26 Juni 2017

thumbnail

47 Meters Down; Film Tentang Scuba Diving?


Beberapa waktu yang lalu saya dan beberapa rekan-rekan anggota BIAC (Reni, Rahmah dan Kiki) menyempatkan diri menonton film 47 Meters Down yang dibintangi oleh Mandy Moore dan Claire Holt. Mandy Moore namanya cukup dikenal sebagai penyanyi dan aktris, terutama yang saya ingat film A Walk to Remember

47 Meters Down adalah film horror dan thriller tentang scuba diving dan hiu. Yang membuat kami tertarik menontonnya tentu saja aspek scuba diving dan ikan hiunya, tapi jangan lupa, bahwa ini film horror, dan film horror cara kerjanya adalah dengan menakuti penonton se-intens mungkin. Di sana sini ada adegan tegang, menakutkan, dan kaget-kagetan. Dan film horror ini tentu saja menyajikan suatu gambaran bahwa lautan adalah tempat yang menyeramkan, yang pada fakta sebenarnya adalah sebaliknya.

Film ini cukup menghibur, dengan ending yang seperti film-film horror lainnya, yaitu menyisakan beberapa pertanyaan dan rasa penasaran.

Inti ceritanya adalah dua kakak beradik Lisa (Mandy Moore) dan Kate (Claire Holt) yang bepesiar ke Mexico, dan mengikuti program wisata ikan hiu atas ajakan dua orang kenalan baru mereka. Mereka berada di kerangkeng besi di kedalaman 5 meter, sementara ikan-ikan hiu berkeliaran di sekeliling mereka. Seharusnya ini aman, tapi karena ini film horror, adegannya tentu saja dibuat untuk memancing rasa kuatir dan ketakutan.


Pada suatu saat, crane yang menggantung kerangkeng besi itu patah dan kerangkeng besi berpenumpang dua cewe itu jatuh ke dasar laut, sementara sekawanan hiu tersebut berseliweran di sekitar mereka. Menyeramkan? Pasti, kalau tidak seram berarti film horrornya gagal. Namun film ini tidak melulu tentang ikan hiu pembunuh dengan gigi-gigi tajam, kita harus melihatnya sebagai aspek kecelakaan dalam scuba diving.

Kecelakaan dalam scuba diving hanya bisa terjadi karena satu hal: tidak diterapkannya safety precautions. Namun ada beberapa aspek lagi yang digambarkan di film ini yang harus saya bahas:

1. Operator Diving Tidak Ceroboh
Alasannya simpel: operator diving tentu saja selalu ingin kliennya selamat, kembali ke permukaan, naik ke kapal dan happy. Di film ini terlihat dive operatornya ceroboh, pemimpinnya hanya melihat sangsi ke kedua cewek tersebut dan bertanya apakah mereka berdua tau cara scuba diving? Keduanya menjawab tau. Ini tentu saja prosedur yang kecil kemungkinannya terjadi di dunia nyata. License atau sertifikat Anda akan ditanya dan dicek, baik Anda anggota asosiasi PADI, SDI, SSI dan lainnya, dan level sertifikasi Anda akan ditanya, apakah open water diver atau sudah advance. Mereka tidak akan menerima begitu saja kata-kata yang kita berikan. Mereka tidak akan mempertaruhkan nama baik perusahaan hanya demi beberapa ratus dolar. Lagian klien yang mati jauh lebih mahal dan merepotkan, mereka ingin klien mereka hidup dan happy.

2. Tabung Udara Tidak Akan Cukup Bertahan Lama
Tabung udara 200 bar yang berisi udara bertekanan akan lebih cepat habis di kedalaman 47 meter daripada di kedalaman 5 atau 10 meter. Jadi makin dalam kita menyelam, akan makin cepat habis persediaan udara di tabung. Batas umum untuk recreational diving adalah 130 feet atau di bawah 40 meter, sementara di film ini Lisa dan Kate terjatuh di kedalaman 47 meter, terlalu berbahaya.
Saya belum pernah menyelam sedalam itu, tapi perkiraan saya jika saya berada di kedalaman 47 meter, udara di dalam tabung saya akan habis dalam waktu 20 menit. Jadi filmnya seharus lebih cepat selesai dan Lisa dan Kate seharusnya sudah mati kehabisan udara, namun adegan underwater di film ini berlangsung kira-kira 1 jam dan mereka berdua bernapas paling tidak selama 35 hingga 40 menit dengan tabung yang sama, sebelum mereka berganti tabung.

3. Decompression Sickness
Di film ini, berkali-kali disebut istilah "bend", ini maksudnya DCS atau Decompression Sickness. Kate mengatakan bahwa bend adalah jika "it's nitrogen bubbles in the brain."

Walaupun yang dikatakan Kate ada benarnya, namun decompression sickness/bend tidaklah sesimpel itu. Dekompresi yang tidak dijalankan dengan benar setelah tubuh kita terpapar pada tekanan yang tinggi adalah penyebab utama DCS. Saat kita menyelam, tubuh kita menyerap nitrogen dari udara yang kita hirup. Jika kita ke atas dengan prosedur yang benar, tubuh kita perlahan-lahan akan melepaskan nitrogen tersebut, tapi jika kita ke atas terlalu cepat, nitrogen akan membentuk gelembung di dalam darah. Di film ini Kate dan Lisa hanya diberi instruksi satu pilihan, tetap di dalam kerangkeng di dasar laut dengan resiko kehabisan udara. Di dunia nyata, percayalah, mati kehabisan udara bukanlah pilihan terbaik. Tetap lebih baik kembali perlahan ke atas dan melakukan safety stop sesuai prosedur. Tapi kan ada resiko di makan hiu? Nanti saya jelaskan tentang hiu di dunia nyata dan bedanya dengan di film.

Tentu saja karena ini film, hal tersebut dijadikan faktor utama agar pilihan tokohnya terbatas dan filmnya jadi semakin tegang.

4. BCD Bukan Dongkrak

Menjelang akhir film, kaki Lisa terjebak dan tertindih kerangkeng besi, jadi Lisa yang belum berpengalaman scuba diving tersebut melepas BCD nya (Buoyancy Control Device), menaruhnya di bawah kerangkeng dan mengisinya dengan udara sehingga kerangkeng tersebut terangkat hingga ia bisa melepaskan kakinya. Kelihatannya logis, namun BCD bukanlah dongkrak. ScubaLab melakukan tes objektif terhadap BCD keluaran terbaru setiap tahun, mengetes kemampuan apung (buoyant lift) setiap BCD tersebut. Hasil tes akan mengindikasikan tingkat apung BCD, yang pada akhirnya menunjukkan seberapa berat beban yang bisa diangkat atau dinaikkan BCD. Daya apung (buoyant lift) rata-rata sebuah BCD adalah rentang antara  15 hingga 27 kilogram.   Sebuah BCD tidak akan pernah bisa mengangkat kerangkeng besi seberat lebih dari 225 kilogram.

5. Full Face Mask yang Canggih
Jarang sekali dive operator menyediakan dive mask yang versi full face seperti terlihat dalam film 47 meters down, dilengkapi dengan alat komunikasi yang canggih pula. Dive mask yang disediakan biasanya yang standar walaupun tetap menggunakan merk-merk terkenal. Lagipula, di film terlihat dive operatornya sanggup membeli full face mask lengkap dengan radio telekomunikasi sehingga penyelam bisa bicara dalam air, namun tidak sanggup mengganti kerangkeng besi yang karatan, sling yang gampang putus, dan crane yang gampang patah?

6. Manusia Bukan Makanan Hiu
Yup, hiu tidak langsung menyerang dan memakan manusia begitu melihat manusia. Ada beberapa hiu yang ganas seperti great white shark, tiger shark, bull shark, dan oceanic whitetip shark. Namun mereka tidak akan menyerang jika tidak diprovokasi. Saya sendiri sudah 2 kali diving bertemu ikan hiu, dua-duanya di Bali, namun yang saya temuin adalah jenis Reef Whitetip Shark, dan walaupun saya jadi sedikit gugup, ternyata tidak terjadi apa-apa. Tahukah makhluk apa yang paling ganas di laut dan di darat? Manusia. Manusialah predator paling ganas yang tidak saja bisa membuat beberapa spesies punah, tetapi juga merusak planet tempatnya berdiam.
Intinya hiu tidak memakan manusia, jika terjadi demikian biasanya karena hiu tersebut mengira bahwa kita adalah makanannya. Artinya kita dikira sebagai anjing laut, singa laut, dan makhluk lain yang memang merupakan makanan alami hiu.  

7. Kenapa Tidak Pakai Fin?

Fin menghemat tenaga. Tenaga yang hemat sebanding dengan napas yang hemat, karena makin banyak tenaga yang dikeluarkan, makin sering frekuensi bernapasnya. Napas yang hemat berarti udara yang hemat. Walaupun misalnya mereka akan berada dalam kerangkeng besi, fin mestinya tetap dipakai. Sedia payung sebelum hujan, bukan?


Namun terlepas dari hal-hal yang saya sebutkan di atas, secara umum film 47 Meters Down cukup menghibur, dan film tersebut membuat scuba diving terlihat sangat keren dan menantang, namun tidak seseram yang dibayangkan.

Ada beberapa peraturan dalam scuba diving yang membuat olahraga ini menjadi sangat menyenangkan. Tidak ada penyelam yang menyelam sendirian, dan ada beberapa prosedur ketat demi keamanan dan kenyamanan. Dan melihat makhluk-makhluk warna-warni mulai dari terumbu karang dan ikan-ikan yang berenang dengan riang, semua itu tak tergantikan dengan menyaksikannya di National Geographic maupun layar IMAX.


Copyright (C) Ferdot.com. 26 June 2017

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email