26 Oktober 2017

thumbnail

Ngopi Yuk (Bagian 2)


Melanjutkan tulisan sebelumnya Ngopi Yuk tahun 2009 yang lalu, mari kita bahas lebih lanjut tentang kopi.

Tahukah Anda bahwa Indonesia adalah penghasil kopi terbesar no.3 di dunia setelah Brazil & Ethiopia. Dan biji kopi dari Indonesia, baik jenis robusta maupun arabica sangat terkenal kualitasnya di luar negeri.

Namun biji berkualitas tinggi itu (speacialty) kebanyakan diekspor ke luar negeri. Dan banyak orang Indonesia sendiri yang minum kopi berkualitas rendah, yaitu kopi instan dan kopi sachet. Bahkan beberapa perusahaan kopi sachetan/instan hanya menambahkan perisa kopi dan bahan asing lain seperti tepung jagung, lalu membungkusnya dan menjualnya dengan harga murah.

Begini faktanya.

Harga normal biji kopi robusta berkualitas baik, dan sudah disangrai, dijual di Indonesia berkisar seharga Rp 45.000 per 250 gram. Coba bandingkan dengan harga kopi instan yang per bungkusnya (250 gram) adalah antara Rp 8000-Rp10,000. 

Harga biji kopi robusta yang belum disangrai (greenbean) adalah Rp 50,000. Jadi untuk mendapatkan 250 gram biji kopi yang belum diolah adalah Rp 12,500. Harga tersebut belum termasuk packaging, pemasaran, biaya sangrai, dan lain-lain. Jadi tidak mungkin dijual seharga Rp 12,500 per 250 gram.

Perusahaan-perusahaan kopi sachet pun mengakalinya dengan cara menggunakan biji berkualitas rendah atau bahkan menggunakan biji yang tidak lolos sortir ekspor untuk menekan biaya produksinya.

Jadi apapun merknya, kopi instan seharga seribu dan dua ribu rupiah dipastikan berasal dari biji kopi berkualitas rendah, yang sebenarnya bisa membahayakan kesehatan. 

Kandungan kafein dalam kopi instan adalah kafein buatan. Jika dikonsumsi berlebihan, hormon dopamin pada tubuh akan meningkat, yang pada akhirnya mengganggu kesehatan jantung. Beberapa gangguan kesehatan lain juga bisa muncul karena kandungan kafein di dalam tubuh yang terlalu tinggi. Efek samping dari minum kopi instan setiap hari salah satunya adalah meningkatnya kadar kolesterol jahat. Hal ini disebabkan oleh krimer yang terkandung di dalam kopi instan. Kandungan krimer membuat kolesterol tubuh susah dicerna, sehingga membuat kandungan kolesterol menumpuk dan semakin tinggi.Juga, kandungan krimer nabati dalam segelas kopi tidak dapat dicerna dengan sempurna oleh tubuh, sehingga membahayakan kesehatan dalam jangka panjang. Jika dikonsumsi setiap hari bisa mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah.
Terus ada lagi brand kopi yang bernama Kopi Luwak. Ini bisa menyesatkan karena kopi luwak sebenarnya adalah kopi yang termahal di dunia, karena melalui pengolahan yang rumit melibatkan fermentasi dalam perut luwak, sejenis musang. Coba tonton film The Bucket List yang dibintangi Jack Nicholson dan Morgan Freeman.

"Kopi Luwak" dengan white coffee dan varian lainnya sebenarnya adalah kopi dengan kualitas rendah seperti yang saya sebut di atas, dengan embel-embel kata luwak mungkin diharapkan orang-orang akan tertipu dan menyangka itu adalah kopi luwak beneran. Tapi sebenarnya adalah kopi cap luwak. Saya beberapa kali berkesempatan minum kopi luwak di coffee shop di Kuta Bali dengan harga Rp 125,000/cangkir kecil. Beberapa kali juga pernah mendapatkan sampel kopi luwak yang nikmat tersebut saat agrowisata di daerah Gianyar dan Kintamani di Bali dan juga di Jogjakarta.
Di pasar luar negeri, harga kopi luwak mencapai US$675 per kilogram. Dan belum termasuk biaya distribusi, packaging, marketing dan lain-lain.

Menurut saya, lebih baik kita membeli biji kopi yang banyak dijual di supermarket, yang biasanya dijual dengan kemasan yang kedap udara, lalu menggilingnya sendiri di rumah dengan mesin kopi (baik yang manual maupun yang elektrik) dan menikmatinya. Kopi demikian lebih segar, menyehatkan, dan dapat menjauhkan kita dari berbagai macam penyakit.

Oke, selanjutnya, kopi apa yang enak, kopi apa yang bagus, arabica kah, robusta kah? Bagaimana dengan kopi jenis lain seperti liberica dan excelsea? Apa bedanya? Untuk kali ini kita hanya membahas dua jenis kopi yang memang dibudidayakan di Indonesia, yaitu arabica dan robusta.



Dari segi rasa, kopi arabica memiliki banyak variasi rasa yang mana beragam. Rasa dari kopi tersebut dapat lembut, manis, tajam, dan juga kuat. Anda dapat mengetahui bahwa sebelum disangrai, aroma dari kopi ini amat mirip dengan blueberry. Akan tetapi, setelah disangrai, kopi tersebut akan memiliki aroma buah-buahan manis. 

Sedangkan untuk rasa dari kopi Robusta, ini cenderung memiliki variasi rasa yang netral. Sebelum disangrai, biji kopi ini memiliki aroma kacang-kacangan. Yang disayangkan, amat jarang untuk menemukan robusta berkualitas tinggi dipasaran sana. 

Biji kopi Arabica lebih besar dan cenderung berbentuk lonjong, sedangkan biji kopi Robusta berbentuk lebih bulat. Kopi Arabika (Coffea arabica) tumbuh di daerah dengan ketinggian 700-1.700 mdpl dengan suhu 16-20°C. Sedangkan kopi Robusta bisa tumbuh dan hidup di daerah dengan ketinggian 400-700 mdpl dengan temperatur 21-24°C. Kopi Arabica memiliki aroma wangi mirip aroma percampuran bunga dan buah, sedangkan Kopi Robusta memiliki aroma manis yang khas. Kopi Arabica dikenal dengan jenis kopi yang bercita rasa asam yang tidak dimiliki oleh kopi Robusta. Arabica juga memiliki tekstur yang halus, sehingga lebih kental di mulut. Kopi Arabica juga lebih pahit dibanding kopi Robusta. Kopi Robusta memiliki tekstur yang sedikit lebih kasar di lidah, dan rasanya lebih manis seperti cokelat. Biji kopi Arabica memiliki kandungan kafein yang lebih rendah dibandingkan biji kopi Robusta. Kadar kafein pada kopi Arabica sebesar 1,2%, sedangkan kadar kafein pada biji kopi Robusta sebesar 2,2%.



Jenis-jenis kopi Arabica yang populer di Indonesia adalah kopi Gayo, Toraja, Wamena, beberapa kopi Bali dan Flores, serta yang sekarang banyak bermunculan adalah kopi-kopi Arabica dari dataran tinggi di Pulau Jawa, seperti di Jawa Barat dan Banyuwangi di daerah Gunung Raung.

Beberapa daerah yang terkenal dengan kopi Robustanya di Indonesia antara lain Lampung, juga beberapa wilayah penghasil kopi di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Faktanya, harga biji kopi Arabica lebih tinggi bila dibandingkan dengan kopi Robusta.

Dan untuk saya pribadi, dua-duanya oke. Ada saat-saat tertentu saya ingin menikmati fine coffee, saya pilih arabica. Ada saatnya saya mementingkan aroma, maka saya pilih robusta. 

Kopinya hitam tentu saja, tanpa krim ataupun susu, biar kulit saya tetap terjaga kehitamannya. 
Srupuuut.

Artikel terkait:

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Follow by Email