29 Agustus 2016

thumbnail

Membunuh Dengan Sianida - Novel Agatha Christie


Dalam novel Agatha Christie, sebuah pembunuhan bukanlah hal yang sederhana. Pelaku selalu memiliki alibi yang bagus, sehingga hampir semua pembaca boleh dibilang selalu gagal untuk menebak pelakunya. Hanya Hercule Poirot dengan sel-sel kelabunya, atau Miss Jane Marple dengan ketajaman intuisinya, ataupun Colonel Race dengan metode langsungnya; yang dapat mengungkap siapa pelaku pembunuhan, bagaimana tepatnya cara pembunuhan itu dilakukan, dan apa motifnya.
 http://ecx.images-amazon.com/images/I/81mDhCTKV3L._SL1500_.jpg 

Sebuah kasus pembunuhan membutuhkan beberapa hal, yaitu pelaku pembunuhan, korban pembunuhan, alat yang dipakai membunuh, dan motif. Motif adalah hal yang paling utama, karena seseorang melakukan pembunuhan selalu didahului oleh motif. Jika sebuah motif gagal diidentifikasi, kasus tersebut menjadi mengambang, tidak lengkap, bahkan bisa menjadi salah sasaran.

Polisi Indonesia mungkin perlu menjadikan buku-buku detektif Agatha Christie sebagai bahan bacaan wajib. Pembunuhan berencana membutuhkan persiapan yang matang, persiapan yang matang itu terutama untuk menciptakan alibi yang kuat. Jika anda ingin membunuh seseorang, anda tidak ingin terlihat di tempat kejadian. Jadi alangkah begonya Jessica, yang jika benar-benar punya rencana untuk membunuh Wayan Mirna, ia membuat dirinya berada di tempat kejadian, duduk satu meja dengan korban, memesan dan membayar minuman kopi yang katanya mengandung sianida tersebut. Polisi yang malas akan segera mencurigai dirinya sebagai pelaku, dalam hitungan detik. Atau, benarkah Jessica itu bego?

Dalam sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di sebuah ruangan, misalkan cafe ataupun ruang tamu, siapapun orang yang berada di TKP sekitar waktu kejadian, semuanya harus dicurigai sebagai tersangka. Baik pelayan, barista, ataupun tamu-tamu lain yang berada di situ. Semua orang harus ditanyai, diselidiki, baru dicoret dari daftar jika penyelidikan menemukan hal yang tidak mencurigakan. Daftar ini akan makin menyusut, dan makin menyusut. Saat itulah ditemukan motivasi, modus operandi, pelaku dan sebagainya.

Dalam novel-novel detektif ala Agatha Christie, pelaku pembunuhan tidak melulu berada di tempat kejadian. Ia membuat dirinya bisa tak terlihat, dan tak seorangpun langsung bisa menuduh bahwa ia pelakunya. Bukan seperti kasus Jessica, di mana polisi dan masyarakat awam langsung bisa menuduh Jessica sebagai pelakunya, karena ia yang memesan minuman dan membayarnya. (sebegitu bodohnya kah Jessica?). Namun sebelum vonis pengadilan menetapkan Jessica sebagai pelaku (sekarang masih tersangka), alangkah baiknya kita menjunjung tinggi asas presume of innocent, atau asas praduga tak bersalah. Artinya bahwa seseorang tidak boleh dikatakan atau tidak boleh dianggap bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan bersalah kepadanya dan mempunyai kekuatan hukum. Namun tentu saja asas praduga tak bersalah ini dilanggar oleh masyarakat awam, apalagi dengan beredarnya meme yang menggambarkan Jessica mengajak minum kopi. Masyarakat sudah terlebih dahulu memvonis Jessica sebagai pelaku, sebelum hukum menetapkannya sebagai pelaku.

Kasus Jessica ini mengingatkan saya pada sebuah novel Agatha Christie berjudul The Sparkling Cyanide, diterbitkan di Indonesia dengan judul Kenangan Kematian. Yang membuat saya teringat adalah, sesuai judul aslinya, pembunuhan dalam novel itu memakai sianida.
Jadi dikisahkan satu tahun yang lalu, tanggal 2 November, tujuh orang makan malam di sebuah restoran bernama Luxembourg. Salah satu dari tujuh orang tersebut, Rosemary Barton, meningal di tempat karena meminum minuman yang diberi sianida. Koroner menetapkan kematiannya karena bunuh diri, semata-mata karena depresi. Enam bulan kemudian, suami dari Rosemary Barton, George Barton menerima surat kaleng yang menyatakan isterinya sebenarnya korban pembunuhan. George lalu melakukan penyelidikan dan memutuskan untuk mengulangi kejadian malam tersebut, di mana dia menyelanggarakan makan malam di restoran yang sama, dengan tamu-tamu yang sama. George juga mengatur agar seorang aktris yang didandani sangat mirip dengan mendiang isterinya untuk datang belakangan dan membuat pengakuan bahwa ia dibunuh, untuk mengagetkan tamu-tamu tersebut. Aktris tersebut tidak datang ke perjamuan makan malam, dan George Barton meninggal, karena racun sianida yang terdapat dalam gelas sampanye-nya. Kematian George juga tadinya dianggap sebagai bunuh diri, namun sebelum ia menyelenggarakan perjamuan makan malam maut itu, ia sempat berbagi kecurigaan dengan Colonel Race.

Latar belakangnya adalah, sesuai dengan surat wasiat pamannya, jika Rosemary meninggal sebelum memiliki anak, harta warisannya akan jatuh ke tangan adiknya, Iris. Karena kematian Rosemary setahun yang lalu, Iris menerima warisan dan menjadi orang kaya. Jika kemudian Iris meninggal sebelum menikah, maka harta nya akan jatuh ke kerabat satu-satunya, yakni bibinya, Lucille Drake. Mrs. Lucille Drake adalah orang yang baik, namun memiliki anak yang punya niat jahat bernama Victor. Setelah penyelidikan dengan seksama dan (dalam tempo yang tidak sesingkatnya, namun penuh ketelitian), akhirnya diketahui bahwa racun sianida dalam perjamuan kedua tidak ditujukan kepada George Barton, namun kepada Iris. Pembunuhnya ingin agar Iris yang mati, dengan demikian harta akan jatuh ke bibi Lucille, yang akhirnya ke tangan Victor. Goerge Barton memiliki sekretaris yang bernama Ruth Lessing, dan Ruth Lessing ini sudah berpacaran dengan Victor sejak lebih setahun yang lalu. Sudah kelihatan motifnya? Dan siapa pelakunya?
Image result for the sparkling cyanide cover

Seperti yang saya bilang tadi, pembunuhan di perjamuan kedua tidak ditujukan kepada George, namun kepada Iris. Tapi kenapa George yang meminum racun sianida itu dan mati?

Salah sasaran ini karena ada perubahan letak tas tangan milik Iris, yang mengakibatkan Iris selamat, walaupun dia yang sebenarnya jadi sasaran. Pada saat perjamuan, George ingin bersulang kepada Iris, ketika semuanya meneguk sampanye, kecuali Iris. Saat tamu-tamu lain meninggalkan meja untuk berdansa, Iris tak sengaja menjatuhkan tas tangannya. Seorang waiter kemudian memungut tas itu, lalu mengembalikannya ke meja. Waiter tersebut meletakkan tas itu di sisi meja yang lain. Pada saat para tamu kembali ke meja tersebut, Iris duduk di dekat tasnya yang posisinya sudah berbeda itu. George kemudian duduk di kursi yang tadinya milik Iris lalu meminum sampanye milik Iris, sehingga George yang mati.

Mengetahui bahwa plot ini gagal dan salah sasaran, Ruth berusaha menabrak Iris dengan mobil. Colonel Race, bekerja sama dengan polisi mengungkapkan motif dan kebenaran dan berhasil menyelamatkan Iris dari Ruth. Percobaan terakhir Ruth untuk membunuh Iris adalah dengan memukul Iris hingga pingsan di kamar tidurnya, lalu membocorkan pipa gas, dan meninggalkan rumah. Namun usaha tersebut juga digagalkan oleh Colonel Race.

Surat kaleng yang ditujukan ke George Barton itu ternyata juga ditulis oleh Ruth, yang kemudian membujuknya untuk mengulang kembali perjamuan tersebut di restoran Luxembourg agar Victor dan Ruth bisa membunuh Iris, sebagaimana mereka telah membunuh Rosemary. Agar benar-benar terlihat sebagai bunuh diri, Ruth telah meletakkan sebungkus sianida ke dalam tas Iris. Bungkusan tersebut jatuh ke lantai saat Iris mengeluarkan sapu tangan dari tas. Victor menyamar sebagai waiter, untuk menaruh sianida ke dalam gelas kampanye Iris saat semua orang berdansa.

Kisah dalam novel The Sparkling Cyanide memang tidak paralel dan analog dengan kasus Wayan Mirna, namun paling tidak situasinya mirip, sama-sama perjamuan di sebuah restaurant/cafe, sama-sama menggunakan sianida yang dicampurkan dengan minuman, dan adanya motif tersembunyi yang hanya bisa diungkapkan lewat penyelidikan seksama.

Sebuah kasus pembunuhan mungkin sederhana, yaitu pembunuhnya adalah orang-orang terdekat, bahkan yang ada hubungan keluarga, namun banyaknya petunjuk-petunjuk yang menyesatkan, penanganan barang bukti yang tidak seksama, dan kesimpulan yang ditarik secara tergesa-gesa bisa membuat orang tak bersalah dihukum. Dan kita tidak mau hal itu terjadi.

Dalam kasus Jessica dan Wayan Mirna, semoga sistem pengadilan kita yang tidak sempurna itu bisa mengungkapkan kejadian sebenarnya, siapapun pelakunya.

Ergo poena est serviet. (Hukuman dijatuhkan sesuai dengan asasnya). 

Artikel lain : AtheisTopeng | Debu | Laila & Majnun


Artinya bahwa seseorang tidak boleh dikatakan atau tidak boleh dianggap bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan bersalah kepadanya dan mempunyai kekuatan hukum.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/www.hendryjulian.com/presumption-of-innocent-dalam-kenyataannya_550088d0a33311376f511612
Artinya bahwa seseorang tidak boleh dikatakan atau tidak boleh dianggap bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan bersalah kepadanya dan mempunyai kekuatan hukum.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/www.hendryjulian.com/presumption-of-innocent-dalam-kenyataannya_550088d0a33311376f511612

Follow by Email