, anda tidak ingin terlihat di tempat kejadian. Jadi alangkah begonya Jessica, yang jika benar-benar punya rencana untuk membunuh Wayan Mirna, ia membuat dirinya berada di tempat kejadian, duduk satu meja dengan korban, memesan dan membayar minuman kopi yang katanya mengandung sianida tersebut. Polisi yang malas akan segera mencurigai dirinya sebagai pelaku, dalam hitungan detik. Atau, benarkah Jessica itu bego?

Dalam sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di sebuah ruangan, misalkan cafe ataupun ruang tamu, siapapun orang yang berada di TKP sekitar waktu kejadian, semuanya harus dicurigai sebagai tersangka. Baik pelayan, barista, ataupun tamu-tamu lain yang berada di situ. Semua orang harus ditanyai, diselidiki, baru dicoret dari daftar jika penyelidikan menemukan hal yang tidak mencurigakan. Daftar ini akan makin menyusut, dan makin menyusut. Saat itulah ditemukan motivasi, modus operandi, pelaku dan sebagainya.

Dalam novel-novel detektif ala Agatha Christie, pelaku pembunuhan tidak melulu berada di tempat kejadian. Ia membuat dirinya bisa tak terlihat, dan tak seorangpun langsung bisa menuduh bahwa ia pelakunya. Bukan seperti kasus Jessica, di mana polisi dan masyarakat awam langsung bisa menuduh Jessica sebagai pelakunya, karena ia yang memesan minuman dan membayarnya. (sebegitu bodohnya kah Jessica?). Namun sebelum vonis pengadilan menetapkan Jessica sebagai pelaku (sekarang masih tersangka), alangkah baiknya kita menjunjung tinggi asas presume of innocent, atau asas praduga tak bersalah. Artinya bahwa seseorang tidak boleh dikatakan atau tidak boleh dianggap bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan bersalah kepadanya dan mempunyai kekuatan hukum. Namun tentu saja asas praduga tak bersalah ini dilanggar oleh masyarakat awam, apalagi dengan beredarnya meme yang menggambarkan Jessica mengajak minum kopi. Masyarakat sudah terlebih dahulu memvonis Jessica sebagai pelaku, sebelum hukum menetapkannya sebagai pelaku.

Kasus Jessica ini mengingatkan saya pada sebuah novel Agatha Christie berjudul The Sparkling Cyanide, diterbitkan di Indonesia dengan judul Kenangan Kematian. Yang membuat saya teringat adalah, sesuai judul aslinya, pembunuhan dalam novel itu memakai sianida.
Jadi dikisahkan satu tahun yang lalu, tanggal 2 November, tujuh orang makan malam di sebuah restoran bernama Luxembourg. Salah satu dari tujuh orang tersebut, Rosemary Barton, meningal di tempat karena meminum minuman yang diberi sianida. Koroner menetapkan kematiannya karena bunuh diri, semata-mata karena depresi. Enam bulan kemudian, suami dari Rosemary Barton, George Barton menerima surat kaleng yang menyatakan isterinya sebenarnya korban pembunuhan. George lalu melakukan penyelidikan dan memutuskan untuk mengulangi kejadian malam tersebut, di mana dia menyelanggarakan makan malam di restoran yang sama, dengan tamu-tamu yang sama. George juga mengatur agar seorang aktris yang didandani sangat mirip dengan mendiang isterinya untuk datang belakangan dan membuat pengakuan bahwa ia dibunuh, untuk mengagetkan tamu-tamu tersebut. Aktris tersebut tidak datang ke perjamuan makan malam, dan George Barton meninggal, karena racun sianida yang terdapat dalam gelas sampanye-nya. Kematian George juga tadinya dianggap sebagai bunuh diri, namun sebelum ia menyelenggarakan perjamuan makan malam maut itu, ia sempat berbagi kecurigaan dengan Colonel Race.

Latar belakangnya adalah, sesuai dengan surat wasiat pamannya, jika Rosemary meninggal sebelum memiliki anak, harta warisannya akan jatuh ke tangan adiknya, Iris. Karena kematian Rosemary setahun yang lalu, Iris menerima warisan dan menjadi orang kaya. Jika kemudian Iris meninggal sebelum menikah, maka harta nya akan jatuh ke kerabat satu-satunya, yakni bibinya, Lucille Drake. Mrs. Lucille Drake adalah orang yang baik, namun memiliki anak yang punya niat jahat bernama Victor. Setelah penyelidikan dengan seksama dan (dalam tempo yang tidak sesingkatnya, namun penuh ketelitian), akhirnya diketahui bahwa racun sianida dalam perjamuan kedua tidak ditujukan kepada George Barton, namun kepada Iris. Pembunuhnya ingin agar Iris yang mati, dengan demikian harta akan jatuh ke bibi Lucille, yang akhirnya ke tangan Victor. Goerge Barton memiliki sekretaris yang bernama Ruth Lessing, dan Ruth Lessing ini sudah berpacaran dengan Victor sejak lebih setahun yang lalu. Sudah kelihatan motifnya? Dan siapa pelakunya?
Image result for the sparkling cyanide cover

Seperti yang saya bilang tadi, pembunuhan di perjamuan kedua tidak ditujukan kepada George, namun kepada Iris. Tapi kenapa George yang meminum racun sianida itu dan mati?

Salah sasaran ini karena ada perubahan letak tas tangan milik Iris, yang mengakibatkan Iris selamat, walaupun dia yang sebenarnya jadi sasaran. Pada saat perjamuan, George ingin bersulang kepada Iris, ketika semuanya meneguk sampanye, kecuali Iris. Saat tamu-tamu lain meninggalkan meja untuk berdansa, Iris tak sengaja menjatuhkan tas tangannya. Seorang waiter kemudian memungut tas itu, lalu mengembalikannya ke meja. Waiter tersebut meletakkan tas itu di sisi meja yang lain. Pada saat para tamu kembali ke meja tersebut, Iris duduk di dekat tasnya yang posisinya sudah berbeda itu. George kemudian duduk di kursi yang tadinya milik Iris lalu meminum sampanye milik Iris, sehingga George yang mati.

Mengetahui bahwa plot ini gagal dan salah sasaran, Ruth berusaha menabrak Iris dengan mobil. Colonel Race, bekerja sama dengan polisi mengungkapkan motif dan kebenaran dan berhasil menyelamatkan Iris dari Ruth. Percobaan terakhir Ruth untuk membunuh Iris adalah dengan memukul Iris hingga pingsan di kamar tidurnya, lalu membocorkan pipa gas, dan meninggalkan rumah. Namun usaha tersebut juga digagalkan oleh Colonel Race.

Surat kaleng yang ditujukan ke George Barton itu ternyata juga ditulis oleh Ruth, yang kemudian membujuknya untuk mengulang kembali perjamuan tersebut di restoran Luxembourg agar Victor dan Ruth bisa membunuh Iris, sebagaimana mereka telah membunuh Rosemary. Agar benar-benar terlihat sebagai bunuh diri, Ruth telah meletakkan sebungkus sianida ke dalam tas Iris. Bungkusan tersebut jatuh ke lantai saat Iris mengeluarkan sapu tangan dari tas. Victor menyamar sebagai waiter, untuk menaruh sianida ke dalam gelas kampanye Iris saat semua orang berdansa.

Kisah dalam novel The Sparkling Cyanide memang tidak paralel dan analog dengan kasus Wayan Mirna, namun paling tidak situasinya mirip, sama-sama perjamuan di sebuah restaurant/cafe, sama-sama menggunakan sianida yang dicampurkan dengan minuman, dan adanya motif tersembunyi yang hanya bisa diungkapkan lewat penyelidikan seksama.

Sebuah kasus pembunuhan mungkin sederhana, yaitu pembunuhnya adalah orang-orang terdekat, bahkan yang ada hubungan keluarga, namun banyaknya petunjuk-petunjuk yang menyesatkan, penanganan barang bukti yang tidak seksama, dan kesimpulan yang ditarik secara tergesa-gesa bisa membuat orang tak bersalah dihukum. Dan kita tidak mau hal itu terjadi.

Dalam kasus Jessica dan Wayan Mirna, semoga sistem pengadilan kita yang tidak sempurna itu bisa mengungkapkan kejadian sebenarnya, siapapun pelakunya.

Ergo poena est serviet. (Hukuman dijatuhkan sesuai dengan asasnya). 

Artikel lain : AtheisTopeng | Debu | Laila & Majnun


Artinya bahwa seseorang tidak boleh dikatakan atau tidak boleh dianggap bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan bersalah kepadanya dan mempunyai kekuatan hukum.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/www.hendryjulian.com/presumption-of-innocent-dalam-kenyataannya_550088d0a33311376f511612
Artinya bahwa seseorang tidak boleh dikatakan atau tidak boleh dianggap bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan bersalah kepadanya dan mempunyai kekuatan hukum.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/www.hendryjulian.com/presumption-of-innocent-dalam-kenyataannya_550088d0a33311376f511612

28 Juni 2016

thumbnail

Kenapa Kita Harus Mengalah Pada Bus dan Truk Besar

"Daripada mengorbankan nyawa seluruh penumpang bus, lebih baik nyawa 1 atau 2 orang pengendara motor yang hilang."



Kalimat di atas berasal dari sopir bus antar kota antar propinsi. Dari kalimat itu, mestinya pengendara motor mengerti betapa rapuhnya posisi mereka di jalan raya, terutama jika berada di depan, di belakang, maupun di samping bus dan truk.

Jadi jika misalnya Anda sedang naik motor di jalan raya, mengalahlah pada bus dan truk besar. Ini demi kepentingan nyawa Anda sendiri. Jika truk atau bus tersebut sibuk mengklakson Anda untuk minggir, maka berusalah rendah hati dan sabar, dan ke pinggir lah. Jangan dimasukkan ke hati mengenai klakson bertubi-tubi dan keras tersebut. Jangan baper.

Inilah hal-hal yang wajib diketahui oleh pemotor maupun pengendara mobil di jalan raya jika berhadapan dengan truk maupun bus.
  • Kita harus menanamkan konsep begini: truk yang biasanya mengangkut hasil bumi, sayur-sayuran, bahan bangunan, kontainer dan lain-lain, sangat berjasa bagi perekonomian. Mereka memiliki kepentingan yang cukup besar. 
  • Konsep lain: bus membawa penumpang banyak, antara 24 hingga 80 orang, dengan demikian kepentingannya jauh lebih besar dari 1 atau 2 pemotor. 
  • Supir truk trailer bisa saja mengerem mendadak jika ada pemotor yang jatuh di depannya. Tapi jika dia melakukan itu, bagian belakang atau muatannya akan tidak stabil, lari ke kanan atau ke kiri. Jika ada banyak pemotor di sisi kanan dan kirinya akan terserempet dan tergilas. Jadi supir tersebut dengan terpaksa akan membiarkan pemotor yang jatuh tersebut tergilas. Pilihan yang sulit namun logis.
  • Jika kita di belakang bus atau truk, berilah jarak lebih kurang 50 - 100 meter. Kalau truk atau bus di depan menghidupkan lampu sen kanan, jangan coba-coba mendahului, itu artinya ada kendaraan dari arah berlawanan. Kalau mau mendahului truk, gunakan perhitungan. Misalnya panjang truk 12 meter, panjang mobil 4 meter, itu artinya kita harus punya ruang untuk mendahului truk sebanyak 4 hingga 5 kali panjang mobil atau motor. 
  • Jika truk/bus sudah menghidupkan lampu sen kiri dan lampu sen nya menyala, kita boleh segera menghidupkan lampu sen kanan mobil/motor kita dan mendahului truk/bus tersebut. Jangan lupa kasih kode klakson 2 kali. Itu sebagai tanda ucapan terima kasih, dan mereka semua sudah paham akan kode tersebut.
  • Jika terjadi kecelakaan, (tentu saja tidak sengaja), sopir truk/bus akan lebih memilih korbannya meninggal biar tidak banyak ganti ruginya. Kalau korbannya tidak meninggal atau cacat seumur hidup, ganti ruginya bisa ratusan juta dan akan jadi beban pengeluaran ke supir dan perusahaannya, termasuk check up beberapa bulan, dan belum lagi urusan ke polisi. Jika korbannya meninggal, paling banter supir truk atau perusahaannya memberi uang damai atau uang kerohiman, dan masalahnya selesai sampai di situ.
  •  
  • Jika korbannya meninggal pun, pada saat berurusan sama polisi supir truk memiliki alasan yang selalu bisa diterima, yaitu "tidak kelihatan". Mengapa? Ukuran truk ataupun bus itu besar sekali, dan tidak mudah bagi supir untuk mengawasi tiap sudut truk setiap saat. Jika ada yang terlindas, sopir truk akan memakai alasan "tidak melihat, atau tidak kelihatan." Kalau misalnya keluarga korban ngotot mau perkarakan pengadilan kecil kemungkinan keluarga korban akan memenangkan perkara, karena alasan "tidak kelihatan" bisa diterima oleh akal sehatnya hakim, pengacara, penuntut umum dan semuanya. Kemungkinan besar kasus akan diselesaikan di luar pengadilan dengan ganti rugi.
  • Kita harus mengerti bahwa tidak gampang supir mengendalikan truk atau bus sebesar itu di jalan yang padat dengan kendaraan kecil melaju di sekitarnya. Intinya kita harus extra-extra-extra hati-hati jika berada di dekat truk/bus besar.
  • Jangan pernah berhenti mendadak di depan truk bermuatan jika jarak Anda dengan truk di bawah 12 meter. Nyawa Anda akan melayang, jika bukan nyawa Anda, nyawa orang di sekitarnya.
  • Perhatikan terus lampu sen truk/bus di depan kita. 
  • Pastikan lampu belakang dan depan motor hidup, karena tidak mudah melihat keberadaan motor yang lampu belakang dan depannya mati.
  • Tingkatkan kesabaran, jangan gampang marah terhadap supir truk/bus, apalagi truk trailer dan bus malam. Karena beban yang dipikul supir tersebut banyak, selain muatan mereka juga harus memikirkan kehidupan keluarga mereka.
  •  
  •  
  •  
  • Tulisan terkait: Hypnerotomachia PoliphiliSix Degrees of Separation

22 Juni 2016

thumbnail

Beda Parfum, Eau de Perfume, Eau de Toilette dan Eau de Cologne.

Selama ini mungkin kita tidak terlalu memperhatikan jenis parfum ketika akan membelinya. Meskipun mereknya bermacam-macam namun jenis parfumnya sebetulnya sama yaitu: Perfume, Eau de Perfume (EDP), Eau de Toilette (EDT) dan Eau de Cologne (EDC).

Istilah-istilah tersebut dibagi berdasarkan level konsentrat wewangian yang terkandung dalam sebuah wewangian/fragrance. Tentunya, semakin tinggi konsentrasinya akan semakin lama wangi sebuah parfum bertahan. Nah, agar tidak salah lagi ketika membeli wewangian, berikut ini perbedaan antara Perfume, Eau de Perfume, Eau de Toilette dan Eau de Cologne.

Perfume

Parfum merupakan jenis dengan harga paling mahal. Mengapa? Karena kandungan konsentrat parfum merupakan yang paling tinggi diantara jenis lainnya yakni mencapai 40%. Memakaikan parfum biasanya hanya dengan tetesan-tetesan kecil yang dioleskan pada belakang kuping, pergelangan tangan atau leher. Meski kita memakainya hanya sedikit namun bau parfum dapat bertahan hingga 1-2 hari.

Eau de Perfume (EDP)

Jenis Eau de Perfume ini memiliki wewangian yang memiliki kadar alkohol sedikit, dengan konsentrat bahan wewangian sebanyak 8-16%. Sehingga wanginya akan cukup tahan lama hingga 4-6 jam. Jenis Eau de Perfume sangat cocok untuk yang bekerja atau beraktifitas seharian. Aromanya sama memikat seperti parfum, harganya juga lebih terjangkau dibandingkan jenis yang sebelumnya.

Eau de Toilette (EDT)
Jenis wewangian dengan aroma yang ringan, dengan waktu tahan lama 3-4 jam. Memiliki kadar alkohol yang tinggi dengan konsentrat bahan wewangian berkisar 4-8%. Wewangian ini pada umumnya hadir dalam bentuk spray. Harganya terjangkau untuk anda yang memang ingin selalu tampil wangi. Jenis ini cocok digunakan untuk segala suasana yang tidak membutuhkan waktu yang lama seperti pergi ke acara pesta atau hanya untuk nongkrong di café atau bioskop.

Eau de Cologne (EDC)

Merupakan jenis wewangian yang paling ringan dengan wangi yang hanya bertahan sekitar 2-3 jam. Mengandung 2-4% konsentrat bahan wewangian dan kadar alkohol yang paling tinggi dibanding keempat golongan lainnya. EDC dipasaran biasa dikenal sebagai Body Mist, Body Spray atau Body Splash. 


11 Mei 2016

thumbnail

Jadikan Hotelmu Instagramable!

Sebuah hotel hotel butik di Sydney, bernama 1888 Hotel, memiliki desain hotel yang terinspirasi dari para pengguna Instagram. Ini artinya setiap sudut, setiap detil dan elemen dari hotel tersebut didesain khusus sehingga layak untuk di-share lewat Instagram.

Hotel tersebut, yang memiliki motto 'every level has a view' mengarahkan para tamunya untuk memotret furniture, kamar, interior dan exterior hotel dan mempostingnya lewat Instagram, tentu saja dengan hashtag (tagar) dan mention.


Hotel tersebut juga menominasikan beberapa foto terbaik di Instagram, dan memilih satu pemenang untuk diberi hadiah 1 malam menginap free of charge.

Sebuah digital frame terpampang di area front desk, berisikan slide foto-foto Instagram yang diambil di hotel tersebut. Sebuah foto booth juga disediakan supaya tamu bisa mengambil foto selfie.

Di jaman semua orang memiliki gadget dan smartphone, banyak orang yang eksis di dunia maya, yang selalu memposting kegiatannya, dan men-share photo-photo lewat akun media sosial, termasuk Instagram. Postingan Instagram bisa disetting agar terkoneksi dengan Facebook dan Twitter. Bisa dibayangkan sebuah foto yang bagus akan menjadi viral dalam sekejap.

Jika seseorang memposting sebuah foto makanan, atau selfie di sebuah sudut hotel, artinya tamu itu sudah meng-endorse hotel tersebut, dan itu gratis. Hotel bisa memangkas marketing cost nya hanya dengan memanfaatkan social media. Namun hotel harus didukung dengan koneksi wifi yang cepat dan bisa diandalkan. Alangkah bagusnya jika wifi tersebut gratis, atau diatur dalam room costing. Jika perlu, hotel menyediakan iPad yang bisa dipinjamkan atau direntalkan kepada tamu.



Tingkat occupancy hotel 1888 Hotel Sydney tersebut rata-rata per bulan adalah 98%, dengan harga kamar mulai dari $140 per malam.

Follower Instagram nya lebih dari 10,000 orang.

Praktek ini tentu saja tidak hanya bisa diterapkan di hotel, namun juga coffee house, restaurant, dan lain-lain. Coba cek berapa banyak postingan Instagram oleh orang-orang yang minum kopi di Starbucks, misalnya.

Never underestimate the power of social media.

06 April 2016

thumbnail

Skandal Panama Papers


Sebelum fajar menyingsing pada 26 November 1983, enam perampok menyelinap masuk ke gudang milik Brink’s-Mat di Bandara Heathrow, London, Inggris. Mereka mengikat penjaga keamanan, menyiram mereka dengan bensin dan menyalakan korek api lalu mengancam akan membakar mereka semua kecuali mereka membukakan pintu almari besi di sana. Di sana, para perampok menemukan hampir 7 ribu batang emas, berlian dan uang tunai. "Terimakasih banyak atas bantuannya. Selamat Natal," kata salahsatu perampok ketika mereka pergi. 

Media di Inggris ketika itu menyebut perampokan ini sebagai kejahatan abad ini: ‘Crime of the Century’. Apalagi belakangan sebagian besar hasil rampokan ini, termasuk hasil penjualan emas yang dicairkan, tak pernah ditemukan sampai sekarang. Kemana uang hasil rampokan itu mengalir adalah misteri yang terus menarik perhatian pemerhati dunia kejahatan di Inggris. 

Sekarang dokumen Mossack Fonseca menunjukkan bahwa firma ini dan pendirinya, Jürgen Mossack, amat mungkin terlibat melindungi kekayaan hasil kejahatan fenomenal ini, dengan menyembunyikan sebuah perusahaan yang terkait dengan Gordon Parry, seorang makelar di London yang bertugas mencuci uang dari komplotan perampok Brink’s-Mat. 

Enambelas bulan setelah perampokan itu, catatan menunjukkan Mossack Fonseca mendirikan sebuah perusahaan cangkang di Panama bernama Feberion Inc. Jürgen Mossack adalah satu dari tiga direktur 'nominee' perusahaan itu. Nominee adalah istilah di dunia bisnis gelap untuk menyebut orang yang namanya dipakai di dokumen perusahaan seolah sebagai pemilik namun sebenarnya tidak punya kendali atas operasional perusahaan itu. 

Ini merupakan bagian dari sebuah penemuan yang disebut sebagai Panama Papers. Apa itu Panama Papers? Simak laporan utama Tempo minggu ini:

SEBUAH kebocoran dokumen finansial berskala luar biasa mengungkapkan bagaimana 12 kepala negara (mantan dan yang masih menjabat) memiliki perusahaan di yuridiksi bebas pajak (offshore) yang dirahasiakan. Dokumen yang sama membongkar bagaimana orang-orang yang dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengatur transfer dana sebesar US$ 2 miliar lewat berbagai bank dan perusahaan bayangan. 

Setidaknya ada 128 politikus dan pejabat publik dari seluruh dunia yang namanya tercantum dalam jutaan dokumen yang bocor ini. Mereka terkait dengan berbagai perusahaan gelap yang sengaja didirikan di wilayah-wilayah surga bebas pajak (tax havens). 

Total catatan yang terbongkar mencapai 11,5 juta dokumen. Keberadaan semua data ini memberikan petunjuk bagaimana firma hukum bekerjasama dengan bank untuk menjajakan kerahasiaan finansial pada politikus, penipu, mafia narkoba, sampai miliuner, selebritas dan bintang olahraga kelas dunia. 

Temuan itu merupakan hasil investigasi sebuah organisasi wartawan global, International Consortium of Investigative Journalists, sebuah koran dari Jerman SüddeutscheZeitung dan lebih dari 100 organisasi pers dari seluruh dunia. Satu-satunya media di Indonesia yang terlibat dalam proyek investigasi ini adalah Tempo. 

Dokumen yang diperoleh konsorsium jurnalis global ini mengungkapkan keberadaan perusahaan di kawasan surga pajak (offshore companies) yang dikendalikan perdana menteri dari Islandia dan Pakistan, Raja Arab Saudi, dan anak-anak Presiden Azerbaijan. 

Ada juga perusahaan gelap yang dikendalikan sedikitnya 33 orang dan perusahaan yang masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat karena hubungan sebagian dari mereka dengan kartel narkoba Meksiko, organisasi teroris seperti Hezbollah atau terkoneksi dengan negara yang pernah mendapat sanksi internasional seperti Korea Utara dan Iran. 

Satu dari perusahaan itu bahkan menyediakan bahan bakar untuk pesawat jet yang digunakan pemerintah Suriah untuk mengebom dan menewaskan ribuan warga negaranya sendiri. Demikian ditegaskan seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat. 

"Temuan ini menunjukkan bagaimana dalamnya praktek yang merugikan dan kejahatan di perusahaan-perusahaan yang sengaja didirikan di yuridiksi asing (offshore)," kata Gabriel Zucman, ekonomis dari University of California, Berkeley, AS dan penulis buku 'The Hidden Wealth of Nations: The Scourge of Tax Havens'. 

Zucman yang mengetahui proses investigasi kebocoran dokumen ini menegaskan bahwa publikasi atas dokumen rahasia ini seharusnya mendorong pemerintah untuk bekerjasama memberikan sanksi tegas pada yurisdiksi dan institusi yang terlibat dalam jejaring kerahasiaan finansial di dunia offshore.

Sejumlah nama kepala negara yang dikenal mendukung gerakan anti-korupsi juga muncul dalam dokumen ini. Beberapa dokumen menunjukkan ada hubungan antara beberapa perusahaan offshore dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang pernah bersumpah akan melawan para koruptor. Ada juga nama Presiden Ukraina Petro Poroshenko, yang selama ini selalu sesumbar dirinya adalah tokoh bersih di negaranya yang penuh skandal korupsi. 

Bahkan, dokumen ini juga berisi detail mengenai sejumlah perjanjian bisnis yang melibatkan perusahaan offshore yang dilakukan ayah dari Perdana Menteri Inggris David Cameron. Belum lama ini, Cameron mendesak pemerintahnya untuk membersihkan wilayah surga bebas pajak di Inggris. 

Data yang bocor berisi informasi sejak 40 tahun lalu, sejak 1977 sampai awal 2015. Keberadaan dokumen ini memungkinkan publik untuk mengintip bagaimana dunia offshore bekerja, bagaimana fulus gelap mengalir di dalam jagat finansial global secara rahasia, mendorong lahirnya banyak modus kriminalitas dan merampok pundi-pundi negara dari pajak yang tak dibayarkan. 

Kebanyakkan jasa yang ditawarkan perusahaan offshore tidak melanggar hukum, jika digunakan oleh warga negara yang taat hukum. Namun dokumen ini menunjukkan bagaimana bank, kantor pengacara dan pelaku dunia usaha kerap tidak mengikuti prosedur hukum yang berlaku untuk memastikan klien mereka tidak terlibat korupsi, pelarian pajak atau kegiatan kriminal lainnya. 

Bahkan, dalam beberapa kasus, ada perantara yang mencoba melindungi diri sendiri dan klien mereka dengan sengaja menyembunyikan transaksi mencurigakan atau memanipulasi catatan. 

Jutaan dokumen ini menunjukkan bahwa bank-bank besar adalah motor utama di balik pendirian perusahaan-perusahaan di British Virgin Islands, Panama, dan surga bebas pajak lain, yang sulit dilacak penegak hukum. Ada daftar sekitar 15.600 perusahaan papan nama (paper companies) yang dibuatkan oleh bank untuk klien mereka yang ingin keuangan mereka tersembunyi. Di antara bank tersebut adalah UBS dan HSBC. 

Pada satu bagian dari catatan yang bocor ini, terungkap bagaimana bank, perusahaan dan sejumlah orang yang terkait dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin, bermanuver secara tertutup untuk memindahkan uang dalam jumlah besar. Pada satu transaksi, fulus yang digerakkan mencapai US$ 200 juta. 

Orang-orang Putin ini mencoba menyamarkan pembayaran, memundurkan tanggal dokumen ke masa lalu (backdated) dan dengan demikian, memupuk kekuasaan dan pengaruh di dalam industri media dan otomotif di Rusia. 

Sayangnya, juru bicara Kremlin menolak berkomentar atas informasi ini. Pada 28 Maret 2016 lalu, juru bicara Kremlin menyerang konsorsium jurnalis ICIJ dan menuduh kelompok ini tengah mempersiapkan sebuah 'serangan informasi' pada Putih dan mereka yang dekat dengan tokoh ini.

Dokumen bocor ini -- diperiksa beramai-ramai oleh sebuah tim yang terdiri dari 370 jurnalis dari 76 negara-- diketahui berasal dari sebuah firma hukum kecil namun amat berpengaruh di Panama yang bernama Mossack Fonseca. Firma ini memiliki kantor cabang di Hong Kong, Zurich, Miami dan 35 kota lain di seluruh dunia. 

Firma ini adalah salahsatu pembuat perusahaan cangkang (shell companies) terbaik di dunia. Perusahaan cangkang adalah sebuah struktur korporasi yang bisa digunakan untuk menyembunyikan kepemilikan aset perusahaan. Total ada 214.488 nama perusahaan offshore di dokumen yang bocor ini. Ratusan ribu perusahaan itu terhubung dengan orang-orang dari 200 negara. ICIJ akan mempublikasikan seluruh nama perusahaan ini pada awal Mei 2016. 

Data ini mencakup email, tabel keuangan, pasport dan catatan pendirian perusahaan, yang mengungkapkan identitas rahasia dari pemilik akun bank dan perusahaan di 21 wilayah/yuridiksi offshore, mulai dari Nevada, Singapura sampai British Virgin Islands. 

Jejak Mossack Fonseca bisa terlacak di perdagangan berlian di Afrika, pasar lukisan dan barang seni lain berskala internasional, dan bisnis lain yang kerap bergerak di kegelapan. Firma ini juga melayani banyak keluarga kerajaan dan emir di Timur Tengah. Mereka membantu dua raja: Raja Mohammed VI dari Maroko dan Raja Salman dari Saudi Arabia. Di Islandia, dokumen yang bocor ini menunjukkan bagaimana Perdana Menteri Sigmundur David Gunnlaugsson dan istrinya secara rahasia memiliki firma offshore yang merupakan pemegang surat utang sebuah bank di negara ini yang bernilai miliaran dolar, pada saat Islandia dilanda krisis ekonomi. 

Dokumen yang ada juga berisikan keterangan mengenai seorang terpidana pencucian uang yang mengaku memberikan kontribusi sebesar US$ 50 ribu yang dipakai membayar perampok dalam skandal Watergate. Ada juga nama 29 miliuner yang termasuk daftar 500 orang terkaya dunia versi majalah Forbes. Tak ketinggalan ada pula nama Jackie Chan, bintang film ternama asal Cina, yang punya sedikitnya enam perusahaan di bawah pengelolaan Mossack Fonseca. 

Di Indonesia, nama-nama para miliarder ternama yang setiap tahun masuk dalam daftar orang terkaya versi Forbes Indonesia juga bertebaran dalam dokumen Mossack Fonseca. Mereka membuat belasan perusahaan offshore untuk keperluan bisnisnya. Salahsatunya adalah Sandiaga Uno, pebisnis terkemuka yang kini tengah mencalonkan diri menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. 

Ditanya soal ini, Sandiaga mempersilakan media mempublikasikan nama-nama perusahaan offshore miliknya. "Saya memang punya rencana membuka semuanya karena saya sekarang dalam proses mencalonkan diri menjadi pejabat publik," katanya pada reporter Tempo, akhir Maret 2016 lalu. 

Seperti banyak klien Mossack Fonseca lain, tidak ada bukti bahwa Jackie Chan atau Sandiaga Uno, menggunakan perusahaannya untuk tujuan tak terpuji. Memiliki perusahaan offshore bukanlah sesuatu yang otomatis ilegal. Untuk sejumlah transaksi internasional, memiliki perusahaan offshore bahkan merupakan sebuah pilihan yang logis secara bisnis. 

Namun, dokumen Mossack Fonseca mengindikasikan bahwa klien dari firma itu meliputi penipu skema ponzi, mafia narkoba, penggelap pajak, dan setidaknya satu terpidana kasus pelecehan seks yang sedang dipenjara. Catatan menunjukkan bahwa ada satu pengusaha asal Amerika yang ditangkap setelah bepergian ke Rusia untuk berhubungan seks dengan anak-anak yatim piatu, sempat meneken sebuah dokumen untuk perusahaan offshore-nya, ketika dia sedang dipenjara di New Jersey. 

Di Indonesia, dua nama yang kerap dicari penegak hukum untuk kepentingan penyidikan kasus korupsi, yakni Muhammad Riza Chalid dan Djoko Soegiarto Tjandra, juga tercantum dalam dokumen yang bocor ini.

Tak hanya itu. Dokumen ini juga berisi detail baru mengenai skandal-skandal besar, mulai dari kisah perampokan emas legendaris di Inggris sampai skandal suap di organisasi sepakbola dunia, FIFA. Ada catatan yang mengungkap bahwa firma hukum milik Juan Pedro Damani, anggota Komisi Etik FIFA, memiliki relasi bisnis dengan tiga orang yang sudah didakwa terlibat dalam skandal suap FIFA: mantan Wakil Presiden FIFA Eugenio Figueredo dan ayah-anak Hugo dan Mariano Jinkis, yang dituduh menyuap FIFA untuk memenangkan hak siar semua pertandingan sepakbola di Amerika Latin. 

Kantor Damiani di Uruguay tercatat mewakili satu perusahaan offshore yang terkait keluarga Jinkis dan tujuh perusahaan yang terkait dengan Figueredo. Ketika dimintai konfirmasi, Komisi Etik FIFA merespon dengan mengadakan penyelidikan awal atas hubungan Damiani dan Figueredo. 

Juru bicara komisi ini menjelaskan bahwa Damiani memberitahu mereka soal hubungan bisnisnya dengan Figueredo pada 18 Maret 2016. Itu tepat satu hari setelah reporter mengirimkan pertanyaan pada Damiani mengenai hubungan antara kantor pengacaranya dan perusahaan yang terkait dengan mantan Wakil Presiden FIFA. 

Nama pesepakbola terbaik dunia, Lione Messi, juga ada dalam dokumen ini. Catatan menunjukkan Messi dan ayahnya merupakan pemilik sebuah perusahaan di Panama: Mega Star Enterprises Inc. Perusahaan ini menambah daftar perusahaan cangkang milik Messi yang sedang diselidiki di Spanyol atas tuduhan penggelapan pajak.

Ada indikasi bahwa Mossack Fonseca memang bekerja keras untuk melindungi rahasia kliennya, tak peduli klien mereka orang terkenal atau tidak. Di Nevada, satu negara bagian di Amerika Serikat, firma ini mencoba melindungi diri dan kliennya dari dampak upaya hukum di pengadilan distrik Amerika Serikat, dengan memindahkan semua berkas dokumen perusahaan itu dari kantornya dan meminta bantuan ahli teknologi untuk membersihkan jejak elektronik dari komunikasi mereka di semua komputer dan telepon kantor. 

Dokumen yang bocor ini juga menunjukkan bagaimana Mossak secara teratur menawarkan klien mereka untuk membuatkan dokumen dengan tanggal mundur (backdated documents) untuk membantu klien mereka mendapatkan keuntungan dari berbagai perjanjian bisnis mereka. Jasa semacam itu amat biasa ditawarkan hingga pada sebuah komunikasi email pada 2007, para karyawan Mossack membicarakan struktur harga khusus untuk para klien yang minta tanggal dokumen mereka dimundurkan. Setiap satu bulan ke belakang dalam penetapan tanggal dokumen perusahaan mereka, klien harus membayar US$ 8,75 pada Mossack. 

Ketika dikonfirmasi, Mossack Fonseca menegaskan bahwa perusahaan mereka, "tidak melindungi atau mendukung aktivitas ilegal apapun. Tuduhan Anda bahwa kami menyediakan struktur yang sengaja didesain untuk menyembunyikan identitas pemilik aslinya sama sekali tidak berdasar dan keliru." 

Firma ini juga menegaskan bahwa praktek membuat tanggal mundur dari sebuah dokumen merupakan "praktek yang punya dasar kuat dan diterima dalam industri kami dan tujuannya bukan untuk menutupi atau menyembunyikan kegiatan yang melanggar hukum." Selain itu, Mossack juga menolak berkomentar atas klien mereka secara spesifik karena mereka wajib menjaga kerahasiaan kliennya. 

Salahsatu pendiri Mossack, Ramon Fonseca, dalam sebuah wawancara di televisi Panama belum lama ini menegaskan bahwa perusahaannya tidak punya tanggungjawab atas apapun yang dilakukan kliennya menggunakan perusahaan offshore yang dijual oleh Mossack. Dia membandingkan Mossack dengan sebuah pabrik mobil yang batas tanggungjawab hukumnya (liability) selesai ketika mobil keluar dari pabrik itu. 

Menyalahkan Mossack Fonseca atas semua perilaku pemilik perusahaan yang dibantu Mossack, menurut Ramon, sama saja dengan menyalahkan pabrik mobil ketika mobil yang mereka produksi, dipakai untuk merampok. 

Sampai belum lama ini, Mossack Fonseca memang hampir selalu beroperasi dalam bayangan. Baru belakangan ada tanda-tanda munculnya upaya pengawasan atas perusahaan ini. Perubahan positif ini terjadi setelah sejumlah pemerintahan mendapatkan bocoran dokumen tentang praktek yang terjadi di dalam Mossack. Otoritas di Jerman dan Brasil misalnya, sudah mulai bergerak menyelidiki beberapa praktek bisnis Mossack di negara mereka. 

Pada Februari 2015, koran Jerman SüddeutscheZeitung memberitakan bahwa penegak hukum di sana menggeledah kantor bank terbesar Jerman, Commerzbank, dalam kasus penggelapan pajak yang menurut otoritas Jerman bisa berujung pada penetapan sejumlah karyawan Mossack Fonseca jadi tersangka kasus kriminal.

Di Brasil, Mossack Fonseca sedang diincar dalam kasus penyuapan dan pencucian uang dalam sebuah operasi yang dikenal dengan nama operasi 'Car Wash' atau 'Lava Jato' dalam bahasa Portugis. Operasi ini sudah menjerat sejumlah politikus ternama di Brasil dan kini mengarah pada mantan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva. Bahkan, skandal ini disebut-sebut mengancam posisi Presiden Brasil saat ini, Dilma Rousseff. 

Pada Januari 2016, jaksa Brasil menyebut Mossack Fonseca sebagai perusahaan 'pencucian uang besar' dan mengumumkan bahwa kejaksaan telah menetapkan lima pegawai kantor Mossack di Brasil sebagai tersangka atas peran mereka dalam skandal ini. Mossack sendiri membantah mereka terlibat pelanggaran hukum di sana. 

Informasi yang terkuak dari kebocoran dokumen ini memperluas secara dramatis semua proyek investigasi yang pernah dikerjakan ICIJ mengenai perusahaan offshore selama empat tahun terakhir. Dalam sebuah kolaborasi jurnalisme global terbesar yang pernah ada, jurnalis yang bekerja dalam 25 bahasa berbeda, menggali semua data Mossack dan melacak jejak transaksi rahasia firma ini dengan klien-kliennya di seluruh dunia. Para jurnalis saling berbagi informasi dan memburu petunjuk yang disediakan oleh dokumen bocor ini dengan menggunakan database korporasi, catatan properti, laporan keuangan, berkas perkara pengadilan dan wawancara dengan penegak hukum. 

Adalah para reporter di SüddeutscheZeitung yang pertama kali memperoleh jutaan data ini dan membaginya dengan ICIJ dan semua media dalam kolaborasi ini. Tak ada media yang diminta membayar untuk memperoleh dokumen ini. 

Sebelum SüddeutscheZeitung memperoleh dokumen ini, aparat pajak di Jerman sebenarnya sudah membeli sebagian kecil dokumen serupa dari seorang pembocor. Dokumen itu kemudian berujung pada sejumlah operasi penggeledahan di Jerman pada awal 2015. Dokumen ini kemudian ditawarkan pada otoritas pajak di Inggris, Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Demikian diungkapkan seorang sumber yang mengetahui ihwal perkara ini. 

Dokumen yang menjadi sumber laporan ini menawarkan lebih dari sekadar potongan informasi mengenai cara kerja sebuah firma hukum, atau katalog dari klien mereka. Informasi dari dokumen ini membuat publik bisa memahami sebuah industri yang selama ini berusaha keras menutupi semua praktek bisnisnya. 

Data ini juga memberi petunjuk mengapa berbagai usaha untuk mereformasi sistem keuangan semacam ini, selalu gagal. Kisah mengenai Mossack Fonseca ini adalah kisah mengenai seluruh sistem offshore itu sendiri.

Sebelum fajar menyingsing pada 26 November 1983, enam perampok menyelinap masuk ke gudang milik Brink’s-Mat di Bandara Heathrow, London, Inggris. Mereka mengikat penjaga keamanan, menyiram mereka dengan bensin dan menyalakan korek api lalu mengancam akan membakar mereka semua kecuali mereka membukakan pintu almari besi di sana. Di sana, para perampok menemukan hampir 7 ribu batang emas, berlian dan uang tunai. "Terimakasih banyak atas bantuannya. Selamat Natal," kata salahsatu perampok ketika mereka pergi. 

Media di Inggris ketika itu menyebut perampokan ini sebagai kejahatan abad ini: ‘Crime of the Century’. Apalagi belakangan sebagian besar hasil rampokan ini, termasuk hasil penjualan emas yang dicairkan, tak pernah ditemukan sampai sekarang. Kemana uang hasil rampokan itu mengalir adalah misteri yang terus menarik perhatian pemerhati dunia kejahatan di Inggris. 

Sekarang dokumen Mossack Fonseca menunjukkan bahwa firma ini dan pendirinya, Jürgen Mossack, amat mungkin terlibat melindungi kekayaan hasil kejahatan fenomenal ini, dengan menyembunyikan sebuah perusahaan yang terkait dengan Gordon Parry, seorang makelar di London yang bertugas mencuci uang dari komplotan perampok Brink’s-Mat. 

Enambelas bulan setelah perampokan itu, catatan menunjukkan Mossack Fonseca mendirikan sebuah perusahaan cangkang di Panama bernama Feberion Inc. Jürgen Mossack adalah satu dari tiga direktur 'nominee' perusahaan itu. Nominee adalah istilah di dunia bisnis gelap untuk menyebut orang yang namanya dipakai di dokumen perusahaan seolah sebagai pemilik namun sebenarnya tidak punya kendali atas operasional perusahaan itu. 

Sebuah memo internal yang ditulis Jurgen Mossack menunjukkan bahwa baru pada 1986, dia sadar bahwa klien itu "tampaknya terlibat dalam pengelolaan dana dari hasil perampokan Brink’s-Mat di London. Perusahaan itu sendiri tidak melakukan sesuatu yang ilegal, namun bisa saja perusahaan itu menginvestasikan uang lewat rekening bank dan properti yang diperoleh secara tak sah." 

Setahun kemudian, pada 1987, catatan Mossack Fonseca menunjukkan dengan jelas bahwa ada kaitan antara Gordon Parry dan Feberion. Namun, bukannya membantu penegak hukum untuk memeriksa aset Feberion, Mossack malah mengambil langkah-langkah untuk mengamankan aset dan mencegah polisi mengendalikan perusahaan itu. 

Misalnya, ketika polisi berhasil menguasai dua sertifikat kepemilikan Feberion, Mossack malah menerbitkan 98 saham baru, sebuah langkah yang secara efektif mencegah penyidik masuk ke dalam perusahaan itu dan menggagalkan upaya penegakan hukum. Baru pada 1995, tiga tahun setelah Parry dikirim ke penjara atas keterlibatannya dalam perampokan emas, Mossack memutus hubungan dengan Feberion. 

Juru bicara Mossack membantah tudingan bahwa perusahaan mereka membentengi dana hasil perampokan Brink's-Mat. Mereka menegaskan bahwa Jurgen Mossack tidak pernah terlibat dengan urusan bisnis apapun dengan Parry, dan tidak pernah dihubungi polisi soal kasus ini. Pembelaan Mossack Fonseca ini menunjukkan bagaimana pelaku bisnis offshore siap melakukan apapun untuk melayani pelanggan mereka.

Sistem offshore mengandalkan jejaring industri global dari para bankir, pengacara, akuntan dan para perantara yang bekerjasama untuk melindungi rahasia klien mereka. Para pakar kerahasiaan ini menggunakan perusahaan anonim, majelis wali amanat (trust), dan entitas papan nama (paper entities) lain untuk menciptakan sebuah struktur kompleks yang bisa dipakai untuk menyamarkan asal usul dana haram. 

"Mereka (perusahaan seperti Mossak Fonseca--) adalah bensin yang menjalankan mesin ini," kata Robert Mazur, mantan agen anti narkotika Amerika Serikat dan penulis buku 'The Infiltrator: My Secret Life Inside the Dirty Banks Behind Pablo Escobar's Medellín Cartel'. Menurut Mazur, "Mereka adalah bagian yang amat penting untuk suksesnya sebuah organisasi kriminal." 

Mossack Fonseca membantah tudingan itu. Mereka menegaskan bahwa mereka mengikuti “huruf demi huruf peraturan hukum dan juga spiritnya. Karena itulah, selama 40 tahun kami beroperasi, kami tidak pernah didakwa melanggar hukum." 

Para pria yang mendirikan Mossack Fonseca berpuluh tahun lalu, dan berlanjut hingga kini sebagai mitra utama perusahaan ini, adalah figur-figur yang amat dikenal di dunia politik dan publik Panama. Jürgen Mossack adalah seorang imigran asal Jerman yang semenjak kecil pindah ke Panama bersama keluarganya. 

Ayahnya mencari kehidupan baru di Panama, setelah menjadi tentara Waffen-SS di era Hitler pada perang Dunia II. Ramon Fonseca adalah novelis yang kerap mendapat penghargaan, yang belakangan menjadi penasehat untuk Presiden Panama. Dia mengambil cuti dari pekerjaannya menjadi penasehat Presiden pada Maret 2016, setelah Mossack dikaitkan dengan skandal di Brasil dan setelah media mulai mempertanyakan cara kerja firma itu. 

Dari basisnya di Panama, yang sudah lama dikenal sebagai zona rahasia finansial dunia, Mossack Fonseca melahirkan perusahaan-perusahaan anonim di Panama, British Virgin Islands dan surga finansial lainnya. Firma ini telah bekerja berdampingan dengan bank besar dan kantor pengacara ternama di tempat seperti Belanda, Meksiko, Amerika Serikat dan Swiss, membantu klien memindahkan uang atau memotong tagihan pajak mereka. 

Analisa ICIJ atas dokumen yang bocor ini menemukan bahwa ada lebih dari 500 bank, cabang dan rekanan, yang pernah bekerja dengan Mossack Fonseca sejak 1970an untuk membantu klien mengelola perusahaan offshore. 

UBS membantu mempersiapkan 1.100 perusahaan offshore lewat Mossack Fonseca. Sementara HSBC dan afiliasinya menciptakan lebih dari 2.300 perusahaan. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa ada indikasi Mossack bekerjasama dengan lebih dari 14 ribu bank, kantor pengacara, dan perantara lain untuk mendirikan perusahaan, yayasan, majelis wali amanat (trust), untuk pelanggan. 

Mossack Fonseca menegaskan bahwa para perantara inilah yang sejatinya merupakan klien mereka, bukan para pelanggan yang menggunakan perusahaan offshore yang mereka ciptakan. Firma ini mengatakan bahwa para perantara ini justru menyediakan satu lapisan tambahan untuk memeriksa keabsahan klien mereka. Soal prosedur mereka, Mossack Fonseca berani menegaskan bahwa mereka “mengikuti dan bahkan melebihi ketentuan dan standar yang mengikat mereka." 

Dalam upayanya melindungi Feberion Inc., perusahaan cangkang yang terkait dengan perampokan emas di Brink's-Mat, Mossack Fonseca menggunakan sebuah firma yang berbasis di Panama, Chartered Management Company, yang dikendalikan oleh Gilbert R.J. Straub, seorang ekspatriat asal Amerika yang pernah terlibat dalam skandal Watergate. 

Pada 1987, ketika polisi Inggris memeriksa perusahaan cangkang itu, Jürgen Mossack dan satu direktur lain di Feberion mundur, dengan syarat mereka akan diganti oleh direktur baru yang ditunjuk perusahaan Straub, Chartered Management. Belakangan, Straub ditangkap oleh Badan Anti Narkotika Amerika Serikat, dalam sebuah kasus yang tidak langsung berkaitan dengan kasus Brink's-Mat. Ini diungkapkan Mazur, bekas agen Badan Anti Narkotika Amerika Serikat. 

Mazur-lah yang mengumpulkan keping demi keping bukti sampai Straub mengaku bersalah terlibat dalam kasus pencucian uang pada 1995. Kepada Mazur, Straub pernah mengaku terlibat dalam penyaluran dana ilegal untuk kampanye pemilihan kembali Presiden AS Richard Nixon pada 1972. 

Ayah Nick Kgopa meninggal ketika dia baru berumur 14 tahun. Rekan sekerja ayahnya di sebuah tambang emas di utara Afrika Selatan mengatakan ayah Nick meninggal akibat paparan zat kimia di dalam tambang. 

Nick dan adiknya yang tuna rungu, bisa bertahan hidup tanpa ayah mereka berkat kiriman uang bulanan dari sebuah dana sosial yang dirancang untuk membantu janda dan anak yatim dari pekerja tambang di Afrika Selatan. 

Sayangnya, suatu hari kiriman uang mendadak berhenti. Laporan media memaparkan kalau keluarga Nick adalah satu dari sekian keluarga yang jadi korban tak langsung sebuah skandal penipuan masif senilai US$ 60 juta yang dilakukan sekelompok pengusaha Afrika Selatan. Menurut dakwaan jaksa, beberapa orang yang terkait perusahaan manajemen aset, Fidentia, berkomplot untuk merampok dana investasi, yang selama ini sebagian hasilnya dipakai untuk mendukung kehidupan anak yatim seperti Nick Kgopa. Total ada 46 ribu orang janda dan anak yatim yang kehilangan tunjangan bulanannya akibat penipuan ini. 

Dokumen Mossack Fonseca yang bocor menunjukkan bagaimana setidaknya dua orang yang terlibat dalam penipuan ini menggunakan firma hukum asal Panama itu untuk menciptakan perusahaan offshore. Dokumen juga menunjukkan bagaimana Mossack terus menerus melindungi para penipu dan uang hasil penipuan mereka, meski otoritas Afrika Selatan sudah mengumumkan keterlibatan mereka dalam skandal ini. 

Para penipu skema ponzi dan jejaringnya kerap menggunakan struktur perusahaan offshore untuk mendukung skema mereka dan menyembunyikan prosesnya. Kasus Fidentia misalnya bukanlah satu-satunya penipuan besar yang muncul dalam daftar klien Mossack Fonseca. 

Di Indonesia, sejumlah investor menuding sebuah perusahaan yang didirikan Mossack Fonseca di British Virgin Islands terlibat dalam skema penipuan yang merugikan sedikitnya 3.500 orang dengan nilai lebih dari US$ 150 juta. "Kami amat membutuhkan dana untuk pendidikan anak kami pada bulan April ini," kata seorang investor Indonesia dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah dalam emailnya pada Mossack Fonseca yang dikirim pada April 2007. "Tolong beri saran, apa yang bisa kami lakukan," tulisnya lagi. Nama Mossack dan alamat emainya tercantum dalam leaflet perusahaan investasi itu. 

Dalam kasus Fidentia, catatan Mossack menunjukkan bagaimana satu dari kelompok penipu yang belakangan dipenjara di Afrika Selatan, Graham Maddock, membayar US$ 59 ribu pada 2005 dan 2006 untuk menciptakan dua perusahaan offshore, termasuk satu yang bernama Fidentia North America. Catatan Mossack menunjukkan bahwa mereka memberikan pelayanan VIP pada Maddock. 

Mossack juga menciptakan struktur perusahaan offshore untuk Steven Goodwin, pria yang belakangan disebut jaksa di Afsel berperan penting dalam penipuan Fidentia. Setelah skandal ini terbongkar pada 2007, Goodwin terbang ke Australia, kemudian ke Amerika Serikat, dimana pengacara Mossack menemuinya di sebuah hotel mewah di Manhattan, New York, untuk mendiskusikan keadaan perusahaan offshore-nya. 

Karyawan Mossack menulis dalam catatan internal perusahaannya kalau dia dan Goodwin "berbicara dengan mendalam" mengenai skandal Fidentia dan dia "meyakinkan Goodwin untuk lebih melindungi" perusahaan offshore miliknya jika Goodwin melimpahkannya pada pihak ketiga. Dalam memo itu, karyawan Mossack menulis bahwa Goodwin tidak terlibat dalam skandal itu "dalam kapasitas apapun" dan dia "hanya korban dari keadaan." 

Pada April 2008, FBI menangkap Goodwin di Los Angeles dan mendeportasi dia kembali ke Afrika Selatan. Di sana, Goodwin mengaku bersalah dalam kasus penipuan dan pencucian uang. Dia kemudian divonis 10 tahun penjara. 

Sebulan setelah Goodwin divonis, seorang karyawan Mossack menulis email yang berisi rencana mereka membuat frustasi penegak hukum di Afrika Selatan yang sedang berusaha merebut kembali aset Goodwin yang disembunyikan di perusahaan offshore, Hamlyn Property LLP. Perusahaan itu memang sengaja dibuat Goodwin untuk menguasai industri real estate di Afrika Selatan. 

Karyawan ini menyarankan agar ada seorang akuntan yang diminta "mempersiapkan" audit untuk tahun fiskal 2006 dan 2007, dalam upaya "mencegah jaksa mengambil tindakan apapun atas badan hukum di belakang Hamlyn." Dia menggunakan tanda kutip di kata "mempersiapkan". 

Tak jelas apakah saran itu benar-benar dilaksanakan atau tidak. Mossack Fonseca tidak menjawab pertanyaan soal relasinya dengan Goodwin. Kuasa dari Goodwin menjelaskan pada ICIJ bahwa kliennya "tidak memiliki hubungan apapun" dengan skandal Fidentia, dan "tidak terlibat langsung maupun tak langsung dengan 46 ribu janda dan anak yatim." 

Pada 10 Februari 2011, sebuah perusahaan tak dikenal di British Virgin Islands bernama Sandalwood Continental Ltd. meminjamkan US$ 200 juta ke sebuah perusahaan gelap lain yang berbasis di Siprus dengan nama Horwich Trading Ltd. Pada keesokan harinya, Sandalwood menyerahkan hak untuk menagih pembayaran atas pinjaman itu --termasuk bunga-- pada Ove Financial Corp., sebuah perusahaan misterius di British Virgin Islands. Untuk memperoleh hak itu, Ove membayar US$ 1 saja. 

Jejak uang ini tak berhenti di sana. Pada hari yang sama, Ove menyerahkan hak untuk menagih pembayaran atas pinjaman itu pada sebuah perusahaan Panama bernama International Media Overseas. Perusahaan ini juga membayar hanya US$ 1 saja. 

Dalam jangka waktu 24 jam saja, pinjaman itu, setidaknya di atas kertas, sudah berpindah ke tiga negara, dua bank dan empat perusahaan, membuat uang itu menjadi nyaris mustahil dilacak. 

Ada banyak alasan mengapa orang-orang di belakang transaksi ini ingin perpindahan uang ini tersamarkan. Belakangan terungkap bahwa fulus jumbo ini berasal dari lingkaran terdekat Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebuah bank berbasis di St Petersburg, Bank Rossiya, yang pemilik dan komisaris utamanya dikenal sebagai 'juru bayar Putin' adalah lembaga yang membentuk Sandalwood Continental dan mengarahkan aliran uang ini. 

Sementara International Media Overseas, yang mendapat hak tagih atas dana US$ 200 juta, dikendalikan di atas kertas oleh kawan lama Putin, Sergey Roldugin, seorang pemain cello klasik yang menjadi ayah baptis untuk anak perempuan tertua Putin. 

Pinjaman US$ 200 juta ini adalah satu dari belasan transaksi dengan total nilai US$ 2 miliar yang bisa ditemukan dalam dokumen Mossack Fonseca, yang berisi nama orang dan perusahaan yang terkait dengan Putin. Mereka adalah pengendali utama Bank Rossiya yang menguasai mayoritas saham di perusahaan pembuat truk terbesar di Rusia dan punya sejumlah saham rahasia di aset-aset penting industri media di negara itu. 

Pembayaran mencurigakan dari kroni Putin ini bisa jadi didesain sebagai setoran, kemungkinan sebagai imbalan atas kontrak atau bantuan dari pemerintah Rusia. Dokumen rahasia yang bocor ini menunjukkan bahwa sebagian besar pinjaman uang dalam transaksi ini bersumber dari sebuah bank di Siprus yang pada saat itu dimiliki oleh Bank VTB, yang dikendalikan oleh pemerintah Rusia. 

Pada sebuah konferensi pers akhir Maret 2016, juru bicara Putin Dmitry Peskov mengatakan bahwa pemerintah Rusia tidak akan menjawab pertanyaan dari ICIJ atau media mitranya, karena pertanyaan yang diajukan "sudah disampaikan beratus kali dan dijawab beratus-ratus kali." Peskov menambahkan bahwa Rusia sudah meyiapkan "semua amunisi legal yang mungkin di arena nasional dan internasional, untuk melindungi kehormatan dan martabat presiden kami." 

DI bawah perjanjian nasional dan internasional, firma seperti Mossack Fonseca yang membantu membuat perusahaan dan rekening bank seharusnya selalu mencari kemungkinan klien mereka terlibat dalam pencucian uang, penggelapan pajak, atau pelanggaran lain. Secara hukum, mereka diminta untuk memperhatikan orang-orang yang secara politik terkait (politically exposed persons) – yakni pejabat pemerintah, anggota keluarga mereka atau orang dekat. Jika seseorang masuk dalam kategori itu maka perantara yang membuatkan dokumen perusahaan untuk mereka diharapkan meninjau kembali seluruh kegiatan yang bersangkutan untuk memastikan mereka tak tersangkut kasus korupsi. 

Mossack Fonseca memberitahu ICIJ kalau mereka "sudah menetapkan kebijakan dan prosedur yang ketat untuk mengidentifikasi dan menangani kasus-kasus dimana individu yang terlibat merupakan kategori politically exposed persons." 

Namun, seringkali, Mossack Fonseca seolah tak paham siapa sebenarnya klien mereka. Sebuah laporan audit pada 2015 menemukan bahwa Mossack hanya tahu identitas asli dari pemilik 204 perusahaan, dari total 14.086 perusahaan yang mereka dirikan di Seychelles, sebuah kawasan surga bebas pajak di Samudera India. 

Otoritas di British Virgin Islands bahkan pernah mendenda Mossack Fonseca sebesar US$ 37.500 karena firma ini melanggar aturan anti pencucian uang ketika membuatkan perusahaan untuk anak mantan Presiden Mesir Husni Mubarak dan tidak menjelaskan siapa klien mereka meski Mubarak dan anaknya telah didakwa melakukan korupsi di Mesir. Review internal di Mossack Fonseca sendiri menyimpulkan bahwa 'formula penilaian risiko (risk assesment) kita amat lemah."

Analisa ICIJ sendiri atas dokumen Mossack yang bocor menemukan ada setidaknya 58 anggota keluarga dan orang dekat perdana menteri, presiden dan raja-raja yang jadi klien firma ini. Catatan menunjukkan, sebagai contoh, bahwa keluarga Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menggunakan yayasan dan perusahaan di Panama untuk menguasai saham rahasia di tambang emas dan sebuah real estate di London. 

Anak-anak dari Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif juga memiliki sebuah real estate di London, lewat sebuah perusahaan yang dibuatkan oleh Mossack Fonseca. 

Di Cina, anggota keluarga dari setidaknya delapan mantan maupun pejabat aktif Komite Pusat Politbiro Partai Komunis Cina, organ utama pemerintahan negeri itu, memiliki perusahaan offshore yang didirikan via Mossack Fonseca. Bahkan saudara ipar Presiden Xi Jinping termasuk yang mendirikan dua perusahaan di British Virgin Islands pada 2009. 

Juru bicara pemerintahan Azerbaijan, Cina dan Pakistan tidak menjawab permohonan konfirmasi untuk informasi ini. 

Daftar pemimpin dunia yang menggunakan Mossack Fonseca untuk mendirikan perusahaan offshore termasuk Presiden Argentina Mauricio Macri, yang pernah menjabat Direktur dan Wakil Presiden sebuah perusahaan berbasis di Panama, yang dikelola Mossack Fonseca, ketika Macri menjadi pengusaha dan kemudian Wali Kota Buenos Aires, Ibu Kota Argentina. Juru bicara pemerintah Argentina menegaskan bahwa Macri tak pernah memiliki saham perusahaan itu secara personal, karena perusahaan itu adalah bagian dari bisnis keluarga. 

Ketika Rusia menginvasi wilayah Ukraina, Donbas, pada 2014, catatan menunjukkan bagaimana wakil dari Presiden Ukraina Petro Poroshenko berusaha mencari salinan rekening air dan listrik pribadi untuk Poroshenko sebagai kelengkapan dokumen pendirian perusahaannya di British Virgin Islands. Juru bicara Poroshenko menegaskan bahwa pendirian perusahaan itu tidak ada hubungannya dengan peristiwa politik atau militer apapun di Ukraina. 

Penasehat keuangan Poroshenko menjelaskan bahwa Presiden tidak memasukkan perusahaan BVI itu dalam laporan kekayaannya karena perusahaan itu dan anak perusahaannya di Belanda dan Siprus tidak memiliki aset apapun. Perusahaan itu didirikan sebagai bagian dari restrukturisasi korporasi di bisnis Poroshenko. 

Ketika Sigmundur David Gunnlaugsson menjadi Perdana Menteri Islandia pada 2013, dia juga menyembunyikan satu rahasia yang bisa mengganggu karir politiknya. Pada 2009, ketika dia terpilih menjadi anggota parlemen, Gunnlaugsson dan istrinya bersama-sama memiliki sebuah perusahaan offshore di British Virgin Islands. Beberapa bulan kemudian, dia menjual saham bagiannya ke istrinya dengan nilai US$ 1. 

Perusahaan itu memegang surat utang yang semula bernilai jutaan dolar di tiga bank raksasa di Islandia. Ketiga bank itu rontok pada puncak krisis ekonomi dunia pada 2008 dan membuat perusahaan Gunnlaugsson otomatis menjadi kreditor dalam proses pailit ketiga bank itu. 

Tahun lalu, pemerintah Islandia bernegosiasi dengan semua kreditor bank-bank yang tutup di sana. Namun Gunnlaugsson tetap tidak melaporkan keterlibatannya sebagai pemilik salahsatu perusahaan kreditor yang kemungkinan akan mendapatkan keuntungan finansial dari negosiasi itu. 

Pekan lalu Gunnlaugsson membantah kalau kepentingan bisnis keluarganya memiliki pengaruh atas posisi pemerintahannya dalam negosiasi dengan kreditor. Catatan Mossack Fonseca yang bocor tidak menjelaskan dengan detail apakah posisi politik Gunnlaugsson merugikan atau menguntungkan nilai surat utang yang dia pegang melalui perusahaan offshore itu. 

Dalam sebuah wawancara dengan mitra ICIJ, Reykjavik Media, Gunnlaugsson membantah menyembunyikan asetnya. Ketika nama perusahaan offshore yang terkait dirinya, Wintris Inc. disebut, Perdana Menteri itu berujar, "Saya merasa tak nyaman dengan pertanyaan ini, karena seolah Anda menuduh saya sesuatu." Dia kemudian menghentikan wawancara. 

Empat hari kemudian, istrinya mempublikasikan isu ini melalui Facebook. Dalam catatan yang ditulis istri Gunnlaugsson di media sosial itu, dia menegaskan bahwa dialah yang memiliki perusahaan offshore itu, dan bukan suaminya. Dia juga menegaskan bahwa semua pajak perusahaan itu sudah dibayar. Penjelasan istri Gunnlaugsson membuat sejumlah anggota parlemen Islandia makin mempertanyakan mengapa Perdana Menteri tidak membuat penjelasan itu sebelumnya. Satu anggota parlemen bahkan sudah mendesak Gunnlaugsson untuk mundur dari posisinya. 

Kini Perdana Menteri Islandia melawan dan merilis sebuah penjelasan sepanjang 8 halaman untuk menegaskan bahwa "tidak ada ketentuan hukum apapun yang mengharuskan saya membuka informasi ini karena perusahaan itu milik istri saya dan perusahaan itu hanya perusahaan induk (holding company) yang tak terlibat dalam bisnis komersial apapun." 

Pada 2005, sebuah kapal wisata bernama Ethan Allen tenggelam di Danau George, New York, AS, menewaskan 20 turis lanjut usia di atas kapal itu. Setelah korban kapal itu mengajukan tuntutan, terungkap bahwa perusahaan wisata pemilik kapal itu tak punya asuransi sama sekali karena mereka ditipu oleh gerombolan pemalsu polis asuransi. 

Malchus Irvin Boncamper, seorang akuntan di St Kitts, di kepulauan Karibia, mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat, atas perbuatannya membantu para penipu memuluskan upaya pemalsuan asuransi itu. 

Belakangan kasus ini menjadi masalah untuk Mossack Fonseca karena Boncamper rupanya sudah lama punya pekerjaan sambilan menjadi "frontman" atau "nominee" atau nama bayangan untuk lebih dari 30 perusahaan yang dibuat Mossack. 

Setelah vonis untuk Boncamper diketahui, Mossack bertindak cepat. Perusahaan ini mengganti nama Boncamper di semua perusahaan yang pernah melibatkan namanya, dan memundurkan tanggal dokumen agar tampak bahwa penggantian ini sudah dilakukan setidaknya satu dekade sebelumnya. 

Kasus Boncamper ini menunjukkan bagaimana firma hukum kerap menggunakan taktik yang tak terpuji untuk menyembunyikan metode mereka atau perilaku klien mereka dari endusan penegak hukum. 

Pada Operasi Car Wash di Brasil, jaksa menuding karyawan Mossack Fonseca menghancurkan dan menyembunyikan dokumen untuk menutupi keterlibatan mereka dalam kasus pencucian uang di sana. Dokumen polisi menunjukkan bahwa satu ketika seorang karyawan Mossack di kantor cabang mereka di Brasil mengirim email pada rekan sekerjanya, meminta rekannya itu untuk menyembunyikan dokumen seorang klien yang sedang diincar dalam penyidikan polisi: "Jangan tinggalkan apapun. Aku akan simpan semuanya di mobil atau rumahku." 

Di Nevada, AS, dokumen menunjukkan bagaimana karyawan Mossack Fonseca bekerja keras pada 2014 untuk mengaburkan kaitan antara kantor firma itu di Las Vegas dan kantor pusat mereka di Panama, untuk mengantisipasi perintah pengadilan AS yang akan memaksa mereka membuka informasi soal 123 perusahaan yang mereka dirikan di sana. 

Informasi mengenai kaitan perusahaan di Nevada dan Panama penting karena para jaksa di Argentina sedang mencari kaitan sebuah perusahaan yang dibuat Mossack dan berbasis di Nevada itu dengan penyidikan skandal megakorupsi yang melibatkan bekas Presiden Néstor Kirchner dan Cristina Fernández de Kirchner. 

Untuk lepas dari jerat hukum Amerika, Mossack menyatakan bahwa kantor cabangnya di Las Vegas yang bernama MF Nevada, bukanlah kantor cabang sama sekali. Markas utama Mossack di Panama tidak punya kewenangan apapun di kantor itu. Nah, dokumen internal yang bocor menunjukkan sebaliknya: Mossack di Panama memang mengendalikan rekening bank MF Nevada. Seorang pendiri dan seorang karyawan Mossack merupakan pemegang 100 persen saham MF Nevada. 

Untuk menutupi kaitan ini, Mossack memindahkan semua dokumen dari kantor mereka di Nevada dan menghapus semua file di komputer mereka yang bisa mengaitkan Panama dan Nevada. Demikian terungkap dari percakapan email karyawan Mossack. Kekhawatiran utama mereka, satu email menjelaskan, adalah manajer kantor Nevada mungkin terlalu takut untuk berbuat apapun, sehingga "penyidik justru bisa menemukan kalau kita berusaha menyembunyikan sesuatu." 

Mossack Fonseca menolak menjawab pertanyaan soal insiden Brasil dan Nevada, namun membantah semua tuduhan bahwa mereka terlibat dalam upaya menghambat penegakan hukum dan menyembunyikan kegiatan ilegal. "Menyembunyikan dan menghancurkan dokumen yang mungkin dibutuhkan dalam proses penegakan hukum, bukanlah kebijakan kami," demikian jawaban dari firma ini. 

Pada 2013, Perdana Menteri Inggris David Cameron mendesak kawasan bebas pajak di negaranya --termasuk British Virgin Islands-- untuk bekerjasama "membersihkan rumah kita sendiri" dan bergabung dalam gerakan bersama melawan pelarian pajak dan kerahasiaan dunia offshore. Cameron sebenarnya tak perlu memulai jauh-jauh. Dia tinggal melihat apa yang dilakukan ayahnya untuk tahu seberapa besar potensi tantangan dari upaya semacam itu.

Ayah David Cameron, Ian Cameron, adalah seorang pialang saham dan miliarder dari Inggris, yang menggunakan Mossack Fonseca agar perusahaan dana investasinya, Blairmore Holdings, Inc., tidak harus membayar pajak di Inggris. Nama perusahaan itu diambil dari nama rumah keluarga Cameron di wilayah pedesaan Inggris. 

Mossack kemudian mendaftarkan perusahaan investasi itu di Panama, meski banyak pemegang sahamnya berkewarganegaraan Inggris. Ian Cameron mengendalikan seluruh kegiatan perusahaan ini sejak pendiriannya pada 1982 sampai dia meninggal pada 2010. 

Sebuah dokumen prospektus untuk investor Blairmore mencantumkan pengakuan bahwa perusahaan itu "sebaiknya dikelola dan diatur agar tidak menjadi bagian dari sistem di Inggris dan menjadi wajib pajak di Inggris." 

Perusahaan ini mencapai tujuan itu dengan menggunakan sertikat kepemilikan yang mustahil dilacak, yang biasa disebut 'saham atas nama' (bearer shares) dan mempekerjakan direksi 'nominee' di Bahama. Sejarah Ian Cameron menghindari pajak merupakan contoh bagaimana dunia offshore berjalin berkelindan dengan nama-nama elite politik dan bisnis di seluruh dunia. Tak hanya itu, keberadaan sistem rahasia ini kerap menjadi sumber pemasukan untuk banyak negara. Konflik kepentingan yang begitu dalam ini membuat semua upaya untuk mereformasi sistem finansial ini menjadi amat sulit. 

Di Amerika Serikat saja, negara bagian seperti Delaware dan Nevada --yang memang memperbolehkan perusahaan didaftarkan secara anonym-- terus melawan semua upaya reformasi untuk memaksa mereka jadi lebih terbuka. Negara asal Mossack Fonseca, Panama, juga menolak untuk terlibat dalam rencana global untuk saling bertukar informasi mengenai rekening bank nasabah, karena mereka takut industri offshore di negara mereka jadi tidak kompetitif lagi. Pejabat Panama mengaku siap bertukar informasi, namun dalam skala yang lebih kecil. 

Kondisi ini mempersulit para penegak hukum yang harus membongkar dan menghentikan kejahatan yang semua transaksinya disembunyikan di balik lapisan kerahasiaan. Satu alat yang efektif untuk membongkar jejaring gelap ini adalah pembocoran berbagai dokumen offshore yang bisa menyeret semua transaksi gelap ini ke tempat yang lebih terbuka. 

Kepada Tempo, Menteri Keuangan Indonesia Bambang Brodjonegoro menjelaskan bahwa pemerintah sudah mengantongi data mengenai ribuan perusahaan offshore dan perusahaan cangkang milik orang Indonesia di luar negeri. “Nilainya ribuan triliun rupiah,” kata Bambang. UU Pengampunan Pajak yang sedang dibahas di Senayan, kata dia, adalah upaya pemerintah menarik pulang semua dana itu.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa berbagai kebocoran dokumen yang diungkap oleh ICIJ dan media mitranya, cukup efektif untuk mendorong adanya legislasi baru dan dimulainya penyidikan di belasan negara. Laporan semacam ini juga membuat para klien offshore ketakutan suatu saat rahasia mereka bakal terbongkar. 

Pada April 2013, setelah ICIJ pertama kali mempublikasikan laporan berjudul “Offshore Leaks” mengenai kebocoran dokumen rahasia di British Virgin Islands dan Singapura, sejumlah klien Mossack Fonseca menulis email, meminta jaminan dari perusahaan itu bahwa rahasia mereka bakal aman dari kebocoran. 

Sebagai jawaban, Mossack Fonseca meminta klien mereka agar tak usah khawatir. Mereka menegaskan bahwa komitmen mereka untuk menjaga privasi klien "adalah prioritas utama kami. Semua informasi rahasia Anda tersimpan dalam pusat data kami yang amat canggih dan semua komunikasi Anda dengan jejaring global kami dilakukan lewat saluran yang terenkripsi dengan algoritma berstandar dunia." 

----------------------
Laporan ini ditulis dan disiapkan oleh : Bastian Obermayer, Gerard Ryle, Marina Walker Guevara, Michael Hudson, Jake Bernstein, Will Fitzgibbon, Mar Cabra, Martha M. Hamilton, Frederik Obermaier, Ryan Chittum, Emilia Díaz-Struck, Rigoberto Carvajal, Cécile Schilis-Gallego,Marcos García Rey, Delphine Reuter,Matthew Caruana-Galizia, Hamish Boland-Rudder, Miguel Fiandor and Mago Torres. Di Indonesia, tim Tempo yang terlibat adalah Wahyu Dhyatmika, Philipus Parera, Agoeng Widjaya dan Mustafa Silalahi. (

Follow by Email